Tuesday, July 28, 2009
Hanya Orang Keren Meninggal Umur 27 tahun
Duto Hardono: dim lo tau dash snow kan?
thepopism: tau. die kan dia
Duto Hardono: iya. gw baru tau kbrnya
thepopism: gaswat ya. heroin
Duto Hardono: yoi. gw pikir aids
Duto Hardono: anjir lo harus gitu dim biar keren. semua org keren matinya ngedrugs
ahahah
thepopism: hahah. umurnya jg 27 kl gak salah. eh bener gak ya
Duto Hardono: 1981-2009: 28thn. anjir kalo 27 jg tambah panjang aja daftar org keren mati umur 27. eh bener loh. belum genep 28
thepopism: coba dicek dl bulan apa dia lahir
Duto Hardono: July 27, 1981 - July 13, 2009
thepopism: wahh
Duto Hardono: BANGSAT
thepopism: blm 28 tuh
Duto Hardono: mitos itu benar!
thepopism: bener bgt. gaswat. gw bntr lg 27 ni
Duto Hardono: gaswat
thepopism: gimana dong enaknya? hahah
Duto Hardono: hidup gw sisa 3 tahun lg
thepopism: hahahah. absurd
Duto Hardono: ahahahha. mau ikutan keren. gila. hendrix, joplin,..morrisson. lennon jg ga?
thepopism: lennon sayangnya gak. gak drugs jg kan dia die nya. hrs drugs lah kl 27. haha
Duto Hardono: basquiat. see. bener kan?! ayo ngedrugs yg rutin dr skrg
thepopism: yes
Duto Hardono: gw barusan minum sangobion termasuk kan ya
thepopism: termasuk dong
Duto Hardono: sama pake salep gatel alergi
thepopism: gw jg td minum antangin
Duto Hardono: antangin jamu bukan drugs. gak masuk
thepopism: wah.sialan. hrs minum decolgen berarti ntr mlm
Duto Hardono: yoi
Friday, July 3, 2009
Berpergian Bersama Ami
Perkenalkan teman baru saya. Namanya Ami 66. Namun panggil saja ia Ami. Sudah tiga bulan belakangan ini Ami selalu setia menemani saya berpergian kemana pun juga.
Jika teman berpergian saya sebelumnya yang bernama Holga berasal dari dataran Cina, maka teman berpergian saya yang baru ini berasal dari belahan benua Eropa tepatnya negara Polandia.
Seri pertama dari Ami diproduksi di awal tahun 60, sewaktu era komunis melanda Polandia. Seri kedua Ami diproduksi tidak lama dari seri pertamanya. Sedangkan Ami 66 adalah generasi terakhir dari kamera yang diproduksi oleh perusahaan Warsaw Photo-optical Works (WZFO) ini.
Ami memiliki eksterior yang tampak lebih cantik dibandingkan dengan Holga yang minim dekorasi. Salah satu yang mencolok dari eksterior Ami terdapat pada sekitar lensanya. Dengan desain bergaya pop art yang dihiasi oleh ornamen dots.
Dalam penggunaannya, Ami membutuhkan sedikit perhatian lebih jika dibandingkan Holga. Salah satu contohnya, Ami memiliki shutter yang lebih ringkih dan riskan untuk tertekan tanpa sengaja jika ditaruh di dalam tas. Jadi memang harus sedikit hati-hati saat membawanya .
Selain itu, cukup sulit untuk melihat bagian petunjuk frame pada Ami. Dikarenakan oleh bentuknya yang tidak eye friendly dengan lingkaran berdiameter kecil dan kaca berwarna merah yang cukup pekat.
Karena berbagai kerumitan tersebut sekaligus juga karena keelokannya, tidak salah jika saya mengibaratkan Ami sebagai seorang wanita dan Holga adalah seorang pria. :)
Seperti Holga, Ami adalah kamera medium format. Ia juga memiliki fitur bulb dan multi exposure. Yang sedikit membedakannya, aparture Ami ini berjalan dengan sangat baik, yakni f/8 (cloudy) dan f/16 (sunny). Sedangkan pada Holga fitur ini sama sekali tidak ada efeknya.
Sementara itu, knop pemutar film pada Ami terletak di sebelah kiri dengan perputaran searah jarum jam. Sedangkan pada Holga, knop terletak di sebelah kanan dengan arah perputaran sebaliknya.
Yang juga membedakan Ami dengan Holga yaitu pada mask yang terdapat di dalam badannya. Jika menggunakan Holga sangat disarankan untuk melepas mask agar efek vignette dan light leaknya lebih terasa, pada Ami sepertinya lebih baik mask tersebut tetap dipasang.
Saya sempat melepas mask nya pada percobaan pertama saya dengan Ami. Dan hasilnya banyak gambar yang menumpuk dari satu frame ke frame yang lain dengan ukuran yang juga tidak 6x6 seperti umumnya hasil kamera medium format. Mungkin ini bagus jika kita ingin mencoba teknik panoramic manual.
Baru pada roll berikutnya, setelah saya memasang mask, hasilnya kembali normal. Di beberapa kesempatan meskipun mask nya terpasang, efek vigenette juga masih terasa pada Ami. Walaupun untuk light leak nya, tidak sebrutal Holga.
Jadi kesimpulannya, lebih baik Ami atau Holga? Menurut saya dua-duanya sama baik. Ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Bagaimanapun, saya berharap agar Ami dan Holga milik saya bisa duduk berdampingan dengan rukun. Jika sudah rukun, mudah-mudahan juga bisa tumbuh cinta diantara keduanya. Biarlah keduanya saling melengkapi dari kekurangannya masing-masing dan hidup bahagia selamanya. :D
Ini adalah rekaman perjalanan saya dengan Ami dalam tiga bulan belakangan ini melalui tiga film berbeda, yaitu: Kodak Portra 160VC, Fuji Provia 100F dan Kodak Ektachrome 100VS.
Monday, June 29, 2009
Enam Lagu di Bulan Keenam
Wednesday, June 24, 2009
Rasuk
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Music |
| Genre: | Indie Music |
| Artist: | The Trees and The Wild |
Dari detik-detik pertama, perlahan kita dipapah masuk ke tubuh The Trees and The Wild dengan iringan bebunyian synthesizer yang mengambang dan misterius. Tak berapa lama, lagu pertama “Verdue” pun menghentak penuh gairah dengan raungan gitar elektrik yang lincah. Sebuah track pembuka yang meriah.
Setelah itu, album ini sarat dengan komposisi folk yang menenangkan, seperti “Honeymoon on Ice” yang terinspirasi film Eternal Sunshine of the Spotless Mind, dan juga “Berlin” yang merupakan lagu pertama yang mereka ciptakan di masa-masa awal band ini baru terbentuk. Demikian pula “Malino”, sebuah komposisi anggun tentang kerinduan, dibuka dengan kicauan burung dan desir ombak yang santun bergemuruh, ditimpali orkestrasi gitar yang cantik. Di satu bagian terdengar suara gitar menyerupai kolintang, alat musik tradisional Sulawesi Utara. Segala bunyi-bunyian ini seperti menguatkan judul lagu itu sendiri, yang diambil dari nama daerah tersebut.
Memang salah satu keunikan musik The Trees and The Wild adalah penggabungan sedikit elemen world music khususnya etnik Indonesia ke dalam musik mereka yang modern. Contoh paling signifikan adalah “Our Roots”, sebuah komposisi instrumental yang memadukan nuansa dream pop melalui alunan vokal wanita yang melayang dan berlapis-lapis, dengan irama pentatonik Jawa yang disempurnakan oleh permainan gitar elektrik yang menyadur irama ukulele sebagai salah satu pondasi lagu. Kekuatan lainnya terletak pada alunan suara vokalis Remedy Waloni yang begitu khas, meskipun tak bisa dipungkiri mengingatkan kita pada suara John Mayer. Hubungan kekerabatan suara ini memang laksana pisau bermata dua: musik The Trees and The Wild akan sangat mudah dikenali melalui suara Remedy, atau justru menjadikan sekawanan ini sebagai ‘band dengan vokalis bersuara John Mayer’.
Mereka juga bermain-main dengan kompleksitas struktur lagu, yang lazim diterapkan band-band post rock seperti Sigur Ros, yakni dinamika lagu yang rata-rata terdengar minimalis di bagian awal, lalu berangsur-angsur menanjak dan terus menanjak hingga terdengar ramai di penghujung lagu. Seperti pada “Derau dan Kesalahan”, dimana vokal latar wanita menjadi pengantar yang melenakan di awal lagu, lantas kita dikejutkan oleh riff gitar elektrik yang berubah menjadi agresif, menandakan perubahan dinamika lagu menuju komposisi epik nan megah. Sungguh petualangan musikal yang mengasyikkan. Begitu juga pada “Irish Girl”, yang dibuka oleh melodi gitar smooth jazz ala Fourplay, untuk kemudian ditutup oleh riuh rendahnya seksi gesek yang bersahut-sahutan dengan tabuhan perkusi dan ramainya vokal latar.
Penggabungan kesederhanaan folk yang kontemplatif, kerumitan post rock yang membius, dan sedikit elemen world music yang eksotis, membuat album Rasuk ini mampu menghanyutkan relung jiwa setiap pendengarnya. Jadi, sudah siapkah Anda kerasukan Rasuk?
ulasan ini ditulis untuk webzine rumah buku
Monday, June 15, 2009
Tuesday, May 26, 2009
Memperkenalkan Still Loving Youth
Perkenalkan, kami adalah s.c.a.n.d.a.l. Sebuah subdivisi di bawah UNKL347 yang juga merupakan sebuah studio kecil multi disiplin yang bermain di berbagai wilayah kreatif antara lain print matter, desain, video, fotografi, dan juga eksebisi.
Terbitan Still Loving Youth ini adalah salah satu proyek utama kami yang terbit setiap tiga bulan sekali. Kami menyebut terbitan ini sebagai medium multi format yang pada setiap edisinya akan menampilkan dimensi, bentuk serta kolaborator yang berbeda.
Dalam terbitan Still Loving Youth, kolaborasi adalah kata kuncinya. Pintu kemungkinan untuk bekerjasama dengan berbagai kolaborator terbuka selebar-lebarnya. Baik itu dengan musisi atau komunitasnya, brand company, institusi, organisasi masyarakat ataupun lainnya, bahkan berkolaborasi dengan sesama media cetak sekalipun.
Setelah beberapa kegiatan dari program Crunkl Ensemble yang sudah terlaksana dengan sukses, kini s.c.a.n.d.a.l bersama ketiga band melalui edisi perdana Still Loving Youth menghasilkan sebuah tema besar yaitu Past + Present + Future = You. Kata Past, Present, Future kami anggap bisa mewakili karakteristik dari ketiga band dan kata You mewakili siapapun pembaca Still Loving Youth.
Pada pengerjaan edisi ini, para personil ketiga band turut memberikan kontribusinya masing masing. Mereka turun tangan langsung dalam menulis, memotret ataupun mengerjakan berbagai tugas lainnya. Setiap personil bertutur mengenai diri mereka sendiri dalam banyak hal. Mulai dari pemikiran mereka, kisah perjalanan band, karakter fiksi favorit, mewawancarai tokoh panutan, hingga memberikan tips-tips kesehatan.
Selain itu, kerabat dekat tiga band juga turut menyumbangkan tulisan. Seperti sutradara video musik mereka ataupun seniman yang mengerjakan visual serta grafis album mereka. Tidak ketinggalan juga tulisan dari kawan yang juga menjadi ‘penggemar’ seperti model Izabel Jahja yang menyukai Rock N Roll Mafia, jurnalis Jason Tedjasukmana yang tertarik dengan Vincent Vega dan kritikus musik Denny Sakrie yang mencintai White Shoes & the Couples Company.
Kini terbitan perdana Still Loving Youth telah beredar dan siap untuk menyebarkan sekelumit warna, pemikiran dan cerita yang kami paparkan bersama ketiga band ini kepada Anda dengan penuh kerendahan hati. Terima kasih untuk meluangkan waktu bersama kami. Selamat membaca!
Sunday, April 26, 2009
Jika Orang Tua, Paman Bibi bahkan Kakek Nenekmu Ada Dalam Friend List Facebook
Mungkin salah satu problema terbesar dari generasi muda sekarang ini ketika mendapati orang tua mereka ikut bergabung dalam Facebook. Sudah banyak petisi online yang menyuarakan ketidaksetujuan atas bergabungnya orang tua di Facebook. Banyak protes dan caci maki bertebaran disitu.
Namun yang dilakukan website ini cukup berbeda dalam merayakan salah satu problema generasi muda saat ini. Alih-alih berisi komentar pedas dari para remaja yang terintimidasi oleh kehadiran orang tua mereka di Facebook, website ini menampilkan screen print halaman Facebook yang memperlihatkan kekonyolan dan kebodohan yang timbul dari kehadiran para orang tua di Facebook. Lengkap dengan komentar yang lucu dari pembuat site ini mengenai screen print tersebut.
Agar isinya semakin kaya, website ini juga menerima sumbangan dari para pembacanya.
Website ini cukup sukses membuat saya tertawa pagi ini, walau di sisi lain, membuat saya semakin khawatir kedua orang tua saya akhirnya muncul dalam friend request. Mengingat tante dan om saya sudah banyak yang bergabung dalam Facebook.
Tapi sepertinya, tinggal menghitung hari saja sampai kedua orang tua saya ada dalam friend list Facebook. Karena terakhir kali saya ke Jakarta sewaktu Paskah kemarin, saya menemukan sinyal-sinyal kuat dari kedua orang tua saya yang berkaitan dengan Facebook, antara lain:
1. Ibu saya mulai bertanya-tanya siapa saja adik-adiknya yang sudah bergabung di Facebook. Sepertinya ia tidak mau ketinggalan trend dari adik-adiknya.
2. Saya menemukan buku "Pengantar Facebook" di meja kerja ayah saya. Saya pikir ayah saya sudah bergabung. Ternyata setelah saya tanya, dia bilang belum bergabung. Ia mau mempelajari dulu dari buku keuntungan dan kerugian apa yang ia bisa dapatkan di Facebook.
Oh..crap. My parents (will) join facebook.