Sunday, August 30, 2009

Non-original Soundtrack of Up

Kompilasi ini saya buat sebagai tribute untuk balada percintaan dari Carl and Ellie Fredricksen. Mungkin bagi yang belum menonton film Up, nama tersebut terdengar asing. Carl Fredricksen adalah tokoh utama dari film Up ini. Semua hal yang ia lakukan dalam film ini, berlandaskan atas kecintaannya pada istrinya, Ellie. Jadi tidak salah jika saya menyebut film ini sebagai balada Carl dan Ellie. Saya tidak mau berbicara panjang lebar lagi mengenai cerita film Up. Takutnya malah jadi spoiler bagi yang belum menonton. Lagipula ini bukan resensi film. hehe

Yang pasti, semua lagu dalam album ini saya pilih berdasarkan apa saja yang terjadi dalam film ini. Bisa saya anggap juga kompilasi ini sebagai soundtrack imajiner atau non-original dari film Up. :D

Kebetulan musik film Up tidak menghadirkan berbagai lagu dari berbagai penyanyi, karena film ini hanya menampilkan musik latar atau scoring saja yang diciptakan dengan sangat brilian oleh Michael Giacchino.

Oleh karena itu, saya mencoba untuk seakan-akan menjadi music supervisor film Up dengan memilih berbagai lagu dari berbagai penyanyi untuk mengiringi rangkaian gambar-gambar indah dari film animasi terbaru garapan Pixar ini. Yah itung-itung latihan bagi saya untuk menjadi music supervisor film yang merupakan salah satu pekerjaan impian saya.

Bagi yang sudah menonton film Up, mudah-mudahan kompilasi ini dapat kembali mengingatkan kalian akan manisnya hubungan Carl dan Ellie. Sedangkan bagi yang belum menonton, lebih baik segera pergi ke bioskop terdekat karena Carl dan Ellie Fredricksen sudah menunggumu dari sebulan yang lalu untuk berbagai kisah cinta mereka.

Di bawah ini tracklistnya. Silahkan klik disini untuk mengunduh.

1. Harpers Bizzare - This Is Only The Beginning

2. Twin Connexion - Oh What A Lovely Day

3. Astrud Gilberto - The Face I Love

4. The Carpenters - Because We Are in Love

5. Crosby, Stills, Nash & Young - Our House

6. Midlake - Balloon Maker

7. The Munx - Our Dream

8. Stevie Wonder - Never Dreamed You'd Leave in Summer

9. George Strait - I Cross My Heart

10. Soft Soul Transition - Gotta Move Along

11. Fifth Dimension - Up, Up and Away

12. Bruce Broughton - The Adventure Begins

13. Julius Wechter & The Baja Mari - Flyin' High

14. Yo La Tengo - I'm On My Way

15. The Silver Seas - Hardluck Tom

16. George Harrison - I Live For You

17. Todd Rundgren - A Long Time, A Long Way To Go

18. Erik Satie - Nouvelle Danse

19. My Morning Jacket - Thank You Too

20. Unusual We - Bright Spectrum of Colors

 

Sunday, August 16, 2009

Kado Untuk Indonesia

Sepertinya sejauh ini saya belum pernah membuat mixtape, mix cd atau mix mp3 dengan playlist full Indonesia. Bukannya tidak cinta dengan musik negeri sendiri, namun koleksi musik lokal saya tidak sebanyak koleksi musik luar negeri. Terlebih koleksi mp3 dalam negeri yang saya miliki mungkin hanya berkisar 25 persen saja dari semua koleksi mp3 saya. Hehe..

Namun pagi ini, tepat di hari kemerdekaan Indonesia ke enam puluh empat tahun, saya untuk pertama kalinya mencoba membuat mix dengan playlist semua lagu Indonesia.

Lagu-lagu Indonesia yang saya pilih dalam mix ini terdiri dari musik-musik era 60an sampai 70an yang mungkin belum begitu banyak dari generasi saya yang telah mendengar dan menyukai musik-musik lokal dari era ini.

Pemilihan lagu, penyanyi beserta tracklist saya pilih secara spontan di tengah keadaan saya yang belum tidur karena masih berkutat dengan deadline di kantor. Yah ini jadi semacam pelampiasan saya mencari hiburan di tengah deadline yang melelahkan. Hehe

Pemilihan sampul album pun saya kerjakan seadanya. Gambar sampul diambil dari koleksi foto lama saya yang kebetulan pernah memotret sebuah bendera di kota Jogja sekitar setahun yang lalu.

Untuk pemilihan judul album, saya terinspirasi dari lagu The Beatles “When I’m Sixty-Four” yang memang sesuai dengan umur Indonesia saat ini. Tadinya judul tersebut mau saya bahasakan menjadi bahasa Indonesia. Namun rasanya terdengar ganjil. Atau mungkin saya ini adalah salah satu bukti  generasi Indonesia sekarang yang tampaknya lebih terbiasa menggunakan bahasa asing dibandingkan bahasa ibu sendiri? :)

Yah, tapi apalah artinya nama. Biarpun judulnya bule, namun rasa dan isinya 100 persen lokal. :D

Di bawah ini adalah tracklistnya. Klik disini untuk mengunduh album ini.


Selamat menikmati dan dirgahayu Indonesia!

1. Dara Puspita – Bhaktiku

2. Panbers – Salam Dariku

3. Bob Tutupoly – Bukan Aku Tak Sajang

4. Laily Dimjathy – Si Gondrong

5. Melky Goeslaw – Adikku Sayang

6. Tetty Kadi – Hujan Turun

7. The Friendly Group Aria – Gadis Pudjaanku

8. Mus Mulyadi & Band 4 Nada – Djangan Kau Ragu

9. Home 73 – Hujan

10. Theresia Soema – Senja Yang lalu

11. Koes Plus – Lamunan

12. Ernie Djohan – Usah Kau Goda

13. Lilis Suryani – Sesal Diri

14. Arie Koesmiran – Dr. Deddy

15. Vivi Sumantri & Dudy Iskamdar – Pertemuan Mesra

16. Two faces – Tak Mungkin Ku Kan Pergi

17. Giant Step -  Hay Manusia

Tuesday, July 28, 2009

Hanya Orang Keren Meninggal Umur 27 tahun

sebuah percakapan sore dengan seniman muda berbakat duto hardono mengenai 27 dan kerennya angka itu:


Duto Hardono: dim lo tau dash snow kan?

thepopism: tau. die kan dia

Duto Hardono: iya. gw baru tau kbrnya

thepopism: gaswat ya. heroin

Duto Hardono: yoi. gw pikir aids

Duto Hardono: anjir lo harus gitu dim biar keren. semua org keren matinya ngedrugs
ahahah

thepopism: hahah. umurnya jg 27 kl gak salah. eh bener gak ya

Duto Hardono: 1981-2009: 28thn. anjir kalo 27 jg tambah panjang aja daftar org keren mati umur 27. eh bener loh. belum genep 28

thepopism: coba dicek dl bulan apa dia lahir

Duto Hardono: July 27, 1981 - July 13, 2009

thepopism: wahh

Duto Hardono: BANGSAT

thepopism: blm 28 tuh

Duto Hardono: mitos itu benar!

thepopism: bener bgt. gaswat. gw bntr lg 27 ni

Duto Hardono: gaswat

thepopism: gimana dong enaknya? hahah

Duto Hardono: hidup gw sisa 3 tahun lg

thepopism: hahahah. absurd

Duto Hardono: ahahahha. mau ikutan keren. gila. hendrix, joplin,..morrisson. lennon jg ga?

thepopism: lennon sayangnya gak. gak drugs jg kan dia die nya. hrs drugs lah kl 27. haha

Duto Hardono: basquiat. see. bener kan?! ayo ngedrugs yg rutin dr skrg

thepopism: yes

Duto Hardono: gw barusan minum sangobion termasuk kan ya

thepopism: termasuk dong

Duto Hardono: sama pake salep gatel alergi

thepopism: gw jg td minum antangin

Duto Hardono: antangin jamu bukan drugs. gak masuk

thepopism: wah.sialan. hrs minum decolgen berarti ntr mlm

Duto Hardono: yoi

Friday, July 3, 2009

Berpergian Bersama Ami




Perkenalkan teman baru saya. Namanya Ami 66. Namun panggil saja ia Ami. Sudah tiga bulan belakangan ini Ami selalu setia menemani saya berpergian kemana pun juga.

Photobucket

Jika teman berpergian saya sebelumnya yang bernama Holga berasal dari dataran Cina, maka teman berpergian saya yang baru ini berasal dari belahan benua Eropa tepatnya negara Polandia.

Seri pertama dari Ami diproduksi di awal tahun 60, sewaktu era komunis melanda Polandia. Seri kedua Ami diproduksi tidak lama dari seri pertamanya. Sedangkan Ami 66 adalah generasi terakhir dari kamera yang diproduksi oleh perusahaan Warsaw Photo-optical Works (WZFO) ini.

Ami memiliki eksterior yang tampak lebih cantik dibandingkan dengan Holga yang minim dekorasi. Salah satu yang mencolok dari eksterior Ami terdapat pada sekitar lensanya. Dengan desain bergaya pop art yang dihiasi oleh ornamen dots.

Dalam penggunaannya, Ami membutuhkan sedikit perhatian lebih jika dibandingkan Holga. Salah satu contohnya, Ami memiliki shutter yang lebih ringkih dan riskan untuk tertekan tanpa sengaja jika ditaruh di dalam tas. Jadi memang harus sedikit hati-hati saat membawanya .

Selain itu, cukup sulit untuk melihat bagian petunjuk frame pada Ami. Dikarenakan oleh bentuknya yang tidak eye friendly dengan lingkaran berdiameter kecil dan kaca berwarna merah yang cukup pekat.

Karena berbagai kerumitan tersebut sekaligus juga karena keelokannya, tidak salah jika saya mengibaratkan Ami sebagai seorang wanita dan Holga adalah seorang pria. :)

Seperti Holga, Ami adalah kamera medium format. Ia juga memiliki fitur bulb dan multi exposure. Yang sedikit membedakannya, aparture Ami ini berjalan dengan sangat baik, yakni f/8 (cloudy) dan f/16 (sunny). Sedangkan pada Holga fitur ini sama sekali tidak ada efeknya.

Sementara itu, knop pemutar film pada Ami terletak di sebelah kiri dengan perputaran searah jarum jam. Sedangkan pada Holga, knop terletak di sebelah kanan dengan arah perputaran sebaliknya.

Yang juga membedakan Ami dengan Holga yaitu pada mask yang terdapat di dalam badannya. Jika menggunakan Holga sangat disarankan untuk melepas mask agar efek vignette dan light leaknya lebih terasa, pada Ami sepertinya lebih baik mask tersebut tetap dipasang.

Saya sempat melepas mask nya pada percobaan pertama saya dengan Ami. Dan hasilnya banyak gambar yang menumpuk dari satu frame ke frame yang lain dengan ukuran yang juga tidak 6x6 seperti umumnya hasil kamera medium format. Mungkin ini bagus jika kita ingin mencoba teknik panoramic manual.

Baru pada roll berikutnya, setelah saya memasang mask, hasilnya kembali normal. Di beberapa kesempatan meskipun mask nya terpasang, efek vigenette juga masih terasa pada Ami. Walaupun untuk light leak nya, tidak sebrutal Holga.

Jadi kesimpulannya, lebih baik Ami atau Holga? Menurut saya dua-duanya sama baik. Ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Bagaimanapun, saya berharap agar Ami dan Holga milik saya bisa duduk berdampingan dengan rukun. Jika sudah rukun, mudah-mudahan juga bisa tumbuh cinta diantara keduanya. Biarlah keduanya saling melengkapi dari kekurangannya masing-masing dan hidup bahagia selamanya. :D



Ini adalah rekaman perjalanan saya dengan Ami dalam tiga bulan belakangan ini melalui tiga film berbeda, yaitu: Kodak Portra 160VC, Fuji Provia 100F dan Kodak Ektachrome 100VS.

Monday, June 29, 2009

Enam Lagu di Bulan Keenam

Inilah enam lagu favorit yang saya dengarkan sepanjang bulan keenam di tahun 2009 ini. (in chronological order):

* silahkan klik judul lagunya untuk mengunduh

1. The Leisure Society – The Last of The Melting Snow

The Leisure Society adalah grup band baru favorit saya. Album mereka baru saja dirilis akhir bulan Maret kemarin dan hingga detik ini masih saya putar terus menerus. Lagu ini adalah lagu pertama yang saya dengar dari grup ini yang kebetulan juga singel pertama dari album debut mereka.

“The Last of The Melting Snow” adalah balada patah hati yang disajikan dengan elok sekaligus terdengar rapuh melalui alunan suara Nick Hemming, sang vokalis yang menulis lagu ini di tengah malam tahun baru di dalam kamar apartemennya dengan ditemani oleh sebotol vodka dan sebuah hati yang retak.

2. El Perro Del Mar - (At Your Best) You Are Love

Lagu ini pertama kali dibawakan oleh grup RnB tahun 60an The Isley Brothers. Di tahun 1994 pernah juga dibawakan oleh penyanyi Aaliyah. Kebetulan saya belum pernah mendengar versi asli lagu ini begitu juga versi Aaliyah. Saya langsung mendengar versi ini yang dibawakan oleh penyanyi asal Swedia, El Perro Del Mar.

Jadi saya tidak tahu pasti apakah bawaan lagu aslinya sudah sangat membuai ataukah peran El Perro Del Mar yang menjadikan lagu ini menjadi himne yang terasa sangat romantis.

Suara El Perro Del Mar yang bergelayut mesra di lagu ini membuatnya seakan-akan berbisik di telinga ini seraya ia membelai lembut pundak saya hingga lagu berakhir.

3. Sibylle Baier – Forgett

Sibylle Baier ialah penyanyi rumahan dan aktris kelas b yang di tahun 70an pernah tampil dalam salah satu film arahan sutradara Wim Wenders yang terkenal dengan film-filmnya seperti Paris, Texas dan juga The Million Hotel.

Di kala itu juga, Sibylle merekam lagu-lagu ciptaannya yang hasilnya hanya beredar di kalangan keluarga dan orang-orang terdekatnya saja. Kurang lebih tiga puluh tahun setelah ia merekam lagu-lagunya, J Mascis dari band Dinosaur JR mendapat rekaman tersebut dari salah satu anak Sibylle. J Mascis menyukai lagu-lagu dalam rekaman tua itu lalu ia membawanya pada label Orange Twin yang tidak berapa lama segera merilis lagu-lagu Sibylle di tahun 2006.

Seperti Vashti Bunyan, kekuatan lagu-lagu Sibylle terletak pada kesederhanaannya yang hanya diwakili oleh bunyi gitar dan vokalnya yang bersahaja. Diantara lagu-lagu dalam albumnya, favorit saya adalah lagu “Forgett”. Namun saya tidak bisa menjabarkan secara detil mengapa saya menyukai lagu ini. Mungkin kalau diibaratkan seorang manusia, lagu ini seperti seseorang yang apa adanya, rendah hati namun penuh keyakinan dan ketegaran.

4. Perhapsy – Bow Song

Cukup sulit bagi saya untuk dapat mencerna sebuah lagu instumental hanya dengan sekali dengar saja. Namun lagu ini bisa membuat saya langsung jatuh hati ketika pertama kali mendengarkannya. Yang menjadi menu utama lagu ini adalah suara gitar yang rancak. Dalam lagu ini, dentingan gitar meliuk-liuk dengan lincah, hinggap ke berbagai sudut yang berliku yang semua itu dibungkus oleh melodi yang ramah.

Mendengarkan “Bow Song” dari awal hingga akhir, memberikan sebuah sensasi pengembaraan tersendiri.

Melalui lagu ini, mau tidak mau saya harus terus waspada akan pergerakan selanjutnya dari band ini yang baru saja merilis debut albumnya pada tanggal 9 Juni 2009 yang lalu.

5. Sharon Van Etten – Keep

Belum lama ini, seorang teman bernama Budi Warsito memperdengarkan kepada saya beberapa lagu dari seorang penyanyi yang saat ini begitu ia cintai. Dengan cintanya yang menggebu-gebu terhadap penyanyi ini, Budi terus mempromosikan penyanyi wanita berusia 28 tahun ini kepada saya saat itu. Namun entah mengapa, waktu itu saya belum terlalu ‘kena’. Sampai ketika saya melihat video penyanyi ini di youtube yang menampilkan rekaman dirinya dengan ditemani sebuah gitar, bernyanyi dengan indahnya di salah satu ruangan apartemennya. Seketika saya jatuh cinta dengan penyanyi yang bernama Sharon Van Etten ini.

Lagi-lagi saya kesulitan jika mendeskripsikan alasan saya menyukai Sharon Van Etten. Mungkin (lagi-lagi) saya menyukai kesederhanaan musiknya, selain tentunya parasnya yang juga menarik. Hehe..Selain itu, saya menangkap ada sedikit sentuhan pemberontakan dalam suaranya yang terdengar acuh tak acuh. Pemberontakan yang dikemas dengan subtil yang menghasilkan sebuah percakapan hangat yang dramatis.

Lalu mengapa saya menyukai lagu ini? Karena lagu ini yang dibawakan olehnya dalam video yang saya lihat itu.

6. Danny Gokey – PYT

“PYT” (Pretty Young Thing) adalah lagu dari almarhum Michael Jackson yang ada dalam album fenomenalnya Thriller.

Walaupun judul lagu ini dimuat dalam penggalan lirik lagu “D.A.N.C.E” dari Justice, lagu ini sesungguhnya adalah hits yang terlupakan dari album Thriller karena popularitasnya yang rasanya masih kalah dibandingkan hits-hits lainnya seperti “Billy Jean”, “Beat It” dan juga “Human Nature”.

Pada American Idol musim lalu, salah satu finalis favorit saya Danny Gokey membawakan ulang lagu “PYT” dengan brilian.

“PYT” versi Danny Gokey dibuka dengan nuansa down tempo RnB yang seksi. Kemudian lagu ini memberi kejutan dengan perubahan tempo menjadi upbeat melalui irama funk yang groovy. Lalu semua itu digenapkan oleh suara soulful Danny yang enerjik.

 

Wednesday, June 24, 2009

Rasuk

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Indie Music
Artist:The Trees and The Wild
Ada tiga arti kata ‘rasuk’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka: 1. ‘Memasuki tubuh manusia’. 2. ‘Mendalam’; ‘meresap benar’. 3. ‘Bercampur-baur’. Untuk The Trees and The Wild—yang memilih kata tersebut sebagai judul debut mereka—semua arti terasa tepat untuk mendeskripsikan album ini dengan kata-kata.

Dari detik-detik pertama, perlahan kita dipapah masuk ke tubuh The Trees and The Wild dengan iringan bebunyian synthesizer yang mengambang dan misterius. Tak berapa lama, lagu pertama “Verdue” pun menghentak penuh gairah dengan raungan gitar elektrik yang lincah. Sebuah track pembuka yang meriah.

Setelah itu, album ini sarat dengan komposisi folk yang menenangkan, seperti “Honeymoon on Ice” yang terinspirasi film Eternal Sunshine of the Spotless Mind, dan juga “Berlin” yang merupakan lagu pertama yang mereka ciptakan di masa-masa awal band ini baru terbentuk. Demikian pula “Malino”, sebuah komposisi anggun tentang kerinduan, dibuka dengan kicauan burung dan desir ombak yang santun bergemuruh, ditimpali orkestrasi gitar yang cantik. Di satu bagian terdengar suara gitar menyerupai kolintang, alat musik tradisional Sulawesi Utara. Segala bunyi-bunyian ini seperti menguatkan judul lagu itu sendiri, yang diambil dari nama daerah tersebut.

Memang salah satu keunikan musik The Trees and The Wild adalah penggabungan sedikit elemen world music khususnya etnik Indonesia ke dalam musik mereka yang modern. Contoh paling signifikan adalah “Our Roots”, sebuah komposisi instrumental yang memadukan nuansa dream pop melalui alunan vokal wanita yang melayang dan berlapis-lapis, dengan irama pentatonik Jawa yang disempurnakan oleh permainan gitar elektrik yang menyadur irama ukulele sebagai salah satu pondasi lagu. Kekuatan lainnya terletak pada alunan suara vokalis Remedy Waloni yang begitu khas, meskipun tak bisa dipungkiri mengingatkan kita pada suara John Mayer. Hubungan kekerabatan suara ini memang laksana pisau bermata dua: musik The Trees and The Wild akan sangat mudah dikenali melalui suara Remedy, atau justru menjadikan sekawanan ini sebagai ‘band dengan vokalis bersuara John Mayer’.

Mereka juga bermain-main dengan kompleksitas struktur lagu, yang lazim diterapkan band-band post rock seperti Sigur Ros, yakni dinamika lagu yang rata-rata terdengar minimalis di bagian awal, lalu berangsur-angsur menanjak dan terus menanjak hingga terdengar ramai di penghujung lagu. Seperti pada “Derau dan Kesalahan”, dimana vokal latar wanita menjadi pengantar yang melenakan di awal lagu, lantas kita dikejutkan oleh riff gitar elektrik yang berubah menjadi agresif, menandakan perubahan dinamika lagu menuju komposisi epik nan megah. Sungguh petualangan musikal yang mengasyikkan. Begitu juga pada “Irish Girl”, yang dibuka oleh melodi gitar smooth jazz ala Fourplay, untuk kemudian ditutup oleh riuh rendahnya seksi gesek yang bersahut-sahutan dengan tabuhan perkusi dan ramainya vokal latar.

Penggabungan kesederhanaan folk yang kontemplatif, kerumitan post rock yang membius, dan sedikit elemen world music yang eksotis, membuat album Rasuk ini mampu menghanyutkan relung jiwa setiap pendengarnya. Jadi, sudah siapkah Anda kerasukan Rasuk?

ulasan ini ditulis untuk webzine rumah buku