Wednesday, June 8, 2011

Plesir Solo

Setelah sekian lama, akhirnya saya punya alasan untuk kembali menggunakan Multiply, yaitu untuk mengunggah tulisan dan foto-foto dari plesir saya ke Solo seminggu yang lalu. 

Plesir Solo ini digagas oleh Sasotya dan Wening. Kemudian mereka mengajak saya. Kami bertiga tinggal di tiga kota berbeda. Saya di Bandung, Wening di Jakarta dan Sasotya di Surabaya. Jadi untuk liburan ini, kami berangkat sendiri dari kota masing-masing untuk langsung bertemu di Solo. 

Kota Solo dipilih atas kesepakatan kami bertiga. Awalnya pilihannya dua, Solo dan Yogyakarta. Namun kami merasa cukup bosan dengan Yogya. Oleh karena itu Solo langsung diputuskan untuk menjadi tujuan liburan ini. 

Kota Solo kini adalah kota yang sedang naik daun. Dengan walikotanya Jokowi, Solo memang tengah menuai banyak pujian antara lain mengenai kebersihan dan ketertiban kotanya. 

Setelah saya berada di sana, memang pujian-pujian tersebut benar adanya. Saya pribadi merasa nyaman di kota Solo. Bahkan salah satu dari kami bertiga, terbersit untuk menghabiskan masa tua di kota Solo. hehe.  

Lalu lintas di sana terbilang tertib. Bagi pejalan kaki disediakan trotoar lebar dan bagi pengendara kendaraan roda dua juga disediakan jalur tersendiri. Selama 3 hari di sana, saya tidak menemui kemacetan sedikit pun. Semua berjalan damai dan teratur.

Di Solo, kami menginap di Rumah Turi. Sebuah butik hotel yang anggun dan mungil (hanya 18 kamar) serta memiliki konsep ramah lingkungan. Salah satu bentuk kepedulian Rumah Turi terhadap lingkungan adalah dengan mendaur ulang limbah air mandi dari setiap kamar yang ada menjadi hujan buatan untuk menyirami semua tanaman yang menghiasi berbagai sudut Rumah Turi. Silahkan menuju website-nya untuk mengetahui lebih banyak mengenai Rumah Turi. 

Selama di Solo, banyak waktu kami habiskan untuk mencoba berbagai makanan khas yang sudah direkomendasikan oleh beberapa kerabat. Highlight dari plesir kuliner di kota Solo antara lain, Sate buntel Tambaksegaran yang menawan lalu ada Bistik Harjo yang meminjam testimoni Wening, "akan kukenang seumur hidup", tidak ketinggalan ada restoran Cina, Fai Kie dengan menu yang penuh akan rombongan babi yang lagi-lagi meminjam testimoni Wening, "rasanya seperti diangkat ke surga"

Oh iya, kami juga menyempatkan berkunjung ke sebuah pabrik roti rumahan bernama Widoro yang sudah berdiri semenjak tahun 1922. Roti Widoro ini terletak di Sukoharjo, sekitar setengah jam dari Solo. Roti sejenis bolu ini biasa tersedia untuk berbagai hajatan. 

Kami juga sempat menengok ke dapur pembuatan Roti yang semua prosesnya masih dikerjakan secara tradisional. Rasa roti Widoro sendiri sangat manis. Bukan selera saya. Namanya yang melegenda yang membuat roti ini terasa spesial.

Selain plesir makanan, tentunya takkan lengkap jika berada di Solo jika tidak menjalani plesir budaya. Walau hanya sedikit, kami sempat berkunjung ke Pasar Triwindu, sebuah komplek pasar loak yang sangat tertata. 

Lalu kami berkunjung ke Keraton Surakarta. 

Komplek Batik Laweyan

Dan last but not least, salah satu tempat yang akhirnya bisa saya kunjungi adalah Lokananta. Lokananta adalah label musik pertama di Indonesia. Di situ juga terdapat studio yang bisa dikatakan juga sebagai studio musik profesional pertama yang ada di negeri ini. 

Di sana juga terdapat ruang eksibisi yang berisi berbagai perangkat rekaman dari era 50an hingga 80an. Dan juga sebuah ruang penyimpanan piringan hitam. 

Lokananta berstatus sebagai perusahaan negara semenjak tahun 60an namun ironisnya pemerintah sama sekali minim perhatian akan salah satu aset negaranya ini. Walhasil Lokananta harus bergerak sendiri mencari dana untuk terus bertahan hidup. Salah satunya dengan membuat tempat futsal di salah satu sudut area di kompleks Lokananta yang cukup luas. 

Selain itu, Lokananta masih menerima pesanan penggandaan kaset atau cd dan juga menyediakan katalog lagu-lagu Indonesia tempo dulu yang dapat ditransfer ke dalam bentuk cd. 

Plesir budaya kami digenapkan dengan kunjungan impulsif ke museum Ullen Sentalu di Kaliurang, Yogyakarta. Jadi pada hari terakhir di Solo, tiba-tiba tercetus untuk singgah sejenak ke Yogyakarta. Yogya - Solo hanya ditempuh satu jam perjalanan kereta api. Kami menggunakan kereta Prameks.

Museum Ullen Sentalu menampilkan budaya jawa kuno melalui kehidupan raja-raja keraton Surakarta dan Yogyakarta yang dikemas dengan sangat menarik. Selama di sana, kami ditemani oleh pemandu yang menceritakan setiap barang atau foto yang ada. Museum ini terdiri dari ruang-ruang kecil, yang dibagi berdasarkan cerita dari raja dan keluarga keraton. Sayangnya tidak diperkenankan untuk mengambil gambar di area dalam museum.

Di akhir kunjungan, kami makan siang di restoran yang masih berada di dalam kompleks museum. Namun restoran yang bernama Beukenhoff ini tidak menyajikan masakan jawa kuno atau yang biasa disantap oleh keluarga keraton. Sudah tertebak dari namanya, restoran ini menyajikan menu Eropa. Makanannya enak dan tempatnya juga cantik. 

Kunjungan impulsif ke Yogyakarta hanya dihabiskan di museum Ullen Sentalu. Setelah makan siang, kami pun kembali ke Solo untuk bersiap pulang ke kota kami masing-masing. Sungguh, plesir Solo ini sangat menggugah dan menyenangkan di sela-sela kesibukan kami bertiga sebagai pekerja. Kami semua pulang dengan senyuman dan tentunya dengan muatan rasa malas yang berlebih karena esoknya harus masuk kantor kembali. :D




silahkan klik tautan berikut, untuk dokumentasi tur kuliner yang lebih komprehensif dan juga cuplikan gambar selama di solo dari sudut pandang wening.

16 comments:

  1. *iri*
    cuti ah, lalu pakansi ke solo. ke sriwedari, nggak, dim?

    ReplyDelete
  2. Siapa sih tuh si Wening? Lebay amat kata2nya.
    Btw, masih kepikiran tinggal di sana nih hehehe. Plus kayaknya mau bikin kumpulan anekdot #eaaa. *penting*

    ReplyDelete
  3. sempet ke sana tapi pas udah malem. gak ada apa2 juga jadinya.

    ReplyDelete
  4. opsi yang kedua kayaknya udah mulai bisa dilakukan sekarang. mungkin judulnya: Hati-Hati, kumpulan anekdot romansa. :D

    ReplyDelete
  5. mantaaaaaaap! aduh sate buntel, ingiiiin! jalan kaki lalu pindah becak trus jalan lagi.. seru skali! triwindu berbahaya ya dim haha.. ah rindu solo jadinya

    ReplyDelete
  6. wah belum sempet waktu itu mau ke lokananta. miris ngga ngeliatnya?

    ReplyDelete
  7. Solo salah satu kota favorit gua. Orangnya masih ramah, trus bersih dan makanannya murah2 banget :3

    ReplyDelete
  8. woooooo solooooo...tambak segaran oh tambak segaran

    ReplyDelete
  9. iya, lumayan miris dan ngeliatnya. harusnya di sana dibikin studio session band apa gitu tapi direkam video. pasti keren. suruh ambon aja apa? :D

    ReplyDelete
  10. walaupun udaranya cukup panas tapi kota solo ini sangat nyaman ya.

    ReplyDelete
  11. harus segera dibuat cabangnya di jakarta/bandung. apa udah? hehe

    ReplyDelete
  12. haha, seru tuh. ayo ah kapan sambil berliburan sambil ngerekam hihuuy!

    ReplyDelete
  13. Wah seru yah! tulisan lu bikin gw pengen ksana jdnya hahaha

    ReplyDelete
  14. Jalan jalan ke Solo memang menyenangkan ya, lebih menyenangkan lagi jika sewa mobil di solo , kita bisa ke tempat wisata manapun yang kita mau dan aman tentunya

    ReplyDelete