Wednesday, December 26, 2007

Balada Wakidjan

Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil bertepuk tangan, ia berteriak, “Not a play! Not a play!”

Nandine terperangah dengan perkataan Wakidjan tadi. “Not a play?”

“Yes. Not a play. Bukan main,” jawab Wakidjan dengan mantap.

Tukidjo yang saat itu berada di samping Wakidjan, ikut berbicara. “Bukan main itu bukan not a play, Djan.”

“Your granny! Humanly I have check my dictionary kok”(Mbahmu! Orang saya sudah periksa di kamus kok)

 
Lalu tak berapa lama, Wakidjan berpaling ke arah Nadine, sambil berkata, “Lady, let’s corner” (nona, mojok yuk)

“But don’t think that are nots. I just want a meal together” (Tapi jangan berpikir yang bukan-bukan, saya hanya ingin makan bersama), tukas Wakidjan serius.

“Ngaco kamu, Djan!” Tukidjo tambah gemas.

“Don’t ber surplus, Djo. Be wrong a little is Ok, toch?” (Jangan berlebihan, Djo. Salah sedikit nggak kenapa-kenapa, kan?)

 
Nadine hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Wakidjan tadi. “I would love to, but...”


“Sorry, if my friend make you not delicious.” (Maaf kalau teman saya bikin kamu jadi nggak enak), sambut Wakidjan dengan ramah.

“Different river, maybe. (Lain kali mungkin) I will not be various kok” (Saya nggak akan macam-macam kok)

 
Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan kesal. “Disturbing aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor?” (Menganggu aja sih, Djo..Emang itu bahasa punya moyang elo?)

Tukidjo sudah semakin kesal. Lalu ia mencari kalimat penutup yang tepat untuk Wakidjan. “Just itchy, Djan, because you speak English as delicious as your belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu ngomong Inggris seenak udelmu dewe)

 
Cerita ini saya dapat dari imel yang dikirimkan oleh bapak saya. Sepertinya dia mendapatkannya dari milis-milis. River thing, some of you had read this story (barang kali sebagian dari kamu telah membaca cerita ini)

Tuesday, December 25, 2007

Telefon Tel Aviv@Electro Synchronizer





Saat mengetahui Telefon Tel Aviv akan datang ke Indonesia, saya sangat antusias. Saya pernah (atau mungkin masih) menjadi penggemar mereka. Saya mendengarkan musik Telefon Tel Aviv dengan intens di awal tahun 2000an, melalui dua album mereka Fahrenheit Fair Enough dan Map of What is Effortless. Memang beberapa tahun belakangan ini, saya tidak lagi mendengarkan Telefon Tel Aviv, karena mereka juga tidak mengeluarkan material baru. Di tahun 2007 mereka hanya mengeluarkan sebuah album remix. Itupun bukan materi mereka, melainkan musik-musik dari berbagai musisi lain yang diremix oleh mereka.

Saya sempat membayangkan pertunjukan Telefon Tel Aviv di Indonesia nanti tidak akan dihadiri oleh orang banyak. Karena setahu saya musik mereka juga tidak naik-naik banget di sini. Jika berdasarkan jenis musik yang mereka mainkan - yang lebih banyak menghasilkan beat-beat down tempo - kondisi paling ideal untuk menonton dan menikmati musik mereka adalah di sebuah panggung kecil dengan penonton yang tidak begitu banyak hingga tercipta atmosfer yang lebih intim dan relaxing, yang sesuai dengan mood musik yang mereka mainkan.

Namun semua bayangan tadi sekejap berubah saat saya mengetahui Telefon Tel Aviv hanya satu dari sekian banyak musisi/dj yang tampil di acara ulang tahun OZ yang bertajuk Electro Synchronizer. Pertunjukkan kemarin lebih menyerupai sebuah festival musik, dengan dua panggung terpisah dan berbagai stand makanan dan minuman yang berada di sekelilingnya. Yang mengecewakan Telefon Tel Aviv disandingkan dengan DJ-DJ lokal yang notabene musiknya jauh berbeda dan yang pasti mempunyai penggemar yang berbeda pula. Yah saya tidak bisa menyalahkan pihak panitia untuk hal ini, kalau tujuan mereka memang untuk mendatangkan orang yang banyak. Toh ini acara ulang tahun, jadi memang sah-sah saja jika dirayakan dengan meriah.

Yang jelas, malam minggu kemarin di The Venue, Lembang, penuh dengan lautan manusia. Orang-orang dari luar Bandung, juga banyak sekali yang datang. Bahkan katanya ada yang datang langsung dari Singapura dan Malaysia. Di satu sisi, dengan begitu banyak orang yang datang kemarin, saya bisa bertemu banyak teman yang sudah lama saya tidak temui. Kurang lebih jadi ajang reuni kecil-kecilan.hehe..Namun di sisi lain, saya juga merasa tidak begitu nyaman karena begitu banyak orang yang datang dengan berbagai kepentingannya masing-masing. Tidak tahu juga, mungkin saya saja yang aneh karena suka pusing sendiri kalau terlalu banyak melihat orang di satu acara.

Menurut analisa saya, (maafkan jika analisanya sedikit sok tau..hehe..)orang-orang yang datang kemarin terbagi dalam dua kubu. Kubu pertama adalah orang-orang yang memang mendengarkan musik Telefon Tel Aviv yang berharap-harap cemas apakah lagu favorit mereka akan dimainkan atau tidak. Atau paling tidak, mereka pernah mendengar sedikit nama Telefon Tel Aviv tapi tidak begitu mendengarkan musiknya. Dan kubu kedua adalah orang-orang yang hanya ingin menikmati keriaan malam yang hanya ingin berdansa di bawah arahan para DJ. Dan kubu ini mungkin berpikir bahwa Telefon Tel Aviv juga bisa membuat mereka bergoyang.

Yang menjadi satu-satunya persamaan dari kedua kubu ini (menurut analisa saya yang lagi-lagi sok tahu), mungkin sebagian dari mereka juga ingin menikmati penampilan dari berbagai band lokal yang tampil sebelum Telefon Tel Aviv. Beberapa penampil sebelum Telefon Tel Aviv cukup mendapat sambutan meriah dari penonton. Di panggung outdoor yang saya sempat lihat penampilan Agrikultur dengan highlight disaat vokalisnya memanjat tiang panggung sambil bernyanyi dan juga Soul Delay yang musiknya sedikit banyak seperti Telefon Tel Aviv. Lalu di panggung indoor, saya sempat melihat Santamonica yang bermain bagus lengkap dengan visual-visualnya dan RNRM yang sempat mengkover sebuah lagu milik Telefon Tel Aviv.

Lalu sampailah kepada saat yang dinanti-nantikan. Charles Cooper dan Joshua Eustis telah siap di balik perangkatnya masing-masing. Lalu lagu demi lagu mengalun. Orang-orang dari kubu pertama mungkin bertanya-tanya, lagu-lagu ini dari album yang mana. Sedangkan orang-orang dari kubu kedua juga tak kalah herannya saat mendengar musik Telefon Tel Aviv yang ternyata tidak bisa membuat mereka bergoyang. Mungkin segelintir orang saja dari kubu kedua yang mau tidak mau memaksakan untuk menggoyangkan badan mereka mengikuti irama lagu. Salah satunya adalah model dan bintang film, Maria Agnes yang berdiri di depan saya. Dia tidak berhenti menggoyangkan badannya sembari memejamkan matanya seperti menikmati sekali musik dari Telefon Tel Aviv. Lalu di tengah pertunjukkan, ada seorang lelaki yang tiba-tiba naik ke atas pembatas panggung dan bergoyang sendirian. Mungkin dia ingin mengajak penonton lain untuk lebih ekspresif dalam menikmati musik Telefon Tel Aviv atau bisa jadi dia sedang ada masalah keluarga dan butuh pelarian.

Tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulut Joshua dan Charlie sepanjang pertunjukkan. Di pertengahan set, Joshua memberi tahu penonton bahwa mereka mengalami masalah dengan drum machine yang tiba-tiba tidak berfungsi dengan baik. Karena masalah ini juga mereka tidak bisa membawakan lagu-lagu dari kedua album terdahulu. Paling hanya satu atau dua lagu dari album terdahulu yang dimainkan. Sisanya mereka memainkan lagu-lagu baru yang akan dimuat dalam album mereka selanjutnya. Walau begitu, saya tetap salut dengan mereka. Dengan keterbatasan, mereka tetap menampilkan performa yang luar biasa dan yang terpenting mereka tetap mencoba untuk meneruskan pertunjukkan, dan tidak berhenti di tengah jalan.

Namun Joshua dan Charlie yang saya temui di belakang panggung sesudah pertunjukkan, tampak cukup kecewa terhadap pertunjukkan malam itu. Saat saya hampiri, mereka berdua masih berdiskusi mengenai masalah matinya drum machine di tengah pertunjukkan. Mereka mengaku benar-benar melakukan banyak improvisasi karena masalah teknis tersebut. Dan mereka sangat menyayangkan tidak bisa memainkan banyak lagu dari album terdahulu. Yah saya hanya bisa berkata kepada mereka, “Masih ada lain waktu kalian bisa tampil di Indonesia dan membalas pertunjukan tadi, saya tunggu kedatangan kalian lagi disini.”

Tuesday, December 18, 2007

Arrrgh!!


Hanya diberi waktu dua jam dari jam sepuluh tadi hingga jam dua belas nanti. Hanya untuk menulis satu halaman words. Tapi kok susah banget ya?


Waktu sekarang menunjukkan pukul 10.59
. Kurang lebih tinggal satu jam lagi, dan halaman words baru diisi seperempatnya. Gawat.

Wednesday, December 12, 2007

Yang Tersisa Dari Konser Reuni Led Zeppelin

Konser reuni Led Zeppelin tanggal 11 Desember 2007 kemarin, mungkin adalah salah satu konser terbesar dan yang paling ditunggu tahun ini. Dihadiri oleh kurang lebih 20.000 fans yang berkumpul bersama di dalam 02 arena di London. Diantara 20.000 orang tersebut juga banyak terdapat selebritis dunia dan juga para musisi, mulai dari Paul McCartney, Mick Jagger sampai Noel dan Liam Gallagher.

Tapi apakah kalian mengenali seorang musisi yang juga datang ke konser reuni Led Zeppelin yang ada di dalam foto di bawah ini? Dia ada di baris keempat paling kanan di sebelah Riley Keough, anak dari Lisa Marie Presley yang datang bersama ibunya Priscilla Presley.

Sudah bisa menebak? Cluenya adalah dia pernah berpacaran dengan Ashlee Simpson.

Ya, betul! Dia adalah Ryan Cabrera yang mengubah penampilannya secara drastis dengan meniru habis-habisan penampilan Johnny Deep. Coba lihat penampilannya yang dulu.

Sekarang coba lihat penampilan Johnny Deep dan bandingkan dengan penampilan Ryan Cabrera yang sekarang. Ada kemiripan?


Mungkin Ryan mau menyamai penampilan gothic keluarga Presley (seperti yang terlihat pada foto di atas) Dia sekarang berpacaran dengan Riley. Dan ia menyadari, bahwa ia tidak lagi berpacaran dengan bintang pop yang manis. Jadi ia harus mengubah penampilannya menjadi lebih garang. Tinggal kita tunggu saja nanti musiknya akan berubah seperti apa.

Oh iya, penampilan Priscilla Presley pada foto di atas juga sungguh menarik perhatian. Kecantikannya tidak hilang sampai sekarang. Sepertinya Priscilla menghabiskan banyak uang warisan Elvis untuk bisa berpenampilan secantik ini di umur 62 tahun. haha.

Behind the Scene at Jeune Magazine Cover Shoot





Untuk sesi foto kover kali ini, saya dan teman-teman di Jeune menggunakan areal dalam Rockmen untuk lokasi pemotretan. Tadinya pemotretan akan dilangsungkan di rumah seorang teman di daerah Cipaku. Namun beberapa hari sebelum pemotretan, si pemilik rumah harus ke luar kota selama seminggu. Sementara deadline terus mengejar, jadi rencana tersebut akhirnya batal. Sempat kebingungan juga saat mencari lokasi pemotretan yang sesuai dengan konsep yang diinginkan Andra, desainer Jeune, yakni yang berlantai kayu dan mempunyai dinding putih bersih.

Di suatu kesempatan, Andra baru menyadari, ternyata pada salah satu ruangan di Rockmen – yang masih satu gedung dan bersebelahan dengan kantor Jeune – mempunyai interior yang memang sesuai dengan konsep foto yang diinginkannya. Faisal, pemilik Rockmen mengijinkan tokonya untuk dijadikan lokasi pemotretan, asalkan waktunya setelah toko tutup. Akhirnya pemotretan dilaksanakan selepas jam 8 malam, setelah jam operasional Rockmen berakhir. Setelah toko tutup, kami semua memindahkan display-display baju dan menyulap Rockmen menjadi sebuah studio dadakan. Yah beginilah nasib majalah yang tidak mempunyai studio sendiri. Hehe..

Edisi 22 yang sedang kami kerjakan ini, mengangkat issue Childhood. Jadi isinya akan menampilkan segala sesuatu yang berhubungan dengan masa kecil dan tentunya figur anak-anak. Untuk kover, tadinya juga ingin menampilkan figur anak kecil, namun pemred saya menolaknya. Sebagai gantinya, kami menggunakan model yang berusia dewasa namun memiliki wajah yang sedikit ’kiddo’. Aca, sang fashion stylish mengusulkan temannya yang bernama Kenny untuk menjadi model kover kali ini. Seperti kebiasaan kover Jeune terdahulu, kami selalu menampilkan figur orang yang tidak dikenal, biasanya malah bukan model profesional dan tidak pernah difoto sebelumnya. Kecuali edisi kemarin, kami sempat kecolongan dengan menampilkan Melanie Subono sebagai kovernya. Itu juga karena Melanienya sendiri yang meminta kepada pemred saya untuk menjadi kover Jeune. Dan pemred saya tidak enak hati untuk tidak mengabulkan permintaan Melanie tersebut.

Kenny, model kover kali ini juga bukan model profesional. Sebelumnya dia tidak pernah difoto untuk media apapun. Satu hal yang baru saya ketahui mengenai Kenny, bahwa ia merupakan vokalis terbaru dari band dance-rock Inspirational Joni. Ia adalah vokalis ketiga dalam band ini, setelah Sherra dan juga Nadia yang mengundurkan diri beberapa bulan yang lalu. Kenny baru beberapa kali tampil di panggung bersama Inspirational Joni. Saya juga belum sempat melihatnya. Penasaran juga mendengar suaranya. Sebelum pemotretan dimulai, berulangkali, saya dan Aca meminta Kenny untuk bernyanyi sedikit, namun dia masih malu-malu.

Berbicara mengenai malu, ada sedikit masalah juga sebelum sesi foto dimulai. Jadi kami telah menyiapkan sebuah kaos untuk wardrobenya. Kaos tersebut memang sengaja berukuran besar dan panjang. Konsep yang sebenarnya diinginkan, si model hanya memakai kaos saja, tanpa memakai bawahan apapun, hingga terlihat seperti anak kecil yang memakai baju orang dewasa. Saat saya pertama kali melihat Kenny memakai kaos tersebut, ia masih mengenakan celana jinsnya. Saya kira mungkin memang belum dilepas, karena sesi foto juga belum dimulai. Kenny juga belum dimake-up oleh Aca. Setelah selesai di make-up, saya lalu berbicara kepada Kenny.

”Ken, nanti jins elo dicopot ya. Jadi ntar cuma make kaos aja.”

“Lho, emang harus dicopot ya?”, tanya Kenny dengan wajah bingung.

”Emang Aca belum ngomong mengenai konsepnya?”, tanya saya.

“Udah sih, tapi nggak ngomong soal nyopot celana.”

“Emang elo nggak bawa hotpants atau celana pendek gitu? Lagian bajunya panjang kok, jadi elo kayak make daster aja.”

”Nggak bawa apa-apa lagi..aduh kalo harus nggak pake celana, kayaknya nggak deh..malu..”, ucapnya dengan mimik memelas.

Saya lalu memanggil Aca yang saat itu tengah keluar. Sialnya, Aca juga nggak membawa celana pendek atau celana apapun. Aca lalu mencari celana pendek pada display pakaian di Rockmen. Lalu Aca menemukan sepotong celana pendek untuk wanita, ia lalu memberikannya kepada Kenny. Namun Kenny tetap bersikeras untuk tidak menanggalkan celana jinsnya. Celana pendek yang dibawa Aca juga tidak ingin ia pakai. Aneh, pikir saya. Saya tidak tahu alasan sebenarnya mengapa ia sangat enggan untuk melepas celananya. Mungkin ia malu pada bentuk kakinya? Atau jangan-jangan kakinya penuh bulu?hehe..

Saya dan teman-teman lalu berusaha sekuat tenaga membujuk Kenny agar ia mau mencopot celana jinsnya. Usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Tiba-tiba Aca teringat, ia membawa celana legging di salah satu tasnya. Untungnya, Kenny mau mencoba celana legging tersebut. Akhirnya ia mau menanggalkan celana jinsnya dan menggantinya dengan legging. Kami semua lega, walaupun sebenarnya keluar dari konsep yang telah direncanakan.

Pemotretannya sendiri baru dimulai sekitar jam 9 malam sampai menjelang tengah malam. Ini adalah foto-foto yang saya ambil sebelum dan selama sesi foto berlangsung. Maaf jika ada banyak gambar yang kurang jelas, maklum saya hanya menggunakan kamera yang ada di ponsel saya.

Monday, December 10, 2007

Dijual! Anak anjing Golden Retriever




Anjing Goldren Retriever saya yang bernama Belle baru saja melahirkan empat ekor anak. Tiga berkelamin laki-laki, satu perempuan. Yang satu akan diambil oleh pemilik anjing jantan yang menjadi ayah dari keempat ekor anak anjing ini. Yang satu lagi -yang berkelamin perempuan- akan dipelihara oleh keluarga saya. Jadi tersisa dua ekor lagi, dua-duanya berkelamin jantan.

Karena takut kerepotan untuk mengurus banyak anjing, ibu saya memutuskan untuk menjualnya. Jika ada yang berminat, segera hubungi saya. Untuk masalah persuratan dan sertifikat telah diurus oleh ibu saya seminggu yang lalu. Nanti di awal bulan kedua, mereka akan diberi vaksin juga. Saat ini mereka baru berusia sebulan. Mungkin akan dilepas setelah menginjak bulan ketiga.

Ini foto-fotonya yang saya ambil hari minggu kemarin.

Tuesday, December 4, 2007

100 Movies, 100 Quotes, 100 Numbers




Video ini adalah sebuah karya brilian menurut saya. Konsepnya simpel yaitu hanya menghitung mundur dari angka 100 hingga 1 dengan menggunakan 100 dialog dari 100 film yang menyebutkan angka-angka tersebut.

Ini bukanlah video komersial. Hanya murni proyek iseng. Pembuatnya juga
bukan dari kalangan video maker yang profesional. Untuk video ini, ia mengaku pertama kali berurusan dengan video editing. Dan ini adalah kali pertama ia mengupload video di YouTube.

Saya tidak habis pikir, bagaimana ia melakukan ini semua. Kebayang betapa ribetnya riset yang ia lakukan. Yang pasti, si pembuatnya harus mengorbankan banyak waktunya untuk menonton berbagai macam film dalam rangka berburu dialog-dialog yang menyebutkan angka dari 100 sampai 1, hingga pada akhirnya menghasilkan sebuah kolase yang mengagumkan.

Jika Anda mempunyai waktu, tontonlah video ini. Mungkin inilah video terbaik yang pernah dihasilkan oleh YouTube?



Monday, December 3, 2007

Quickie Express

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Apa yang saya dapatkan ketika menonton film Quickie Express yang diproduksi
oleh Kalyana Shira, dengan produser Nia Dinata, cerita yang ditulis oleh Joko Anwar dan disutradarai oleh Dimas Djay?

1. Saya kembali disuguhkan oleh cerita yang memaparkan sebuah sisi menarik dari kehidupan kaum urban Jakarta seperti yang pernah tersaji dalam film-film Kalyana Shira lainnya, seperti Arisan, Janji Joni dan Berbagi Suami. Kali ini Kalyana menampilkan profesi gigolo dengan perusahaan induknya yang bernama Quickie Express, sebuah pelayanan male escort berkedok delivery pizza. Walaupun ide cerita seperti ini mirip sekali dengan film Loverboy yang diproduksi tahun 1989 dengan pemain utamanya yaitu si McDreamy dari Greys Anatomy, tapi setidaknya Quickie Express merupakan tontonan yang menyegarkan terutama di saat ini, saat bioskop Indonesia dipenuhi film-film horor kacangan.

2. Lagi-lagi saya disuguhkan adegan kejar-kejaran seperti yang biasa terjadi pada film-film yang ditulis Joko Anwar seperti Jakarta Undercover, Kala dan tentunya Janji Joni. Dalam Quickie Express, adegan kejar-kejaran kembali muncul dan pastinya adegan ini mengambil latar dalam gang-gang sempit, jalan kumuh serta deretan bangunan tua, seperti yang biasa ditampilkan dalam film-film yang ditulis oleh Joko Anwar lainnya.

3. Adegan kejar-kejaran ini lalu disempurnakan oleh Dimas Djay yang memang terkenal dengan visual-visualnya yang indah dan estetis. Dan seperti yang pernah dilakukan oleh Dimas Djay dalam film terdahulunya, Tusuk Jelangkung, kini ia lagi-lagi keasyikan mengurusi visual yang indah dan melupakan aspek penyutradaraan yang lainnya. Seperti masalah durasi. Durasi film ini menurut saya agak terlalu panjang, ada bagian-bagian yang membosankan di pertengahan film. Lalu kurang menyatunya chemistry dari trio Tora, Aming dan Lukman adalah salah satu pekerjaan Dimas yang tidak tereksekusi dengan baik.

4. Telinga saya kembali dimanjakan oleh alunan scoring yang apik garapan ’dream team’ kecintaaan Kalyana Shira, yang terdiri dari Aghi Narotama, Ramando Gascarro dan Bembi Gusti yang telah sukses di Berbagi Suami. Dalam Quickie Express -sesuai dengan mood dan tema ceritanya- mereka bertiga meramu musik-musik scoring yang terinspirasi dari film-film Blaxploitation tahun 70 yang groovy. Untuk soundtracknya sendiri, masih didominasi oleh sederetan band-band Aksara seperti The Adams, White Shoes, Sore ataupun Ape on The Roof. Diantara band-band tersebut, yang menarik perhatian saya adalah Sore dengan ”Ernestito” yang romantik dan sangat selaras dengan adegannya. Serta pemunculan band ’dadakan’ bernama The Squirts dengan lagunya yang berjudul ”Mesin Cinta.”

5. Jika Tora Sudiro dan Dominique berhasil diorbitkan melalui Arisan dan Berbagi Suami, sekarang tinggal menunggu waktu saja, apakah Sandra Dewi yang memerankan kekasih Tora dalam film ini yang tampak manis seperti donat J-Co akan menuai kesuksesan yang sama melalui Quickie Express? Yang pasti dengan paras cantik, gerak gerik yang lemah lembut, tutur katanya yang ’cewe banget’ dengan sedikit manja, telah sukses membuat banyak pria terpesona. Saat ia mengucapkan dialog, ”Yah... kita nggak jadi ketemuan ya... sedih deh...", sontak seluruh pria di bioskop tempat saya menonton langsung berteriak gemas.

6. Seperti film produksi Kalyana Shira lainnya, Quickie Express juga menampilkan para aktor ’tua’ yang berkualitas, walaupun pemainnya masih itu-itu saja. Ira Maya Sopha yang juga bermain cemerlang di Berbagi Suami, kini kembali bermain bagus menjadi seorang tante yang kesepian. Ada juga Tino Saroengallo yang pernah bermain menjadi pseudo-hippes di Realita Cinta dan Rock n Roll, kini berperan menjadi banci bernama Mudakir, pemburu serta pemilik dari Quickie Express. Lalu ada Rudi Wowor dengan porsinya yang tidak banyak namun cukup menarik perhatian. Namun penampilan yang paling menonjol dimiliki oleh Tio Pakusadewo. Setelah perannya menjadi orang Cina dalam berbagai Suami, kini ia berperan sebagai orang Ambon dengan penampilan yang mirip Samuel.L.Jackson di Pulp Fiction. Dia memang benar aktor sejati yang bisa memerankan berbagai tokoh dengan karakter yang berbeda-beda dalam setiap filmnya. Tampaknya untuk hal ini, Tora Sudiro harus belajar banyak dari Tio. Apalagi Aming, jika dia memang berencana akan terus menjadi aktor film. Penampilan Lukman Sardi yang biasanya memukau, kali ini tampak biasa saja. Mungkin karena porsinya yang sedikit. Atau dia terlalu konsentrasi untuk membalikkan huruf P dan F dalam setiap dialognya?

7. Salah satu ciri khas film Kalyana Shira adalah pemunculan cameo. Film ini juga dipenuhi oleh cameo-cameo yang berseliweran. Dan pada film ini, pemunculan Joko Anwar di pertengahan film cukup mengejutkan dan mengundang tawa. Namun yang cukup menyita perhatian pastilah si instruktur ’lekong’ di pusat pelatihan Quckie Express dengan kostum minim lengkap dengan raket nyamuknya, yang diperankan oleh Roy Tobing yang dulu terkenal dengan senam body language-nya.

8. Quickie Express adalah film comedy. Dan film ini menampilkan kelucuan-kelucuan dalam bentuknya yang paling konyol hingga yang cerdas. Ada beberapa adegan slapstick yang kesannya dipaksakan. Ok, untuk hal ini saya masih bisa kompromi kalau mengingat film ini adalah tribute dari Dimas Djay untuk Warkop DKI. Namun ada juga dialog-dialog cerdas yang memang menggelikan. Seperti disaat Mudakir menawarkan Tora pekerjaan lain (yang saat itu masih ragu-ragu untuk berprofesi sebagai gigolo) ”Emang kerjaan lainnya apaan?” tanya Tora. Lalu Mudakir menjawab, ”MLM.” ”Gila, mending gue jadi gigolo daripada kerja MLM!”, seru Tora dengan nada tinggi. Ada lagi kelucuan yang menarik perhatian saya, yakni komputer penganalisa profesi yang kemungkinan besar diinstal oleh Cinta Laura :p

9. Last but not least, walaupun film ini masih mempunyai banyak kelemahan antara lain, beberapa twist dari film ini mudah ditebak, akting Tora dan Aming yang masih menjadi dirinya sendiri, beberapa kelucuan yang terkesan dipaksakan, hingga kisah yang di luar akal sehat, Quickie Express tetap sukses sebagai film hiburan yang memang harus dinikmati apa adanya, tanpa harus banyak berpikir macam-macam, ataupun tanpa harus mengharapkan film comedy ini bisa sehebat dan secerdas film-film comedy garapan Judd Apatow ataupun Seth Cohen yang kini tengah berjaya. Paling tidak trio Nia Dinata, Joko Anwar dan Dimas Djay sudah mencoba memberikan alternatif tontonan yang menyegarkan untuk saat ini.

Saturday, December 1, 2007

Desember


Menanti...

Seperti pelangi setia menunggu hujan reda


                                                 Desember oleh Efek Rumah Kaca

Tuesday, November 27, 2007

Line-up terbaru dari Ballads of the Cliche

Gambar di bawah ini sukses membuat saya tertawa sendiri di depan komputer pagi ini.. Gambar ini dirangkai oleh Wanda - guitar technician Ballads of the Cliche - yang mencoba untuk mencari sosok publik figur yang mirip personil BOTC. Memang beberapa hari yang lalu, Wanda sempat memberitahu saya mengenai rencana 'proyek' dia kali ini. Saat itu dia juga mengeluh, mengenai kesulitannya saat mencari sosok publik figur yang mirip dengan saya dan juga Nina. Ternyata dia serius sekali yah mengerjakan 'proyek' ini. Niat. hhehe..

Setelah berpikir keras serta melakukan penelusuran foto yang melelahkan, ini adalah hasil yang Wanda buat...Coba tebak siapa yang paling mirip?haha..





Thursday, November 15, 2007

HARI INI 15 NOVEMBER...

06.30.CIUMBULEUIT.UNPAR.KAMPUS TIGA.JEMBATAN FISIP.BERBERES.MACET.PURNAWARMAN.MOBIL INDRO.CIKAPUNDUNG.LAMPU.MIE YAMIN.PALAGUNA.POLICELINE.IJIN DITOLAK.HUJAN.DERAS.BINGUNG.PUSING.DAGO ATAS.ATAS SEKALI.PEMANDANGAN INDAH.SEGAR.RERUNTUHAN.RUMAH.KOSONG.BERANTAKAN.FOTO.LAMPU.KABEL.MENDUNG.HUJAN LAGI.DERAS.BURU-BURU.PULANG.TURUN.DINGIN DI MOBIL.BAJU BASAH.MAKAN.BEBEKVANJAVA.SAMBAL PEDAS.BERGOSIP SOAL KANTOR.PERJALANAN BERLANJUT.347.BERBINCANG.SEDIKIT BERGOSIP.KEMBALI KE PURNAWARMAN.RAMAI.INTERNET MATI.MENYELESAIKAN TUGAS.SMS.BLUEBIRD.KOPO.MENUNGGU.22.42.MASIH MENUNGGU.MENGANTUK.LETIH.INGIN PULANG.RINDU KASUR.

Tuesday, November 6, 2007

Nestapa dalam hujan di bulan November

Yang selama ini saya takuti akhirnya terjadi. Setelah seminggu kemarin, saya sering kehujanan, akhirnya pagi tadi saya bangun dengan kondisi badan yang tidak segar, pilek, dan tenggorokan mulai sakit untuk menelan. Hujan yang turun setiap hari benar-benar menganggu aktifitas saya sebagai orang yang kemana-mana tidak membawa mobil pribadi. Saya biasa beraktifitas dengan jalan kaki atau naik angkot.

Sebenarnya saya bisa mencegah agar tidak terkena hujan dengan membawa payung. Namun rasanya malas untuk membawa payung kemana saja, lagipula saya orangnya pelupa, nanti takutnya payungnya ketinggalan dimana-mana. Maka dari itu beberapa hari yang lalu, saya membeli sebuah jacket berbahan parasut – yang paling tidak bisa meminimalisir jatuhnya air hujan di badan.

Saya sudah lama sekali tidak mempunyai jacket model parasut seperti ini. Terakhir kalau saya tidak salah, saya memilikinya di tahun 2001 yang kemudian jacket tersebut ketinggalan di rumah teman dan hilang begitu saja saat saya mencarinya kembali.

Beberapa hari belakangan, jacket parasut inilah yang menjadi pelindung saya dari hujan. Namun ternyata jacket ini tidak bisa membantu banyak jika hujan yang turun sangat deras. Pada akhirnya badan saya mulai tidak sanggup untuk menerima hawa dingin dan air hujan terus menerus, sehingga pagi ini saya bangun dengan keadaan badan yang tidak enak.

Keadaan seperti ini cukup mengkhawatirkan, mengingat masih banyak hal yang harus saya lakukan dalam beberapa hari kedepan. Tugas kantor masih menumpuk, dan juga kegiatan manggung band saya juga lumayan padat di weekend ini. Yah doakan saja, saya bisa melakukan segala hal tersebut dengan lancar dan tentunya tidak dengan badan yang berangsur-angsur ambruk.

Sunday, November 4, 2007

Blackout

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Britney Spears
A: Oh God..Britney ngeluarin album baru lagi? Gue kira dia akan berakhir menjadi bintang reality tv..
B: Dia memang sudah menjadi bintang reality tv. Gue sering banget liat Britney di E Channel. Kemana-mana dia selalu diikuti oleh para paparazi. Britney mau beli ice cream aja diikutin. Dia mau kemana aja, pasti paparazi tau. Kasian banget deh hidupnya sekarang.
A: Ditambah lagi dengan berbagai persoalan hidupnya yang semakin terpuruk. Setelah cerai dengan K-Fed, drug issues, kabur dari rehab, pesta tanpa juntrungan tiap malam, perang dengan mantan suami untuk hak perwalian anak, no wonder ia bisa mencukur habis rambutnya. Mungkin dia stres.
B: Atau mungkin dia sudah gila? Kehidupannya lebih gila dari Amy Winehouse sepertinya.
A : Namun dia cukup cerdas untuk ngeluarin albumnya saat ini, disaat berita tentangnya menghiasai berbagai media setiap hari.
B: Iyalah, semua kontroversinya adalah sebuah promosi yang jitu untuk albumnya ini. Promo untuk album ini sudah jalan 4 tahun belakangan, jauh sebelum album ini dirilis, di tahun-tahun tersuram dari Britney Spears. Makanya di hari pertama pas album ini dirilis, langsung laku 124 ribu kopi. Itu baru di Amerika. Btw elo udah denger singelnya Gimme More? Lagu yang cukup annoying jika didengarkan terus, tapi bisa jadi racun yang mematikan. Ini dengerin aja lagunya.
A: Oh ini bukannya lagu yang dibawakan oleh Britney di penampilan fenomenalnya di VMA 2007 kemarin?
B: Yup..Penampilan fenomenal Britney yang juga tercatat sebagai penampilan panggung terburuk dalam sejarah MTV Video Music Award. Sedikit berbau electroclash ya musiknya. Videonya udah liat?
A: Belum.
B : Yang Britney nari-nari striptis di tiang. Udah kayak Kate Moss di video klip White Stripes, namun yang ini versi murahannya.
A: Versi generiknya yah..hehehe...Eh mau denger lagu yang lain dong.
B: Yang ini judulnya Get Naked (I Got a Plan). Mungkin lagu ini bisa menjawab mengapa ia kemana-mana sering tidak memakai celana dalam.
A: Hahaha..itu pas dia pergi clubbing dengan Paris Hilton kan?
B: Nggak hanya saat itu doang. Gue waktu itu liat juga di E, dia ke supermarket, dan lagi-lagi para paparazi memergokinya, tidak memakai sehelai benang pun dibalik roknya. She did it again, man..
A: Lagu ini pasti produsernya Timbaland yah? Gak mau kalah dia dengan Justin.
B: Bukan, Britney mungkin tidak sanggup untuk membayar Timbaland yang tarifnya kian mahal. Ini yang memproduce Nate Hills, rekannya Timbaland. Yang pasti tarifnya di bawah Timbaland.
A: Eh, eh..elo dengerin deh, di lagu ini dia ngomong : “What I gotta do to get you to want my body?” Desperate banget kayaknya. Yang lebih menyedihkan lagi, yang ngomong gini adalah Britney Spears yang dulu terkenal sebagai the last virgin of pop princess.
B: Yah walapun sekarang badannya udah jadi badan ibu-ibu setelah melahirkan, tapi setidaknya her boobs look bigger now. Dan the best pastnya, they're real! Gak make silikon kayak Christina Aguilera.haha
A: Yeah, right..Dasar pervert!
B: Hehehe...Next track!
A: Wah intronya keren nih. Agak-agak new wave. Seperti balik ke jaman kejayaan Giorgio Moroder.
B: Tapi tetep dibumbuhi dengan desahan dan suara Britney yang berbisik seksi. Tapi lagu Heaven on Earth ini memang catchy sih.
A: Iya, setuju. Lagu lain dong.
B: Ini dari judulnya aja udah absurd. Hot as Ice. Anak umur 5 tahun juga tau bahwa es itu nggak panas.
A: Ini masih ada nafas-nafas new wavenya yah. Sepertinya lagu ini cocok untuk soundtrack bersenang-senang di sebuah club.
B: Lagu-lagu dalam album ini memang semuanya cocok untuk soundtrack kehidupan Britney sekarang ini, yang liar dan selalu berpesta tiap malam. Lagu yang ini juga. Katanya mau jadi singel kedua. Judulnya Piece of Me.
A: Wah ini liriknya nyindir paparazi banget. Dengerin deh. ''I'm Mrs. most likely to get on the TV for slippin' on the street when getting the groceries/Now, for real, are you kidding me?''
B: Iya, iya bener..bagus, bagus..Eh dengerin synthesizersnya juga deh. Keren.
A: Iya. Malah suara distorsion synthnya yang lebih menonjol daripada suara Britney. Suaranya biasa banget yah. Ini kayak dikasih pitch correction kalau di Pro Tools. Biasanya hasilnya jadi gini suaranya.
B: Dari awal pemunculannya, sosok Britney itu adalah contoh kemasan pop yang sangat menjual. Dan memang bukan suaranya yang dijual. Kalo mau denger suara bagus sih mending denger Aretha Franklin aja..haha
A: Eh tadi selain si Nate Hills, siapa lagi nama besar yang ngebantu Britney di album ini?
B: Ada Pharrell Williams sih. Sisanya nggak gitu beken.
A: Dalam 24 jam, waktu sadarnya mungkin hanya 5 jam. Mana sempat dia melobi musisi dan produser kenamaan lainnya untuk bantuin dia di album barunya ini.
B: Katanya Ne-Yo udah nyiptain lagu balada buat Britney. Eh tapi lagunya terakhir-terakhir malah dikasih ke Nicole Scherzinger untuk album solonya.
A: Mungkin Ne-Yo jadi mikir dua kali saat melihat penampilan Brit di VMA.
B: Bisa jadi.hihi...Tapi lagu Pharrell yang ini juga lumayan kok. Ini bisa dibilang lagu baladanya di album ini. Yah lumayanlah buat mengistirahatkan kuping setelah digempur berbagai bunyi synth dan raungan electro disco yang banyak menghiasi album ini. Dengerin deh.
A: Iya, lumayan ni. Pharrell banget ya..
B: Lagu ini ditaro sebagai track terakhir. Jadi cocok banget buat pengiring Brit yang telah lelah clubbing dan mabuk-mabukan sepanjang malam.
A: Iya, menjadi soundtrack Brit untuk segera blackout setelah pesta.hehe..
B: Nah, mungkin ini maksud dari judul album Britney. Dia memaksa semua orang yang mendengar lagu-lagunya untuk berpesta dan mengkonsumsi segala sesuatu yang bisa bikin kita mabuk atau get high dan pada akhirnya blackout.
A: Yah untungnya kita tidak segera blackout setelah mendengar album ini.
B: Untungnya Brit sudah cerai dengan K-Fed. Kalau masih jadi suaminya, pasti dia ikuan ngerap juga dan mengacaukan segalanya.
A: Nah kalo K-Fed ikutan ngerap, mungkin kita bisa blackout jika terus dipaksa mendengar album ini.haha..

Wednesday, October 31, 2007

Things Are Made to Last Forever

Weekend kemarin, kakak sepupu saya, mba Gia menikah. Ia menikah setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengan pacarnya yang bernama mas Koko. Yang lucu, mas Koko itu sebenarnya masih mempunyai hubungan saudara. Ia adalah adik paling kecil dari suami tante saya – yang juga merupakan tante dari mba Gia. Sebelumnya mba Gia hanya mengenal mas Koko hanya sepintas lalu saja, sebatas bertemu di acara-acara keluarga, namun tidak pernah mengobrol panjang lebar.

Sampai pada suatu kesempatan disaat mba Gia sedang sakit dan disaat hubungan mba Gia dengan pacar terdahulunya yang telah terjalin sekian tahun baru saja berakhir, ia bertemu lagi dengan mas Koko yang kebetulan menjenguknya. Saat itu terjadi pembicaraan yang cukup panjang antara mereka berdua. Hingga terjadilah pertemuan-pertemuan berikutnya yang semakin mengakrabkan mereka. Lalu mereka berpacaran dan beberapa bulan kemudian, mereka berdua memutuskan untuk menikah.

Dan karena hari pernikahannya di akhir bulan, dan saya juga belum gajian, jadi saya memutuskan untuk membuatkan mix cd saja untuk hadiah pernikahan mba Gia. Murah, meriah dan gampang membuatnya. Hehe..

Mix cd ini saya beri judul : Things Are Made to Last Forever. Dengan harapan mudah-mudahan pernikahan ini bisa langgeng terus sampai mba Gia dan mas Koko menjadi kakek nenek, dan sampai maut memisahkan mereka. hehe..klise banget yah..

Ini adalah tracklistnya. 

1. Air on the G string by Johan Sebastian Bach

2. We’ve Only Just Begun by The Carpenters

3. This Will Be Our Year by The Zombies

4. Make it With You by Bread

5. Here, There and Everywhere by The Beatles

6. Loving You is The Right Thing To Do by Carly Simon

7. Loving You by Minnie Riperton

8. Betcha by Golly Wow by The Stylistics

9. Let’s Stay Together by Al Green

10. Grow Old With Me by John Lennon

11. This Girl in Love With You by Petula Clark

12. I Believe by Stevie Wonder

13. Till There Was You by Rod Stewart

14. Annie Song by John Denver

15. I’ll Be Your Mirror by The Velvet Underground

16. When Love is Young by Free Design

17. The Face I Love by Astrud Gilberto

18. For All We Know by The Carpenters

19. Devoted to You by The Everly Brothers

20. Someone Like You by Van Morrison

21. La Vi en Rose by Louis Armstrong

22. Forever by The Beach Boys

Monday, October 22, 2007

In Rainbows

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Other
Artist:Radiohead
Tanggal 10 Oktober 2007 adalah hari yang bersejarah untuk industri musik, disaat Radiohead merilis album ketujuhnya yang bertajuk In Rainbows secara digital dan semua orang dibebaskan untuk membayar berapapun yang mereka mau – bahkan bisa dengan cuma-cuma - untuk mengunduh album ini. Merilis album secara digital memang bukan Radiohead yang pertama melakukannya. Namun yang membuat hari itu bersejarah adalah dimana banyak orang di dunia pada hari dan waktu yang sama mendengarkan secara serempak album ini, kemudian saat itu juga menuliskan pendapatnya masing-masing di berbagai blog dan webzine musik lalu menghasilkan sebuah diskusi komunal. Rasanya kita tidak lagi perlu membaca Pitchfork, All Music Guide dan berbagai publikasi elite lainnya yang terpercaya untuk menilai album ini bagus atau tidak.

Dan kini, setelah mendengarkan album ini berulang-ulang saya mulai merasa bersalah karena mendapatkannya dengan gratis. Album ini semakin menunjukkan kelas Radiohead sesungguhnya yang tidak akan bisa dicapai oleh berbagai band pengekornya. Dalam album ini mereka tidak membuat musik yang semakin rumit (atau dirumit-rumitkan seperti yang banyak dilakukan oleh band pengekornya), namun dengan komposisi yang paling sederhana pun, musik mereka sudah terdengar kompleks. Tentunya tanpa harus menjadi pretensius.

Setelah perjalanan panjang musikal mereka yang begitu berwarna dan penuh dengan gejolak, tampaknya saat ini adalah waktu tepat bagi mereka untuk beristirahat. Seperti seorang pengembara tua yang telah banyak makan asam garam yang pada akhirnya pulang ke rumahnya dengan damai. Ada kenyamanan dan rasa yang begitu relaks yang terpancar dari Thom Yorke dan kawan-kawan dalam album ini.

Seperti pada track “Nude” yang merupakan favorit saya pribadi. Sebuah track downtempo yang hommy dan begitu hangat, dengan balutan seksi gesek yang megah dan agung membawa kenyamanan tersendiri saat mendengarnya. Bagian paling mengagumkan di lagu ini, pada bagian outro disaat saya mengira lagu ini akan berakhir, tiba-tiba terjadi sebuah overtune yang singkat dengan pengawalan suara falsetto Thom Yorke yang kian meninggi yang kesemuanya seakan-akan membawa saya yang tadinya sedang terbang rendah di udara secara sekejap melesat jauh ke luar angkasa dan meninggalkan saya mengambang sendiri di kehampaan udara dengan gravitasi nol.

Kenyamanan yang disajikan oleh Radiohead tidak hanya di lagu-lagu bertempo pelan, bahkan untuk lagu “Bodysnatchers” yang merupakan track yang paling keras dan cepat dalam album ini, mereka tetap terdengar santai, tanpa harus meledak-ledak dan tidak membuat telinga pengang. Berbagai ramuan musik elektronika yang biasa mereka lakukan di album-album terakhir, kali ini disajikan dengan bumbu yang lebih sederhana namun tetap memikat dan legit untuk dikonsumsi semua orang tanpa harus mengernyitkan dahi masing-masing. Contohnya adalah track pembuka “15 Step”

Dalam album ini, saya juga mendapati Radiohead pada akhirnya tidak terdengar seutuhnya seperti Radiohead – seperti yang mereka biasa lakukan di album-album sebelumnya. Maksud saya disini, saat mendengar beberapa lagu dalam album ini, saya juga mendengar berbagai pengaruh dari musik dan artis lain di lagu-lagu tersebut. Seperti saat saya mendengar “Faust Arp”, saya merasakan nuansa kemuraman Nick Drake, terlebih saat mendengar alunan seksi gesek yang bergelayut murung di tengah petikan gitar akustik. Sedangkan di akhir lagu “Reckoner”, saya mendengar sedikit kemiripan dengan lagu “Sily Love Song” dari Paul McCartney era Wings. Dan di lagu “House of Cards” kurang lebih mirip dengan apa yang dilakukan oleh The Byrds di lagu “Going Back” Kemiripan-kemiripan ini menurut saya tidaklah buruk, malah hal ini membawa sebuah kesegaran bagi Radiohead yang selama ini seakan-akan terlalu sibuk berkutat dengan dirinya sendiri.

Seperti menemukan sebuah emas di ujung pelangi, album hebat ini diakhiri dengan sangat syahdu melalui “Videotape”, dengan alunan piano yang menjadi dasar dari berbagai rangkaian suara perkusi yang dinamis serta janggal, seraya Thom Yorke meninggalkan sebuah pesan perpisahan : “This is my way of saying goodbye / Because I can’t do it face to face.”

Sekarang saya jadi bertanya-tanya, apakah ini adalah benar-benar sebuah kalimat perpisahan dari Thom Yorke dan kawan-kawan? Setelah The Bend, OK Computer, dan Kid A, apa lagi yang kira-kira bisa diberikan Radiohead di album selanjutnya? Mungkin akan lebih bijak jika mereka membubarkan diri saja setelah album ini, agar nama mereka akan selalu dikenang dengan indah. Karena saya takut jika mereka terus memaksakan diri untuk selalu membuat album, mereka akan berakhir seperti kisah band-band veteran lainnya yang mencoba bertahan untuk terus eksis di industri musik sekarang ini dengan menjadi mayat hidup.

Tuesday, October 16, 2007

Lagu Moon River Terbaik

Mana di antara lagu-lagu Moon River berikut ini yang terbaik?

Moon River by Audrey Hepburn
 
 17

Moon River by Lisa Ono
 
 11

Moon River by Patty Griffin
 
 4

Moon River by Morrissey
 
 6

Moon River by The Innocence Mission
 
 3

Lagu Moon River diciptakan oleh Harry Mancini dan liriknya ditulis oleh Johnny Mercer untuk film Breakfast at Tiffany's, dan dinyanyikan pertama kalinya oleh Audrey Hepburn, bintang utama di film tersebut  Lagu ini meraih penghargaan Oscar pada tahun 1961, sebagai lagu original terbaik.

Pada awalnya, Harry Mancini menciptakan melodi lagu ini disesuaikan dengan range vokal yang terbatas dari Audrey Hepburn yang memang bukan penyanyi profesional. Namun pada akhirnya melodi lagu Moon River menjadi salah satu melodi terindah yang pernah diciptakan di dunia ini, menurut saya. Begitu juga lirik indahnya yang sangat menyentuh. Lagu ini adalah lagu favorit saya sepanjang masa.

Berikut ini adalah beberapa lagu Moon River yang dibawakan oleh berbagai penyanyi. Sulit rasanya menentukan mana yang terbaik. Maka dari itu saya ingin mengadakan polling kecil-kecilan, mana di antara lagu-lagu Moon River berikut ini yang terbaik. Jika ada yang belum mendengar beberapa lagunya, silahkan mengunduhnya disini.

1. Moon River by Audrey Hepburn
Disaat Audrey Hepburn menyanyikan Moon River dengan gitar akustik di pinggir jendela apartemennya, ia mungkin tidak akan pernah menyangka bahwa lagu ini akan menjadi salah satu lagu di dunia yang paling sering dibawakan ulang oleh berbagai penyanyi. Saat proses post-produksi film Breakfast at Tiffany's sedang berjalan, para petinggi studio tempat film ini diproduksi sempat berencana untuk menghapus adegan Audrey saat menyanyikan lagu Moon River dari film tersebut. Tapi Audrey menolak rencana itu dengan tegas. Versi Moon River dari Audrey Hepburn pada akhirnya dirilis tahun 1993, beberapa bulan setelah kematian Audrey Hepburn.

2. Moon River by Lisa Ono
Penyanyi bossa nova asal Jepang ini turut merekam lagu Moon River dalam album Lisa Ono Best 1997-2001. Lagu aslinya yang berdurasi hanya sekitar dua menit, dibawakan ulang oleh Lisa Ono sampai sekitar empat menit. Versi Lisa Ono mempunyai intro yang sangat membuai dengan perpaduan suara harmonica yang menyayat serta iringan akustik gitar yang lembut.

3. Moon River by Patty Griffin
Versi Patty Griffin ini sempat menghiasi film Elizabeth Town arahan sutradara Cameron Crowe yang terkenal dengan film-filmnya yang selalu dipenuhi dengan berbagai pilihan musik yang bagus. Musik dari versi ini terdengar sangat minimalis – hanya dengan iringan suara gitar elektrik, namun dengan kekuatan utama dari vokal yang lantang dan penuh penghayatan dari Patty Griffin.

4. Moon River by Morrissey
Lagu Moon River di tangan Morrissey berubah menjadi sebuah lagu yang suram, penuh dengan riak-riak kesedihan yang mendalam, kehampaan yang mengawang, dan sebuah tangisan yang perlahan namun pasti dibangun dengan cermat dan sempurna di sembilan menit yang sangat membius. Dalam versi ini Morrissey mengubah sedikit lirik asli Moon River, dan ia juga tidak menyertakan kalimat “My Huckleberry friend” yang sangat terkenal itu.

5. Moon River by The Innocence Mission
Mendengar Versi Moon River milik the Innocence Mission membawa imajinasi saya ke dalam suasana suatu sore yang nyaman, duduk bersantai di pinggir danau dengan pepohonan yang rindang di belakangnya. The Innocence Mission telah sukses menjadikan Moon River terdengar seperti sebuah kehangatan yang intim, yang dinyanyikan dengan tulus dan bersahaja.

Wednesday, October 3, 2007

IF YOUR LIFE WAS A MOVIE WHAT WOULD THE SOUNDTRACK BE

Lagi-lagi saya dapat dari postingan Eric

Ini adalah peraturan permainannya :

1. Open your library (iTunes, Winamp, Media Player, iPod, etc)
2. Put it on shuffle
3. Press play
4. For every question, type the song that's playing
5. When you go to a new question, press the next button
6. Don't lie and try to pretend you're cool...just type it in man!

Setelah memasukkan semua folder mp3 yang ada di komputer saya serta menekan tombol shuffle, ini adalah hasilnya :

1.Opening Credits: Jazz Music by De Phazz

2. Waking Up: Wave by Sebastiao Topajos

3. First Day At School: Murray by Pete Yorn

4. Falling In Love: Edie Is a Sweet Candy by 5,6,7,8s

5. "The Relationship": Dave’Sova by Matt Bianco

6. Fight Song: Untuk Bintang by Coklat

7. Breaking Up: Secret Admirer by Mocca

8. Prom: Wild Horses by The Sundays

9. Life: (I Wanna Take) Forever Tonight by Peter Cetera & Crystal

10. Mental Breakdown: (I Love You) For Sentimental Reason by Sam Cooke

11. Driving: Melt by Siouxsie and The Banshees

12. Flashback: Fareway Voice by Katie Melua

13. Getting Back Together: Dosa by Koil

14. Wedding: Leaving by The Rosaries

15. Birth of Child: Letter Never Sent by Trembling Blue Stars

16. Final Battle: Ballerina by Van Morrison

17. Death Scene: Foggy Nation by The Velvet Underground

18. Funeral Song: Maxwell's Silver Hammer by The Beatles

19. End credits: Meet The Barmy Army Uptown by Primal Scream

Ternyata setelah dilihat lagi hasilnya kacau balau. Banyak banget lagu yang nggak pas. Lucu sih kalau dipikir-pikir, seperti dalam situasi Birth of Child, lagunya malah Letter Never Sent, nggak nyambung banget. haha..

Jadi saya memutuskan untuk mengulang lagi, namun kali ini saya sendiri yang menentukan dan mencocokkan setiap lagu dengan suasana yang tertera. Sebenarnya ini melanggar peraturan, tapi ya sudahlah. Mungkin saya saja yang terlalu niat.hehe..

1.Opening Credits: A Sunny Spring Day by 3 Berry Ice Cream

2. Waking Up: Rise and Shine by The Cardigans

3. First Day At School: Be Gentle With Me by The Boys Least Likely Too

4. Falling In Love: Till There Was You by The Beatles

5. "The Relationship": Don’t Worry Baby by The Beach Boys

6. Fight Song: It This the Best it Gets by Budapest

7. Breaking Up: Sweet Song by Blur

8. Prom: The Waltz by Silje Nergaard

9. Life: Life is About Learning by Ballads of the Cliche (unreleased)

10. Mental Breakdown: Everything Means Nothing to Me by Elliot Smith

11. Driving: Summer Day by Phoenix

12. Flashback: North Marine Drive by Ben Watt

13. Getting Back Together: God Only Knows by The Langley School Musical Project

14. Wedding: We've Only Just Begun by The Carpenters

15. Birth of Child: Naked as We Came by Iron and Wine

16. Final Battle: Rabbit in Your Headlights by Uncle

17. Death Scene: Goodbye by Kevin Shields

18. Funeral Song: A Wing and a Prayer by Mike Stern

19. End credits: Northern Sky by Nick Drake & Also Ran by Blueboy

Sunday, September 30, 2007

8 random facts about me

Setelah membaca postingan Eric, dan terkena tag, saya akan mencoba menjawab tantangan tersebut. Inilah 8 random facts about me...

1. Musik
Saya mungkin adalah orang yang sangat terobsesi dengan musik. Saya bermain alat musik, saya menciptakan lagu, saya pendengar musik yang sangat liberal, saya selalu haus akan musik-musik baru, dan belakangan ini saya sedang belajar untuk menulis mengenai musik. 

2. Menulis
Menulis adalah kegiatan yang baru dua tahun belakangan sedang saya jalani. Semua berawal dari blog. Topik yang saya tulis biasanya tidak jauh dari musik, walau terkadang saya menulis mengenai kehidupan pribadi saya, tetapi itu tidak sering. Semakin lama, saya semakin menikmati menulis. Dan yang membahagiakan, saat ini pekerjaan saya juga berhubungan erat dengan menulis.

3. Internet
Tampaknya semakin lama, saya semakin kecanduan akan internet. Jika tidak ‘kena’ internet sehari saja, saya akan ‘sakau’. Haha…Tetapi saya rasa sih kecanduan internet merupakan hal yang wajar di jaman sekarang. Internet sudah merupakan kebutuhan wajib untuk orang-orang di kota besar. Paling tidak masih mending kecanduan internet daripada kecanduan game online.hehe..

4. Fotografi
Saya tidak pernah belajar secara formal tehnik-tehnik fotografi yang benar. Karena fotografi yang saya geluti juga tidak membutuhkan tehnik yang benar. Kamera Lomo yang saya gunakan memang jenis kamera amatir atau biasa juga disebut kamera mainan yang membebaskan setiap orang yang memakainya dari berbagai tehnik fotografi. Saya menggeluti Lomografi semenjak tahun 2004 hingga saat ini, dan semakin kesini saya menggunakan kamera Lomo, saya selalu dibuat kagum oleh hasil-hasilnya yang penuh dengan kejutan. Jadi saya tidak pernah bosan berlomo ria.

5. Popular Culture
Ketertarikan saya akan pop culture juga sangat besar. Sebisa mungkin, saya selalu mengikuti berbagai elemen pop culture mulai dari musik, film, fashion, lifestyle sampai infotainment dari dalam negeri dan mancanegara..hehe..Untuk memenuhi kebutuhan saya akan perkembangan pop culture, maka dari itu semenjak masih ABG hingga saat ini, saya lebih suka membaca majalah ataupun tabloid dibandingkan membaca buku.

6. Klasik
Walaupun saya selalu tertarik dengan perkembangan pop culture terkini, namun saya akan tetap menyukai segala hal yang berbau klasik. Sejauh ini saya rasa saya tidak pernah ikut-ikutan tren yang ada, mulai dari gaya berpakaian, gaya rambut sampai jenis musik yang saya dengarkan. Saya hanya menjadi pengamat namun tidak menjadi pelaku. Mau bagaimanapun tren yang berkembang, saya akan tetap cinta musik-musik tua, saya selalu suka gambar dari film yang dihasilkan oleh kamera 8mm ataupun 16mm, saya selalu tertarik dengan barang-barang kuno, dan gaya berpakaian saya cukup konvensional, karena saya tidak pernah merasa nyaman untuk berpakaian dengan gaya terkini.

7. Ceroboh
Menurut teman-teman yang dekat dengan saya, sifat ceroboh ini adalah sifat yang paling mudah dikenali dari diri saya. Mungkin kecerobohan saya tidak seakut Susan Mayer di Desperate Housewive, tetapi ‘penyakit’ ini cukup sering hinggap di dalam diri saya. Saya selalu berusaha untuk tidak ceroboh, namun entah mengapa kecerobohan ini selalu berulang. Biasanya sih teman-teman dekat saya khususnya anak-anak Ballads of the Cliché sudah sangat maklum dengan kecerobohan saya ini. Biasanya kalau saya baru saja melakukan kecerobohan, mereka hanya tertawa dan berkata, “Dimas banget nih!”

8. Sulit membagi konsentrasi
Saya tidak bisa melakukan dua atau lebih pekerjaan disaat yang bersamaan. Dari yang paling simpel, seperti mengetik sms di hp sambil mendengarkan orang yang berbicara kepada saya, pasti salah satunya akan terabaikan. Atau disaat saya sedang menulis dengan serius, saya biasanya tidak akan memasang musik, karena bisa jadi saya akan lebih mendengarkan musik daripada menulis. Dengan kata lain kemampuan multi-tasking saya sangat kurang. Oleh karena itu sampai saat ini saya tidak pernah atau bisa menjalin hubungan dengan dua orang wanita disaat yang bersamaan. Haha..

 
Siapapun yang telah membaca postingan ini, terkena tag.

Monday, September 24, 2007

RIP San Fadyl (seorang drummer asal Indonesia yang bermain di band Ladybug Transistor)

Kemaren sore saya sedang membaca review album terbaru dari band indiepop asal Brooklyn, New York, The Ladybug Transistor di sebuah majalah musik, lalu saya menemukan sebuah berita duka bahwa drummer band ini San Fadyl - yang berasal dari Indonesia -  telah meninggal dunia. Tidak berapa lama saya pun browsing untuk mencari berita selengkapnya. Ternyata San telah meninggal dunia bulan April yang lalu karena komplikasi penyakit asma yang telah lama dideritanya.

Saya memang bukan penggemar berat dari band ini, tapi saya selalu bangga bahwa di dalam band ini ada seorang Indonesia yang menjadi personilnya. Frontman Ladybug Transistor Gary Olson menyebut San Fadyl sebagai "one of the kindest, most generous, warmest people I have ever known"

Selamat Jalan San...

*Untuk melihat kesan-kesan salah seorang personil Ladybug Transistor mengenai San, bisa dilihat disini
*Untuk melihat foto-foto San saat sedang bersama Ladybug Transistor bisa dilihat disini
*Bagi yang belum pernah mendengarkan lagu-lagu Ladybug Transistor bisa mengunduhnya disini


Monday, September 3, 2007

Tebak-tebak nama band

Mungkin sudah ada yang pernah lihat gambar ini. Jika belum, coba cari minimal lima nama band di gambar ini. Setiap band diwakilkan oleh objek-objek yang tersebar di seluruh sudut gambar. Klik gambarnya untuk melihat lebih jelas. Selamat mencari.




Friday, August 31, 2007

Lagu-lagu minggu ini

Genre : Eclectic.

Styles : Dari balada soul paling menawan dari Donny Hathaway sampai one hit wonder dari Charlene.

Moods : Masih dalam suasana berkabung, sedikit tegang untuk tampil hari minggu besok, excited dalam mengerjakan pekerjaan baru, banyak berpikir tentang masa depan dalam menyambut umur yang akan menginjak seperempat abad minggu depan.

Themes : Teman dalam perjalanan, refleksi.

1. Air - Somewhere Between Waking and Sleeping
2. Bic Runga - Honest Goodbyes
3. Blueboy – Fondette
4. Bright Eyes - Make a Plan to Love Me
5. Caribou - She's the One
6. Carol King - It's Too Late
7. Charlene - I've Never Been to Me
8. Chaseiro - Seandainya Sederhana
9. Cherry Ghost - 4am
10. Christopher O'Riley - Rider on the Wheel
11. Donny Hathaway - A Song for You
12. Eddie Brickel - Song We Used to Sing
13. Gael Garcia Bernal and Co - If You Rescue Me
14. John Lennon – Love
15. Kla Project – Gerimis
16. Laurel music - Dreams and Lies
17. Martika - Love (Thy Will Be Done)
18. Mice Parade - Two, Three, Fall
19. Mukti Mukti - Ah, Terlalu Mendung
20. My Brightest Diamond – Disappear
21. Neil Young - Only Love Can Break Your Heart
22. Of Montreal - A Sentence of Sorts in Kongsvinge
23. Patty Griffin - Heavenly Day
24. Ray Lamontagne – Trouble
25. Razorlight – America
26. Sean Lennon – Spectacle
27. Stephen Duffy - The Deal
28. Sufjan Stevens - Opies Funeral Song
29. Susanna and The Magical Orchestra - It's a Long Way to the Top
30. The Clientele - (I Can't Seem to) Make You Mine
31. The Feeling - Fill My Little World
32. The Polyphonic Spree – Light and Day
33. Tiga Pagi - Happy Birthday
34. Travis - Sailing Away
35. Wendy & Bonnie - By the Sea

Thursday, August 30, 2007

Selamat jalan, Jumbo

Sampai sekarang rasanya masih seperti sebuah mimpi buruk. Teman satu kos saya telah berpulang pada hari sabtu kemarin, karena sakit. Namanya Andreas, tapi ia biasa dipanggil Jumbo. Badan dia memang tinggi besar, jadi tidak heran mengapa nama panggilan itu bisa lekat di dirinya.

Hari selasa malam, saya diberi tahu bahwa Jumbo koma. Ia tidak sadarkan diri dari sore di rumahnya di Jakarta. Setelah sebelumnya ia muntah-muntah karena tensi darahnya yang sangat tinggi yang mengakibatkan juga pembuluh darah di kepalanya pecah. Memang menurut suster di rumah sakit yang saya ajak bicara, kemungkinan Jumbo untuk selamat sangat kecil. Karena secara medis, otaknya sudah tidak berfungsi karena terjadi penyumbatan darah secara besar-besaran di seluruh bagian di kepalanya. Dokter juga tidak bisa melakukan operasi. Karena kondisi fisiknya terlalu lemah untuk bisa dioperasi.

Sampai pada sabtu dini hari kemarin, kabar duka itu akhirnya datang. Saat saya menerima kabar tersebut, saya baru saja pulang ceksound dari Ancol untuk acara Urban Fest. Saat itu sekitar pukul 3 pagi. Badan saya yang sudah lemas karena aktifitas yang begitu padat sedari pagi, menjadi semakin lemas. Ia meninggal di umur yang masih sangat muda, 22 tahun. Dan sampai pada kepergiannya, ia tidak sedetikpun terbangun dari komanya.

Sampai saat ini rasa kehilangan memang belum begitu saya rasakan, karena saya merasa Jumbo seperti masih liburan di Jakarta. Dan bukan pergi meninggalkan kita untuk selamanya. Memang dari awal Agustus, ia sudah balik ke Jakarta karena kampusnya sedang libur. Mungkin perasaan kehilangan akan lebih saya rasakan dalam beberapa bulan ke depan. Namun jika dipikir kembali, mungkin maksud kepergian Jumbo terlebih dahulu ke Jakarta dalam waktu yang lama, seperti menyiapkan kita semua agar tidak terlalu kaget dan merasakan kehilangan yang besar saat ia benar-benar pergi untuk selamanya.

Sebenarnya saya mengenal Jumbo baru sekitar tiga bulan. Namun pertemanan singkat ini terasa seakan-akan sudah bertahun-tahun. Dalam tiga bulan saya sudah sangat mengenal karakter Jumbo sesungguhnya. Mungkin ini dikarenakan karena kita satu kos, dan hampir bertemu setiap hari.

Jujur saja, saat pertama kali bertemu dengannya, kesan pertama yang saya dapat adalah ia seorang yang angkuh dan tidak ramah. Mungkin ini disebabkan karena gaya bicaranya yang singkat, padat namun suka ‘nyelekit’ atau mungkin disebabkan oleh wajahnya yang mahal senyum. Namun semua anggapan tersebut berangsur-angsur berubah seiring saya semakin dekat dengannya.

Ternyata di balik ‘kesangaran’ dirinya, ia adalah seorang pemurah hati, senang menolong, jujur, dan apa adanya. Ini bukanlah sikap-sikap standar yang biasa kita pelajari di pelajaran PMP waktu SD dulu. Sikap-sikap tersebut sungguh saya rasakan saat saya mengenal Jumbo. Ia memang orang baik. Dan seperti ungkapan lama, orang baik cepat dipanggil Tuhan.

Ia tidak pernah menolak jika diminta untuk mengantarkan teman-teman satu kosnya - terutama yang perempuan - kemana saja. Ciumbuleuit kalau malam sudah tidak ada angkot. Jadi untuk pergi makan ke tempat yang lebih jauh atau hanya sekedar mengambil uang di ATM memang harus menggunakan motor jika tidak ingin capek karena harus berjalan kaki. Dan Jumbo orang yang selalu siap untuk mengantar kemana saja dan pada jam berapa saja. Ia sebenarnya tidak mempunyai motor, namun entah mengapa anak-anak kos selalu meminta Jumbo untuk mengantar. Termasuk saya. Hehe..

Saya beberapa kali juga meminta bantuannya untuk mengantar. Pada satu waktu saya pernah hampir ditinggal oleh travel yang sudah saya pesan. Karena waktunya mepet, dan takut jalanan macet maka saya meminta bantuannya untuk mengantarkan saya dengan motor. Sebenernya ia yang lebih dulu menawarkan bantuannya, sesaat setelah melihat saya tergopoh-gopoh berlari menuju keluar kosan. Tidak pikir panjang, saya lalu menyambut tawarannya tersebut.

Itu yang menjadi salah satu kelebihan Jumbo, ia tidak bisa melihat temannya sedang kesusahan. Kalau memang keadaannya memungkinkan untuk ia bantu, pasti bantuan tersebut akan datang dengan cepatnya.
                                                      
                                                                          ***
Terlalu banyak kenangan yang ada bersama Jumbo walaupun saya mengenalnya dalam waktu yang cukup singkat. Yang pasti saya masih ingat dengan jelas, pertemuan terakhir saya dengannya. Malam itu Ballads of the Cliche manggung di Blitz Megaplex, Bandung. Tak disangka-sangka ia datang menonton saya. Ini adalah kali pertama Jumbo menonton saya manggung. Dan ternyata itu juga yang terakhir.

Malam itu hari kerja, jadi tidak memungkinkan bagi Ballads of the Cliche tampil full team. Karena personil lainnya bekerja di Jakarta. Jadi yang bermain malam itu hanya saya, Bobby dan Nina. Dan kami bermain akustik. Setelah manggung, ia memuji saya, dan berkata “Suara elo bagus juga, Dim. Kenapa gak pernah nyanyi di kosan?” “Malu, ah.” Jawab saya sambil tersenyum. Setelah itu, saya, Jumbo, pacar saya dan dua teman kos saya yang lainnya makan malam bersama di Kentucky Fried Chicken.

Saat menuju ke KFC, Jumbo menawarkan bantuannya untuk membawa hardcase gitar saya. Saya yang memang canggung dan malas untuk membawa hardcase gitar yang berukuran besar di dalam mal, menerima dengan penuh suka cita bantuan tersebut. Saat itu saya hanya bisa bertanya basa-basi “Yakin, Mbo mau bawa gitar gue? Repot lho hardcasenya besar..” Lalu Jumbo menjawab “Gak, pa-pa, Dim. Biar keliatan kayak Rockstar.” Lalu kami tertawa bersama.

Jarak antar Blitx Megaplex dan KFC cukup jauh, walaupun masih dalam satu mal. Maka jadilah saya berjalan dengan bebasnya. Dan Jumbo berada di samping saya sambil membawa hardcase gitar saya yang besar itu. Lalu teman saya Yunan tiba-tiba nyeletuk “Wah kalo gini pemandangannya, Jumbo bukan kayak Rockstar, tapi jadi kayak krunya Dimas. Apalagi kalo pake jacket elo ini, Mbo.” Memang malam itu, Jumbo memakai jacket kebesarannya. Jacket yang senantiasa mendampingi malam-malamnya yang dingin. Mungkin ia jarang mencuci jacket tersebut, hingga terlihat cukup lusuh.

Malam itu kami habiskan dengan ceria, dan penuh tawa. Siapa yang menyangka malam itu adalah malam terakhir saya bertemu dengannya. Besoknya ia balik ke Jakarta untuk liburan. Dan sewaktu ia meninggalkan kos untuk pergi ke Jakarta, saya tidak sempat bertemu lagi dengannya.

Saya akan rindu berbincang-bincang dengannya terutama jika berbincang mengenai musik. Jumbo mengidolakan Ahmad Dhani. Dan saya suka meledeknya dengan menghina Ahmad Dhani. Setelah membaca salah satu edisi Rolling Stone yang memuat wawancara dengan Ahmad Dhani, saya langsung berkata kepadanya dengan nada setengah bercanda dan setengah mengejek. “Tuh kan Ahmad Dhani itu emang plagiator. Dia aja ngakuin kalo kover Dewi-Dewi ngejiplak kover The Donnas” Dia lalu membalas perkataan saya “Itu dia yang gue suka dari Ahmad Dhani. Dia itu jujur, kalo emang jiplak yah ngaku. Dan omongannya selalu apa adanya, gak dibuat-buat”

Mungkin Jumbo tidak menyadari bahwa karakternya sedikit mirip dengan Ahmad Dhani. Walaupun untungnya Jumbo tidak pernah menyombongkan dirinya seperti yang biasa Ahmad Dhani lakukan. Yang membuat ia sama dengan Ahmad Dhani adalah Jumbo selalu berbicara dari apa yang dipikirkannya saat itu. Tidak ada filter yang menyaring, tidak ada basa-basi. Terkadang omongannya bisa membuat orang lain tersinggung, namun sesungguhnya ia tidak bermaksud menyinggung. Ia hanya berkata jujur.

                                                                                 ***
Saya teringat pada sebuah kejadian di Pangandaran, saat saya bersama teman-teman satu kos berlibur bersama pada awal bulan Juli kemarin. Saat itu malam terakhir sebelum kami semua balik ke Bandung. Salah seorang dari kami mengusulkan agar kami semua berkumpul bersama di pinggir pantai, membuat api unggun dan berbincang-bincang sambil menghabiskan beberapa botol bir. Jarak antara penginapan dan pantai memang cukup jauh. Dan harus menggunakan kendaraan.

Jumbo yang telah lelah malam itu, tidak ingin ikut. Ia ingin tidur saja di penginapan. Salah satu teman saya ada yang tidak bisa menerima keputusan Jumbo. Ia mempersoalkan mengapa Jumbo sepertinya tidak mempunyai rasa kebersamaan. Saat itu terjadi perdebatan yang cukup sengit antara Jumbo dan teman saya tersebut. Jumbo tetap pada pendiriannya, bahwa ia tidak mau ikut karena capek. Jumbo mempertanyakan, mengapa selalu saat melakukan segala sesuatu di liburan ini harus bersama-sama. Menurutnya kalau salah satu ada yang tidak mau ikut berkegiatan yah harusnya dibiarkan saja. Jangan sampai ikut berkegiatan karena merasa terpaksa.

Itulah Jumbo. Ia selalu kritis terhadap segala hal. Dan ia tidak takut untuk mengeluarkan pendapatnya, walaupun pendapatnya tersebut berbeda dari orang lain. Saya selalu menghormati pendapat Jumbo. Karena menurut saya pendapatnya selalu datang dari apa yang dirasakannya. Tanpa ada maksud untuk menyenangkan hati orang lain atau tanpa ada maksud agar pendapatnya diterima oleh orang lain.

Saya juga jadi ingat komentarnya, saat saya mendengarkan dua buah lagu Ballads of the Cliche yang terbaru kepadanya. Dua lagu tersebut adalah calon singel pertama dari album terbaru kami. Dan saya beserta teman-teman di Ballads memang masih bingung untuk menentukan lagu mana yang akan dijadikan singel pertama. Maka dari itu saya selalu meminta pendapat orang lain di luar Ballads sebagai second opinion yang bisa menjadi bahan pertimbangan juga. Salah satunya saya meminta pendapat Jumbo.

Ia tampak mendengarkan dengan seksama melalui earphone kedua lagu yang saya pasang di mp3 player. Setelah mendengarkan, ia lalu bertanya. “Lo ikut kompetisi yang LA Light Indiefest itu gak?” “Gak, emang kenapa?”, tanya saya kembali. “Kalo gue bilang lagu yang kedua ini cocok tuh untuk festival indie kayak gitu. Gak tau kenapa kesan yang gue dapet pas gue dengerin lagu ini, seperti lagu-lagu band indie kebanyakan aja. Gue sih gak dengerin banyak band-band indie, jadi gak tau pasti. Tapi lagu ini imagenya indie aja.”, katanya dengan ekspresi serius. Saya dalam hati bertanya-tanya apakah yang dimaksud dengan image indie itu sesuatu yang buruk atau tidak. Tidak berapa lama ia berkomentar lagi. “Kalo lagu yang pertama itu lumayan. Unik sih. Gue milih yang ini deh untuk singel pertama.”

Dan pada akhirnya pilihan Jumbo memang sejalan dengan pilihan saya dan teman-teman di Ballads of the Cliche. Ia juga membeli cd singelnya setelah dirilis, walaupun cd singel tersebut sepertinya tidak pernah ia dengarkan. Sebenarnya ia bukan pendengar musik-musik seperti yang Ballads of the Cliche mainkan. Ia lebih suka lagu Dewa (tentunya), atau juga ia sangat menyukai Keris Patih. Bahkan sebelum ia meninggal, ia sempat mengajak salah satu teman kos saya untuk pergi bersama menonton Keris Patih yang akan tampil di Ciwalk, Bandung pada awal September nanti.

Suatu malam, saya pernah bertanya kepadanya, mengapa ia bisa suka dengan Keris Patih. Karena menurut saya Keris Patih tidak ubahnya seperti band-band pop cengeng Indonesia lainnya. Ia lalu menjawab pertanyaan saya dengan diplomatis. “Keris Patih itu beda. Elo perhatiin deh kord-kordnya. Gak biasa. Saya lalu membalas jawabannya “ Kayaknya itu karena yang nulis lagunya kebanyakan Badai, si keyboardisnya kali ya? Biasa kalo keyboardis lebih mudah untuk menggapai kord-kord aneh.” Akhirnya malam itu, berawal dari pertanyaan saya mengenai Keris Patih maka terjadilah sebuah diskusi musik yang cukup mengasyikkan.

Tidak terasa, saya sudah menghabiskan lembar keempat untuk tulisan ini. Sebenarnya masih banyak yang bisa saya tulis mengenai dirinya. Tapi sekarang saya menjadi ragu, apakah saya sanggup atau tidak untuk terus bercerita mengenai dirinya. Saya sudah mulai merasa ada sesuatu yang menggenang di ujung mata saya. Yah lebih baik saya tuntaskan saja tulisan ini.

Selamat jalan teman. Semoga engkau berbahagia di atas sana. Sampaikan salamku untuk John Lennon, Nick Drake, Elliot Smith dan Jaco Pastorius jika kebetulan engkau bertemu dengan mereka. Kami semua di Bukit Sari tidak akan melupakanmu. Doa kami menyertaimu, Jumbo.

*Foto di atas adalah foto Jumbo dengan salah satu teman kos saya yang bernama Maya. Foto diambil sewaktu kami semua berlibur ke batu karas dan pengandaran awal bulan juli kemarin.

Saturday, August 25, 2007

Nanti malam bumi mempunyai dua bulan...Jangan lewatkan jam tayangnya!

Planet Mars sudah terlihat sangat terang di langit mulai awal Agustus. Dan puncaknya akan terlihat seperti bulan purnama pada tanggal 27 Agustus jam 00.30 malam atau senin pagi dini
hari, saat jarak Mars dengan Bumi kita hanya sekitar 34.65M miles.

Jangan lewatkan untuk menatap langit yang akan seperti memiliki 2 buah bulan, karena jarak terdekat seperti itu hanya akan terjadi lagi di tahun 2287 yang akan datang.

Tuesday, August 14, 2007

Lagu-lagu yang sedang saya dengarkan saat ini di mp3 player saya

Setelah melihat jurnal Felix beberapa hari yang lalu, saya juga ingin untuk ikutan menuliskan playlist saya di multiply. Ikutan pamer mungkin adalah kata yang lebih tepat..hehe...

Tetapi saya tidak membuat playlist harian seperti yang Felix lakukan. Karena biasanya playlist yang saya buat hanya untuk didengarkan di mp3 player, dan seringnya playlist ini bertahan sampai seminggu. Setelah bosan lalu saya membuat playlist lagi.

Playlist ini menjadi sangat membantu jika sewaktu-waktu saya malas mendengarkan album-album penuh dari berbagai artis. Membuat playlist di mp3 player lebih mudah jika dibandingkan membuat mix cd. Karena lagu-lagu yang ada di playlist hanyalah lagu-lagu yang benar-benar ingin saya dengarkan saat ini, tanpa ada penggolongan genre, tema atau pembedaan artis baru dan artis lama. Saya juga tidak perlu repot-repot untuk membuat tracklist, karena semua lagu yang ada di playlist otomatis terbaca sesuai abjad oleh mp3 player saya .

Berikut ini adalah lagu-lagu yang sedang saya dengarkan saat ini di mp3 player saya yang akan menemani kemanapun saya beraktivitas.

  1. Ani Difranco - 32 Flavors
  2. Bob Dylan - Not Dark Yet
  3. Brook Benton - A House is Not a Home
  4. Cat Power – Wonderwall
  5. Devendra Banhart - Be Kind
  6. Elliot Smith – Either Or
  7. Final Fantasy - This Lamb Sells Condos
  8. Gui Borrato – Beautiful Life
  9. Iron and Wine- Fever Dream
  10. Jack Jones - Wives and Lovers
  11. Jon Brion – Theme
  12. Lavender Diamond – Please
  13. Maggie Gyllenhaal - Just The Way You Are
  14. Maria Taylor - Irish Goodbye
  15. Midlake -  Head Home
  16. Mocca - Lucky Man
  17. Naif – Tersenyumlah
  18. Otis Redding – These Arms of Mine
  19. Perry Como - Magic Moments
  20. Phoenix - Long Distance Call (sebastian tellier mix)
  21. Regina Spektor - Ghost Of Corporate Future
  22. Sore - Mata Berdebu
  23. Sufjan Stevens - John Wayne Gacy, Jr
  24. The 5th Dimension - Living Together, Growing Together
  25. The Boys Least Likely Too - Rock Upon A Porch With You
  26. The Dears - There Goes My Outfit
  27. The National - Fake Empire
  28. The Pipettes - A Winters Sky
  29. The Searchers - This Empty Place
  30. The Heavy Blinkers – Try Telling That To My Baby
  31. The New Pornographers – My Right Versus Yours
  32. Wheat - Don't I Hold You

Wednesday, August 8, 2007

Gempa dan sakit gigi

Sekitar lima belas menit yang lalu, tepatnya pukul 00.09 malam tadi, saya sedang berada di depan komputer, saat tiba-tiba saya merasa kepala saya mulai sedikit bergoyang. Saya pikir ini efek sakit gigi yang seharian ini menyiksa saya. Sakitnya yang bukan main memang membuat kepala juga jadi pusing. Tetapi goyangan yang saya alami semakin kuat dan semua orang di kos saya pada bergegas untuk keluar rumah. Ternyata yang baru saya alami adalah gempa.

Akhirnya saya benar-benar merasakan apa yang namanya gempa. Dulu di Bandung juga pernah terkena gempa kecil, tapi waktu itu saya sedang tidur jadi tidak sadar. Gempa yang baru saja terjadi berlangsung sekitar satu menit lebih. Baru saja teman saya sms, memberi tahu bahwa di Jakarta juga terkena gempa, dan katanya gempa ini juga terasa sampai ke Jogja.

Sekarang gempa sudah berlalu tetapi kepala saya masih pusing karena efek sakit gigi yang menggila ini. Memang paling tidak enak kalau sakit gigi. Bawaannya bt terus dan jadi sensitif kayak anak emo. haha...Besok saya harus ke dokter gigi nih.huhu

Friday, July 27, 2007

Menjelang Dirilisnya Evergreen


Dalam hitungan hari debut album penuh Ballads of the Cliche akan segera dirilis. Mengerjakan album ini benar-benar menguras energi dan pikiran kami semua. Begitu banyak permasalahan yang harus kami hadapi. Mulai dari kendala ekonomi, jarak, kesibukan pribadi masing-masing personil, teknis rekaman, judul album sampai kover album. Namun pada akhirnya, semua permasalahan tersebut juga menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami semua. Lega rasanya, akhirnya album yang penuh perjuangan ini bisa dirilis ke publik dalam waktu dekat ini.

Proses penulisan materi album ini dilakukan semenjak tahun 2004 sampai 2007. Bahkan ada satu lagu yang saya tulis di tahun 2000, tiga tahun sebelum Ballads of the Cliche terbentuk. Setiap lagu yang ada di album ini dikerjakan dengan penuh ketulusan dan kejujuran. Tanpa ada tekanan untuk memenuhi kuota album, tanpa ada niatan untuk meniru siapapun, tanpa ada agenda untuk menyombongkan diri dan menunjukkan kehebatan musikalitas kami. Yang ada hanyalah kami menulis musik yang kami cintai, musik yang kami harapkan bisa menjadi teman yang setia di dalam kehidupan setiap orang yang mendengarkan album ini. Kami berharap album ini bisa menemani disaat-saat bahagia, sedih, sepi ataupun menemani anda di dalam kendaraan baik itu di tengah kemacetan kota besar atau juga di tengah perjalanan panjang ke luar kota.

Mudah-mudahan anda semua bisa menyukai lagu-lagu kami seperti juga kami mencintai setiap lagu yang ada dalam album ini.

Sunday, July 22, 2007

Apa Gunanya Harapan?

Ada satu waktu di kehidupan dimana saya merasa mampu untuk melakukan sesuatu tetapi kenyataannya berbicara lain. Di lain waktu saya mempunyai pengharapan yang besar terhadap sesuatu hal namun apa yang saya dapat selanjutnya tidak sesuai dengan pengharapan saya tersebut. Sedangkan disaat saya tidak berharap banyak, ataupun disaat hati kecil saya tidak menginginkan sesuatu itu terjadi, yang saya dapatkan malah sebaliknya. Dan hal seperti ini sering sekali terjadi.

Sekarang saya jadi berpikir. Apakah sebaiknya saya tidak pernah mempunyai harapan yang besar terhadap sesuatu? Soalnya harapan besar tersebut seringkali berujung kepada kekecewaan. Apakah saya harus bersikap nothing to lose terhadap semua sesuatu yang saya jalani? Lalu apa gunanya harapan?  

Thursday, July 19, 2007

Cross

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Dance & DJ
Artist:Justice
Noise adalah suara yang paling dihindari - baik itu di atas panggung maupun saat di dalam studio - oleh para musisi yang terbiasa memainkan instrumen musik elektrik. Terkadang kabel jack yang menghubungkan instrumen elektrik pada amplifier tidak begitu bagus kondisinya, sehingga sering menimbulkan noise yang sangat menganggu untuk didengar. Namun setelah saya mendengarkan “Waters of Nazareth” yang ada dalam debut album Justice ini, pandangan saya terhadap noise yang berisik dan kotor tersebut telah berubah. Kini noise bukan lagi musuh utama di dalam musik. Melainkan bisa menjadi elemen penting yang akan memperkaya musik itu sendiri.

Saya tidak habis berpikir bagaimana dua pemuda asal Perancis ini bisa meramu noise yang gaduh sedemikian rupa sehingga bisa membuat suatu orkestrasi suara yang indah dan adiktif untuk didengar. Begitu juga pada “New Jack”, dimana drum dan bas disusupi oleh pihak ketiga – dalam hal ini noise – yang bersahut-sahutan dengan robot-voiced synthesizers lalu menghasilkan sebuah dance music yang sangat subtil yang secara stimultan bisa membuat beberapa bagian tubuh manusia untuk bergerak dengan sendirinya.

Di luar itu semua, yang pasti album ini memberikan banyak jawaban mengapa Justice - sebagai sebuah grup baru - bisa dibicarakan banyak orang serta menarik perhatian yang begitu besar jauh sebelum album debut mereka dirilis baru-baru ini. Sebelumnya, saya mengetahui keberadaan grup Justice dari teman saya Adit Ngkud. Dia sering sekali membahas grup Justice di halaman Multiplynya. Saat itu saya belum pernah mendengar musiknya, namun saya juga belum tergerak untuk mengunduh musik mereka. Sampai suatu malam saat sedang menonton televisi, saya melihat video musik dari lagu “D.A.N.C.E.” Dan mulai detik itu rasa ketertarikan saya terhadap grup ini mulai tumbuh. Singel “D.A.N.C.E.” memang sangat ramah di telinga siapapun. Menyajikan refren yang sing along, atmosfir feel-good song yang menyenangkan, dan beat dansa yang bergairah.

Namun Justice tidak hanya bisa membuat gadis-gadis Hipster bergembira di lantai dansa, namun mereka juga mampu untuk membuat ilustrasi musik dari mimpi buruk setiap orang. “Stress” dibuka dengan patahan-patahan string section yang dramatis yang seakan-akan mengiringi kita pada near death experience di dalam mimpi yang buruk. Lagu ini juga membawa saya kembali ke memori masa kecil. Disaat saya ketakutan sewaktu menonton video klip “Thriller” dari Michael Jackson. Nuansa yang kurang lebih sama juga ada dalam track pembuka “Genesis” yang intro megahnya terdengar seperti musik penyambutan di sebuah kerajaan kegelapan.

Tetapi mau segelap apapun musik Justice, tema besar dari keseluruhan album ini tetaplah pada musik dansa. Musik yang bisa diputar di lantai dansa atau apapun yang berkaitan dengan pesta, bersenang-senang dan mabuk. Sementara “Dvno” adalah musik pengantar untuk pergi ke pesta, pada “Valentine” Justice memberikan musik yang tepat untuk mengembalikan kesadaran serta memulihkan kepala yang masih berputar-putar setelah meminum banyak alkohol di suatu pesta yang liar.

Album debut ini yang tidak diberi judul dan hanya menggunakan simbol salib (Cross), menawarkan sebuah petualangan musikal yang mengasyikkan. Menyajikan berbagai mood yang berbeda dengan produksi yang sangat baik yang dihasilkan dari bebunyian analog synthesizers, retro keyboards, fuzzy distortion, funky basslines dan drum machine yang dimainkan secara buas, rapat dan detil. Yang keseluruhannya bermain pada berbagai cakupan wilayah musik elektronika seperti breakbeat/electro/house/club/Miami bass/trance atau bahkan genre yang sedang hip sekarang ini yang dinamakan nu-rave. Sebenarnya saya tidak peduli dengan semua genre tersebut, karena mau apapun genrenya, album ini tetap akan membuat badan dan pikiran saya untuk bergerak.

Wednesday, July 18, 2007

Holgrafis




Saya mencoba bereksperimen dengan foto-foto Holga yang telah saya cetak. Eksperimen ini saya lakukan berdasarkan tips dari salah satu teman saya di Lomonesia. Hanya dengan cairan pemutih pakaian, beberapa batang lidi dan sebuah sikat gigi, foto-foto Holga tersebut sudah bisa mendapatkan sedikit sentuhan grafis. Lalu saya juga bereksperimen dengan menambahkan tulisan yang dihasilkan dari mesin tik. Ini hasil uji coba saya yang pertama. Masih ngasal dan gak kekonsep. Mungkin berikutnya akan lebih serius.hehe..