Wednesday, January 30, 2008

Fenomena Vampire Weekend

Sebuah ulasan menarik mengenai grup paling panas sekarang ini yang baru saja merilis debut albumnya pada tanggal 29 Januari kemarin. Fenomena Vampire Weekend ini mengingatkan saya akan fenomena The Strokes di awal 2000an serta fenomena Artic Monkey beberapa tahun lalu. Sekarang, tinggal kita tunggu saja sampai kapan Vampire Weekend ini akan bertahan di puncak. Apakah prediksi dalam artikel di bawah ini akan benar-benar terjadi?


What to Expect From the Upcoming Vampire Weekend Backlash

Vampire Weekend's just-released debut album is enjoyable enough. Actually, it's all we've been listening to since it leaked last week. Still, if ever there were a band guaranteed a backlash, it's these guys: They're white, bookish, Columbia-educated nerds pillaging African music (or at least Paul Simon's Graceland) for their hooks (which we freely admit are very catchy). Typically, when the songs are so good, we're able to overlook such transgressions — but their Night Out With in this week's "Sunday Styles" made even this geeky Vulture editor want to steal their lunch money and give them all swirlies. After the jump, we recap their story so far and anticipate what's to come.

The story so far…

In October of 2006, Vampire Weekend receives its very first mention on a music blog. Benn Loxo Taccu's Matt Yanchyshyn posts "Cape Cod Kwassa Kwassa," calling it "very catchy." He notes the African influence but can't quite put his finger on which Paul Simon album it reminds him of. (It's Graceland.)

The band becomes popular so quickly that not even Britain's NME magazine can schedule a cover shoot fast enough. As their number of MySpace friends surge past 10,000, Vampire Weekend are declared The Next Arctic Monkeys (Even Though They're Older, More Studious, And Not Technically From England). Fears of a backlash increase when, in a controversial piece in the Times Styles section, the band describes its own sound as "Upper West Side Soweto." An Idolator editor vows never to read another story about VW again, and one Vulture editor pledges to give up reading altogether.

With the release of their self-titled debut album, critics fall in line behind the blogs and Vampire Weekend is lavished with endless acclaim. Pitchfork gives it an 8.8, comparing the band to the Strokes, and, yes, Paul Simon. Only New York's Hugo Lindgren dissents; months ahead of the curve, he concedes their dancebility but notes that "[if] they’d shown up at CBGB circa 1978, these outrĂ© Ivy League preppies probably would’ve been beaten with bicycle chains." Nevertheless, on the day of the record's release, Paul Simon's e-mail in-box buckles under the strain of several million Google News Alerts.

What happens next?

On January 30, the band plays the second of two sold-out shows at New York's Bowery Ballroom. Plenty of buzzy young artists have brought legends like David Bowie and Lou Reed to the venue, but Vampire Weekend is the first to attract Paul Simon, Chevy Chase, and the twenty members of Ladysmith Black Mambazo, the African vocal group that sings on "Diamonds on the Soles of Her Shoes," all of whom respectfully refrain from harmonizing for the duration of the performance.

In late 2008, after Vampire Weekend has guested on Saturday Night Live, sold out the Theater at Madison Square Garden for nine consecutive nights, and licensed songs for commercials for every product in Apple's lineup, Zach Braff discovers a hip, new underground band called "Vampire Weekend." He adds them to the soundtrack for his new movie, a coming-of-age story about Zach Braff sleeping with whichever currently popular 22-year-old actress is the hottest. He explains in the CD's liner notes: "Their songs sound like Graceland by Paul Simon, another artist with which I am newly familiar."

Out of disgust, the band's original MySpace friends storm the actual Graceland in Memphis, Tennessee, torching Elvis's mansion to the ground. By now, many of them have moved on to new, edgier bands hailing from grittier New York colleges, like Barnard and NYU's Stern School of Business. Even so, Vampire Weekend presses on. They release their second album, this time inspired by 1973's less polished There Goes Rhymin' Simon, but to no avail. Pitchfork gives it a 1.3, comparing the band to the Strokes. It leaks on the Internet several weeks early, but after widespread blogger antipathy, it, somehow, leaks back off the Internet.

Vampire Weekend gives it another go, but during rehearsals for their third album, they realize much of their new material sounds like Songs From the Capeman. They announce a hiatus, and the band members enroll in law school, business school, or MFA programs, except for drummer Chris Tomson who enrolls in all three. Years later, influential music blogger Mark Willett from Music for Robots rediscovers an MP3 of "Oxford Comma" while cleaning out an old iPod. Shortly after, the band reunites and hipsters welcome them back with open arms.

*diambil dari New York Mag

Sunday, January 27, 2008

Heath Ledger dan obsesinya terhadap Nick Drake

Saya baru membaca sebuah berita di MTV News yang menyebutkan bahwa aktor Heath Ledger yang meninggal hari selasa kemarin, ternyata mengidolakan musisi Nick Drake.

Bahkan di tahun lalu, Heath Ledger sempat membuat videoklip dari lagu Nick Drake yang berjudul Black Eyed Dog dalam rangka reissues dari boxset Nick Drake yang berjudul Fruit Tree yang dirilis November tahun lalu.

Dalam video itu, Heath tidak hanya berperan sebagai sutradara serta editor saja, melainkan ia juga tampil di video tersebut. Pada adegan terakhir dalam video, terlihat Heath menenggelamkan dirinya pada sebuah bathtub.

Lagu Black Eyed Dog sendiri sering disebut-sebut oleh banyak kalangan sebagai lagu Nick Drake yang terakhir kali direkam sebelum kematiannya di umur 26 pada tahun 1974 yang disebabkan oleh overdose pil anti depresan.

Pada sebuah kesempatan, Heath Ledger pernah berkomentar mengenai tokoh idolanya ini. "I was obsessed with his story and his music and I pursued it for a while and still have hopes to kind of tell his story one day."

Tampaknya ia ingin sekali memerankan tokoh Nick Drake jika suatu saat nanti cerita mengenai Nick Drake akan dibuatkan filmnya. Sayang sekali ia harus meninggal muda dengan cara yang sama dengan tokoh yang diidolakannya.

Thursday, January 24, 2008

Amazing Race Asia : Season 2

Amazing Race Asia season 2 sekarang sudah sampai ke tahap 5 besar. Episode semalam menurut saya adalah salah satu episode terseru dari Amazing Race Asia season 2 ini.

Soalnya lima team yang tersisa saling berkejar-kejaran, berganti-ganti posisi dengan selisih waktu yang tidak terlalu jauh. Tidak seperti episode-episode sebelumnya yang cukup membosankan karena pasangan Marc dan Rovilson yang terus berada di posisi pertama.

Episode semalam, Adrian & Collin berada di posisi pertama. Dan pasangan favorit saya Paula & Natasha berada di posisi terakhir.

Untungnya semalam tahap non eliminasi.

Jadi saya masih bisa menikmati wajah cantik Paula minggu depan. Hehe

Minggu depan, saya berharap pasangan Ann & Diane dari Malaysia bisa tereleminasi.

Prediksi saya yang akan masuk tiga besar : Marc & Rovilson, Adrian & Collin dan Paula & Natasha

Wednesday, January 23, 2008

Surabaya, 18-20 Januari 2008

Berikut ini adalah cuplikan gambar dari kunjungan Ballads of the Cliche ke Surabaya weekend kemarin.

Untuk foto-foto yang lebih lengkap, bisa dilihat di

Terima kasih juga untuk kolega saya, Mr.Duto Hardono yang telah berbaik hati meminjamkan kameranya yang terkenal dengan fitur color pickernya yang ciamik itu.

Thursday, January 3, 2008

20 Album Favorit Sepanjang Tahun 2007

Tahun 2007 adalah tahun yang dipenuhi oleh banyak album-album yang mengagumkan. Sulit rasanya untuk menentukan mana yang terbaik. Tadinya saya mau menuliskan album-album favorit saya tahun ini seperti yang saya lakukan di tahun lalu

Tapi apa daya, saya dihadapkan oleh keterbatasan waktu. Akhirnya saya memutuskan untuk menyempitkan list menjadi 20 saja. Namun tetap saja, saya selalu tidak sempat untuk menuliskannya. Akhirnya baru di awal tahun ini, list album favorit saya tahun 2007 bisa saya selesaikan.

Kali ini saya juga memberi contoh sampel mp3 untuk setiap albumnya, mungkin bisa memberi sedikit gambaran tentang apa yang saya tulis.

Jadi inilah, 20 album favorit saya sepanjang tahun 2007. Ditulis berdasarkan urutan terbawah hingga teratas.

20. The Besnard Lakes - The Besnard Lakes Are The Dark Horse
Sebuah album yang heroik dan monumental. Disajikan dengan elemen psychedelic, falsetto ala Beach Boys serta kegaduhan gitar dari band-band shogaze era 90an. Satu lagi band asal
Kanada yang bersinar di tahun 2007.

Mp3 : The Besnard Lakes - Disaster

19. The National Lights – The Dead Will Walk, Dear
Sekilas lagu-lagu yang terdapat dalam album ini memang terdengar nyaman dan membuai, seperti sebuah cerminan kehidupan yang damai dan tentram. Namun ternyata lirik-lirik yang ditulis oleh lead-singer dan songwriter Jacob Berns menyentuh soal kematian, hantu, mati tenggelam dan hidup dengan rahasia yang gelap. Melalui inspirasi terbesarnya dari cerita-cerita Gothic Amerika, The National Lights mencoba membuat bingkai dari kegelapan yang juga bisa tampil dengan indah.

Mp3 : The National Lights - Mess Around

18. Amy Winehouse – Fade to Black
Lupakan sejenak semua tingkah laku, sensasi media serta tak lupa tato menyeramkan dari Amy Winehouse. Karena di luar semua itu, ia adalah salah satu penyanyi soul wanita terbaik sekarang ini. Album ini adalah buktinya. Penulisan ulang dari karya-karya Motown di abad kedua puluh satu, tidak pernah secermat ini.

Mp3 : Amy Winehouse - Love is a Losing Game

17. Justice - +
Gaspard Augé dan Xavier de Rosnay yang tergabung dalam Justice sukses dalam meramu suara gaduh dan pekak di telinga menjadi alunan lagu yang sanggup membuat setiap orang untuk menggerakkan badannya. Oh iya, dan tak lupa dengan lagu hits mereka yang berjudul D.A.N.C.E, dengan sukses Justice membayangi Rihanna dengan Umbrellanya untuk menjadi songs of the year.

Mp3 : Justice - New Jack

16. Dolorean – You Can’t Win
Saat album ini sedang dikerjakan, Al James, vokalis dan penulis lagu dari sebuah band folk asal Portland yang bernama Dolorean sedang berada di titik gelap dalam hidupnya. Ia letih akan dunia yang ditinggalinya. Ia letih akan perasaannya. Keletihan dari sebuah relung hati itulah yang dirangkai menjadi untaian lagu-lagu penuh kesedihan yang begitu nikmat untuk didengar.

Mp3 : Dolorean - Buffalo Gal

15.Okkervil River – The Stage Names
Album ini seperti sebuah panggung pertunjukkan dengan keseluruhan lagu yang ada saling berhubungan satu sama lain. Tentunya tetap dibungkus dengan ciri khas Okkervil River selama ini dengan berbagai layer string dan horn section yang kali ini diperkuat dengan unsur rock yang lebih kental serta emosi yang lebih kuat.

Mp3 : Okkervil River - Our Life is Not a Movie or Maybe

14. Phosphorescent - Pride
Matthew Houck kembali menyajikan karya yang hipnotik dan meditatif melalui album terbarunya ini. Pride adalah sebuah gemericik perasaan yang meluap yang pada akhirnya menciptakan suara yang agung. Lalu semua itu disempurnakan oleh alunan vokal Matthew yang menjadi perlambangan dari sebuah jiwa yang rapuh yang mau tidak mau membuat kita tergerak setiap kali mendengarkannya.

Mp3 : Phosphorescent - Torn Up Praise

13. Feist – The Reminder
Album ini secara keseluruhan telah berhasil dalam melanjutkan kesuksesan album Feist terdahulu tanpa harus mengulangi formula yang sama. Jika album Let It Die terdengar lebih halus dan terprogram, album The Reminder tampak lebih organik dan kasar. Feist is back with a reminder of what made her so special in the first place.

Mp3 : Feist - How My Heart Behaves

12. Beirut – The Flying Club Cup
Zach Condon kembali melanjutkan perjalanannya. Setelah berpetualang di kota-kota kecil di Eropa timur, kini ia berkunjung ke Perancis dan siap menyebarkan aroma magisnya. Dengan berbagai instrumen seperti brass, accordion serta ukulele, album ini menampilkan romantisme dari sebuah sudut di kota kecil di Perancis yang hangat.

Mp3 : Beirut - Sunday Smile

11. Andrew Bird - Armchair Apocrypha
Album ini adalah perwujudan dari kenyamanan seorang Andrew Bird yang telah menemukan rumahnya.
Setiap lagu ditata dengan apik menghasilkan koleksi musik pop cantik yang dihasilkan dari seorang penyiul yang jenius.

Mp3 : Andrew Bird - Scythian Empire

10. Yeasayer - All Hour Cymbals
Musik dari kuartet asal Brooklyn ini memang seaneh dan semisterius seperti foto dari cover albumnya. Menyimak lagu-lagu Yeasayer seperti membaca sebuah novel misteri dengan berbagai petunjuk yang tidak berhubungan yang pada akhirnya berakumulasi hingga datangnya kesadaran. Debut album ini menampilkan musik progresif yang diracik sedemikian rupa dengan berbagai elemen world music seperti pattern drum Afrika ataupun Peruvian pan pipes. Sangat mengasyikkan.

Mp3 : Yeasayer - 2080

9. Iron & Wine - The Shepherd’s Dog
Kali ini Sam Beam tidak lagi menjadi seorang pria yang membuat rekaman lo-fi di kamar tidurnya. Kini ia keluar dari kamarnya yang nyaman, membentuk sebuah grup band dan mencoba untuk bereksplorasi lebih jauh dengan musiknya. The Shepherd’s Dog adalah album paling berbeda serta paling progresif dari Iron and Wine. Ini merupakan pencapaian yang patut kita acungi jempol.

Mp3 : Iron and Wine - Boy with a Coin

8. Tenniscoats – Tan Tan Theraphy
Tenniscoats adalah sepasang suami istri asal Tokyo bernama Saya Ueno dan Takashi.Untuk album terbarunya, mereka berdua bekerjasama dengan musisi folktronica dari Swedia yang bernama Tape. Jalinan kerjasama ini terukir dengan manis di tengah harmonisasi vokal yang halus dari Saya Ueno yang berpadu dengan keanggunan sopran saxophone yang dimainkan Takashi serta dibumbuhi oleh aransemen electro-acoustic dari Tape.

Mp3 : Tenniscoats - Baibaba Bimba

7. Richard Swift - Dressed Up for the Letdown
Richard Swift membuat album yang seharusnya dibuat oleh Paul McCartney tahun ini. Dengan diam tapi pasti, Swift mencoba formula pop manis ala McCartney dengan aransemen ringan yang terdengar membahagiakan namun dengan tema-tema kesedihan yang terbungkus di dalamnya.

Mp3 : Richard Swift - The Song of National Freedom

6. The National – Boxer
Album terbaru dari The National ini penuh dengan atmosfir gelap nan elegan yang diwakili oleh suara bariton aristrokat milik vokalis Matt Berninger. Sebuah sajian kontemplatif yang terdengar mahal yang akan selalu menghangatkan malam-malam yang dingin.

Mp3 : The National - Gospel

5. Burial – Untrue
Untrue adalah album kedua dari grup dub step asal Inggris yang bernama Burial. Penuh dengan kemuraman ala film noir, yang dijejali oleh gambaran kompleks dari perasaan terisolasi, dingin dan sakit hati. Yang menjadikan rilisan ini lebih spesial karena Burial menyajikannya dengan unsur humanis yang kental, pekat dengan suara-suara organik serta unsur melankolis yang diam-diam mengusik.

Mp3 : Burial - Ghost Hardware

4. Radiohead – In Rainbow
Setelah The Bend, OK Computer, dan Kid A, Radiohead kembali memberi kita sebuah album klasik untuk masa depan dan kali ini mereka membuat jutaan penggemarnya bersatu padu di sebuah malam yang juga menjadi penanda akan berkembangnya sebuah era baru dari industri musik.

Mp3 : Radiohead - Nude

3. Jens Lekman – Night Falls on Kortedalla
Jens Lekman yang kini sedang banyak mendengarkan piringan hitam dari Burt Bacharach, Donna Summer dan juga kumpulan hits soul tahun 60an, memproduksi lagu-lagu pop klasik terbaik dengan penuh kesegaran yang membuat rilisan ketiganya ini sebagai karya yang paling solid selama karir bermusiknya.

Mp3 : Jens Lekman - A Postcard to Nina

2. Panda Bear – Person Pitch
Inilah jadinya jika Noah Lennox dari Animal Collective di bawah pengaruh LSD dan mengembara seorang diri di gurun pasir. Lalu di tengah perjalanan ia bertemu Brian Wilson dan akhirnya mereka bernyanyi bersama ditemani oleh kuda-kuda terbang di bawah naungan langit yang berwarna-warni. Mendengarkan album ini bagai sebuah mimpi yang ganjil namun juga menyenangkan. Sungguh suatu pengalaman transendental yang begitu liar.

Mp3 : Panda bear - Bros

1. Miracle Fortress – Five Roses
Seperti banyak band hebat yang muncul belakangan ini, Miracle Fortress juga berasal dari Montreal, Kanada. Seperti yang banyak terjadi juga, band ini lagi-lagi menganggap Brian Wilson dan Beach Boysnya sebagai salah satu nabi. Namun tidak seperti yang banyak terjadi, band ini tidak henti-hentinya menghantui saya semenjak pertama kali saya mendengarkan album ini hingga saat ini. Setiap lagu dalam debut album dari band yang merupakan alter-ego dari seorang multi instrumentalis bernama Graham Van Pelt, semakin bersinar setiap kali saya mendengarkannya. Setiap lagu dibangun dengan konstruksi yang presisi melalui berbagai layer keyboard yang berombak, sahutan suara gitar yang melambung tinggi serta digenapkan dengan vokal yang kaya akan harmonisasi yang megah. Jika didengarkan dengan seksama, ada sedikit rasa My Bloody Valentine di beberapa sisi yang dipadankan dengan aransemen kompleks ala Brian Eno dan yang pasti harmonisasi vokal yang mengacu pada buku panduan yang ditulis oleh Brian Wilson. Five Roses adalah album yang ambisius dari seorang pemuda yang melakukan navigasi dari sejarah musik pop secara cerdas.

Mp3 : Miracle Fortress - Have You Seen in Your Dreams