Sunday, August 20, 2006

a journey of a thousand miles begin with a single step

ballads of the cliche tur semarang dan jogja, tanggal 16-19 agustus 2005 : senja di stasiun senen.  erik yang merajuk karena lama menunggu.  bermain gitar, menyanyikan lagu pop indonesia tahun 90an dan bir dingin.  jam 4 dini hari di stasiun tawang.  hotel mesum bernama nyata plaza.  siang yang terik di kota semarang.  wawancara di prambors semarang.  ungaran dan rumah eyang tercinta.  wisata semarang dengan angkot carteran.  unika sugiapranata.  putu dan french riviera.  lagu sms.  ketiduran, melewatkan tomat dan congyang yang tersaji di kamar sebelah.  jam 6.30 pagi, bis joglo semar, bersiap untuk jogjakarta.  hotel galuh anindita.  jalan kaki menyusuri sisi kota jogja.  nasi kucing.  murah meriah.  sebuah permohonan, melewati beringin kembar.  club radical.  joko problemo yang menjadi mc malam itu.  the fake.  chance of a lifetime.  mengunjungi prambanan yang telah tutup.  wanda dan tehnik menawar yang paling baru.  kopi blandongan.  malam hari di malioboro.  kaset bekas.  jalan pajeksan.  lapen, labirin dan korban bernama adit vampir.  gudeg tengah malam.  widi yang terkena muntahan korban labirin.  late night talk.  jam 07.30 pagi di stasiun tugu, bersiap untuk kembali pulang...dan kesemuanya dibalut tawa dan bahagia.

ini adalah kali pertama ballads of the cliche dan tim melakukan perjalanan panjang ke luar kota. semoga ada kali kedua. tujuan berikutnya : malang dan surabaya?

Thursday, August 10, 2006

Bermain bersama Holga




Saya baru saja membeli kamera bernama Holga. Sebuah kamera plastik yang sering juga dikategorikan sebagai toy camera. Kamera inilah yang akhir-akhir ini selalu membuat saya penasaran dan 'memaksa' saya untuk terus mencoba dan mencoba walau pada akhirnya membuat uang di dompet semakin menipis.Ini adalah sebagian hasilnya..

Tuesday, August 8, 2006

Breakthru'

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Alternative Rock
Artist:Nidji
Akhir-akhir ini di kepala saya selalu terngiang-ngiang melodi lagu “Hapus Aku” dari Nidji, band yang baru saja mengeluarkan debut albumnya yang berjudul Breakthru’. Mungkin hal itu terjadi karena setiap kali saya menonton televisi, mendengar radio, bertandang ke kamar anak kosan atau berjalan di pusat-pusat keramaian, lagu tersebut selalu diputar dan diputar. Lama kelamaan, saya mulai menyukai lagu itu. Karena sejujurnya lagu itu cukup bagus. Lagu itu juga yang menggerakkan saya untuk mendengar lagu-lagu Nidji lainnya dalam debut album mereka. Lagu itu sendiri adalah singel ketiga yang dirilis, sebelumnya Nidji telah merilis singel “Sudah” (yang memenuhi keinginan pasar musik lokal akan musik pop yang mendayu dayu) dan juga “Child” (yang membuat Nidji dicap sebagai band pengekor Coldplay).

Anggapan sebagai band pengekor Coldplay tampak paling jelas setelah melihat penampilan dan juga tehnik falsetto yang dimiliki oleh sang vokalis, Giring. Tapi untuk materinya sendiri di dalam album, tampaknya tidak semua terpengaruh oleh musik buatan Chris Martin dan kawan-kawan di Coldplay. Lagu-lagu lainnya di dalam album Breakthru’, menurut saya lebih banyak terpengaruh melodi-melodi atau hook-hook ala Keane, yang juga masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Coldplay. Seperti pada “Engkau” dengan reffrennya yang membuat saya langsung membayangkan sosok vokalis Keane, Tom Chaplin yang sedang bernyanyi. Singel “Hapus Aku” yang sebelum ini saya bahas juga sedikit banyak terpengaruh oleh Keane. Lalu ada “ Kau dan Aku” - yang berpotensi untuk menjadi singel berikutnya - masih meniupkan aroma musik besutan trio yang berasal dari Battle, Inggris itu.

Tidak habis sampai disitu, Nidji juga ingin sekali menunjukkan sisi maskulin mereka dengan lagu-lagu yang lebih ngerock atau mungkin ingin menunjukkan refrensi musik mereka yang juga tidak ketinggalan jaman. Lagu-lagu seperti “Disco Lazy Time”, “Breakthrough” dan juga “Heaven” membawa kita kepada musik dance rock yang diusung serta dipopulerkan oleh grup-grup seperti The Killers atau juga Franz Ferdinand.

Mendengar Nidji seperti mendengarkan kompilasi dari band-band modern rock atau juga british rock yang sekarang ini sedang populer. Siapa yang menjadi panutan sudah terlihat dengan jelas. Tetapi musik dari band panutan mereka hanya bisa tercium dengan samar, karena kesemuanya diramu menjadi aroma. Aroma dari nafas yang sama bukan mengambil bagian yang sama dari suatu lagu dari band panutan mereka. Itulah yang menjadi kelebihan Nidji. Mereka bisa membedakan apa yang dinamakan terinspirasi atau menyadur secara langsung. Karena itu, dalam album ini kita tidak menemukan apa yang biasa disebut ‘tebak intro’ – yang biasa terjadi pada lagu dari band-band yang meniru habis band panutannya, sehingga hanya dengan mendengar intronya saja, kita bisa mengetahui lagu tersebut mirip dengan lagu band panutannya. Seharusnya Ahmad Dhani belajar banyak dari para juniornya ini, sehingga tidak terus-terusan mencuri bagian lagu dari band-band pujaannya dengan seakan-akan menganggap kita tidak pernah mendengarkan band lain selain Dewa 19.

Monday, August 7, 2006

album rekaman

Semalam, saya bertemu dengan seorang teman. Dia berkeluh kesah mengenai perasaannya setelah hubungan dengan pacarnya telah berakhir baru-baru ini. Dia merasa masih mempunyai ’hutang’ dengan mantan pacarnya tersebut. ’Hutang’nya adalah belum sempat memberikan album-album rekaman yang pernah dia janjikan kepada mantannya itu. Selain ingin melunasi ’hutang’ kepada mantannya, ternyata ada agenda tersembunyi yang telah disiapkan oleh teman saya, yakni ingin kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya yang begitu dicintainya. Dengan harapan, setelah diberikan album-album rekaman tersebut, hati mantannya bisa luluh dan bisa menerima kembali teman saya itu sebagai seorang pacar. Istilah lainnya album rekaman tersebut menjadi sebuah proposal untuk merujuknya kembali suatu hubungan. Album rekaman tersebut tak ubahnya seperti perhiasan, bunga, coklat dan berbagai benda ’klasik’ lainnya yang biasa diberikan seorang pria kepada seseorang wanita yang dikasihinya.

Saat ini kita tidak bisa melihat album rekaman hanya sebagai dokumentasi dari karya seorang atau segerombolan musisi yang bisa kita dengar dimana saja dan kapan saja kita mau. Arti dari sebuah album rekaman bisa lebih dari itu. Sebuah album rekaman bisa membuat seseorang dengan rela menghabiskan uangnya dalam jumlah besar, walaupun pada hari-hari selanjutnya harus mengencangkan ikat pinggang atau bertahan hidup dengan pinjaman disana sini. Yang terpenting album rekaman yang didambakan bisa dimiliki.


Saya pernah menjumpai seorang penjual sekaligus kolektor album rekaman bekas di Bandung, yang hidupnya hanya ditemani oleh koleksi album rekaman yang dia kumpulkan sejak tahun 60an. Saat saya masuk ke dalam rumahnya, sejauh mata memandang yang terlihat hanya tumpukan kaset dan piringan hitam. Bahkan tempat tidurnya dikelilingi oleh jejeran kaset yang tertumpuk rapi. Orang itu tidak menikah (mungkin pernah menikah, saya tidak tahu pasti), yang jelas saat ini yang menjadi istrinya adalah koleksi album rekamannya. Album-album itulah yang selalu dirawat dan dicintai selayaknya mengasihi seorang manusia. Bisa dibilang orang tersebut mengabadikan hidupnya kepada album rekaman. Dan hal itu juga membuktikan bahwa sebuah album rekaman bisa begitu mempengaruhi kehidupan seseorang. Walau di cerita ini, pengaruh sebuah album rekaman sudah sampai di titik mengkhawatirkan.


Ada lagi cerita yang saya dengar bahwa ada pernikahan di Indonesia yang mempunyai mas kawin berupa CD Belle and Sebastian lengkap dari album pertama hingga terakhir. Pastinya tidak pernah terlintas sedikit pun di benak Stuart Murdoch dan kawan-kawan di Inggris sana, bahwa karya mereka bisa begitu berharga hingga bisa dijadikan mas kawin. (walaupun ritual memberikan mas kawin pada pernikahan tidak dikenal di daratan Eropa). Sampai disini pengaruh album rekaman pada kehidupan manusia berada di titik yang membahagiakan.


Yang pasti apresiasi para penikmat musik akan sebuah album rekaman seringkali jauh melampaui bayangan dari para musisi penciptanya. Para musisi itu hanya berpikir karyanya bisa dinikmati sepanjang jaman oleh para penikmat musik, tetapi mereka mungkin tidak sempat berpikir karya mereka bisa menjadi suatu bagian penting dari kehidupan para pendengarnya. Bagi sebagian orang album rekaman bisa menjadi harta karun yang tidak ternilai harganya, bagi sebagian lagi, album rekaman bisa menjadi suatu kenangan yang diabadikan, tetapi sebagian lagi menganggap album rekaman sebagai sebuah berhala yang menyesatkan. Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang kolektor album rekaman yang saya temui saat baru saja menjual sebagian besar koleksinya yang pasti sangat berharga itu. Saat saya tanya, mengapa akhirnya ia memutuskan untuk menjual koleksinya tersebut, ia hanya menjawab ”Ngapain elo simpen terus tu album, lama-lama album itu kayak berhala aja, yang elo sembah-sembah dan elo puja-puja.”


Setiap orang boleh mempunyai persepsi tersendiri mengenai arti pentingnya sebuah album rekaman. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Yang pasti semua kembali kepada esensi sebenarnya dari sebuah album rekaman, yakni untuk didengarkan. Selebihnya biarlah mengalir di kehidupan kita. Berawal dari telinga kemudian berakhir menjadi cerita.

Monday, July 17, 2006

Without Gravity

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:Tenderfoot
Tenang, damai, dan tentram adalah kata-kata yang tepat untuk mewakili album ini. Nuansa akustik yang cantik, diselingi oleh nada-nada yang manis dengan dibumbuhi oleh nafas country folk yang cukup dominan, lalu diiringi vokal yang bergaya malas namun menghanyutkan membuat album ini menjadi begitu mudah untuk dicintai . Album ini bisa menjadi teman yang akrab untuk menemani perjalanan Jakarta-Bandung via puncak, disaat kita tidak perlu diburu waktu dan merasa tol Cipularang telah semakin membosankan. Putarlah album ini dalam kendaraan, dan nikmati semilir angin pegunungan diantara jejeran pohon cemara yang berbaris rapi. Maka hidup ini terasa semakin indah.

Friday, July 7, 2006

Finding a Hidden Treasure of Nick Drake: a Restropective


 


Tahun 2003 adalah tahun dimana saya pertama kalinya mengenal dan juga mendengar album Bryter Lyter milik seorang musisi bernama Nick Drake. Kurang lebih sudah 30 tahun semenjak album itu dirilis di tahun 1970 dan semenjak kematiannya pada tahun 1974 di usia yang sangat muda, 26 tahun. Lalu mengapa selama ini sama sekali saya belum pernah mendengar namanya? Bukannya semua rock star yang meninggal di usia muda di tahun 70an, pasti namanya akan sangat melegenda? Sebut saja Jimi Hendrix, Janis Joplin dan Jim Morrison. Semuanya meninggal di usia yang sama, 27 tahun. Kematianlah yang membuat kepopuleran mereka menjadi semakin berkibar bahkan menempatkan mereka sebagai seorang legenda. Waktu itu saya berpikir, pasti ada yang salah dengan Nick Drake. Mengapa namanya tidak masuk ke dalam jejeran rock star legendaris? Orangtua saya juga tidak pernah menyinggung akan keberadaan seorang Nick Drake selama ini. Apakah ketidakpopuleran tersebut dikarenakan karena dia meninggal di waktu yang salah? Seharusnya dia menunggu setahun lagi untuk meninggal. Sehingga kutukan rock star di umur 27 tahun juga bisa terkena kepadanya.


 


Kembali lagi ke tahun 2003 disaat saya pertama kalinya mengenal Nick Drake melalui album Bryter Lyter. Pada waktu itu, saya sudah lama menyukai musik-musik indie pop dari jazirah Eropa, seperti Blueboy, Kings of Convenience, ataupun Belle and Sebastian. Kesemuanya merupakan perpanjangan dari kecintaan saya pada musik Brit Pop circa tahun 1997 sampai 1999. Setelah saya sampai di titik puncak akan kecintaan saya akan musik-musik indie pop tersebut, saya mulai mencari lagi musik-musik yang mempengaruhi mereka. Lalu saya sampai pada musik-musik tua. Dari musik folk sampai northern soul - yang ternyata setelah saya telusuri mempunyai pengaruh besar bagi musik dari grup-grup indie pop yang saya cintai. Sebelumnya pengetahuan saya akan musik-musik tua era 60an sampai 70an hanya terbatas oleh The Beatles.


 


Saat saya mulai menemukan dan mengenal musik-musik tua tersebut, saya menemukan nama Nick Drake. Grup-grup indie pop seperti Kings of Convenience ataupun Belle & Sebastian ternyata banyak mendapat pengaruh musikal dari seorang Nick Drake. Selain itu banyak dari para musisi yang saya ketahui - diluar scene indie pop - yang  juga mengidolakannya. Mulai dari Kate Bush, Paul Weller, Peter Buck dari REM sampai Everything But The Girl. Musisi dari era 90an seperti Ryan Adams, Elliot Smith, Neil Helsteid dari Slowdive dan Mojave 3, Graham Coxon dari Blur dan Badly Drawn Boy  juga menjadikan Nick Drake sebagai sumber inspirasi mereka. Bahkan bintang film Brat Pitt juga mengaku merupakan fans dari Nick Drake. Pada tahun 2004, dialah yang membacakan narasi pada acara dokumenter produksi BBC mengenai Nick Drake. Jika sekarang begitu banyak orang yang mengidolakan Nick Drake, mengapa selama karirnya namanya hampir tidak diketahui? Apa yang menyebabkan ketenaran itu begitu telat datangnya kepada seorang Nick Drake yang sangat berbakat?


 


                                                    ***


Setelah mendengar Album Bryter Lyter, saya begitu jatuh cinta terhadap orang ini. Musiknya terasa begitu jujur dan sangat bersahaja. Musik yang indah tersebut ternyata dihasilkan dari seorang pemuda Inggris yang sangat pemalu. Dalam karir profesionalnya yang singkat, Nick Drake tercatat tidak pernah menjadi penampil utama, karena selama itu dia hanya menjadi pembuka dalam beberapa penampilan dari teman-temannya seperti Fairport Convention dan juga John Martyn. Penampilan livenya bisa dihitung dengan jari. Pada dasarnya, Nick Drake bukanlah seorang entertainer yang baik. Seringkali penampilannya diacuhkan oleh penonton karena dia adalah seorang pemuda pemalu yang bermain gitar dan bernyanyi dengan suara lembut yang hampir tidak terdengar. Karena seringnya mendapat respon yang tidak menyenangkan dari penonton, Nick Drake menjadi takut untuk tampil kembali di depan umum.


 


Di suatu kesempatan, bassist dari supergrup The Fairport Convention, Ashley Hutchings menyaksikan penampilannya. Ashley sangat tertarik dengan lagu-lagu ciptaannya. Melalui Ashley, Nick lalu dikenalkan kepada produser Joe Boyd yang sudah dikenal telah menangani berbagai artis seperti The Incredible String Band, Fairport Convention, serta Richard Thompson. Di tangan Joe Boyd, Nick Drake membuat debut albumnya Five Leaves Left di bawah Island Records pada tahun 1969. Saat itu ia baru berusia 21 tahun. Sebuah debut album yang sangat menjanjikan. Menampilkan sound yang ringan dan melodi pop yang kuat dibalut dengan alunan chamber musik yang membuat setiap lagunya terasa hangat. Kerjasama antar Joe Boyd dan Nick Drake semakin intens dan berlanjut dengan pembuatan album keduanya Bryter Lyter di tahun 1970. Menampilkan lagu-lagu yang lebih upbeat, lebih jazzy dengan penambahan instrumen seperti brass section yang membuat lagu-lagu dalam album ini begitu kaya akan nuansa. Album ini memuat lagu terbaik - menurut saya - yang pernah Nick ciptakan, yaitu “Northern Sky”. Lagu ini juga dinobatkan sebagai salah satu lagu cinta terbaik dunia yang pernah direkam dalam 25 tahun terakhir menurut majalah NME.


 


Sayangnya kedua album hebat tersebut gagal di pasaran. Alasan utama mengapa kedua album tersebut gagal karena tidak dijalankannya promosi yang benar. Tidak adanya singel hit yang diputar di radio, tidak adanya interview media, dan tidak adanya konser promosi, membuat kedua album hebat tersebut menjadi tidak terdengar di masyarakat luas. Padahal mulai dari pembuatan album Bryter Lyter, Nick memutuskan untuk berhenti kuliah untuk bisa lebih fokus kepada karir bermusiknya. Tetapi dengan namanya yang tidak juga berkibar di industri musik di kala itu, segala pengorbanan tersebut terasa sia-sia. Selain menjadi seorang yang pemalu, Nick Drake  juga sangat sensitif. Akibat dari kesensitifannya tersebut, dia menjadi gampang sekali frustasi jika keadaan tidak berjalan seperti apa yang dia harapkan. Kegagalan kedua albumnya di pasaran membuatnya menjadi semakin frustasi. Dia merasa dunia musik telah menolaknya, dan hal itu yang membuat dia menjadi depresi.


 


Ditengah kedepresiannya tersebut, dia membuat album ketiganya sekaligus studio album terakhirnya, yaitu Pink Moon. Dibuat dalam 2 hari, ditemani dengan seorang sound engineer. Kali ini tidak ada musisi tamu karena semua lagu direkam hanya dengan iringan sebuah gitar beserta vokal Nick Drake saja. Refleksi dari rasa frustasi yang dialaminya seperti tertumpahkan dengan sempurna dalam album ini. Sebuah album yang menggambarkan kerapuhan seorang Nick Drake yang sesungguhnya. Tetapi seperti pada nasib kedua album sebelumnya, album ini juga mengalami kegagalan komersial yang sama. Semua review positif dari berbagai kritikus musik terhadap album ini dirasa menjadi tidak berharga. Karena belum membuat masyarakat luas untuk mengenal dan membeli albumnya. Segala bakatnya telah dicurahkan sepenuhnya. Nick tahu dia mempunyai bakat besar dalam musik, dan dia ingin lagu-lagunya bisa diapresiasikan dengan baik oleh masyarakat luas. Tetapi penjualan ketiga albumnya yang begitu buruk membuat Nick sangat putus asa dan berpikir untuk menyudahi karir bermusiknya. Satu waktu dia pernah berkata kepada ibunya Molly Drake, bahwa dia merasa telah gagal atas semua hal yang dilakukan di dalam hidupnya. Sebuah pernyataan yang mengisyaratkan keputus asaan yang sangat mendalam.


 


Setelah dirilisnya album Pink Moon yang juga tidak mengantarkannya kepada kesuksesan komersial, Nick menjadi semakin introvert. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang masih berkomunikasi dengannya. Karena melihat Nick yang semakin depresi, kedua orang tuanya membawa Nick untuk berobat ke psikiater. Karena itu, Nick mulai mengkonsumsi obat anti depresan yang bernama Tryptizol - yang pada nantinya obat itulah yang menyebabkan kematiannya. Hingga pada November 1974, di suatu pagi, ibunya Molly menemukan Nick terbaring kaku di tempat tidurnya. Nick meninggal di usia yang sangat muda, 26 tahun. Dikarenakan overdosis obat anti depresant, Tryptizol. Hari itu tanggal 25 November 1974, pukul 6 pagi, dunia musik pun tidak mengetahui bahwa telah kehilangan seorang yang sangat berbakat yang belum sempat memperdengarkan musiknya pada dunia.


 


Popularitas Nick Drake setelah kematiannya, mulai berkembang sejak dirilisnya box set Fruit Tree tahun 1979. Berisikan tiga albumnya yang telah diremaster oleh Island Records. Joe Boyd, produser dari 2 albumnya yang masih meyakini bahwa musik Nick Drake adalah karya bagus yang suatu saat nanti bisa diterima oleh orang banyak. Dia juga yang berusaha meyakinkan Island Records untuk merilis ulang album-album Nick Drake. Ternyata feeling Joe Boyd benar, semenjak dirilisnya box set tersebut, orang-orang mulai banyak membicarakan nama Nick Drake. Selanjutnya efek word of mouth yang semakin menaikkan popularitasnya. Berbagai musisi kelas dunia juga mengakui musik Nick Drake sebagai inspirasi untuk musik mereka. Setelah dirilisnya box set Fruit Tree, berbagai rekaman Nick yang belum sempat dipublikasikan akhirnya dirilis, beserta berbagai rekaman the best of dan bootleg yang semakin membawa nama Nick Drake terus melambung tinggi  - tidak seperti karir bermusiknya sewaktu ia masih hidup. Puncak popularitas Nick Drake ditandai dengan digunakannya lagu “Pink Moon” untuk iklan Volkwagen di Amerika Serikat pada tahun 2000,  yang memperkenalkan musik Nick Drake pada ribuan fans barunya di seluruh dunia.


 



                                                      ***


Saya juga termasuk fans baru dari Nick Drake. Semakin saya mengikuti perjalanan musikalnya, semakin saya dibuat kagum oleh musik yang ia buat. Saya mengaguminya sebagai seorang singer/songwriters yang jenius. Selain melodi yang kuat dan lirik puitisnya, permainan gitarnya juga diatas rata-rata. Dengan tunning gitar yang tidak biasa - yang dia ciptakan sendiri -  serta tehnik petikan yang unik, membuat musiknya sulit untuk dimainkan dengan sama persis. Di suatu kesempatan, saya pernah tampil solo dan saya menyanyikan “Northern Sky” hanya dengan iringan gitar akustik. Hasilnya, jauh dari sempurna dan jauh dari keindahan Nick Drake pada lagu tersebut. Malah saya membuat lagu itu menjadi terasa membosankan. Sebenarnya suara dan tehnik bernyanyi dari Nick Drake bisa dibilang di bawah standar untuk penyanyi profesional. Dia tidak mempunyai power yang kuat. Dan cara bernyanyinya juga seperti orang yang bergumam. Tetapi segala kekurangan dan keunikannya tersebut yang membuat seorang Nick Drake menjadi istimewa bagi saya.


 


Menemukan musik Nick Dake, seperti menemukan harta karun yang selama ini tidak tersentuh. Terlalu berharga, jika musiknya dilupakan begitu saja oleh dunia. Pada akhirnya disaat ini, musiknya mendapatkan tempat yang layak di masyarakat luas. Waktu pun membuktikan, musik bagus memang seharusnya akan selalu terdengar bagus sampai kapan pun. Nick Drake pasti akan sangat bahagia melihat kesuksesannya sekarang ini walau semua itu terlambat datangnya. Saya jadi teringat oleh penggalan lirik lagu Fruit Tree dari Nick “Fame is but a fruit tree -/ So very unsound./ It can never flourish/ Till its stock is in the ground / So men of fame/ Can never find a way/ Till time has flown/ Far from their dying day.”


 


                                                              Tulisan ini pernah dimuat Eve Zine edisi Maret 2006

Sunday, July 2, 2006

You Are What You Listen To



You
are what you listen to
. Seringkali kepribadian seseorang bisa
tercermin dari musik yang didengarnya. Kita tidak selalu bisa mengetahui
kepribadian seseorang dengan hanya melihat tampilan fisik saja. Jaman
sekarang penampilan fisik seringkali menipu. Salah satu teman saya di kos,
mempunyai tampilan fisik yang sama sekali bertolak belakang dari musik yang
didengarkannya. Ia berbadan kurus, tampak ringkih karena sering sakit-sakitan,
berkaca mata, dan tidak pernah menggunakan aksesoris yang berbau metal, tetapi
ia mendengarkan musik yang kebanyakan dari band-band cadas lokal seperti
Jeruji, Savor of Filth dan tentunya sang legendaris Puppen. Rasanya lucu
mendengar ia menirukan seruan “Lawan!” -
yang ada di dalam salah satu lagu Jeruji – dengan tampilan fisik yang mungkin
lebih cocok untuk mendengarkan musik yang lebih lembut. Mungkin jauh di lubuk
hatinya ada sesuatu kemarahan atau pemberontakan yang terpendam. Maka melalui
musik cadas itulah segala kemarahan dan pemberontakannya bisa dirayakan dengan
suka cita.





Dalam memilih pasangan biasanya hukum you are what you listen to juga berlaku. Beberapa teman saya
cukup tegas dalam hal tersebut. Mereka pasti akan mundur jika wanita incarannya
ternyata ketahuan memiliki selera musik yang sangat bertolak belakang. Maksud
saya disini selera musik boleh berlainan, tetapi ada beberapa aliran musik yang
jika dicari titik temunya akan mengalami kebuntuan. Misalnya musik modern RnB
dan musik indie pop. Dari tingkah laku pendengarnya saja sudah jauh berbeda. Pendengar
modern RnB biasanya memiliki kepribadian yang cukup terbuka dan easy going
sedangkan pendengar musik indie pop biasanya manusia dengan kepribadian yang
lebih tertutup atau juga sensitif. Jika kedua manusia dengan latar belakang
musik yang bertolak belakang itu ditemukan, pasti akan terjadi benturan yang
cukup signifikan.





Saya juga pernah dekat dengan seorang wanita
yang mempunyai selera musik yang jauh berbeda dengan saya. Tetapi saya tidak
langsung mundur. Saya melihat dulu, jika wanita tersebut kira-kira bisa terbuka
dan menerima jenis musik yang saya sukai, saya akan lanjutkan hubungan tersebut.
Saya sendiri juga menghargai musik yang dia dengar. Malah itu bisa membuat
wawasan musik saya bertambah. Seiring waktu, wanita tersebut malah meninggalkan
jauh-jauh selera musiknya terdahulu, dan mulai menggemari musik yang saya
dengar, walau saya tidak pernah memaksakan selera musik yang saya sukai.



Di lain waktu, saya juga bisa tertarik dengan
wanita hanya karena dia mempunyai selera musik yang menyerupai dengan selera
musik saya. Tetapi hal itu tidak mutlak. Saya akan bersedia menjalani suatu
hubungan dengan seorang wanita yang mempunyai selera musik yang berbeda, sejauh
musik yang dia dengar tidak secara langsung membuat hubungan menjadi memburuk.





Mungkin saya sudah terbiasa berinteraksi
dengan orang-orang dengan selera musik yang jauh berbeda dengan saya. Kamar
kosan saya kebetulan diapit oleh 2 kamar yang mempunyai selera musik yang jauh berlainan.
Malam hari saya terbiasa mendengar musik-musik pop melankolis Indonesia dari
mulai Dygta, Flanella, dan Keris Patih dari kamar di sebelah kanan saya. Sedangkan
di siang hari, saya mendengar musik-musik RnB jaman sekarang seperti Chris
Brown, Neyo ataupun Black Eyed Peas dari kamar di sebelah kiri saya. Dan memang
terbukti kedua orang itu juga mempunyai kepribadian yang kira-kira mencerminkan
selera musiknya.





Disini saya akan lebih objektif dan tidak akan
memojokkan suatu aliran musik tertentu. Kita tidak bisa menjudge seseorang bahwa
dia mendengarkan musik yang buruk hanya karena dia mendengarkan musik yang jauh
berbeda dengan kita. Hidup ini suatu pilihan, begitu juga dengan selera musik.
Alasan paling dasar bagi seseorang untuk memilih dan mendengarkan suatu musik
karena musik yang dia dengar cocok dengan kepribadiannya. Walau pada prosesnya
pengaruh lingkungan atau mungkin juga pengaruh trend yang ada juga sangat
mempengaruhi seseorang untuk memilih dan mendengar musik yang dia sukai.
Tetapi hal tersebut tidak akan berjalan selamanya. Ada saatnya semua akan
berpulang kepada selera paling personal dari setiap individu yang juga merupakan
cerminan dari kepribadiannya masing-masing.





Jika pada dasarnya menyukai musik lembut setipe
Celine Dion, pasti akan tersiksa jika terus dipaksa untuk mendengarkan musik
dari band-band yang sedang hip sekarang ini seperti Artic Monkeys ataupun Clap
Your Hand and Say Yeah. Begitu juga sebaliknya. Kita pun hanya ingin menikmati
musik yang benar-benar kita sukai yang sesuai dengan hati kita terlepas dari
segala tren dan lingkungan yang terkadang bisa mengaburkan kepribadian kita
yang sebenarnya.