Friday, November 14, 2008

Domba Biru

Masih berhubungan dengan topik hewan seperti postingan sebelumnya, sekarang saya mencoba website DOUBUTSU URANAI untuk mengetahui hewan apa yang mewakili kepribadianmu. Tinggal memasukkan tanggal lahir, lalu bisa terlihat jawabannya. Saya mengetahui website ini dari postingan bini.

Menurut ajaran DOUBUTSU URANAI, ternyata hewan yang mewakili kepribadian saya adalah domba. Keterangan lengkapnya seperti yang tertulis di bawah ini:



You are Blue Sheep type, who is gentle to others and have calm attitude and a quiet atmosphere around you.

You can make other people feel good, and yet at the same time you have a natural instinct to see people's insight.

You can turn things into your own pace as well.

You are a person of knowledge, and can provide wide range of information.

You are very quick on trends.

Unlike your outlooks, you have guts to fight.

You can build relationships based on each other's interests.

You have a will power to achieve your set objective by carefully planning your schedules.

Although you have bright brains and clear mind to analyze things, you tend to leave the decision on lapse of time.

Your weakness is you can be slow on decision making and putting into action.

You are good at competition and have great ambition.

Your success lies in cooperating with others and trying to be helpful to others.

You put priority in economics, and try to stable the household budget.


Secara umum, saya merasa apa yang dikatakan di website itu banyak benarnya. Entah kebetulan atau tidak. Hebat juga tapi, cukup akurat. hehe..


Wednesday, November 5, 2008

Barack Obama, I'm Not a Wise Man dan Postcard To Nina

Apa hubungannya antara Barrack Obama, I’m Not a Wise Man dan Postcard to Nina? Apakah Obama bukan seorang yang bijak karena ia berselingkuh dari istrinya, Michelle dan diam-diam menjalin hubungan dengan wanita lain yang bernama Nina?

Semua hal tersebut berhubungan hanya dalam acara radio PopCircle edisi 44 yang mengudara semalam.

Dalam segment Main Dish, kami membahas kemenangan Obama menjadi presiden berkulit warna pertama di Amerika Serikat dan reaksi masyarakat Indonesia yang begitu berlebihan yang selalu mengkaitkan sejarah bahwa masa kecil Obama pernah dihabiskan di Indonesia selama empat tahun. Para pendengar berbagi pendapatnya melalui sms, dan rata-rata semua berpendapat sama: bahwa Indonesia tidak sepatutnya bereaksi berlebihan hanya karena romantisme masa kecil Obama di Indonesia.

Masih berkaitan dengan Amerika Serikat, pada sesi kedua dalam Main Dish semalam, kami mengundang pendengar untuk berbagi obsesi, impian atau kesenangan mereka terhadap produk, budaya dan berbagai hal lainnya yang berasal dari Amerika.

Dalam segment Localism, kami berbicara via telepon dengan Frederick Rheinhard, gitaris dari Ballads of The Cliché yang menciptakan lagu I’m Not A Wise Man, lagu terbaru dari Ballads of the Cliche yang akan masuk ke dalam ep mereka bertajuk Old Friend yang akan dirilis hari Sabtu besok tanggal 8 November 2008. Frederick bercerita panjang lebar mengenai kisah dibalik lagu I’m Not a Wise Man, hari rilis ep Old Friend yang bertepatan dengan hari pernikahan drummer mereka serta rencana jangka pendek dari Ballads of the Cliché. Di akhir perbincangan, untuk pertama kalinya lagu terbaru Ballads of the Cliche, I'm Not a Wise Man diperdengarkan ke publik.

Semalam, kami juga membawa kabar baik. Bahwa singer songwriter asal Swedia yang tahun lalu populer dengan lagu hitsnya, Postcard to Nina akan datang ke Indonesia dalam rangkaian Asian Tour 2008 dan acara radio PopCircle menjadi official radio program untuk konser Jens Lekman ini yang sedianya akan berlangsung pada tanggal 6 Desember 2008, tepatnya di kota Bandung. Beberapa hari sebelum tampil, jika waktunya memungkinkan, Jens Lekman akan langsung hadir di studio Rase FM untuk kami wawancara dalam acara PopCircle. Kita doakan saja agar hal itu bisa terjadi.


Berikut ini adalah playlist yang sudah kami siapkan yang telah diputar semalam.

1. Sarah Mclachlan – Possession

2. The Silver Seas – Ms.November

3. Eurythmics - Here Comes The Rain Again

4. Mulu - Is It Me?

5. Lykke Li - Little Bit

6. Silver Screen - She Counts The Rain

7. Ray LaMontagne – You Are The Best Thing

8. Lo-Fi FNK - Wake Up

9. Snow Patrol – The Golden Floor

10. Azure Ray – November

11. Jens Lekman - A Postcard To Nina

12. Ballads of the Cliche – I’m Not a Wise Man

13. Israel Kamakawiwo Ole' – Somewhere Over The Rainbow (Judy Garland cover)

14. The Puppini Sister – Heart Of Glass (Blondie cover)

15. Nancy Sinatra – Let Me Kiss You (Morrissey cover)

16. Simon and Garfunkel – America

17. Naif - Tersenyumlah


PopCircle adalah program mingguan di Rase FM 102. 3, setiap rabu malam dari pukul 22.00 hingga pukul 1 dini hari, bersama Risa Saraswati dan Syauqy Lukman.

Monday, November 3, 2008

Panorama Yang Tak Selebar Daun Kelor




Akhirnya saya punya kamera panoramic. Tapi jangan salah menduga dulu. Kamera panoramic milik saya tidak mengambil gambar selebar kamera panoramic swing lens seperti Horizon, Noblex atau Widelux. Kamera panoramic saya juga tidak semahal dan seprofesional merk-merk yang saya sebutkan tadi.

Karena kamera panoramic saya adalah kamera plastik point and shoot (no focus, no f-stops, no shutterspeed) yang berharga murah dan tidak mempunyai lensa berputar namun kebetulan mempunyai lensa yang bisa mengambil gambar cukup lebar. Atau dengan kata lain, ini adalah kamera panorama-panoramaan.

Nama kameranya Ansco Pix Panoramic. Dan sejauh ini, kamera ini adalah kamera teringan yang pernah saya miliki. Sewaktu paket kamera ini yang saya beli di ebay sampai di tangan saya, saya sempat menduga terkena tipu dari penjualnya. Karena paket yang dikirimkan sangat ringan, hampir seperti tidak ada isinya di dalamnya.

Photobucket

Satu-satunya keluhan saya terhadap Ansco Pix Panoramic ini adalah tidak adanya fasilitas flash ataupun tidak tersedianya hot shoe untuk manaruh flash. Karena itu, untuk foto dalam ruangan rasanya mustahil. Saya sudah mencobanya, dan tidak berhasil walaupun untuk kesempatan pertama menggunakan kamera ini saya menggunakan film berasa tinggi, yaitu Ilford 3200.

Jadi sama seperti Holga, matahari yang terik adalah teman baik Ansco Pix Panoramic.

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Tapi di luar itu semua, paling tidak kamera ini bisa menjadi penghibur selagi saya terus menabung untuk membeli kamera panoramic swing lens. Hehe..

Oh iya, seharusnya saya memotong frame hitam yang ada di atas dan bawah gambar, biar nuansa panoramicnya semakin terasa. Tapi untuk saat ini, saya terlalu malas untuk melakukannya. Hehe..Lagipula dengan adanya frame hitam tersebut, jadi lebih terasa seperti potongan sebuah film layar lebar. :D

Jadi inilah beberapa hasil dari percobaan pertama menggunakan kamera panorama berharga murah dengan film yang tidak begitu murah di tangan amatiran berskill murahan yang hanya mengharapkan keberuntungan untuk terus datang menghampirinya. :p

Thursday, October 30, 2008

Perkenalan Menggunakan Rangefinder Dengan Ricoh 500 GX




Awalnya saya sama sekali tidak tertarik menggunakan kamera rangefinder. Karena saya terbiasa dengan kamera-kamera plastik point and shoot yang tinggal jepret saja, tanpa harus memikirkan diafragma, speed dan berbagai hal teknis fotografi lainnya.

Tapi ketika beberapa bulan yang lalu saya berkunjung (lagi-lagi) ke pasar loak dan menemukan sebuah kamera rangefinder bermerk Ricoh tipe 500 GX dengan kondisi yang cukup baik dan harga yang sangat murah, rasanya sangat sulit untuk dilewatkan begitu saja. Hehe.. Jadilah saya membeli kamera itu, dan mencoba untuk pertama kalinya menggunakan kamera rangfinder.

Dengan memadukan film B&W Lucky (yang pertama kali juga saya gunakan), inilah beberapa hasil dari roll perkenalan dengan kamera rangefinder saya yang pertama Ricoh 500 GX. Jadi maaf jika banyak gambar yang blur ataupun tidak fokus. Maklum newbie. :D

Setelah menggunakan Ricoh 500 GX tersebut, sekarang saya jadi tertantang ingin mencoba kamera rangefinder yang lain. Sasaran berikutnya: Yashica Electro 35 GSN. hehe

Temu Kangen Dengan Holga




Beberapa bulan belakangan ini, saya sedang giat-giatnya mencoba berbagai jenis kamera format 135 yang mengakibatkan kamera Holga 120 N milik saya menjadi terlantar. Sampai akhirnya sekitar dua minggu yang lalu, menjelang World Toy Camera Day, tiba-tiba datanglah rasa rindu untuk kembali menggunakan Holga.

Karena sudah terlalu lama tidak menggunakan Holga, persediaan saya untuk film format 120 benar-benar tidak ada. Jadi saya pergi ke toko foto Kamal di Braga. Satu-satunya jenis film format 120 yang dijual disana hanya film negatif Kodak Ektacolor yang kebetulan tersedia juga yang expired dengan harga yang didiskon. Ya sudah, saya beli yang didiskon saja, yang penting saya bisa temu kangen dengan Holga milik saya. (Walaupun sebenarnya saya ingin sekali kembali menggunakan film B&W di Holga.)

Temu kangen dengan Holga 120 N milik saya dimulai pada pagi hari ketika saya dan teman-teman kantor pergi survey tempat ke Dago Tea House untuk penyelenggaraan JEUNE Release Party edisi terbaru. Setelah itu saya ke kantor, lalu pada sore hari saya menjemput pacar di kantornya.

Kebetulan pacar saya sedang stress karena kerjaan kantornya, maka ia pun mengajak saya untuk pulang dengan berjalan kaki dari kantornya di jalan raya Kopo sampai ke jalan di dekat Mal Istana Plaza. Sebuah ajakan yang tepat, karena dengan berjalan kaki, saya bisa lebih leluasa menghabiskan rol film.

Maka di sore hari itu, kami pulang berjalan kaki bersama. Seraya ia berkeluh kesah mengenai kerjaannya, saya terus membidikkan kamera Holga saya ke berbagai objek yang saya temui sepanjang perjalanan pulang tersebut.

Hari itu, yang bertepatan dengan World Toy Camera Day, temu kangen dengan Holga 120 N milik saya berjalan dengan lancar. Seorang teman pernah berkata jangan pernah menganggurkan Holga terlalu lama, karena ia bisa ngambek ketika digunakan kembali. Namun untungnya Holga 120 N saya tidak ngambek ketika digunakan kembali. Karena sepertinya ia juga rindu kepada saya. Haha..

Wednesday, October 29, 2008

PopCircle Edisi Spesial: 80s (but no so cheesy 80s music)

Setelah edisi spesial Burt Bacharach bulan lalu, semalam PopCircle kembali lagi dengan sebuah edisi spesial yang kali ini mengangkat tema: 80s (but no so cheesy 80s music)

Tidak seperti tema-tema back to 80s pada umumnya yang biasanya dipenuhi oleh band-band new romantics dan juga artis pop yang sering menghiasi berbagai chart radio dan juga MTV, seperti Spandau Ballets, Madonna, Wham, atau Michael Jackson, PopCircle edisi 80an ini menampilkan band-band underrated atau musisi kelas dua yang di jamannya tidak pernah mengalami kesuksesan komersial yang signifikan yang beberapanya juga mempunyai pengaruh musikal yang cukup penting bagi band-band jaman sekarang.

Sebut saja, The Durutti Column. Band Factory Records yang di era 80an namanya tenggelam di bawah band-band satu labelnya seperti Joy Division, New Order dan juga Happy Monday, namun ternyata pengaruhnya cukup terasa pada band-band post rock yang berkembang di awal tahun 2000an.




Ada juga duo asal Athena, Yunani yang menamakan dirinya Fantastic Something yang hanya merilis satu buah album, namun musiknya menjadi salah satu inspirasi terbesar dari band-band seperti Blueboy dan juga Kings of Convenience. 





Begitu pun yang dialami oleh band asal Inggris, The Chameleons UK yang sepanjang karirnya di era 80 namanya kurang begitu populer, tidak seperti teman-teman seangkatan seperti The Cure ataupun Echo and The Bunnymen. Walau sebagian kalangan menilai musik mereka menyerupai U2 di awal karirnya, namun tetap saja musik The Chameleons UK dianggap jauh lebih baik dari U2. Pada kelanjutannya pengaruh musikal The Chameleons UK bisa didengar pada band-band indie rock di awal 2000an, seperti The Killers, Editors dan juga Interpol.

Secara keseluruhan musik-musik dari era 80an yang kami putar semalam sedikit banyak memberi gambaran lain kepada para pendengar bahwa musik 80an tidak selalu dijejali oleh bebunyian non organik yang dihasilkan oleh perangkat synthesizer yang sering kali mempunyai porsi yang berlebih hingga terkesan norak. Karena di luar itu semua, musik 80an sebenarnya penuh oleh bakat-bakat mengagumkan yang sayangnya beberapa dari mereka sering luput dari perhatian orang banyak di kala itu.

Para pendengar yang kami minta pendapatnya mengenai musik 80an juga sependapat dengan kami. Dari sms-sms yang masuk semalam, rata-rata berpendapat bahwa musik 80an itu adalah musik-musik yang mempunyai karakter tersendiri, menyenangkan dan juga pengaruhnya cukup besar bagi band-band yang hidup di era selanjutnya.

Di edisi spesial yang mengudara semalam, kami juga kembali membuka segment localism yang selalu menghadirkan musisi lokal untuk interview singkat via telepon. Semalam, kami berbincang-bincang dengan Fariz RM mengenai grup bandnya yang bernama Transs.

Transs adalah band fusion yang hanya merilis satu buah album, namun kehadirannya dianggap sangat berpengaruh terhadap perkembangan musik fusion di Indonesia pada tahun 80an.

Band ini dibentuk oleh Fariz RM (yang di band tersebut selain bernyanyi juga memainkan gitar) dan beranggotakan Erwin Gutawa (bass), Uce Haryono (drum), Dhandung SSS (vokal), Jundhi Karyadi (keyboard), Eddy Harris (keyboard), Wibi Ak (perkusi), Hafil Perdana kusuma (Vokal, flute ).

Album perdana dan satu-satunya album mereka ini bertajuk Hotel San Vicente, dirilis tahun 1981 oleh Akurama Records. Album ini sering dinilai oleh banyak kalangan sebagai cikal bakal dari merebaknya grup-grup fusion pada paruh dasawarsa 80-an, seperti Krakatau, Emerald, Karimata, Spirit , Indonesia 6, Modulus, Halmahera, dan masih banyak lagi.

Pada tahun 2008, album Hotel San Vicente masuk dalam urutan ke 35 dari 150 album terbaik Indonesia versi majalah Rolling Stone.

Semalam Fariz RM bercerita panjang lebar mengenai asal usul band ini, arti judul Hotel San Vicente sampai kepada cerita mengenai artwork album yang cukup kontroversial di jamannya. Di akhir perbincangan kami memutarkan salah satu lagu yang ada dalam album tersebut yang berjudul Kalangan Dusta.




Itulah sekelumit cerita dari edisi spesial PopCircle yang mengudara semalam. Tunggu edisi-edisi spesial PopCircle berikutnya yang akan mengudara di minggu keempat setiap bulannya.

Dan ini adalah playlist semalam yang selain menampilkan band-band underrated dan kelas dua tentunya juga menampilkan lagu-lagu dari band-band era 80an favorit kami:

 
1. The Cars - Heartbeat City

2. Everything But The Girl - Lonesome For a Place I Know

3. Fantastic Something - The Night We Flew Out The Wind

4. Prefab Sprout – Technique

5. Swing Out Sister - You On My Mind

6. Dreams So Real - Maybe I'll Go Today

7. Marshall Crenshaw - You're My Favorite Waste of Time

8. Strawberry Switchblade - Who Knows What Love Is

9. Ben Watt - North Marine Drive

10. Colourfield - Thinking of You

11. Missing Persons - I Can't Think About Dancin'

12. Kitchens Of Distinction - Prize

13. The Blue Nile - Let's Go Out Tonight

14. The Durutti Column - Sketch For Summer

15. The Chameleons UK - Up The Down Escalator

16. The Pale Fountains – Crazier

17. Edie Brickell  and New Bohemians – Circle

18. Aztec Camera – Jump (Van Hallen cover)

19. Kings of Convenience - Manhattan Skyline (A-Ha cover)

20. Transs - Kalangan Dusta

21. Rah Band - Sam the Samba Man


PopCircle adalah program mingguan di Rase FM 102. 3, setiap rabu malam dari pukul 22.00 hingga pukul 1 dini hari, bersama Risa Saraswati dan Syauqy Lukman.

Thursday, October 23, 2008

TELAH TERBIT JEUNE MAGAZINE EDISI PERAK: SILENCE ISSUE




Photobucket

Dalam edisi ini, kami merayakan keheningan, seperti John Cage merayakan keheningan dalam pertunjukkan musiknya yang fenomenal itu.

Keheningan merangkul rahasia seseorang ketika ia tertarik dengan lawan jenisnya dari sebuah kejauhan. Namun keheningan juga berusaha dipecahkan ketika kata demi kata telah habis dan menyisakan jeda yang tidak nyaman diantara dua orang yang bertatap muka.

Sementara itu, sebagian orang bekerja dengan diam, tanpa dikenali, tanpa menuntut sebuah pengakuan. Sedangkan tempat pun bertutur dengan santun, menceritakan kembali sebuah kisah yang pernah terjadi, dimana ia menjadi saksi bisu dari semua tawa dan air mata.

Melalui keheningan, band Goodspeed You! Black Emperor merenungkan ulang sebuah posisi subjektif di tengah pergolakan objektif kerumunan massa. Dan seorang mime seperti Marcel Marceau atau juga Dede Dablo menciptakan ruang, waktu dan benda melalui gerak-gerak sunyi yang berisyarat.

Kami pun terus menelusuri keheningan. Seperti yang kami temukan pada foto-foto terbuang yang kini dapat kembali berbicara setelah sebelumnya hanya diam dan membeku di sebuah sudut yang usang dan tak tersentuh. Yang juga semakin menguatkan sebuah ungkapan lama, picture tells a thousand words.

Tak lupa juga, para pembuat film memilih untuk tidak diam dengan kembali membuka catatan kelam mengenai peristiwa tragedi Mei tahun 1998 melalui sebuah pemahaman: diam adalah sebuah pernyataan ketika kita sudah selesai bertanya: Kenapa?



Go to ImageShack® to Create your own Slideshow

JEUNE Magazine nomer 25, Silence Issue sudah bisa didapatkan di toko buku terdekat dan pada newstand di sekitarmu.