Tuesday, September 19, 2006

Eksebisi Pertama Lomonesia di Bandung




Lomonesia mengadakan eksebisi pertamanya di Bandung. Walaupun persiapan serta jumlah panitianya terbatas, kami semua akhirnya bisa menyelesaikan lomowall yang paling besar yang pernah dibuat oleh lomonesia. Eksebisi ini sendiri berlangsung hingga akhir minggu ini di room no 1 di jalan citarum no 36. Berikut adalah beberapa gambar yang terekam dari acara pembukaan yang berlangsung hari minggu kemarin. Semua foto oleh saya, teguh dan oki.

Wednesday, September 13, 2006

Lookaftering

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:Vashti Bunyan
Mendengar album ini seperti mendengar seorang anggota paduan suara wanita yang bernyanyi di perkarangan belakang sebuah gereja tua setelah ibadat telah berakhir di hari minggu pagi yang cerah. Suara angelicnya yang dipenuhi oleh falsetto yang lembut dan besahaja memberi suatu kenyamanan tersendiri saat mendengarnya. Indah namun misterius. Album keduanya ini membawa kita ke dalam dunia keterasingan Vashti Bunyan yang selama ini ia jalani semenjak album pertamanya yang dirilis pada tahun 1970 tidak mendapat kesuksesan komersial. Sebuah dunia dimana ia tidak pernah melihat Donna Summer dan Gloria Gaynour berdansa di Club 54, atau merasakan gegap gempitanya kaum New Romantics pada pertengahan tahun 80an atau juga pernah mendengar teriakan Kurt Cobain pada awal tahun 90an. Musik yang ia hasilkan berada di luar itu semua. Sejarah pun tidak berani mengintervensi. Hasilnya adalah sebuah musik yang begitu naif, jujur dan tak akan pernah lekang oleh jaman. Beruntunglah ia masih diberi umur panjang saat bintang terang akhirnya menyinari karirnya disaat ini. Sehingga ia tidak perlu menemani Nick Drake dalam menikmati kesuksesan yang datang terlambat di atas sana.

Tuesday, September 5, 2006

Terima kasih Ma,




sudah melahirkanku ke dunia
ini dengan dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati, tepat 24 tahun yang lalu di hari ini. Luv you
so much...






Sunday, September 3, 2006

Dari BTC ke BEC



Weekend ini saya tampil dua kali di dua tempat
yang berbeda. Tetapi kedua tempat tersebut mempunyai persamaan, yaitu sama-sama
di mal. Pertama pada hari Sabtu, bertempat di mal yang bernama Bandung Trade
Center atau biasa disebut dengan BTC. Yang menarik, ternyata lokasi acara bukan
terletak di dalam mal, melainkan di atapnya. Sebuah pagelaran menarik dari Oz
radio dan Djarum Super dengan tajuk Sound of Independent yang menampilkan band-band
independent dari Jakarta dan Bandung. Antara lain White Shoes and The Couple
Company, Goodnight Electric, Pop Up, The Milo, Park Drive dan masih banyak
lagi. Ballads of The Cliche sendiri tampil setelah break magrib, sesudah
penampilan band Pop Up. Kali ini Ballads memainkan set pendek, sebanyak 4 lagu.
Karena terbiasa memainkan set panjang, rasanya aneh harus bermain dengan set
minimal dalam waktu yang sangat singkat. Terlebih karena durasi lagu-lagu Ballads
pada umumnya memang cukup singkat. Jadi penampilan kemarin terasa nanggung bagi
Ballads mungkin juga bagi penonton yang menyaksikan. Untungnya penonton yang
datang malam itu sangat menyenangkan.





Penampilan kedua di hari minggu. Bertempat di
mal yang bernama Bandung Electronic Centre atau yang biasa disingkat dengan
BEC. Kali ini saya tampil sendiri. Saya bernyanyi dengan gitar akustik dan juga
harmonika. Tawaran ini datang dari salah satu anak kosan saya, yang sering menjadi
MC untuk acara-acara promo dari Telkomsel. Jadi  konsepnya adalah saya mengisi jeda kekosongan, setelah acara pembagian
souvenir-souvenir menarik dari Telkomsel untuk setiap pengunjung mal yang
berhasil menjawab setiap pertanyaan atau games yang diajukan oleh MC. Tampil
sendiri di dalam mal dengan pengunjung yang sangat padat adalah pengalaman
pertama bagi saya. Yah hitung-hitung belajar dan juga menambah sedikit pemasukan
di awal bulan. Hehe...





Sebenarnya ini adalah kali ketiga untuk saya
tampil sendiri. Yang pertama pada acara yang diselenggarakan oleh Death Rock
Star di TRL. Lalu yang kedua di sebuah acara amal untuk gempa Jogja yang
diselenggarakan di Potluck cafe awal bulan lalu. Yang membedakan penampilan
kali ini, selain lokasinya tetapi juga penontonnya. Jika di kedua acara
sebelumnya penonton yang datang memang bertujuan untuk menonton penampilan dari
para pengisi acara, tetapi kali ini saya bernyanyi untuk penonton yang datang
untuk berbelanja barang-barang elektronik. Walhasil saya bernyanyi sendirian
dengan orang yang lalu lalang kesana kemari tanpa peduli akan kehadiran saya.
Anehnya masih ada beberapa pengunjung yang menghentikan langkah mereka untuk sesaat
dan ‘rela’ menonton penampilan saya. Bahkan ada seorang yang sempat request, dan
meminta lagu dari Saybia. Karena saya tidak tahu liriknya, saya mengajak dia
untuk bernyanyi dan saya mengiringinya. Tetapi sayangnya dia menghindar.





Yang menjadi kelebihan pada penampilan kemarin,
adalah saya tidak diharuskan untuk berbicara setiap jeda lagu. Karena tugas
saya sebenarnya hanya mengisi jeda kekosongan. Jadi tidak ada yang namanya
basa-basi, setiap lagu usai, langsung saya sambung dengan lagu yang lain. Berbicara
di depan umum sudah menjadi kelemahan saya. Dalam dua panggung sebelumnya, hal
itulah yang selalu menjadi masalah bagi saya. Saya selalu tidak tahu harus
berbicara apa. Mau sedikit melucu takut garing, mau bercerita mengenai kisah di
balik lagu takut membosankan. Jadinya saya selalu canggung untuk berbicara
setiap jeda lagu.



Kemarin total saya bermain dalam tiga sesi
dimana masing-masing sesinya berlangsung kurang lebih 15 menit. Untuk itu
sebelumnya saya sudah menyiapkan lagu cukup banyak. Karena saya tipe orang yang
tidak hafal lirik, jadi saya mengeprint terlebih dahulu semua lirik lagu yang
akan dimainkan. Total ada 20 lagu yang saya siapkan. Tetapi ada beberapa lagu
yang tidak sempat saya mainkan. Ini adalah listnya dalam urutan acak :





1. In My Life - The Beatles



2. Across The Universe -The Beatles



3. You've Got To Hide Your Love Away - The
Beatles



4. I Will - The Beatles



5. Place To Be - Nick Drake



6. Northern Sky - Nick Drake



7. I'll Be Your Mirror- The Velvet Underground



8. These Day - Nico



9. North Marine Drive - Ben Watt



10. Say Yes - Elliot Smith



11. Girlfriend in Coma - The Smiths



12. You're Gonna Make Me Lonesome When You Go
- Bob Dylan



13. New Slang - The Shins



14. Devoted To You - The Everly Brothers



15. America - Simon & Garfunkel



16. You Are So Beautiful - Joe Cocker



17. Close To You - The Carpenters



18. Annie Songs - John Denver



19. Jennifer Juniper - Donovan



20. Street of London - Ralph Mactell



 



Thursday, August 31, 2006

Potret Idola Indonesia




Indonesian Idol baru saja menghasilkan satu
lagi idola baru. Idola itu bernama Ihsan. Seorang pemuda berusia 17 tahun,
berasal dari Medan. Lahir dari orangtua yang berprofesi sebagai tukang becak. Ihsan
sendiri sehari-harinya seusai pulang sekolah, menghabiskan waktunya di ladang
untuk sekedar membantu penghasilan keluarganya. Cangkul di tangan dan bulir-bulir
keringat yang membasahi wajahnya karena terik matahari sudah menjadi santapannya
sehari-hari. Tunggu dulu, saya lagi bercerita mengenai acara Indonesian Idol
atau acara Uang Kaget? Maaf kalau menjadi kabur. Kebetulan idola baru Indonesia
kali ini mempunyai latar belakang kehidupan yang bisa mengundang simpati dari
banyak orang di Indonesia. Tidak berbeda jauh dari profil masyarakat yang
diberi limpahan rejeki di tayangan Uang Kaget yang juga ditayangkan oleh RCTI.





Saya bukannya tidak berperasaan dengan orang
yang mempunyai kehidupan ekonomi yang memprihatinkan, tetapi jika kehidupan itu
diangkat ke layar kaca dengan porsi serta melalui acara yang tepat - misalnya
tayangan Uang Kaget - saya pun tidak akan mempersoalkannya. Yang menjadi
masalah karena Indonesian Idol adalah kontes menyanyi. Dan sudah sepatutnya,
kita sebagai masyarakat Indonesia memilih idola kita berdasarkan kemampuan
menyanyinya dan bukan berdasarkan atas kemampuan dia untuk seberapa banyak bisa
menguras air mata masyarakat Indonesia.





Belum lama ini, saya menonton acara ulang
tahun RCTI. Di acara itu tampil para pemenang Indonesian Idol dari musim
pertama hingga yang terakhir. Saat itu sangat terlihat bahwa kualitas vokal Ihsan
berada jauh di bawah para seniornya, yaitu Delon dan Mike. Untuk urusan faktor
X - yang sering diucapkan oleh para juri, rasanya Ihsan tidak juga memilikinya.
Untuk faktor X, saya rasa runner up Dirly lebih memilikinya, suaranya juga
lebih’jualan’ jika dibandingkan oleh suara Ihsan.





Bisa dipastikan alasan apa yang menyebabkan masyarakat
Indonesia memilih Ihsan untuk menjadi idola Indonesia yang baru. Simpati dan
belas kasihan masyarakat itu bisa datang karena penyelenggara Indonesian Idol
terlalu mengekspose kehidupan para finalisnya di luar panggung, dan untuk
Indonesian Idol musim ini, kehidupan seorang Ihsanlah yang paling sering
mendapat sorotan. Sudah cukup masyarakat Indonesia dibutakan oleh cerita sedih.
Beberapa tahun lalu ada seorang bernama Veri dengan kemampuan vokal yang bisa
dibilang buruk tetapi ‘untung’nya mempunyai latar belakang kehidupan yang
memprihatinkan. Karena hal itulah yang membuatnya menjadi juara di Akademi
Fantasi Indosiar yang pertama.





Terlalu mengekspose kehidupan di luar panggung
- seperti yang dilakukan oleh Indonesian Idol khususnya melalui tayangan Idol
Banget yang ditayangkan hampir setiap hari dalam seminggu - sebenarnya sudah
menyalahi aturan yang berlaku di American Idol. Bahwa sebisa mungkin kehidupan
di luar panggung dari para finalis tidak akan diekspose oleh pihak penyelenggara.
Masyarakat hanya memilih berdasarkan penampilan para finalis di panggung saja.
Seperti pemenang American Idol musim ini, Taylor Hicks yang kalau dihitung-hitung
hanya tampil di layar kaca kurang dari 5 menit setiap minggunya. Tetapi hebatnya
dia bisa membuat jutaan orang Amerika untuk terus mendukungnya sehingga tidak
satu kali pun dia berada di bottom three.
Satu lagi aturan yang telah dilanggar oleh Indonesian Idol, yaitu voting sms
yang dibuka dari awal acara. Seharusnya untuk mendapatkan voting yang fair, masyarakat boleh mengirim sms
setelah melihat semua peserta mempertunjukkan kemampuannya. Karena dari situ
akan ketahuan siapa yang saat itu tampil bagus dan yang tidak.





                                                                       ***

Rasanya penyelenggaraan Indonesian Idol dari
tahun ke tahun juga terus menurun. Paling mudah bisa terlihat dari kualitas
finalis yang ada. Kita akan kesulitan dalam menemukan finalis dengan karakter yang
benar-benar stand out dan bisa dipertanggungjawabkan
dari segi kulitas suara. Pada Indonesian Idol musim kedua, kita menjumpai
seseorang bernama Firman, dengan karakter rock yang cukup kental, tapi sayang
tidak dibarengi dengan kemampuan vokal yang baik. Tidak seperti Constantine,
atau juga Bo Bice - dalam American Idol
musim keempat, yang kemampuan vokal serta karakternya yang kuat tidak perlu
diragukan lagi. Saya jadi semakin sering mempertanyakan kriteria penjurian dari
Indra Lesmana dan kawan-kawan, karena sering terjadi seseorang yang notabene
mempunyai suara yang sangat biasa malah sering mendapat pujian dari para juri.
Contohnya adalah finalis Indonesian Idol musim kedua yang bernama Monita. Untungnya
tidak semua juri berpendapat sama. Saat itu Muthia Kasim berpendapat bahwa suara
Monita seperti layaknya suara gadis SMU di panggung-panggung sekelas sekolahan.





Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam Indonesian
Idol juga semakin membosankan. Saya memang tidak mengetahui secara pasti apakah
dalam Indonesian Idol ada aturan atau anjuran untuk menyanyikan lagu dalam
bahasa Indonesia saja atau tidak. Tapi sepertinya para konstentan masih
diperbolehkan dalam memilih lagu berbahasa Inggris, walau hal tersebut bisa
membawa mereka ke urutan terbawah dalam pengumpulan suara. Seperti yang terjadi
pada Sisi - salah satu finalis Indonesian Idol musim ini - yang akhirnya harus tersingkir saat
menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh pilihan
lagu yang dibawakannya.





Mungkin masyarakat Indonesia harus familiar terlebih
dahulu dengan lagunya, baru setelah itu mereka bisa mengirimkan sms dukungan.
Maka dari itu pada penyelenggaraan Indonesian Idol musim ini, tidak terhitung sudah
berapa kali lagu Samsons, Radja, Dewa 19, Peterpan, Ari Lasso,Ungu dan
artis-artis lainnya yang sekarang ini banyak menghiasi tangga lagu di
Indonesia, berkumandang di Balai Sarbini. Jika memang disarankan untuk
menyanyikan lagu Indonesia, kita masih mempunyai banyak lagu-lagu pop yang
bagus karya musisi negeri ini, seperti lagu dari Guruh Sukarno Putra, Candra
Darusman, Tony Koeswoyo, Dian Pramana Putra atau juga Christ Kayhatu. Menurut
saya, melalui ajang populer seperti ini, musik Indonesia jaman dahulu - yang sekarang ini hampir tidak tersentuh
oleh remaja di Indonesia - bisa lagi ditampilkan dalam bentuk yang lebih
menyegarkan dan tentunya yang bisa menarik perhatian masyarakat umum khususnya untuk
remaja seusia Ihsan yang mungkin belum pernah mendengar sebagian besar dari
nama musisi Indonesia yang telah saya sebutkan di atas.





Di Amerika sendiri, melalui tayangan American
Idol, sebuah lagu atau penyanyi yang mungkin sudah lama tidak terdengar oleh publik
Amerika, bisa kembali mendapat popularitasnya setelah lagu tersebut dibawakan
di panggung American Idol. Seperti pada tayangan American Idol musim kelima,
saat itu finalis yang bernama Elliot Yamin, dengan suaranya yang soulful
menyanyikan salah satu lagu dari penyanyi kulit hitam yang telah lama tiada,
yang bernama Donny Hathaway. Tidak berapa lama setelah penampilannya, tercatat
penjualan cd Donny Hathaway Collection di Amazon meningkat berkali-kali lipat. Dan
memang banyak yang mengakui bahwa mereka membeli cd tersebut setelah terpukau
dengan penampilan Elliot Yamin.





                                                                            ***

Mungkin tidak pantas jika saya terus-terusan
membandingkan penyelenggaraan American Idol dengan Indonesian Idol. American
Idol sendiri sudah berjalan 5 musim. Sedangkan Indonesian Idol baru berjalan 3
musim. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pihak penyelenggara
agar menjadikan Indonesian Idol sebagai ajang terdepan untuk acara-acara
pencarian bakat di negeri ini. Setelah itu tugas diberikan kepada kita sebagai
masyarakat Indonesia untuk memilih idola barunya dengan kualitas yang dapat
dipertanggungjawabkan. Tetapi pada kenyataannya memilih berdasarkan kualitas
pun menjadi pekerjaan yang amat sulit. Di luar pengaruh dari latar belakang
kehidupan yang menyertainya, pekerjaan untuk memilih idola baru menjadi sulit
karena pilihan yang disediakan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang
bintang. Untuk itu kita biasa memilih yang terbaik dari yang terburuk.





Hal tersebut bisa terjadi karena banyak dari
penyanyi yang mempunyai kualitas tinggi yang tidak sempat atau mungkin tidak
mau untuk mengikuti ajang-ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol ini.
Mereka tersebar sangat banyak di sudut-sudut cafe, pesta-pesta perkawinan,
lobby hotel-hotel berbintang bahkan di kamar mandi tetangga kita. Mereka bernyanyi
dengan talenta yang istimewa, mungkin sambil berharap suatu saat mereka pun
bisa menjadi bintang, dengan cara mereka sendiri.











Corrine Bailey Rae

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Other
Artist:Corrine Bailey Rae
Jika Eryka Badu mengajak Norah Jones untuk bersantai dengan segelas wine di meja, lalu tidak berapa lama Billie Holiday pun datang dan mengundang keduanya untuk bersantap malam di rumahnya, mungkin album inilah hasilnya. Sebuah album yang soulful dan elegan. Dihiasi oleh nafas Soul/RnB, serta disisipi dengan sentuhan jazzy di beberapa sudut ruangan menjadi perpaduan sempurna yang dihasilkan dari seorang pendatang baru bernama Corrine Bailey Rae. Melalui suara innocentnya yang terkadang terdengar lirih, namun lain waktu terdengar sexy, mampu membuat album ini begitu bernyawa. Suaranya memang tidak seperti kebanyakan penyanyi wanita kulit hitam lainnya, yang biasanya mempunyai suara tebal dan suka berteriak. Suaranya cenderung lebih tipis dengan gaya bernyanyi yang santai dan menenangkan. Lagu-lagu seperti “Like a Star”, “Till It Happens To You” dan juga “Choux Pastry Heart” membuat saya ingin terus bermalas-malasan di sebuah sofa empuk nan nyaman. Sedangkan lagu “Trouble Sleeping” menggoda saya untuk terus menekan tombol repeat. Lagu-lagu dalam album ini memang lebih tepat dinikmati saat senja baru berakhir. Ketika lelah membutuhkan teman, tetapi kita juga tidak ingin segera beranjak pulang. Album ini adalah sebuah awal yang cerah bagi karir Corrine Bailey Rae, selagi ia tidak akan melepaskan pelukan hangatnya yang diberikan kepada kita.

Monday, August 28, 2006

In My Own Words

Rating:★★★
Category:Music
Genre: R&B
Artist:Ne-Yo
Rasanya saya sudah sedikit muak dengan artis-artis kulit hitam yang banyak bermunculan di industri musik saat ini khususnya dalam ranah RnB dan Hip Hop. Biasanya mereka hanya bermodalkan perhiasan berkilau dan gaya hidup mewah ala kaum kulit hitam di West Coast. Tampil tanpa bakat musikal yang istimewa tetapi menyiasatinya dengan menggandeng pencipta lagu handal dan produser terkenal untuk menghasilkan album yang akan terjual jutaan kopi yang pada nantinya membuat mereka bisa memamerkan rumah mewahnya di MTV Cribs. Mereka memang menjadi bintang, tetapi bukan sebagai seorang musisi sesungguhnya yang bisa menciptakan musiknya sendiri. Sampai pada awal tahun 2006 kemarin, dirilislah sebuah album RnB yang bertajuk In My Own Words dari seorang artis pendatang baru bernama Ne-Yo. Sebelum membuat debut albumnya ini, Ne-Yo telah malang melintang sebagai seorang penulis lagu untuk para artis RnB terkenal, dari mulai Mary J Blige, Rubern Studdard, Faith Evans, Mario dan juga Rihanna. Jadi album ini adalah pembuktian dirinya, tidak hanya sebagai seorang penulis lagu yang handal tetapi juga sebagai penyanyi RnB yang layak diperhitungkan.

Singel “So Sick” yang sempat menduduki peringkat pertama di Billboard adalah bukti yang paling signifikan bahwa dirinya bukanlah artis RnB karbitan. Keseluruhan lagu berjalan ringan dan santai serta dilengkapi dengan reffren yang kuat. Gaya penulisan lirik Ne-Yo di lagu ini juga terasa istimewa. Dengan mengambil sudut pandang yang sama dari famous quote yang ditulis oleh Nick Hornby di dalam buku High Fidelity : What came first, the music or the misery? Did I listen to music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to music?, Ne-Yo merasa telah jengah dengan segala lagu cinta yang akan membuatnya semakin menderita. ”I’m so sick of love song / so tired of tears / so sick of love song / so sad and slow / so why can’t i turn off the radio?”

Departemen lirik dalam album ini rata-rata masih menawarkan keagresifan khas RnB yang tidak akan pernah dihasilkan dari kesensitifan musik indie pop khususnya produksi Sarah Records. Kita tidak akan pernah menemukan lirik seperti “Could it be the little wrinkle over your nose / When you make your angry face/ That makes me wanna just take off all your clothes / And sex you all over the place” - yang ada pada lagu ”When You’re Mad” - di dalam lagu-lagu milik Trembling Blue Stars. Begitu juga sebaliknya, kita tidak akan pernah menemukan judul lagu seperti “Letter Never Sent” atau “I’m Tired, I’ve Tried” dalam kebanyakan album RnB seperti juga dalam album ini.

Ada satu hal yang bisa kita rasakan saat mendengar sebagian besar lagu dalam album ini, yaitu pengaruh dari seorang Michael Jackson. Album ini secara garis besar berhasil meniupkan kembali nafas musik ala Michael Jackson, dan tentunya dengan his own words. Salah satu lagu yang menurut saya paling banyak mendapatkan pengaruh dari Jacko ada di lagu “Sexy Girl”. Lagu ini seperti diciptakan untuk Jacko. Dari intro, verse, reffren sampai cara bernyanyi Ne-Yo, semuanya ‘sangat Jacko’. Dalam lagu “Sign Me Up”, Ne-Yo menyerukan “I’m just wanna rock with you” , persis dengan seruan Jacko dalam lagu terdahulunya “Rock With You” Untungnya pengaruh Jacko pada Ne-Yo hanya berakhir pada musik. Tidak seperti Usher – yang juga meniru habis penampilan Jacko - lengkap dengan sarung tangan yang dipakai di sebelah tangan.

Terlepas dari bayang-bayang Michael Jackson, album ini cukup menjanjikan untuk sebuah debut. Ini adalah album RnB yang konsisten. Lagu-lagu dalam album ini tidak melenceng menjadi Hip Hop, yang sering dilakukan oleh banyak artis RnB dewasa ini - yang sering mengaburkan garis batas antara Hip Hop dan RnB. Untuk kamu yang kurang menyukai musik rap, tidak perlu risau, karena sepanjang album kita akan terus mendengarkan alunan suara Ne-Yo yang merdu dan bukan celotehannya. Kemampuan Ne-Yo dalam menulis lagu juga membuat dia lebih unggul dibandingkan teman-teman seangkatannya, seperti Chris Brown misalnya. Mungkin tidak berlebihan jika meletakkan album ini tepat di sebelah album dari Pharell Williams, yang juga merupakan salah satu musisi kulit hitam dengan talenta terbaik yang dimiliki industri musik sekarang ini.