Saturday, December 24, 2005

Monday, December 19, 2005

Centralismo

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Sore
Di dunia ini dari berbagai macam genre musik yang ada, yang semakin lama, semakin banyak bermunculan malah menjadi semakin membingungkan, gw menarik kesimpulan bahwa sebenarnya hanya ada 2 klasifikasi dalam musik. Yaitu musik bagus dan musik yang tidak bagus. Mau dari genre dangdut sampai emo, kalau musik yang dihasilkan berkualitas, mau nantinya musiknya akan sangat menjual, tetapi kalau secara musikal dapat dipertanggungjawabkan, tidak usah kita pertanyakan lagi. Dan salah satu musik yang bagus, menurut gw ada di album ini yang berjudul Centralismo dari grup asal Jakarta, Sore.

Musik dari Sore adalah sebuah musik yang menurut gw tidak akan menjadi hits yang meledak yang akan terdengar setiap 5 meter dari langkah anda di keramaian atau musik dari Sore juga tidak akan menjadi sebuah trend baru yang akan digandrungi oleh abg-abg yang sedang mencari identitas diri, tetapi musik dari Sore akan selalu didengar kapanpun juga oleh telinga yang terkadang haus akan musik bermutu. Gw sangat takjub oleh produksi dari album ini. Tidak ada kesan main-main atau asal jadi dalam produksi setiap lagunya. Setiap aransemen dan suara yang dihasilkan sepertinya dipikirkan secara detil dan melalui hasil mixing yang bagus menghasilkan sebuah album yang diatas rata-rata terutama untuk keluaran label non major. Album ini dibuka oleh “Bebas” yang cocok untuk membuka perjalanan bersama Sore. Setelah “Bebas” yang cukup upbeat dilanjutkan dengan “Mata Berdebu”, yang meredakan dahaga. Diawali dengan alunan french horn yang mendamaikan, mengantar kita untuk istirahat sejenak ditengah perjalanan yang mungkin akan melelahkan, hanya untuk sekedar menyeruput secangkir teh di sore hari. Lagu ini mempunyai aransemen yang sempurna, string section yang begitu padu, dibumbuhi oleh petikan-petikan nylon gitar yang manis dengan ditimpali oleh perkusi. Pada bagian interlude, terdapat sedikit sample melodi dari lagu “Gymnopedie no 1” dari komponis klasik, Satie. Sepertinya Ramondo Gascaro, sang pianis seorang pianis klasik atau mungkin hanya unsur ketidaksengajaan? Tetapi overall, gw memberikan kredit lebih kepada Mondo, dalam setiap lagu, pengisian piano atau synthnya sangat cerdas dan dia tahu kapan harus menonjol dan kapan harus dibelakang. Lagu ciptaan dia juga merupakan salah satu highlight di album ini. Yaitu “No Fruits For Today”. Dibuka dengan suara electric piano yang sedikit jazzy, dan cara Mondo bernyanyi juga seperti seorang vokalis jazz, santai tetapi meyakinkan.

“Somos Libres”, sebuah lagu dengan judul yang unik, mengambil dari bahasa Spanyol yang berarti We Are Free. Part paling menarik sewaktu solo trumpet di akhir lagu membuat lagu ini semakin bernyawa. Lagu ini juga dijadikan video klip mereka yang kedua dan sering diputar akhir-akhir ini di MTV. Lagu “Cermin” adalah lagu perkenalan gw dengan Sore, sewaktu Sore mengisi kompilasi Jkt Skg. Highlight lagu ini pada bagian outro, sangat syahdu, mengalun dan menggetarkan. Efek yang timbul dari berbagai suara yang ada pada part ini lebih dashyat daripada mendengar sebuah part yang dimainkan oleh band shogazer lokal, yang tentunya musiknya secara defacto lebih mengalun daripada Sore. “Etalase” adalah lagu yang paling berbeda di album ini. Diciptakan dan dibawakan oleh Gusti Pramudya, yang juga merupakan personil dari Lain. Nuansa lagu ini secara keseluruhan lebih jazzy dengan irama swing yang lumayan kental. Pada akhir lagu ini seksi string menunjukan kebolehannya dan hasilnya sangat mengagumkan. “She So Beautiful”, sebuah lagu kolaborasi Sore dengan The Miskin, 2 grup yang sangat berbeda alirannya, dan hasilnya lagu ini menjadi 2 part, part 1 (awal) sepertinya milik Sore, dan part selanjutnya milik The Miskin. Tetapi alangkah baiknya jika lagu ini dibuat versi full menurut aransemen Sore. Karena part di awal lagu ini sesungguhnya sangat menarik untuk dilanjutkan menjadi sebuah lagu yang utuh. Album ini lalu ditutup dengan “Aku” yang merupakan sebuah penutup yang sempurna. Sebuah lagu kontemplasi yang indah. Dan selanjutnya, gw mengambil remote cd player gw dan memutar cd ini kembali dari track 1. Sebuah keinginan yang tidak bisa ditunda untuk terus mendengar kembali album ini.

The Magic Numbers

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:The Magic Numbers
The Magic Numbers adalah salah satu grup keluarga yang layak diperhitungkan. Dengan format kakak beradik, yang terdiri dari 2 wanita dan 2 pria, membuat mereka sering disamakan dengan The Mamas and The Papas. The Magic Numbers juga membuat tampilan baru pada dunia musik sekarang yang kebanyakan dipenuhi oleh rambut acak2an dengan sneaker butut atau band-band berpenampilan rapi dan klimis. Mereka membuat semua orang tertipu dengan penampilan mereka yang ‘menyeramkan’ dan jauh dari tipikal bintang rock pujaan masa kini, ternyata juga bisa menghasilkan musik yang manis.

Album debut mereka sangat menyegarkan. Sebuah album mengenai cinta dan kehilangan yang dikemas dengan menyenangkan melalui musik yang mengarah ke American country dengan elemen folk-pop yang juga kental. “Forever Lost” yang ada di awal album ini bisa menarik perhatian untuk mendengarkan lagu-lagu lain pada album ini. Pembagian vokal pria dan wanita pada lagu ini mempunyai tempat yang pas. “Long Legs” sebuah lagu yang membawa kita pada era-era country dari Neil Young dengan sedikit ajaran dari Hank Williams. “Love Me Like You” adalah first single dari album ini. Backing vocal pada lagu ini sangat catchy. Melodi lagunya juga sangat sing along dengan handclaps yang membuat kita ingin segera beranjak dari tempat tidur di hari minggu yang malas.

Album ini juga banyak memuat lagu-lagu balada. Dan mereka juga ternyata mahir dalam membuat lagu-lagu Balada yang bagus. Seperti “Try”, “Wheel On Fire” dan “I See You, You See Me”. Tetapi lagu balada paling sukses dalam album ini ada pada lagu “Love’s a Game” Lirik yang heartfelt, musik yang soulful, dan harmonisasi yang begitu syahdu, membuat lagu ini menjadi lagu balada yang indah.

Sebuah debut yang sangat menjanjikan. Menjadikan mereka seperti oase ditengah gempuran band-band dance-rock atau brit-pop revival yang sudah semakin tipikal. Jadi sekarang kita tinggal menunggu saja, apakah semakin banyak nantinya orang-orang yang berbadan gemuk, berambut gondrong sepunggung dan berjenggot lebat di sekitar kita?

Friday, December 9, 2005

Apa yang tidak bisa diucapkan harus dijaga dalam diam

.........................................................................


.........................................................................


.........................................................................

Thursday, November 17, 2005

Ballads of The Cliche @ Parc




Ini sebagian foto-foto yang diambil dari pertunjukan Ballads pada Thursday Riot di Parc minggu lalu. Foto diambil oleh Arif.

Tuesday, September 20, 2005

Sebuah cerita dari weekend kemarin

Weekend kemarin, setelah hampir 4 bulan vakum, Ballads of The Cliché akhirnya manggung kembali. Dalam waktu 4 bulan ini, banyak peristiwa penting yang mewarnai kehidupan Ballads of The Cliché. Dari mulai Bobby yang pada akhirnya menyelesaikan kuliahnya di FIKOM Unpad, dan pada kelanjutannya mendapat kerjaan di O Channel, lalu disusul oleh Erick yang juga lulus dari TI Trisakti dan sekarang lagi sibuk mencari jodoh sebelum dijodohkan oleh orang tuanya dengan paribannya, hehe..Dan itu dari sisi bahagianya, kalau dari sisi yang agak menyedihkan, Felix sang manager kita tercinta telah membujang kembali setelah kurang lebih 3 tahun menjalin cinta dengan kekasihnya. Lalu disusul oleh Ferry yang juga baru putus. Sisanya yaitu Wawan, dia semakin asyik dengan dunia barunya yaitu bekerja di taman kanak-kanak. Sedangkan gw akhirnya menjadi satu-satunya personil yang masih kuliah, dan sekarang gw sedang mempersiapkan skripsi dan mudah-mudahan tahun depan gw bisa bergabung dengan teman-teman gw itu dalam klub sarjana, hehehe….


 


Anyway, manggung kemaren lumayan sukses, walau latihan kurang, tapi rasanya menyenangkan, seperti melepaskan rindu yang telah menghebat. Panggung pertama kami di pensi SMU 78 di Plaza Barat Senayan. Walau panitianya kacau dan acaranya tidak begitu ramai, karena bentrok dengan pensi Al Izhar yang diselenggarakan di Tennis Indoor yang persis bersebelahan dengan Plaza Barat Senayan, tapi secara keseluruhan cukup membahagiakan bagi gw. Melihat ada sebagian penonton yang menyanyikan lagu kami ditengah-tengah venue yang tidak begitu ramai sudah sangat membahagiakan, dan hal itu sudah membuat gw lupa akan kekesalan gw yang disebabkan ketidakberesan kerja panitia, hehe…Dan juga gw senang aja bisa bermain di almamater gw, tapi sayang juga sih, penyelenggaraannya sudah bukan di sekolah lagi. Jadi kurang berasa aja nuansa 78nya.


 


Manggung kedua, pada hari minggu, di acara Eureka, bertempat di Parc. Acara ini adalah bikinan teman-teman, dan tujuannya juga untuk reunian. Dan misi acaranya dirasa sangatlah pas dengan keadaan Ballads yang sudah sekian lama tidak manggung. Kami manggung sebelum D’zeek yang bermain terakhir. Sebelumnya, Wawan telah manggung, karena membantu bermain gitar untuk band barunya Acil, bernama Hazel. Disini Wawan untuk pertama kalinya bermain dalam sebuah band shoegaze. Dan sampai detik-detik menjelang Ballads manggung, Zennis, additional saxophone kami, belum datang ke lokasi, karena dia harus bermain di acara lainnya bersama bandnya. Sedikit panik memang, tapi di Ballads kepanikan sudah menjadi hal yang biasa sebelum manggung. Hehe..Yah manggung di Parc, selalu menyenangkan, apalagi kemaren ditonton oleh teman-teman juga. Acara Eurekanya sendiri tidak begitu ramai di awal, mungkin sebagian tersedot oleh pernikahan Dita dan Iyub, tetapi menjelang malam, orang mulai banyak berdatangan, dengan banyak yang masih menggunakan kostum kondangan, hahaha…


 


Sebelum balik ke rumah, Felix memberitahu sebuah kabar gembira yang membuat kami semua tersenyum malam itu, dan perjalanan melepaskan rindu weekend kemaren ditutup dengan manis.

Monday, September 5, 2005

Happy Birthday To Me : Future

Tepat hari ini tanggal 6 September 2005, gw merayakan ulang tahun gw yang ke 23. Hampir seperempat abad gw hidup di dunia ini. Semakin usia bertambah, ulang tahun bagi gw bukan lagi perayaan senang-senang, dapat hadiah dari orang tua dan berbagai macam kesenangan lainnya. Semakin kesini, gw semakin takut akan namanya ulang tahun. Itu sudah jadi semacam pertanda bahwa hidup kita semakin mendekati akhir di dunia ini. Dan sebelum hidup kita ‘diberhentikan dengan hormat’ oleh Yang Maha Kuasa, setidaknya kita telah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi kita sendiri atau bagi orang lain atau setidaknya juga kita telah melakukan pencapaian-pencapaian tertentu dalam hidup kita. Ada 2 pertanyaan mendasar pada setiap ulang tahun gw dalam beberapa tahun ini. Apa yang telah gw lakukan sampai pada usia ini? Dan apa yang masih ingin gw gapai pada dan setelah usia ini?


Sebenarnya sebagai manusia yang selalu tidak pernah puas, dipikiran gw selalu dipenuhi oleh mimpi-mimpi atau keinginan-keinginan yang rasanya ingin semua gw lakukan. Padahal kalau dipikir hal-hal yang terjadi sama gw sekarang secara gak sadar adalah sesuatu yang dulu gw impikan. Misalnya dulu waktu pertama kali ngeband serius pas SMA, rasanya pengen bisa buat lagu sendiri trus dimainin di hadapan orang banyak. Lalu setelah keinginan itu terjadi yaitu setelah mempunyai lagu sendiri, keinginan gw berkembang lagi, gw pengen lagu gw masuk radio, biar bisa dinikmati lebih banyak orang lagi, dan lagi-lagi setelah keinginan gw itu tercapai , gw masih tidak puas dan masih memimpikan hal-hal yang lebih tinggi tingkatannya dari yang sebelumnya. Sebenarnya selain sifat dasar manusia yang tidak pernah puas, sifat dasar manusia yang lainnya adalah berkembang. Dari mulai bentuk tubuh, perilaku, pikiran, cita-cita kita semuanya berkembang dari waktu ke waktu. Semua hal bukan berubah hanya berkembang.


Dulu gw bercita-cita ingin menjadi sarjana tehnik, seperti bokap gw, walau saat itu gw sendiri masih belum tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan sarjana tehnik itu dan apa pekerjaan sarjana tehnik itu sebenarnya, hehe…makin gw beranjak dewasa, cita-cita gw lebih berkembang lagi, gw ingin jadi seorang sutradara video klip. Dulu waktu SMA, saat mendengarkan lagu-lagu yang gw suka, gw sering membayangkan adegan-adegan yang terjadi pada lagu tersebut jika dibuatkan video klipnya. Cita cita itu berkembang lagi ke gw, tetapi tetap menjadi orang di belakang layar, tapi kali ini gw ingin bekerja di TV. Seiring waktu, teman-teman gw yang telah lulus kuliah ada yang sudah berkerja di TV, dan setiap kali bertemu, mereka sering sekali menceritakan betapa kerasnya kerja di TV, betapa pekerjaan mereka menyita hampir 24 jam waktu hidupnya dalam sehari. Hal itu membuat gw ragu-ragu akan cita-cita gw kala itu dan sampai detik ini, gw menjadi semakin bingung oleh keinginan diri gw sendiri, mungkin terlalu banyak cita-cita yang menyebabkan kebingungan seperti itu. Karena sejujurnya gw masih belum merasa mantap akan hal apa yang sebenarnya gw inginkan di hidup ini? Gw memilih jurusan sewaktu pertama kali gw kuliah aja udah ngaco. Gw memilih jurusan yang sebenarnya gw gak segitunya tertarik. Gw mengambil jurusan Hubungan Internasional, tanpa pernah berpikir untuk menjadi seorang diplomat, karena keinginan gw sebenarnya adalah komunikasi tapi karena gagal di UMPTN akhirnya gw ‘terjebak’ di dalam jurusan ini sampai sekarang.


Di usia gw yang ke 23 ini, sudah seharusnya gw lebih serius dalam mengambil langkah-langkah penting yang bisa menuntun gw pada apa yang gw inginkan sebenarnya. Teman–teman kuliah gw rata-rata udah pada lulus dan kerja, malah beberapa teman gw ada yang sudah nikah dan punya anak. Hal-hal itu membuktikan di usia segini, kita sudah gak boleh main-main lagi dengan cita-cita kita. Kita harus mantap dengan pilihan-pilihan hidup kita. Teman-teman gw itu sudah memutuskan jalan hidupnya masing-masing, walau mungkin bagi sebagian dari mereka, hidup yang mereka pilih sekarang bukanlah hidup yang mereka betul-betul inginkan. Dan gw juga tidak ingin hal yang nanti akan gw jalani bukan merupakan pilihan hidup gw yang betul-betul gw inginkan dan yang gw sukai. Walau kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti pada hidup kita, manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Tapi setidaknya kita mempunyai cita-cita yang jelas dan kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita tersebut. Yah kalau sampai saat ini kita masih belum jelas apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan keinginan-keinginan kita tersebut, paling gak kita bermimpi aja dulu, karena manusia harus punya mimpi untuk bisa menjalani kehidupan yang diinginkannya, seperti judul lagu Beth Orton, Live As Your Dream. Dan pada usia gw yang ke 23 ini, gw masih bermimpi dan akan terus mewujudkan segala mimpi gw tersebut kedepannya.

Happy Birthday To Me : Past


Gw dilahirkan pada pukul 01 lewat 10 menit WIB, pada hari senin pada tanggal 6 September 1982. Hampir 2 tahun dari John Lennon mati ditembak pada tanggal 8 Desember 1980, Dan hampir setahun semenjak bintang film Ronald Reagen diangkat menjadi presiden Amerika Serikat. Dan di tahun kelahiran gw, Italia baru saja memenangkan piala dunia di Spanyol, dan pada tahun itu juga rekaman dalam bentuk CD baru saja resmi beredar di pasaran. Gw dilahirkan di dunia dengan susah payah oleh nyokap tercinta melalui operasi caesar, karena kata dokter-dokter disana, akan terlalu beresiko jika gw dilahirkan normal , karena believe it or not gw mendekam di perut nyokap gw selama 10 bulan (bukan 9 bulan yang normal pada umumnya). Gw juga gak tau kenapa gw bisa segitu betahnya gak keluar keluar dari perut nyokap, hehe...Mungkin gw ingin menunggu bulan September, karena kata Vina Panduwinata, September itu adalah bulan ceria, bayangkan kalau gw dilahirkan normal 9 bulan, berarti gw lahir bulan Agustus, dan di bulan Agustus orang-orang Indonesia sudah terlalu sibuk mengurusi hari kemerdekaan, ntar malah kelahiran gw kurang begitu diperhatikan, heueheue...


Untuk nama, ternyata nyokap gw mendapat wewenang penuh untuk memberikan nama ke gw. Nyokap gw mendapat inspirasi nama gua saat menonton film Kabut Sutra Ungu, dengan Roy Marten sebagai pemeran utamanya, di film itu dia berperan sebagai pilot, dengan nama Dimas Adrianto. Dan pada film itu Dimas Adrianto digambarkan sebagai seorang pilot yang ganteng dan disukai banyak wanita, yah beda2 tipis kayaknya sama keadaan gua, hehehe(pengennya sih begitu).....Dan untungnya nyokap gw gak nyuruh gw jadi pilot. Kalo nama Ario, yang gw ingat dari cerita nyokap diambil dari nama suaminya La Rose, seorang tokoh wanita Indonesia yang juga kalo gak salah seorang penulis. Untungnya pemikiran nyokap gw dulu gak aneh-aneh, kayak Djaduk Ferianto, dia ingin memberi nama anaknya Presiden, dengan alasan keren aja ntar kalo dipanggil di rapat OSIS misalnya, ?Ya sekarang akan kita dengarkan laporan dari bapak Presiden!? Gila kan, kasian banget tuh nasib si anak karena pasti dia bakal sering diejek di sekolahnya, dan pasti akan sering menjadi bulan bulanan orang..Yah gw cukup bersyukur deh nyokap gw memberi nama Dimas, walaupun setiap jenjang pendidikan yang gw tempuh, pasti ada temen2 yang namanya Dimas. Dan biasanya lebih dari 1, dan karena itu juga gw pasti mendapat banyak sekali nama panggilan dan nama panggilan itu berbeda beda pada setiap jenjang pendidikan yang udah gw tempuh. Tapi nama Dimas lebih manusiawi kan bila dibandingkan dengan Presiden? Hehe....


Anyway ada fakta menarik lagi, bahwa ternyata saat gw lahir, gw adalah bayi dengan ukuran badan dan berat yang paling besar diantara bayi2 yg pernah lahir disitu. Berat gw 4,75 dan panjang gw 55 cm. Lalu otomatis pihak rumah bersalin gua (yaitu RSB Hermina) memajang foto gua di papan pengumuman dengan data gw. Lumayan numpang beken dikit..hehe...Dan masih diseputar kelahiran gw, bokap gw cerita, dia sempet kaget pas ngeliat keadaan gw baru lahir, karena rambut gw gondrong banget terus mata gw melek sebelah..Bokap gw sempet ketakutan, dia sangka anaknya cacat, tapi ternyata kata dokter2 disana itu sebagai reaksi alamiah biasa. Yah itulah sekelumit dari kisah-kisah kecil di balik kelahiran gw di dunia ini. Sekedar nampak tilas pada perayaan ulang tahun gw yang ke 23. Selamat ulang tahun untuk gw sendiri :P


 


Catatan : Gambar di atas adalah hasil scan berita keluarga dari koran Kompas, gak berapa lama setelah gw lahir. Gw salut nyokap gw masih nyimpen aja, hehe..


 

Friday, August 19, 2005

Lomography




Akhirnya setelah sekian lama kamera Lomo gw istirahatkan, dalam beberapa minggu kemarin, gw mulai nyoba2 memakai kamera itu lagi. Rindu juga sebenarnya kejutan-kejutan yang dihasilkan sama kamera ini, hehe..Tapi gw sih belum banyak eksperimen sebenernya, yah learning by doing.

Gara2 mulai lagi memakai Lomo, gw jadi membuka lagi lomohomes.com/thepopism, yang udah lama juga gak gw update. Disitu isinya semacam album foto Lomo gw. Skg gw upload disini beberapa dari hasil-hasil Lomo gw yang dulu-dulu. Kalau mau lihat lengkapnya silahkan berkunjung di lomohomes gw..hehe...

Reunion




Ini beberapa foto waktu gw menghadiri reuni SD gw kira-kira 2 minggu yang lalu. Gak sempat foto banyak2, abisnya gw ampe lupa bawa kamera, karena keasyikan ngobrol sama teman-teman gw yang rata-rata udah hampir 10 tahun gw gak ketemu.

Sunday, August 7, 2005

Adegan-adegan yang biasanya ada dalam film-film Indonesia tahun 1970an dan 1980an

Ini ada beberapa adegan yang sangat klise yang biasa ada di film-film Indonesia tahun 70an-80an :


1. Makan bersama keluarga. Entah maksudnya
apa, pamer apa yang dimasak sama
pembantu rumah tangganya, atau pamer
peralatan dapur. Dan biasanya
minumannya selalu jus jeruk.


2. Cinta yang tidak disetujui orang tua. Entah
sudah berapa judul film Rano Karno yang temanya
beginian.


3. Ayah yang selalu berbaju safari. Biasanya
warnanya coklat muda, dengan 2 bolpen di
kantongnya, membawa koper, dan biasanya
ke kantor.


4. Polisi yang selalu datang terlambat. Seperti
biasa, polisi selalu terlambat untuk menangangi
masalah dalam film Indonesia, dengan kalimat
yang kaku dan khas: "Ini memang buronan
yang sedang kami cari, Pak!"


5. Adegan pub/bar/nightclub. Scene ini biasanya
lampu remang-remang warna kemerahan, diiringi
musik-musik kaya' ABBA, Beegees, Kool and The
Gang. Lalu minuman diberi obat perangsang.


6. Masuk Rumah Sakit. Biasanya karena
penyakit yang baru disadari sudah
stadium 2 atau 3, karena mengidap kanker,
leukimia, atau jantungnya kambuh.
Sangat jarang penyakitnya bengek, korengan,
atau diare. Dokternya biasanya berkumis, badan
agak gemuk, kacamata baca model Malcolm X,
stetoskop menggantung di leher, dan biasanya
ngomong : "Bapak dan Ibu tidak usah khawatir,
kami akan berusaha semampu kami."


7. Adegan lari-larian di taman atau di pinggir
laut sambil ketawa-ketawa
kecil "hahaha...hahaha..." trus yang cewek
menjatuhkan diri. Maksudnya romantis, tapi kok
malah jadi lucu. Trus saat adegan ciuman, diganti
(disensor) dengan deburan ombak atau bunga
mawar.


8. Mau diperkosa trus nggak jadi karena
jagoannya datang. Entah dari mana,
tiba-tiba berantem aja sama yang mau
memperkosa.


9. Tokoh kyai/orang sakti/pemuda yang alim.
Biasanya untuk ngusir setan kaya kuntilanak,
arwah penasaran dan lain-lain.
Banyak ditemui di film-film horor Indonesia dan
biasanya selalu menang.


10. Di setiap ending film pasti disertai dengan
tulisan: SEKIAN, TAMMAT, SELESAI, dan lain-lain
dengan warna-warna yang cerah. Khusus untuk
film warkop tulisannya SAMPAI JUMPA LAGI.


11. Kalau cowok pergi ngapel ke rumah camer
biasanya bawa oleh-oleh kue tart yang norak-norak
(zaman segitu belum ada black forest, sih!)


12. Kalau kuliah naik motor and berambut
gondrong.


13. Cewek kalau dijemput cowoknya pakai
mobil, pintunya dibukain.


14. Adegan buang puntung rokok, terus dimatiin
pake kaki. Mungkin biar sepatu boot/kulitnya
keliatan.


15. Kalau perpisahan bikin acara disko sendiri di
rumah.


16. Terjadinya ML gak sengaja, gara-gara
kehujanan atau pada saat hujan.


17. Kalau mau ketemu cewek, si cowok sisiran
dulu. Rambut gondrong, diminyakin dan sisirnya
ditaruh di saku belakang. Sisirnya nongol sedikit!


18. Nama peran utamanya kalau cowok selalu
JOHAN, HENDRA, ANTON.


19. Kalau naik motor nggak pake helm.


20. Cewenya kalau habis dimarahin sama
bokapnya, biasanya langsung lari ke
kamar terus nangis tersedu-sedu di ranjang
(biasanya film-film Rhoma Irama).


21. Suka ada iklan tersembunyi, biasanya
rokok.


22. Kalau pemeran utama cowoknya ceritanya
udah jadi tua, tinggal ditambahin kumis doang.


23. Kalau film silat, gadis desanya senang
nyuci di kali pakai kemben, bawa
bakul, kainnya cuma 2 biji. Pas lagi nyuci,
datang penjahat dan langsung
tuh penjahat pengen perkaos.


24. Kalau film perang, kapten Belanda biasanya
orang Indonesia pake wig pirang, serdadunya
senang jalan-jalan keliling kampung, pas liat cewek
lagi nyuci di kali, pengen perkaos juga.


25. Biasanya kisah sedihnya beruntun.
Misalnya: anak sakit, nggak punya
uang, mau beli obat, hujan deras, eh si emak
ketabrak mobil lagi... pokoknya tragis


26. Cewek diperkosa di dalem kamar di atas
tempat tidur. Cewe yang diperkosa
bilang: "tidak...jangan...tidak..."
Terus yang merkosa bilang: "teriaklah sekuat-
kuatnya"

Reuni SD

Malam minggu kemarin, gw baru menghadiri sebuah reuni SD. Saat gw diberi tahu tentang reuni ini gw sangat bersemangat. Gila kalau dipikir-pikir gw udah hampir 10 tahun kali gak ketemu sama teman-teman SD gw itu! SD gw namanya SD Katolik Abdi Siswa. Letaknya di kompleks perumahan Taman Aries, Jakarta Barat. Gw sangat menikmati masa belajar gw selama 6 tahun di SD tersebut, dan karena itu juga, gw sangat merindukan untuk bisa bertemu kembali teman-teman SD gw, dan saat datang kabar tentang reuni, gw gak akan melewatkannya begitu saja, walau teman ada yang mengajak untuk pergi ke Jakarta Movement, sepertinya tawaran reuni jauh lebih menarik.


Sebenernya ada rasa takut juga sih untuk ketemu teman-teman SD gw itu, karena gw gak tahu sekarang mereka gimana, pasti akan berbeda berbincang dengan mereka saat ini. Gw takut kehilangan chemistry yang dulu gw rasakan saat bersama mereka. Tapi mau bagaimanpun berubahnya mereka ada sesuatu yang akan masih menyatukan kita kok, yaitu sebagai alumni SD Abdi Siswa angkatan 1994/1995.


Gw datang kesitu bareng Nanda dan Dodo, kedua orang ini merupakan teman satu sekolah gw yang paling lama dari jamannya SD sampai SMA. Paling gak jika disana gw mengalami kebuntuan dalam percakapan dengan teman-teman yang sudah lama banget gak ketemu, gw masih bisa mengobrol dengan Dodo dan Nanda yang notabene jauh lebih dekat dengan kehidupan gw selama ini. Saat menginjakkan kaki ke tempat pertemuan, gw mendapati banyak sekali muka yang familiar tetapi gw banyak juga yang lupa namanya, hehe..khususnya gw banyak lupa dengan yang cewe-cewe. Ada satu teman cewe yang menyapa gw duluan, lalu gw basa basi bilang apa kabar sambil berusaha kuat mengingat namanya, dan teman gw malah membalas ucapan basa basi gw itu dengan pertanyaan,  ”Eh emang lo masih inget nama gw?” Wah karuan saja gw dengan malu malu mengakui gw udah lupa namanya, hehehe...Dan kasus lupa nama sering banget terjadi sama gw malam itu, tapi ada satu teman yang bilang ke gw, kata dia, ”Udahlah mas, kalo lupa tanya aja, namanya juga reuni!” Gw pikir-pikir lagi, iya juga yah, ini kan reuni, apalagi reuni dengan teman-teman yang udah 10 tahun gak ketemu akan sangat wajar juga kalau bisa lupa nama, hehe...


Selanjutnya setiap kali gw mengobrol dengan teman-teman gw disitu, pertanyaan pertama pasti akan muncul : Sekarang lo dimana? Kuliah dimana? Udah lulus? Teman-teman gw rata-rata banyak yang kuliah atau SMA di luar negeri dan rata-rata dari mereka yang belajar di luar negeri udah pada lulus dan malah ada yang mau mengambil master di luar negeri lagi. Betapa bahagianya mereka di dalam hidupnya udah bisa merasakan kehidupan di luar Indonesia, paling gak pola pikir mereka pasti akan lebih luas lagi, kerena mereka telah hidup di 2 atau 3 budaya yang berbeda beda dan itu pasti secara tidak langsung akan memperngaruhi pola pikir mereka ke depannya. Yah tapi gw juga gak menyesali kok hidup di indonesia sampai saat ini, kerena kehidupan gw disini sekarang juga menyenangkan, walau gw gak bisa dengan leluasanya menonton band-band seperti Bloc Party, Belle and Sebastian dan band-band mancanegara lainnya yang sering ditonton oleh temen gw di Jerman, Damn! Hehehe...


Satu hal yang gw alami saat bertemu kembali dengan teman-teman lama gw itu adalah gw bisa cepat akrab dengan mereka walau dulu gw gak segitu akrabnya atau malah dulu gw gak pernah bercakap juga dengan mereka. Malah teman-teman yang dulu cukup akrab, sekarang gw merasakan ada sedikit kekakuan diantara kita. Entah mengapa. Lalu banyak juga teman-teman gw yang membuka usaha pribadi, dan kebanyakan usahanya sama yaitu usaha fotografi. Jadi untuk kedepannya, jika ada acara reuni lagi, seksi doukumentasi udah terjamin deh, hehe...Lalu ada satu hal lagi yang mengagetkan gw, yaitu banyak dari teman gw yang ternyata udah menikah dan punya anak. Kebanyakan sih cewe, tapi kalau dipikir lagi, mereka masih muda amat yah, usia kita kan kalo gak 22 ya 23. Di umur segitu udah menikah dan ngurus anak, tapi sayang pada malam kemarin teman-teman gw yang sudah menikah gak ada yang dateng, mungkin terlalu sibuk mengurus anak masing-masing kali ya..hehehe...


Yah malam kemaren berlangsung cukup meriah dan hangat. Semua orang yang hadir malam kemarin tampak berbahagia. Dan sepertinya semuanya masih ingin bercengkrama lebih lama, dan karena itu juga kemaren diadakan rapat mendadak untuk membahas rencana kumpul-kumpul lagi. Dan ada salah seorang teman yang mengusulkan villanya di puncak untuk dipakai. Semua langsung setuju, tinggal menentukan tanggalnya saja yang rada repot, karena setiap orang pasti mempunyai kesibukan yang berbeda beda. Yah tapi masalah tanggal katanya akan diinformasikan mengenai mailing list. Oh iya masalah mailing list, gw juga baru tahu ternyata mereka membuat mailing listnya juga, kemaren semua email teman-teman udah tercatat dengan baik tinggal ownernya mengadd kita satu-satu. Ternyata teman-teman gw itu begitu mencintai masa-masa SDnya seperti juga gw, masa-masa kita masih jajan mie di kantin harganya masih 500, trus masa-masa disaat istirahat bermain ta’gebok pake bola tenis atau masa-masa mempunyai kecengan yang bikin kita semangat masuk sekolah, hehe..kalau banyak yang bilang masa SMA adalah yang terbaik gw juga bisa bilang masa SD gw juga gak kalah terbaiknya dengan masa SMA, setuju gak?

Saturday, July 30, 2005

The First Time..













Jadi pada kamis malam kemaren, gw untuk
pertama kalinya manggung seorang diri. Gw disitu menyanyi dan maen
gitar. Awalnya tawaran manggung ini dateng dari Erick Death Rock
Star, yang emang biasa bikin acara di TRL setiap hari kamis. Dan
untuk kamis kemaren, konsep acaranya adalah akustikan singer,
songwriter gitu. Selaen gw ada Diaz juga dari Blossom Diary, lalu ada
2 orang personil dari Jelly Belly, Aduy dan Inay, lalu seorang lagi
namanya Lutfhi, sayang gw gak bisa nonton 2 penampil sebelum gw, karena
Felix ama Bobby ngajakin makan di banceuy sebelum gw manggung, jadi pas
gw dateng agak mempet gitu jadi gw langsung manggung.



Anyway, agak aneh memang manggung sendirian,
nyanyi lagi…baru kebayang gimana susahnya jadi seorang vokalis,
gimana harus komunikasi ke penonton karena jujur aja kemaren gw
bingung banget apa yang harus gw omongin ke penonton. Untung kemaren
yang nonton gak gitu banyak dan kebanyakan juga teman-teman sendiri,
jadi gak begitu tegang. Dan sulitnya lagi, saat manggung, gw harus
membagi konsentrasi antara nyanyi, maen gitar dan maen harmonica. Setelah gw nyanyi sendiri gw juga berkolaborasi dengan Diaz, 2
lagu gw membantu maen gitar untuk lagu-lagu ciptaannya Diaz, dan satu
lagi gw nyanyi bareng Diaz bawain lagu The Shins yang New Slang



Trus untuk set list, gw juga baru buat
langsung di panggung, karena sampai detik-detik terakhir mau
manggung, gw juga belum pasti akan membawakan lagu yang mana, yang
pasti gw udah nyiapin sekitar 5 lagu, yang terdiri dari 3 lagu orang
dan 2 lagu sendiri. Gw berencana mau bawain lagu ballads juga, tapi
juga belum pasti lagunya yang mana..pokoknya bener-bener hajar
langsung aja deh di panggung, hehe…



Yah akhirnya manggung pertama gw
berjalan cukup lancar, walau mungkin terlihat agak ‘garing’ bagi
penonton karena gw tidak berkomunikasi dengan baik juga dengan
penonton, tapi yah sudahlah, ini kali pertama gw juga manggung
sendiri dan gw harus banyak belajar untuk bisa manggung dengan konsep
seperti itu.













Btw ini set list gw yang gw bikin scara
spontan di panggung :


  1. Blowin In The Wind - Bob Dylan


  2. Northern Sky - Nick Drake


  3. Jealous Guy - John Lennon


  4. Hummingbird – ciptaan sendiri


  5. Season of Joy – lagu Ballads,
    ciptaan gw juga.








Monday, July 25, 2005

songs diary part II

13. Don’t Look Back In Anger – Oasis


Lagu ini adalah lagu Oasis pertama yang gw kenal. Gw melihat videoklipnya di tv dan langsung jatuh cinta. Gak berapa lama gw beli kasetnya. Dulu majalah-majalah remaja suka memberikan teks lagu yang sedang hits beserta kord gitarnya. Hal ini menjadi berkah bagi gw, yang kebetulan pada saat itu baru belajar gitar dan belum tahu caranya mencari kord lagu yang cepat dan benar. Jadi tiap kali nongkrong sama teman-teman gw biasa nyanyiin lagu ini juga. Mengenai Oasis, dulu gw ga tau yang nyanyi di Oasis itu sebenernya adalah Liam, karena di lagu ini kan si Noel yang nyanyi.


 


 14. Love Song – The Cure


Suatu hari tetangga gw memberi sebuah kaset yang sebenarnya oleh-oleh dari bokapnya yang waktu itu pulang dari Amerika. Tetangga gw itu gak suka sama kaset itu, dan dirumahnya kaset itu berada di tumpukan barang-barang tak berguna, penuh debu dan tidak terawat. Gak tau kenapa, tetangga gw itu tiba-tiba memberikan kaset itu ke gw, karena menurut dia, gw bakal suka. Kaset itu berjudul Disintegration dari grup bernama The Cure. Jujur saja pada saat itu gw tahu The Cure hanya singlenya saja yang Friday I’m In Love. Itu pun gw hanya dengar selintas lalu. Tapi namanya pemberian, gw menerimanya dengan suka hati. Setelah gw dengar kaset itu, gw jatuh cinta pada grup ini. Album itu begitu gelap dan misterius. Soundnya gak kayak band-band eropa yang pada saat itu gw denger. Dan salah satu lagu yang pertama kali menarik telinga gw yaitu Love Song. Suara keyboard di lagu itu membuat lagunya menjadi dingin, misterius tetapi tetap terdengar indah terutama karena lirik yang dibuat oleh Robert Smith. Versi terbaru dari lagu ini yang dibawakan oleh 311, gw malah kurang suka, karena terasa ada sesuau yang hilang di lagu itu, entah apa.


 


15. Close To Heaven – Color Me Badd


Color Me Badd itu bisa dibilang sebagai grup vocal atau boyband ya? Pada periode awal 90an, media tidak mempermasalahkan hal itu. Karena jika ada grup baru entah grup itu mau memainkan alat musiknya sendiri atau hanya grup vocal, media tetap menyebutnya sebagai new group.tanpa embel-embel lainnya. Grup ini sangat 90an, dari musik-musiknya atau style yang up to date sekali pada jamannya. Dan Close To Heavenlah yang membawa gw tahu musik dari Color Me Badd. Dulu gw sampai hafal lirik spanyolnya lho yang ada di lagu ini, hehe… Sekarang mereka pada kemana yah? Udah jadi bapak-bapak Amerika pada umumnya kali ya? Yang mengalami obesitas, dan suka nonton acara sport pada hari minggu dengan sekaleng bir di tangan, hahahaha….


 


16. Burung Gereja –Nugie


Gw dulu fans dari Nugie. Trilogi albumnya semuanya gw beli. Dan bisa dibilang Nugielah yang menginspirasi gw pertama kali saat kelas 2 SMP untuk mencipta lagu. Dulu gw bercita-cita keren juga yah suatu saat gw bernyanyi sendirian sambil maen gitar, hehe…Dari semua lagu Nugie, Burung Gereja yang paling gw sukai. Kordnya juga gampang, dan saat itu gw sudah mulai mencari sendiri kord-kord lagu yang ingin gw pelajari. Dari situ, gw mengasah juga kepekaan gw dalam nada. Yah sedikit banyak Nugie secara tidak langsung mengasah kemampuan musikalitas gw juga berarti, hehe..


 


17.Find A Way To My Heart – Phil Collins


Album Phil Collins But Someday menurut gw adalah album Phil Collins yang paling bagus dan yang paling sukses. Banyak lagu-lagu bagus yang menjadi hits disini. Salah satu lagu di album ini yang paling berkesan bagi gw adalah “Find A Way To My Heart” Lagu ini tidak dijadikan single apapun untuk albumnya, tetapi lagu ini berkesan bagi gw karena selalu mengingatkan gw saat gw menonton pertunjukan sulap dari pesulap favorit gw, David Copperfield saat dia datang ke Jakarta. Jadi David saat melakukan aksi-aksi sulapnya entah kenapa banyak menggunakan lagu-lagu dari Phil Collins. David Copperfield selalu bisa membuat dramatisasi yang pas dari lagu-lagu Phil Collins untuk dijadikan tontonan sulap yang menarik. Dan menurut gw, lagu ini termasuk yang paling sukses dalam mempresentasikan kemampuan David Copperfield dalam menghibur penonton dengan aksi sulapnya. Jadi lagu ini dipasang untuk opening saat David memasuki panggung. Intro lagu yang panjang, musik yang menghentak saat reffren, terasa sangat pas karena dapat membuai penonton untuk terbawa dan mulai memasuki dunia ilusi ala David Copperfield.


 


18. That’s Way (You Go Away) – Michael Learns To Rock


MLTR adalah salah satu grup yang gw sukai saat SMP. Grup ini beken sekali di Asia, malah mungkin popularitasnya di Asia melebihi di negaranya sendiri. Gw sempat beli beberapa dari album mereka (guilty pleasure, hahaha..) Dan lagu mereka yang paling gw sukai adalah That’s Why (You Go Away). Gw tambah suka lagu ini disaat gw ke Jogja bersama teman-teman SMP. Pada saat itu gw baru aja membeli album The Best mereka. Jadi sepanjang di bis, gw memutarnya terus sambil merenungi nasib, karena pada saat itu gw masih sendiri, gak ada pacar, sedangkan teman-teman gw saat itu asik sekali bisa karya wisata bareng pacarnya masing-masing ke Jogja, huhuhu…


 


19. Love Games – Level 42


Gw tertarik sama lagu ini, kerana bass linenya yang sangat groovy. Saat gw pertama kali belajar bass saat SMP, gw mencari lagu-lagu yang mempunyai struktur bass line yang tidak biasa dan groovy. Dan keinginan gw itu terlampiaskan pada lagu ini. Sebetulnya lagu ini diperkenalkan ke gw pertama kali oleh guru les bass gw. Dia memainkan bass line dari lagu ini seraya mendengar lagunya dari tape di kelas. Sekejap gw langsung terkesima. Dan pada saat itu gw ingin sekali bisa memainkan lagu ini dengan baik dan benar. Di rumah gw belajar keras sehingga pada periode itu, nyokap gw pasti bosen mendengar Love Game terus menerus, karena seperti halnya orang lagi mengulik lagu, pasti lagunya akan diulang-ulang terus sampai bisa. Dan satu hal yang gw kagumi dari Level 42 bahwa Mark King bisa menyanyikan lagu ini sambil bermain bass! Dia memang seorang vokalis/bassist/songwriter yang hebat. Dia mempunyai suara yang khas, lagu-lagu yang bagus dan permainan bassnya juga patut diacungi jempol.


 


20. Never Forget – Take That


Jika pada periode SD, gw menyukai boyband yang bernama NKOTB, maka pada periode SMP, gw suka sama boyband yang namanya Take That yang berasal dari Inggris. Boyband ini sedikit berbeda dari boyband-boyband lainnya mungkin hingga saat ini. Karena Take That mengarang sendiri semua lagu-lagunya. Sebenarnya yang mengarang hanya satu orang, yaitu Gary Barlow, tapi personil lainnya juga menonjol dengan ciri khasnya masing-masing. Jebolan Take That yang sekarang paling sukses adalah Robbie Williams. Hal itu diluar dugaan gw, karena gw menduga pastilah Gary Barlow yang akan mempunyai karir solo yang gemilang, secara dia juga yang mengarang semua lagu di Take That, atau bisa dibilang dialah yang membawa ciri Take That. Tetapi nasib berkata lain, dan sekarang terbukti memang bakat saja tidak cukup untuk berkarir di industri musik, melainkan kita harus mempunyai faktor lain seperti image yang kuat (yang jelas hal ini dimiliki oleh Robbie yang dulu terkenal sebagai bad boy dalam grupnya) dan juga peruntungan yang kuat, hehe…”Never Forget” bisa dibilang adalah lagu perpisahan mereka, karena lagu ini dijadikan single pada album the best mereka yang juga bisa dibilang album terakhir mereka. Gw suka sekali bagian choir anak-anak pada awal lagunya. Dan lagu ini selalu mengingatkan gw pada pengalaman pertama gw menonton konser musik grup mancanegara, yaitu saat gw menonton Take That pada tahun 1996


 


21. Basket Case – Green Day


Para penjaga studio musik pada tahun 1994-1995 pasti akan bosan mendengar lagu Basket Case dimainkan oleh banyak dari abg-abg yang baru membentuk band. Dan percaya atau tidak, gw juga termasuk dalam abg-abg tersebut, hehe…Progresi kord yang mudah, lagu yang penuh semangat, dan popularitas Green Day pada jaman itu, merupakan faktor-faktor yang mendukung mengapa lagu ini sangat digemari oleh anak-anak yang baru ngeband. Lagu ini biasa bersanding dengan lagu “Creep” dari Radiohead atau juga “I Will Survive” dari Cake sebagai playlist utama abg-abg pada jaman itu jika sedang latihan musik di studio.


 


22. Kosong – Pure Saturday


Sebenarnya impresi gw pertama kali agak buruk terhadap lagu ini. Jadi saat gw masih duduk di kelas 3 SMP, gw baru saja bergabung sama suatu band dan gak berapa lama kemudian, gw sama teman-teman gw mengikuti suatu audisi untuk acara pensi suatu SMA di jakarta barat. Pada jaman itu lagu “Kosong” dari Pure Saturday ini sangat terkenal di kalangan anak-anak muda. Dan setelah berunding, kami memutuskan untuk memainkan lagu ini pada audisi pertama kali yang akan kami lakukan. Namanya juga baru ngeband, kami sama sekali gak memperhatikan faktor-faktor lain diluar main yang rapi. Kita dengan ‘pede’nya masuk ke studio dengan penuh keyakinan, tetapi faktor lain itu yang akhirnya menggagalkan kami. Karena Pure Saturday bermain dengan tiga gitar maka kami juga ingin bermain dengan tiga gitar juga, tetapi masalahnya gitar yang satunya ternyata tidak terstem dengan baik. Saat gitaris gw disuruh nyetem, dia malah gugup sehingga suaranya bukan malah bertambah baik malah semakin hancur. Panitianya juga menyebalkan, karena kita dikasih waktu sangat mepet, sehingga karena kelamaan nyetem, waktu kami terpotong dan akibatnya lagunya juga belum kelar kami disuruh selesai dengan sedikit terpaksa. Balik lagi ke lagu “Kosong”, diluar cerita tadi, gw sebenarnya sangat suka sama lagu ini, intro lagu yang catchy, lirik yang dalam dan melodi yang sangat mudah diingat membuat gw selalu jatuh cinta untuk kesekian kalinya setiap kali mendengarnya.


 


23. Kau – Netral


Lagu ini terdapat pada album Netral yang berjudul Album Minggu Ini. Kalau gak salah ini adalah album terakhir Miten sebagai gitaris Netral. Setelah Miten keluar, gw merasa ada perubahan yang cukup signifkan dalam musik Netral. Lagu “Kau” ini adalah lagu yang cukup berbeda bila dibandingkan lagu-lagu Netral lainnya. Diawali dengan melodi gitar yang cukup catchy dan suara drum seperti bebunyian loop drum elektronik.  Sepertinya Bimo pada saat itu mau bereksperimen dengan sound-sound seperti itu. Dulu saat gw mendengarkan album ini, gw berpikiran bahwa lagu ini pasti akan menjadi single kedua setelah “Pucat, Pedih, Serang”. Tetapi sepertinya penjualan album ini kurang begitu baik atau entah promosi dari pihak label juga kurang, maka lagu ini terbuang begitu saja dari jejeran single-single hits dari Netral. Sayang sekali…


 


24. Hilang – Rumah Sakit


Rumah Sakit salah satu pionir dalam pergerakan musik underground di Jakarta. Mereka selalu ada sebagai headline utama pada setiap pagelaran acara-acara underground (indies)  dari M Club sampai Poster Café circa 1994-1999. Dan pada akhirnya mereka mengeluarkan album pertama mereka dengan single hitsnya yang berjudul “Hilang”. Lagu ini bisa dibilang sebagai anthem anak-anak indies pada era kejayaan Poster Café. Saat intro lagu ini dimainkan, karuan saja, anak-anak remaja berambut belah pinggir dan berjambang panjang, memakai kaus ketat dan tas disamping pada menari ala Ian Brown. Tarian massal ini dipimpin langsung oleh Andri Lemes, vokalis dari Rumah Sakit diikuti dengan koor panjang dari mereka. Gw dulu menjadi saksi bagaimana Rumah Sakit pada era itu sangat digilai oleh anak-anak Indies, dan lagu “Hilang” ini (dan juga lagu-lagu hits lainnya dari Rumah Sakit) juga selalu dimaninkan oleh band-band baru yang terus bermunculan pada kejayaan Poster Cafe.


 


25. Runaway Train – Soul Asylum


Gw mengenal Soul Asylum saat SMP, single mereka yang “Misery” sukses dimana mana. Tapi ada satu lagu mereka yang gw pribadi lebih suka, yaitu “Runaway Train” ini. Gw mendengar di kaset kompilasi lagu-lagu hits pada masa itu dan didalamnya ada lagu ini. Lagu ini mempunyai struktur yang mengalun dengan santai, gak ada kejutan-kejutan pada lagunya, dan pada saat itu gw membayangkan lagu ini cocok sekali didengarkan saat perjalanan luar kota di sore hari pada pinggiran kota di Amerika, jalan yang lurus dan sepi, keadaan agak sedikit gersang, kaca dibuka, angin berhembus kering tetapi sejuk.


 


akhir dari periode 1987-1997


bersambung...


 


 


 

Bryter Layter

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:Nick Drake
Nick Drake seorang musisi, penyanyi, pencipta lagu berbakat yang ‘memang harus mati muda’ tetapi tidak seperti kawan-kawan senimannya yang mengalami nasib yang sama seperti Jim Morisson, Kurt Cobain yang begitu melegenda dan dikenal banyak orang, kiprah karir seorang Nick Drake memang tidak begitu popular dimasyarakat umum, tetapi musiknya ternyata begitu mempengaruhi banyak musisi sekarang, seperti Elliot Smith (yang juga mati muda), Badly Drown Boy atau grup Belle and Sebastian. Di hidupnya yang singkat, dia telah menghasilkan 3 full album dan beberapa lagu yang belum sempat dirilis resmi.

Diantara semua albumnya, gw merasa bahwa album ini yang juga merupakan album keduanya sebagai album yang paling sukses terutama dari musikalitas yang telah dia capai. Album ini juga satu-satunya album Nick Drake yang berformat band. Karena pada 2 album lainnya, Nick Drake sering hanya menggunakan iringan gitar akustik saja. Di album Bryter Lyter ini, Nick Drake banyak dibantu oleh personil dari grup British folk, Fairport Convention yang memang menemukan dan membawa karir Nick Drake ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu dengan memperkenalkannya kepada produser Joe Boyd yang nantinya akan menjadi produsernya pada album ini.

Album ini dibuka dengan “Introduction” yang begitu menghanyutkan dan misterius dengan layer string yang megah. Dilanjutkan dengan “Hasey Jane II” yang menjadi satu-satunya lagu yang sedikit up beat di album ini. Mendengar lagu ini serasa seperti berangkat dari rumah dijemput oleh Nick Drake yang akan membawa kita untuk minum teh bersama di sore hari. Nuansa album ini tidak semurung 2 album lainnya, karena Nick Drake membungkus semua kesedihan dan kesepiannya dengan aransemen yang manis dan cantik. Bebunyian dari brass section banyak menghiasi lagu-lagu di album ini, seperti suara flute yang begitu dominan pada 2 lagu instrumental “Byter Layter” dan “Sunday”yang terdapat pada tengah dan akhir album. Atau fill-fill dari trompet yang begitu padu dengan iringan string section pada lagu “At The Chime Of A City Clock” Setiap lagu mengalun ringan, tanpa beban seperti suara Nick Drake yang begitu menyejukan. Dalam“Fly”, kita seakan akan seperti terbang rendah perlahan menyusuri bukit-bukit kecil di tengah padang rumput hijau membentang. Atau “One Of These Things First” yang mengiringi kita memetik bunga-bunga indah di taman dengan dentingan piano yang mengisi rapat pada struktur lagu, akan selalu mebuat kita tersenyum. Album ini begitu kaya akan aransemen, seperti “Poor Boy” yang sedikit-sedikit banyak mengadopsi gaya musik jazz. Tapi track terbaik menurut gw adalah “Northern Sky” Jatuh cinta, refleksi dari kesepiannya dan ketakutan digabungkan menjadi satu dengan indahnya. Suara piano, celeste dan organ yang dimainkan oleh musisi legendaris John Cale membuat lagu ini terasa getir namun bahagia.

Album ini adalah album yang harus dimiliki,walaupun anda bukan penggemar Nick Drake. Karena setiap orang pasti akan menyukai setiap track yang ada di album ini. Karena semua lagu sangat ear friendly, mendengarkannya gak harus mikir segala hal yang rumit. Karena album ini begitu sederhana seperti juga cerminan pribadi seorang Nick Drake.

Saturday, July 16, 2005

wisata plus plus




Hari sabtu kemarin adalah hari yang sangat meletihkan tetapi sekaligus menyenangkan. Jadi kemarin adalah kali pertama dari rangkaian syuting untuk video klip terbaru Ballads of The CLiche. Untuk sutradara, kami mempercayai kepada Ibong dari griya produksi The Trogongs, dimana dulu Ibong juga merupakan model videoklip Ballads yang pertama, yaitu Jennifer Loves Hewitt yang disutradarai oleh Andri Lemes.

Dan setelah melalui berbagai pembicaraan, kami memutuskan untuk memakai Pekan Raya Jakarta 2005 ( PRJ 2005 ) sebagai lokasi pertama pembuatan video. Kita di PRJ mulai masuk dari jam 11 siang dan keluar jam 9 malam. Pake bonus hujan deres lagi..Tapi segalanya berjalan dengan lancar dan menyenangkan, diramaikan oleh Merdi, Nourie, Adit 'Vampir' dan Harry membuat suasana tambah meriah. Syuting kali ini bisa dibilang sebagai wisata plus plus karena gak berasa syuting juga, yah benar-benar seperti wisata plus syuting dan plus belanja juga, hehehe....Dipikir-pikir udah lama juga gw gak mengunjungi tempat-tempat hiburan semacam ini. Gara-gara itu gw jadi semangat banget dan gak kerasa gw udah mengelilingi mungkin hampir semua sudut di arena PRJ tersebut. Tetapi akibatnya, kaki gw udah kaya mau copot sekarang, pegel banget, gak ada yang mijetin lagi, huhuhu...

Tuesday, July 12, 2005

songs diary













    Setiap orang pasti
mempunyai artifak-artifak tertentu terhadap kisah yang telah terjadi
pada hidupnya. Dan lewat artifak tersebut, seorang bisa mengenang atau
melihat kembali perjalanan hidupnya yang telah dilewati. Artifak paling
gampang biasanya lewat sebuah foto. atau bisa juga lewat sebuah diari.
Tetapi sekarang gw mau mencoba membuka kisah-kisah lama gw lewat
lagu-lagu yang selama ini gw dengar dan pastinya yang meninggalkan
kenangan-kenangan tertentu terhadap diri gw yang mungkin bisa membuat
gw tertawa kembali atau mungkin bisa membuat gw sedih. Lagu-lagu yang
gw tuliskan berikut ini juga bisa mempunyai peranan terhadap
perkembangan diri gw.

    Intinya lagu-lagu ini mempunyai keterikatan
emosional sehingga ketika gw mendengar lagu ini kembali, memori gw
seakan terbuka untuk berpetualang ke kehidupan gw pada masa lalu. Untuk
gampangnya gw akan membagi 2 bagian besar dalam tulisan ini. Yaitu
periode tahun 1987-1997 dan periode 1998-sekarang. Dan masing-masing
bagian memuat 25 lagu dari keselurahan total 50 lagu.




Periode 1987 - 1997


  1. Walls Come
    Tumbling Down – The Style Council





Lagu
ini pertama kali gw dengar saat gw kecil, mungkin saat itu gw belum
masuk SD. Ceritanya bokap gw saat itu baru balik ke Jerman dan dia
pulang dengan membawa beberapa video yang isinya rekaman video-video
klip atau acara-acara TV lokal Jerman. Video-video itu begitu sering
gw tonton, darisana gw banyak mengetahui artis-artis mancanegara
walau pada saat itu gw belum hafal nama nama penyanyi atau grup
bandnya. Tapi musik-musik yang gw dengar pada saat itu masih
tersimpan kuat di memori gw sampai saat ini. Jadi belum lama, gw
mendengarkan satu album the best dari The Style Council dan beberapa
saat gw terdiam sambil mencoba mengingat sebuah lagu yang terdapat di
album tersebut, gw merasa familiar dengan nada-nadanya. Dan akhirnya
gw baru tersadar bahwa lagu dari The Style Council yang berjudul
“Walls Come Tumbling Down” tersebut adalah salah satu lagu yang
gw sering lihat videoklipnya pada video rekaman yang dibawa bokap gw.
Sejenak gw merasa seperti kembali ke umur 6 tahun, duduk dengan
serius mencermati video-video dari bokap gw itu, seraya mendengar
nyokap gw berteriak menyuruh gw mandi sore, hehe..



  1. A View To Kill –
    Duran Duran



    Lagu ini juga gw
mendengarnya pertama kali karena rekaman video bokap gw itu. Videonya
masih tergambar jelas di ingatan gw, karena lagu ini soundtrack dari
James Bond jadinya beberapa gambarnya diambil langsung dari filmnya
dan sebagian lagi menampilkan para personil dari Duran Duran seakan
akan mereka juga berperan dalam film tersebut. Lagu ini juga
merupakan perkenalan gw pada grup yang sangat berpengaruh pada tahun
80an yang bernama Duran Duran. Gw juga mengenal Duran Duran, saat
membaca buku Lupus, rambut Lupus pun juga terinspirasi dari model
rambutnya John Taylor, bassist dari Duran Duran yang dulu sempat
dijadikan sex icon pada masanya, sehingga potongan rambutnya pun
dijadikan suatu trend terbaru oleh anak-anak muda tahun 80an.




         3.Nona
Lisa – Chrisye



            
Gw
pertama kali suka lagu ini gara-gara melihat penampilan live dia di
acara TVRI, Aneka
Ria Safari. Jadi saat itu dia menggunakan properti seperti
lemari-lemari yang kacanya terbuat dari plastik yang pada akhirnya
Chrisye berjalan melewatinya dengan merobek plastik tersebut. Jadi
pertunjukannya saat itu agak-agak berbau teaterikal, tetapi dengan
gaya Chrisye yang tanpa ekspresi. Gw dulu sebagai anak kecil
terkesima melihatnya dan nada-nada dari lagu ini pun terus melekat
dan akan selalu mengingatkan gw akan pengalaman itu dan perkenalan gw
pertama kali dengan seorang penyanyi legendaris bernama Chrisye.
Lagunya sendiri
memiliki intro yang sangat 80an, dengan bunyi drum elektrik yang pada
saat itu sedang banyak digemari. Sebuah lagu dansa yang sangat cocok
diputar saat pesta-pesta bertema 80an.



  1. Across The
    Universe – The Beatles



Dulu orang tua gw punya kaset kompilasi hits The Beatles dari album awal
sampai album terakhir mereka. Dan dulu saat gw masih kecil,
sebetulnya gw gak begitu senang dengan yang namanya The Beatles,
karena saat itu gw berpikir The Beatles adalah band rock n roll yang
lagunya sering dibawakan saat acara dansa dansi pada pertemuan
nostalgia orang-orang tua. Tapi pada suatu hari, gw diam-diam
mengambil kaset itu, dan mendengarkannya dengan seksama. Dan gw
baru sadar ternyata The Beatles mempunyai lagu-lagu balada yang
sangat indah selain lagu-lagu pada era awal karir mereka yang
kebanyakan berirama Rock N Roll. Setelah gw beranjak remaja, gw
semakin kagum oleh musikalitas dari The Beatles. Pasti semua orang
pada awalnya tidak menyangka bahwa band yang bikin album Please
Please Me adalah grup yang sama dengan yang bikin album Sgt Papper’s
Lonely Heart Club Band. Karena dari segi musikalitas mereka jauh
berkembang dan beda banget. Dan salah satu lagu balada dari mereka
yang pertama kali gw denger dan menarik perhatian gw adalah “Across
The Universe” yang diambil dari album mereka yang terakhir, Let It
Be. Gw suka liriknya yang agak-agak berbau spiritual karena saat
mereka membuat lagu ini mereka baru saja pulang dari perjalanan
spiritual mereka ke India. Dan yang paling utama yang gw suka pada
lagu ini adalah progresi kord dan melodinya yang sangat indah.


  1. The King of
    Whisful Thinking – Go West



Ada
1 hal mengenai masa kecil gw yang jarang diketahui oleh teman-teman
gw. Yaitu dulu waktu SD gw pernah diikutkan sanggar oleh nyokap gw.
Namanya sanggar Sangrila. Jadi disitu gw diajarkan berbagai macam
kesenian, dari maen piano, nyanyi sampai belajar menari. Sungguh
menggelikan bukan, gw dulu pernah belajar menari, hehehe…tapi jujur
aja dari semua pelajaran yang diberikan di sanggar, gw paling benci
saat belajar menari. Tariannya sih tarian modern gitu. Tapi ada satu
yang gw ingat saat gw belajar menari, yaitu lagu yang mengiringi gw
dan teman-teman gw saat menari. Lagu “King of Whisful Thinking”
ini adalah lagu tipe 90an banget, dan gw baru sadar pas sekarang,
lagu ini emang sempat beken banget pada jamannya. Lagu ini juga
merupakan salah satu pengisi soundtrack dari film Pretty Woman. Tapi
gw baru mendengar lagu ini, pada saat di sanggar.
Dan kalo ga
salah grup Go West juga termasuk grup one hit wonder, karena mereka
cuma terkenal oleh lagu ini saja. Yah sampe sekarang gw cuma ingat
lagu ini sebagai lagu pengiring belajar menari gw aja, kalau masalah
gerakan menarinya sih, gw udah gak mau ingat lagi. Malu, hehe….




  1. Mike & The
    Mechanics – Over My Shoulder



Gw
kelas 6 SD saat mendengar lagu ini. Jadi saat menjelang kelulusan, di
tv swasta kita, sering sekali memutar lagu ini. Waku itu gw masih
biasa aja, gak begitu suka. Tapi saat gw lulus, gw dan beberapa teman
mengadakan semacam perpisahan sendiri di puncak. Menginap di villa
teman, lalu bersenang senang. Dan di villa itu, mempunyai antena
parabola dan seperti anak seusia kita pada saat itu, gak ada lagi
channel yang lebih keren dibandingkan dengan MTV. Maka dari itu kita
selalu menyetel MTV dan ternyata video klip Mike & The Mechanics
juga sedang sering ditayangkan. Lama kelamaan gw jadi suka lagu ini
dan untuk seterusnya lagu ini akan terus mengingatkan gw saat
menginap bersama teman-teman SD di puncak.






  1. About A Girl –
    Nirvana



Ini
adalah lagu pertama yang gw bisa saat gw belajar gitar. Gw
dibeliin gitar saat gw sunatan, jadi gitar gw ini semacam hadiah
sunatan dari orangtua gw. Waktu itu kelas 5 SD, gw semangat banget
pas mau belajar gitar sampe gw beli buku khusus yang isinya
tehnik-tehnik belajar gitar yang baik. Tapi pada satu kesempatan, gw
udah males untuk belajar lagi, karena gw bosen, kemampuan gw segitu
gitu aja, gw tau kord tapi gw gak bisa maenin lagu. Dan akhirnya
gitar hadiah itu gw sarungkan dan gak gw maenin kira-kira setahunan.
Sampai pada akhirnya, saat perpisahan dengan teman-teman SD di
puncak, teman-teman gw saat itu sedang gandrung-gandrungnya dengan
Nirvana, terutama karena mereka juga baru aja merilis album
unpluggednya. Jadi saat berada di villa puncak itu, saat sedang
santai teman-teman gw sering membawakan lagu-lagu Nirvana dengan
iringan gitar kopong saja. Dan salah satu lagunya yaitu "About A Girl".
Karena penasaran, gw minta diajarin sama mereka, karena sebelumnya gw
udah sedikit banyak tau kord, jadi gw dengan cepatnya bisa memainkan
lagu ini dengan sempurna. Dan secara resmi,lagu ini adalah lagu
pertama yang bisa gw maenin dengan gitar.










  1. Tonight
    – NKOTB



NKOTB
bisa dibilang sebagai pelopor dari pergerakan boyband yang sekarang
semakin merajalela di industri musik.
Sebagai pionir nama
mereka pasti akan terus dikenang dan kebetulan prestasi mereka juga
hebat. Siapa anak kecil, abg atau remaja di dunia pada periode 90an
yang gak mengenal yang namanya NKOTB? Jordan
Knight dkk langsung menjadi idola baru. Mengapa gw suka NKOTB? Mungkin karena gw suka sama
lagu-lagunya yang sangat easy listening. Lagu hits mereka yang
pertama memang “Step By Step”, tapi gw lebih suka sama lagu
mereka yang berjudul “Tonight” ini. Aransemen musiknya sangat kaya. Diawali dengan gitar bergaya spanyol, lalu diikuti dengan
iringan piano saat verse dan berubah tempo pada saat bridge dan
reffren. Bagian paling gw suka pas interlude yang mengadopsi gaya
musik klasik dengan string section dan suara hapsicord. Gw gak malu
kalau mengakui gw juga suka dengan boyband, terutama NKOTB.




  1. Beautiful Girl –
    Jose Mari Chan



Gw
mendengar lagu ini di rumah gw. Jadi nyokap gw pada saat itu suka
sekali dengan Jose Mari Chan, seorang penyanyi dari Filipina.
Dan
dari lagu-lagu Jose Mari Chan yang sering diputar di rumah gw pada
saat itu, single “Beautiful Girl” yang mengena pada gw. Musiknya
sangat cantik diiringi oleh suara Jose yang begitu lembut. Gw
membayangkan mendengar lagu ini dan menyanyikannya dengan tersenyum
di depan wanita pujaan, pasti membuat dunia terasa lebih indah, hehe…




  1. Obladi Oblada –
    The Beatles



Waktu
gw ikut sanggar Sangrilla, gw banyak mendapat pelajaran berbagai
macam kesenian. Dan
salah satu yang gw pelajari
yaitu bermain piano. Lagu pertama yang gw pelajari saat itu
adalah ”Obladi Oblada." Pada saat gw mulai lancar memainkan
lagu ini, guru gw menyuruh gw ikutan semacam demo musik dari
anak-anak sanggar pada hari minggu yang akan dihadiri juga oleh para
orang-orang tua murid. Tetapi karena gw merasa kurang menguasai dan
juga kurang percaya diri, gw tidak menghadiri demo musik tersebut tanpa
ada pemberitahuan ke guru gw. Gw masih inget kok, guru gw sampai
menelepon ke rumah, tetapi gw menghindar gak mau menjawab, dengan
alasan lagi pergi. Lucu juga kalau inget lagi, gw juga bingung kenapa
gw sampai segitunya menghindar. Pada akhirnya gw sedikit traumatis
pada lagu ini, karena selalu mengingatkan gw pada keadaan itu. Dan
yang lucunya pada awalnya gw gak mengetahui bahwa The Beatles yang
menyanyikan lagu tersebut. Kalau gak salah gw baru mengetahui bahwa
The Beatleslah yang membawakan lagu ini saat gw baru masuk SMA.










  1. Cinta – Vina
    Panduwinata



Vina
Panduwinata adalah penyanyi wanita Indonesia favorit nyokap. Jadi
dari kecil, gw terbiasa mendengar lagu-lagu Vina berkumandang di
rumah gw. Dan diantara lagu-lagu hits dari Vina, lagu "Cinta" yang
paling berkesan. Lagu ini mempunyai progresi yang bagus, melodinya
juga sangat kuat. Aransemennya juga sedikit mengadopsi musik-musik
France Pop dengan dihiasi nada-nada minor ditambah sayup-sayup bunyi
akordeon. Gw memberi kredit yang tinggi terhadap pengarang lagu ini
yaitu Chrisye dan Adjie Soetama. Gw sampai saat ini mengagumi
pengarang-pengarang lagu indonesia era 80an seperti Adjie Soetama,
Candra Darusman, Dian
Pramana Putra dll Karena ditangan mereka musik pop Indonesia mengalami
masa kejayaannya, banyak tercipta lagu-lagu pop berkualitas
yang masih bisa dinikmati sampai sekarang. Dan setelah mereka sudah
tidak produktif lagi, mereka digantikan dengan rombongan Obie Mesakh
dkk yang membawa musik pop Indonesia menuju kehancuran lewat
pop’cengeng’ ala mereka.




  1. Bohong
    – K3S



Lagu
ini mempunyai lirik yang jenaka. Penuturannya sangat lugas, apa
adanya. Ini salah satu karya terbaik dari Dian Pramana Putra dan
Deddy Dhukun. Gw mengenal lagu ini saat masih menonton TVRI. Dulu
setiap hari minggu, ada acara musik yang namanya Album Minggu Kita.
Dan karena menonton acara itu untuk pertama kalinya gw melihat dan mendengar lagu ini. Gw inget
banget, Deddy Dhukun dengan setelan rambut basah dan dikuncir yang
bertahan sampai saat ini, memakai baju gombrong, bawahnya diikat
dengan warna warna shocking, seperti pink terang. Dan Dian Pramana Putra
juga memakai baju tipe sama dengan warna yang berbeda. Pokoknya 80an
akhir banget deh, jaman kemerosotan fashion dunia.
Semakin
norak semakin keren kali ya?hehehe…


bersambung...







about a boy




Ini foto-foto gw dari bayi sampai jamannya smp. Yah untuk sedikit napak tilas saja, bagaimana seorang bayi yang lucu bisa berakhir kayak gw sekarang yang udah gak ada lagi lucu-lucunya, huhuhu...

Let It Die

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:Feist
Perkenalan gw dengan suara Leslie Feist atau yang lebih dikenal dengan nama Feist, terjadi saat gw mendengarkan lagu “The Build Up milik Kings of Convenience. Di bagian coda lagunya ada suara seorang wanita yang begitu menarik perhatian gw. Suaranya terdengar unik, sexy, penuh muatan emosi yang akan membuat kita terbuai dengan indah. Sesaat itu gw langsung cari tahu, siapa additional vocals di lagu tersebut. Akhirnya gw mengetahui namanya, dia berasal dari Kanada dan dia pernah juga membantu band asal Kanada, Broken Social Scene dan gw juga mengetahui dia baru mengeluarkan debut solo album. Dan tanpa pikir panjang, gw mencari albumnya. Dan sekarang gw ingin membagi sedikit pengalaman gw memasuki dunia seorang wanita bernama Feist lewat album debutnya, Let It Die.

Pada album ini, Feist seperti membagi 2 bagian besar. Yaitu lagu-lagu original dan lagu-lagu cover version. Kalau biasanya seorang artis hanya memuat satu atau dua lagu cover version, tetapi Feist tidak melakukan hal itu, Karena disini dia menyanyikan lagu-lagu cover dari berbagai genre dan artis, mulai dari Ron Sexsmith (“Secret Heart”), Françoise Hardy (“L'amount ne dure pas toujours”), Blossom Dearie (“Now At Last”) sampai Bee Gees (“Inside and Out”). Dan diantara lagu-lagu cover versionnya tersebut, gw paling suka dengan “Inside and Out”nya Bee Gees. Walau lagunya masih terdengar sangat “Bee Gees”, tetapi lagu ini terasa menyegarkan dan menyenangkan ditambah dengan bebunyian ala disko 70an saat referennya. Lagu-lagu originalnya pun tidak kalah bagusnya. Diawali dengan “GateKeeper” sebuah lagu yang singkat tetapi padat. Suara Feist begitu dominan ditengah suara gitar akustik, langsung menghipnotis diri kita ke dalam dunianya. “Mushaboom” sebuah lagu dengan nuansa ceria dan kaya akan instrument dan aransemen yang unik. “Let It Die” terasa begitu tenang namun emosional.

Lagu-lagu pada album ini, cocok sekali didengarkan ditengah kemacetan Jakarta, saat matahari pun beranjak tenggelam. Suara Feist akan membuat kita lupa sejenak akan kepenatan kegiatan kita sebelumnya, dan selanjutnya kita hanya ingin sampai di rumah dan tidur masih dengan iringan suara dari Feist yang begitu menghanyutkan.

Monday, July 11, 2005

lagu itu hidupmu

kmrn lagi iseng-iseng nulis bulletin board di friendster, gw paling suka nih kalo disuruh ngisi beginian, hehe...

NYUPIR MOBIL DI JALAN TOL:
satie by endorphin

NONGKRONG DI PINGGIR PANTAI:
jazz mediterrance by henri salvador

LAGI CURHAT:
also ran by blueboy

BROWSING INTERNET:
such great heights by postal service

MANDI PAGI:
the face I love by astrud gilberto

DI TENGAH KEMACETAN JALAN:
one evening by leslie feist

PENGANTAR TIDUR:
november by azure ray

OLAHRAGA/FITNESS:
im to sexy by right said fred :p

BACA BUKU:
im old fashioned by john coltrane

BELANJA DI SUPERMARKET:
the supermarket i am in by goodnight electric

BERDUA SAMA PASANGAN:
stop, look, listen (to your heart) by marvin gaye
and diana ross

PERJALANAN PULANG DARI KERJAAN YANG
MELELAHKAN:
northern sky by nick drake

MENGGELAR PESTA KECIL DI RUMAH:
too young by phoenix

MELAMAR/DILAMAR PASANGAN:
this guy in love with you by burt bacharach

MENCARI PARKIRAN DI CITOS MALAM MINGGU:
(this is) the dream of evan and chan by dntel

NAIK BIS/KERETA KE LUAR KOTA:
be strong now by james iha

MAKAN MALAM ROMANTIS DENGAN
PASANGAN:
the waltz by siljie nergaard

MAKAN MALAM DENGAN (CALON) MERTUA:
why do you love me by koes plus

JALAN2 DI LEGIAN BALI:
samalona by imanez

DIPIJAT/METODE RELAKSASI LAINNYA:
walkin after midnight by oatsy cline

LEMBUR SENDIRIAN DI TEMPAT KERJA:
step into my office baby by belle and sebastian

BERGADANG DI RUMAH:
they by jem

PATAH HATI:
bus by radio dept

KANGEN DENGAN SESEORANG:
wouldnt it be nice by the beach boys

JATUH CINTA:
la vie en rose by louis armstrong

STRESS:
run, run, run by the velvet underground

MENGUNDANG BOS MAKAN MALAM DI
RUMAH:
here, there and everywhere by the beatles

BERES2 KAMAR/RUMAH:
misread by kings of convenience

MENCUCI BAJU/MOBIL:
girl by beck

LARI PAGI:
best ballroom by spearmint

PRESENTASI:
springthe four seasons (allegro) by vivaldi

MEDITASI:
people eating fruit by manitoba

RESEPSI PERNIKAHAN:
weve only just begun by the carpenters

BERADA DI TEMPAT ASING:
apakah aku berada di mars atau mereka mengundang
orang mars? by the upstairs

NAIK SEPEDA DI PEGUNUNGAN:
new slang by the shins

MENGKHAYAL:
ce matin-la by air

Sunday, June 26, 2005

7 days, 7 songs


soundtrack gw semnggu ini adalah :


1. Who Loves The Sun by The Velvet Underground


2. No Fruits For Today by Sore


3. Aku by Sore


4. Fix You by Coldplay


5. Shipbuilding by Elvis Costello & The Attraction


6. Flowers in The December by Mazzy Star


7. The River by Missy Higgins


beginning

A kiss for luck and we're on our way, we've only just begun.


- The Carpenters, We've Only Just Begun -

X & Y

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Rock
Artist:Coldplay
Album baru coldplay X & Y adalah sebuah album yang sangat ditunggu di tahun 2005 ini. Emang blowup dari pihak label dan pihak media, membuat album ini sebelum mendengarkannya pun sudah menjadi sangat special. Bayangin aja, album baru keluar tanggal 7 juni, single “Speed of Sound” udah dilempar ke radio secara serentak di seluruh dunia tanggal 19 April. Bayangin 2 bulan lebih, orang dibikin penasaran sama materi lain di album barunya coldplay. Pokoknya gembar gembornya album ini adalah album yang spesial. Dan hasilnya, gw akan sedikit mereview apa yang telah gw denger di album X & Y ini.

Lagu pembuka “Square One” bisa dibilang cukup menghentak dan cocok untuk lagu pembukaan. Diawali dengan bebunyian string synthesizer yang entah mengingatkan gw akan opening film startrek, lalu disusul dengan struktur rythem dasar yaitu drum dan bass yang memainkan pola seperti lagu2 Post Punk 80an, mungkin mengingatkan gw pada “New Year’s Day”nya U2. Lagu kedua “What If” adalah lagu balada tipe coldplay yang dominan suara piano. Tp menurut gw “What If” kurang kuat bila dibandingkan dengan lagu2 balada lainnya di album ini, seperti “ Swallowed in the Sea” dan “Fix You”. Dan untuk “Fix You” menurut gw bisa dijadikan single kedua. Melodi awal sangat kuat dan Chris Martin melakukan tugasnya dengan sangat baik. Gw suka suara Hammond yang menyertai hampir di keseluruhan lagu. Tapi sayangnya struktur lagunya lagi2 seperti U2, tipikal lagu yang ‘sepi’ di awal, ‘rame’ di akhir lagu. Tampaknya sebutan Coldplay sebagai ‘the next U2’ semakin menguat setelah gw mendengarkan album ini. Karena ada beberapa lagu lain di album ini yang juga menggunakan pola struktur tersebut.

Yang perlu disimak lagi, gitaris John Buckland bermain semakin bagus di album ini, dan menurut gw dia bermain di jalur yang sama seperti The Edge dan Johnny Marr. Gak banyak akrobatik, tapi sangat membentuk lagu dengan sound dan lick2 sederhana yang dia buat. Di album ini juga , Coldplay mengurutkan track listnya dengan lagu cepat, lagu lambat dan begitu terus sampe akhir album. Mungkin kalau trik itu dipakai pada beberapa lagu, akan sangat bagus, tapi jika urutan lagu cepat, lagu lambat menghiasi keseluruhan album, gw kurang merasa dimainkan moodnya. Jadi tertebak, dan unsur surprisenya menjadi kurang. Tapi di lain sisi, trik ini bagus untuk mencegah kemonotonan album.

Hal lain yang sangat terlihat di album ini adalah penggunaan string synthesizer yang sangat dominan di hamper setiap lagu pada album ini. Kita gak akan lagi dengar lagu seperti “Don’t Panic” atau “Yelow”. Lagu2 di album ini hampir semuanya bernafaskan kegelapan yang dibungkus dengan sound2 megah yang dihasilkan dari departemen gitar dan penggunaan syth. Single pertama “Speed of Sound” adalah lagu dengan tipikal seprti itu yang hanya mengulang kesuksesan “Clock”, tapi tidak lebih bagus. Sedangkan lagu paling cerah menurut gw hanya terdapat pada “Hardest Part”. Lagu paling simple karena hanya menggunakan gitar akustik dan piano saja terdapat pada lagu yang ada di bonus track yaitu “ Till Kingdom Come”, yang sangat kental nuansa folknya ala Bob Dylan.

Secara keseluruhan album ini memang rata2 sangat enak untuk didengarkan. Tapi tidak terlalu mengena seperti saat mendengarkan album pertama mereka Parachutes. Yang tidak bisa gw pungkirin Coldplay memang selalu bisa menjual albumnya jutaan kopi di seluruh dunia, karena lagu2nya yang sangat earfriendly,yang bisa menggapai seluruh orang di seluruh dunia. Kalau untuk tujuan itu, Coldplay sudah melakukannya dengan sangat baik. Tapi untuk pencapaian artistik, mereka belum mendapatkannya, yah mungkin bisa tercapai pada beberapa album ke depan. Dan memang banyak artis besar juga mengalami puncak pencapaian artistiknya bukan pada album disaat awal2 karir mereka. Tapi balik lagi apakah Coldplay juga bisa bertahan sampai belasan tahun berkarir? Mungkin kalo tidak, agak kurang pantas jika menyebut mereka julukan dengan ‘the next U2’.


Socialismo




Ballads of The Cliche