Friday, December 15, 2006

Shadows and Light (DVD)

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Jazz
Artist:Joni Mitchell
Dvd ini langsung menarik perhatian saya ketika pertama kali saya mendapatinya di sebuah gerai dvd di Bandung. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk segera membeli dvd ini walau uang di dompet juga semakin menipis karena baru saja memborong sejumlah film. Alasan pertama karena dvd ini menampilkan seorang Joni Mitchell, yang merupakan salah satu penyanyi solo wanita favorit saya sepanjang masa. Kedua karena dvd live ini menampilkan Jaco Pastorius, seorang bassist legendaris yang saya kagumi yang pemunculannya dalam bentuk rekaman visual juga jarang saya lihat. Cukup ada dua nama ini saja untuk menyakinkan saya bahwa dvd live ini layak untuk dikoleksi. Walaupun masih ada sederet musisi jazz kenamaan lain yang turut serta dalam dvd ini. Seperti Pet Metheny, Don Alias, Lyle Mays dan Michael Brecker.

Jika kita mengharapkan akan mendengar lagu-lagu hits Joni Mitchell seperti Help Me, River atau Big Yellow Taksi, bersiaplah untuk kecewa. Dvd ini tidak memuat karya pada era-era awal karirnya yang menjadikan Joni Mitchell sebagai salah satu penyanyi folk wanita terdepan di industri musik pada jamannya. Walaupun dvd ini tidak memuat sejumlah hits dari Joni Mitchell tidak berarti dvd live ini menjadi tidak menarik. Sebaliknya dvd ini menjadi saksi ketika proses kreatif Joni Mitchell sedang berada di puncaknya. Ketika ia meninggalkan akar folknya dan bermain-main pada ranah musik jazz. Proses bermainnya juga tidak sembarangan. Karena sederet musisi jazz papan atas turut serta membantunya. Termasuk the cult figure Jaco Pastorius yang tadi saya sebutkan.

Melihat Joni Mitchell bernyanyi dengan suaranya yang sangat khas, meliuk-liuk diantara ritem section yang begitu hidup yang dihasilkan oleh sederetan musisi jazz papan atas, sudah menjadi tontonan yang sangat mengasyikkan. Pada lagu “Goodbye Pork Pie Hat” yang merupakan sebuah cover version dari karya musisi jazz kegendaris Charles Mingus, Joni Mitchel tidak hanya menyanyikan bagian melodi utama dari lagu ini saja, tetapi ia juga menyanyikan melodi yang sebenarnya diciptakan Mingus untuk part solo saxophone dalam lagu tersebut. Karya Mingus lainnya yang juga dibawakan ulang oleh Joni Mitchell, “The Dry Cleaner From Des Moines" menyuguhkan 3 menit penutup yang menakjubkan disaat saxophone yang dimainkan Michael Brecker tidak lagi bisa dikendalikan, ditambah dengan hentakan grooves bas yang unik dari Jaco Pastorius.

Pada “Amelia”, Joni Mitchell bernyanyi dengan syahdunya hanya dengan iringan gitar yang dimainkannya sendiri. Pada akhir lagu, secara perlahan Joni meninggalkan panggung dengan suara gitarnya yang juga sayup-sayup menghilang untuk memberi kesempatan pada Pat Metheny untuk menyumbangkan solo gitarnya yang sangat indah, ditemani oleh Lyle Mays pada keyboard. Sebuah duet yang menjadi titik awal dari jalinan kerjasama diantara Metheny dan Myas di kemudian hari. Seperti yang bisa kita simak dalam album Pat Metheny Group : First Circle.

Di pertengahan dvd ini menampilkan juga part solo dari Jaco Pastorius. Di tangan Jaco, bass menjadi sebuah primadona, dan tidak lagi menjadi sebuah instrumen ritem yang seringkali diabaikan oleh orang banyak. Disini kita bisa melihat Jaco Pastorius yang begitu menyatu dan sangat bergairah pada instrumen yang dimainkannya. Pada akhir part solonya, Jaco menyelipkan sepotong karya dari Jimi Hendrix yang berjudul “Third Stone From The Sun”, lengkap dengan suara distorsi yang bergemuruh.

Sayang sekali dvd ini tidak memuat wawancara atau footage-footage kecil dari rangkaian tur Shadows and Light yang diselenggarakan sepanjang tahun 1979. Yang ada hanyalah tampilan foto-foto saja. Di beberapa kesempatan, saya juga sedikit terganggu oleh visual-visual yang sangat kitsch yang ditampilkan di antara rekaman live dalam dvd ini. Visual-visual ini lebih menyerupai video klip dengan sentuhan estetis yang mungkin dihasilkan seorang Joni Mitchell jika menghabiskan banyak waktunya bersama Yoko Ono on the dark side of the moon. Terlepas dari itu semua, dvd ini masih layak untuk dikoleksi terutama bagi penggemar Joni Mitchell dan juga bagi pecinta musik Jazz.

Saturday, December 2, 2006

15 Album Yang Sebaiknya Anda Dengarkan Saat Turun Hujan

Berikut ini adalah album-album yang sebaiknya didengarkan saat guntur mulai bergema, saat awan semakin menghitam, dan saat aroma tanah basah mulai tercium seperti hari-hari dalam seminggu ini yang kerap kali diwarnai oleh turunnya hujan.

      1. Pink Moon – Nick Drake


Tipe hujan    : Gerimis.

Latar tempat :  Perpustakaan kecil.

Kondisi         : Duduk menghadap jendela ke luar. Menghabiskan senja dengan membaca sebuah novel.

2. This Space Between Us – Craig Armstrong


Tipe hujan    : Mendung dengan kilat yang memenuhi langit, hujan baru mulai turun.

Latar tempat : Di puncak tertinggi pada sebuah mercusuar.

Kondisi         : Menatap kosong ke lautan luas. Sementara awan bergerak semakin cepat. Menutupi langit yang kian mendung.

3. Takk – Sigur Ros


Tipe hujan    : Angin kencang diiringi hujan yang semakin deras.

Latar tempat : Padang rumput yang luas, di antara hamparan bukit.

Kondisi         : Berlari kencang dalam slow motion.

      4. Brightblack Morning Light - Brightblack Morning Light


Tipe hujan     : Deras.

Latar tempat  : Kamar tidur yang berantakan.

Kondisi          : Mencoba untuk tidur setelah baru saja pulang dari suatu pesta dengan kondisi setengah sadar karena masih dipengaruhi alkohol atau zat-zat adiktif lainnya yang tadi dikonsumsi di pesta.

      5. Feel Good Lost – Broken Social Scene


Tipe Hujan       : Gerimis

Latar tempat     : Pesawat terbang

Kondisi             : Duduk di tepi jendela dan melamun. Melihat rangkaian awan diantara langit kelabu dan sinar matahari yang berbias kemerahan.

      6. Kid A – Radiohead


Tipe hujan      : Deras.

Latar tempat   : Di sebuah ruangan kantor dengan jendela besar di lantai 25.

Kondisi           : Jam di ruangan menunjukkan pukul 22.17. Masih berpacu dengan deadline pekerjaan yang harus diselesaikan.

7. Quiet is The New Loud - Kings of Convenience


Tipe hujan      : Tidak begitu deras.

Latar tempat   : Di sebuah toko buku.

Kondisi           : Menunggu seseorang. Mengisi waktu dengan membaca beberapa buku.

8. Strange and Beautiful – Aqualung


Tipe hujan      : Deras.

Latar tempat   : Di dalam kamar.

Kondisi           : Mengumpulkan semua barang yang ada di dalam kamar yang akan mengingatkan pada kisah cinta yang baru berakhir. Mencoba membuang semua kenangan dan terus melanjutkan hidup.

      9. Premiers Symptomes – Air


Tipe hujan      : Gerimis

Latar tempat   : Di pusat kota.

Kondisi           : Berjalan sendiri di tengah arus pejalan kaki yang sangat padat.

10. Twinlights – Cocteau Twins


Tipe hujan       : Tidak begitu deras.

Latar tempat    : Di sebuah taman.

Kondisi            : Melihat sepasang suami istri berusia senja yang sedang tergopoh-gopoh menghindari hujan yang baru turun. Setelah mendapatkan tempat berteduh, sang suami memberikan sweaternya kepada sang istri yang tengah menggigil kedinginan. Lalu mereka bergandengan tangan, bersama menunggu hujan usai.

11. Walking Wounded – Everything But The Girl


Tipe hujan      : Hujan baru saja reda.

Latar tempat   : Di dalam kendaraan pribadi.

Kondisi           : Malam hari, jalanan kosong dan basah. Berkendaraan seorang diri tanpa tujuan. Hanya sekedar melepaskan segala kepenatan. Penunjuk kecepatan di dalam kendaraan menunjukkan angka 120 km/jam.

12. Fahrenheit Fair Enough – Telefon Tel Aviv


Tipe hujan        : Tidak begitu deras.

Latar tempat     : Di dalam kendaraan yang terbang melaju di jalan bebas hambatan di tahun 2045.

Kondisi             : Tiba di sebuah kota yang sangat asing, setelah melakukan perjalanan lintas waktu dari tahun 2006. Merasa bingung sekaligus takjub. Kendaraan melaju pelan, melintasi berbagai lampu gedung berwarna warni serta sorot lampu kendaraan lain yang melaju lebih cepat.

13. Seven Swans – Sufjan Steven


Tipe hujan       : Gerimis.

Latar tempat    : Di teras depan sebuah rumah di pinggiran kota kecil di Amerika.

Kondisi            : Membersihkan sepatu boots yang kotor setelah digunakan untuk berladang sembari menikmati semilir angin dan aroma tanah yang basah.

14. Boards of Canada - Music Has The Right to Children


Tipe Hujan      : Deras.

Latar Tempat   : Ruang tunggu di sebuah rumah sakit.

Kondisi           : Menunggu dengan cemas di depan ruang operasi.

15. Among My Swan - Mazzy Star


Tipe hujan       : Tidak begitu deras.

Latar tempat    : Di dalam kamar pribadi

Kondisi            : Bangun tidur di suatu pagi yang dingin. Jam di dalam kamar menunjukkan pukul 07.36. Rasanya ingin terus bermalas-malasan di tempat tidur sedangkan banyak kegiatan yang harus dilakukan sepanjang hari.

Monday, November 27, 2006

dari timur ke barat




perjalanan 3 kota dalam 1 hari. hari sabtu 25 november 2006. dari surabaya, jakarta sampai ke bandung. meskipun lelah belum tidur saya menikmati perjalanan ini walau sendirian seraya diiringi musik-musik favorit saya yang mengalun sepanjang perjalanan. saya juga kagum dengan bandara baru juanda yang jauh lebih bagus dibandingkan soekarno hatta. sayang sekali saya tidak bisa menghabiskan waktu lebih banyak di surabaya. mudah-mudahan masih ada lain waktu.

Tuesday, November 7, 2006

Duet Maut


Tadinya lagi menulis skripsi dengan
winamp yang menyala di komputer. Tidak disadari, lagu-lagu yang ada
di playlist beberapa diantaranya adalah lagu-lagu duet. Jadi terpikir
untuk menuliskan duet favorit saya. Akhirnya lagi-lagi skripsi
tertunda, dan inilah daftarnya.



  1. Aerosmith dan Run DMC – Walk
    This Way



Perpaduan paling
sempurna yang pernah dihasilkan oleh dua kubu aliran musik yang
saling bertolak belakang. Sebuah karya klasik yang mungkin
menginspirasi banyak band rock di akhir tahun 90an untuk menambahkan
seorang DJ serta MC dalam line up personil mereka.



  1. John Travolta dan Olivia Newton John -
    Summer Nights



Tembang cinta yang
masih menyenangkan untuk didengar sampai sekarang walaupun John
Travolta tidak lagi berjambul dan poster Olivia Newton John milik
ayah kita telah tersimpan rapi di gudang belakang rumah.



  1. Kylie Minogue dan Jason Donovan -
    Especially For You



      From Australia with love. Sebuah
guilty pleasure yang takkan terelakkan.



  1. Blur featuring The Simpson –
    Song to the bartman



Salah satu remix
yang cukup berhasil. Riff andalan lagu Song2 dengan Bart Simpson
menjadi MC, dibumbuhi oleh seruan “uhuuu” ciri khas Homer
Simpson, mungkin bisa menjadi pemicu bagi Damon Albarn untuk bermain
band di alam ilusi.



  1. Iggy Pop dan Francoise Hardy –
    I’ll Be Seeing You



Seorang rocker
gaek dan seorang biduan cantik membuat janji untuk keduanya bertemu
di sebuah cafe di tepi kota Paris. Lagu ini telah sukses menyingkap
sisi romantis dari Iggy Pop yang merasa lelah harus terus membuka
bajunya disaat dia bernyanyi.



  1. Marvin Gaye dan Diana Ross - Stop,
    Look, Listen (To Your Heart)



Bukti
perselingkuhan Marvin Gaye yang sejenak melupakan Tammi Terrell,
pasangan duet abadinya. Kali romantisme ditampilkan dalam bentuk
paling soulful.



  1. Nancy Sinatra dan Lee Hazlewood –
    Some Velvet Morning



Suara Nancy
Sinatra menjadi penyejuk yang tepat disaat suara Lee Hazlewood telah
menjadikan pagi hari menjadi semakin menyeramkan.



  1. Eric Clapton dan Baby Face -
    Change The World



Rekaman live lagu
ini menurut saya lebih dahsyat dibandingkan rekaman studionya. Lebih
berenergi dan sangat bernyawa. Babyface memberi sentuhan soul yang
kuat dengan diiringi oleh solo-solo gitar yang menggarang dari si
slow hand’ alias Eric Clapton.



  1. George Michael dan Elton John -
    Don't Let The Sun Go Down On Me



Dua orang penyuka
sesama jenis bernyanyi. Menghasilkan sebuah kemarahan yang tetap
terbalut dengan sensibilitas yang tinggi.



  1. The Smashing Pumpkins – Said
    Sadly



Saya selalu
menyukai karya James Iha baik itu dari proyek solonya maupun
lagu-lagu ciptaannya untuk Smashing Pumpkins. Seperti juga lagu
ciptaannya ini yang termuat dalam salah satu ep dari Smashing
Pumpkins. Duet yang sangat menyentuh dari James Iha dan Nina Gordon,
yang membuat saya berpikir bahwa memang ada cinta diantara mereka.



  1. Elvis versus Jxl - A Little Less
    Conversation



Elvis pun
menanggalkan jubahnya untuk pergi ke club dan bernyanyi di dj booth
junkie xl.



  1. The Velvet Underground dan Nico –
    I’m Sticking With You



Seperti melihat
Lou Reed dan Nico saling bercengkrama dengan mesranya di salah satu
sudut di dalam Factory milik Andy Warhol. Ditemani sebuah piano dan
asap mariyuana yang mengepul di ruangan.



  1. Rufus Wainwright dan Sean Lennon –
    This Boy



Memori Sean
seperti dibangkitkan kembali oleh Rufus. Bahwa ayahnya dengan Paul
McCartney pernah mempunyai persahabatan yang indah sebelum semua itu
dirusak oleh ibunya sendiri.



  1. Barbara Streisand dan Bryan Adams
    - I Finally Found Someone



Sebuah lagu cinta
yang tidak neko-neko dan apa adanya membuat lagu ini begitu
nyata dan terasa dekat. Mendengar Barbara Streisand dan Bryan Adams
bernyanyi di lagu ini seakan-akan membawa kita ke dalam sebuah
percakapan antara dua orang yang saling bersyukur karena akhirnya
mereka menemukan pasangan jiwanya. Lagu ini mengalir dengan santai,
dari pertemanan biasa serta hal-hal kecil yang kesemuanya itu menjadi
awal dari tumbuhnya sesuatu yang luar biasa di depannya.



  1. Serge Gainsbourg dan Jane Birkin -
    Je T'Aime, Moi Non Plus



Seorang aktris
muda dari Inggris yang jatuh ke dalam pelukan pria tersexy di dataran
Eropa pada jamannya, menghasilkan sebuah lagu paling sensual yang
pernah dihasilkan di abad kedua puluh.



  1. Bjork dan Thom Yorke – I’ve
    Seen It All



Inilah jadinya
jika kegetiran Thom Yorke dipadukan oleh kemisteriusan Bjork. Melalui
mendungnya langit Inggris serta dinginnya udara Islandia, mereka
bersama merajut kegelapan dengan keindahan.



  1. Isobel Campbell dan Mark Lenegan -
    (Do You Wanna) Come Walk With Me



Ketika beauty and
the beast bernyanyi bersama di suatu sore yang hangat.



  1. Charlotte Church dan Josh Groban –
    The Prayer



Walaupun lagu ini
telah berkumandang jutaan kali di setiap acara perkawinan, tidak
membuat bulu kuduk saya berhenti bergidik setiap mendengar lagu ini.
Bahkan disaat Delon dan Joy Tobing menyanyikannya di final Indonesian
Idol pertama.



  1. Lea Salonga dan Brad Kane – We
    Could Be In Love



Sebuah tembang
cinta yang manis yang selalu ada untuk menemani disaat rasa
itu baru tumbuh yang ironisnya dihasilkan oleh dua orang penyanyi
yang keberadaannya hampir tidak diketahui di saat ini.



  1. Jimsaku – Funky Punch



Seorang drummer
bernama Akira Jimbo dan seorang bassist bernama Tetsuo Sakurai.
Bertemu pertama kalinya di sebuah grup fusion bernama Casiopea.
Selanjutnya hubungan mereka seperti pasangan suami istri yang tidak
terpisahkan. Inilah buah perkawinan mereka yang paling sempurna,
setelah sepakat untuk bersama-sama meninggalkan Casiopea dan
membentuk duo bernama Jimsaku.







Wednesday, November 1, 2006

Runaway Train



Call you up in the middle of the night

Like a firefly without a light

You were there like a slow torch burning

I was a key that could use a little turning



So tired that I couldn't even sleep

So many secrets I couldn't keep

Promised myself I wouldn't weep

One more promise I couldn't keep



It seems no one can help me now

I'm in too deep

There's no way out

This time I have really led myself astray



Runaway train never going back

Wrong way on a one way track

Seems like I should be getting somewhere

Somehow I'm neither here no there



Can you help me remember how to smile

Make it somehow all seem worthwhile

How on earth did I get so jaded

Life's mystery seems so faded



I can go where no one else can go

I know what no one else knows

Here I am just drownin' in the rain

With a ticket for a runaway train



Everything is cut and dry

Day and night, earth and sky

Somehow I just don't believe it



Bought a ticket for a runaway train

Like a madman laughin' at the rain

Little out of touch, little insane

Just easier than dealing with the pain



Runaway train never comin' back

Runaway train tearin' up the track

Runaway train burnin' in my veins

Runaway but it always seems the same







Monday, October 16, 2006

Sam's Town

Rating:★★
Category:Music
Genre: Alternative Rock
Artist:The Killers
The Killers merasa telah lelah. Lelah karena dianggap sebagai band yang mati-matian berusaha menjadi band Inggris, atau lelah karena dianggap menjadi sebuah band copycat yang banyak mengambil sisa-sisa peninggalan dari kejayaan new wave di tahun 80an, atau juga lelah menjadi sebuah band yang memiliki vokalis dandy yang diisukan sebagai seorang homoseksual.

Karena itulah melalui album kedua mereka yang bertajuk Sam’s Town, The Killers berusaha semaksimal mungkin untuk merubah citra mereka di masa lalu. Album ini memuat 13 lagu yang lebih suram, lebih kotor dan tentunya lebih ‘Amerika’ dibandingkan lagu-lagu mereka dalam album debutnya yang memang terdengar seperti band dari dataran Eropa. Seiring dengan itu, vokalis Brandon Flowers juga menghapus eyeliner di sekitar matanya dan tidak lupa untuk menanggalkan segala atribut kedandyannya dan menggantinya dengan setelan rapi ala jaman wild west yang disempurnakan dengan bulu-bulu halus - lambang kejantanan pria - yang sengaja dibiarkan tumbuh di sekitar wajah manisnya.

Album ini memang menampilkan perubahan yang cukup signifikan bila dibandingkan album debut Hot Fuss. Tetapi perubahan tersebut terasa dipaksakan dan juga kurang matang. Banyak lagu dalam album ini terdengar seperti lagu-lagu yang dibuat dengan tujuan untuk memenuhi kuota album saja atau memang sengaja dibuat hanya untuk mengikuti perubahan citra visual dari para personil The Killers.

Singel pertama “When You Were Young” memang sangat tepat untuk menunjukkan bahwa The Killers telah meninggalkan segala kegemerlapannya untuk menuju ke sebuah pinggiran kota yang kumuh di dekat hamparan padang pasir yang kering dan panas. Namun lagu-lagu lainnya, seperti “Bling (confessions of a king)”, “This River is Wild” dan juga “Uncle Johnny” terdengar seperti perpanjangan saja dari singel “When You Were Young”. Mereka masih mengambil formula yang sama, tidak ada kejutan yang berarti dan membuat lagu-lagu tersebut menjadi membosankan untuk didengar. Untungnya masih ada lagu “Bones” yang cukup menyegarkan. Dengan tambahan brass section dan reffren yang cukup catchy membuat lagu ini seperti oase ditengah padang pasir yang kering.

Selain rasa bosan, saya juga merasa lelah saat mendengarkan album ini. Bisa jadi dikarenakan oleh usaha mereka untuk berubah yang terdengar ngoyo dan akibatnya baru sampai pada pertengahan album, mereka sudah terdengar ngos-ngosan. Atau mungkin saya lelah karena terus-terusan mendengar vibra Brandon Flowers yang semakin kesini semakin mirip dengan Meat Loaf. Vokalnya juga sering tidak selaras dengan musik. Jika Brandon Flowers tidak menciptakan lagu dan juga tidak mempunyai penampilan fisik yang menjual, mungkin dia sudah dipecat dari dahulu kala oleh teman-teman satu bandnya. Dalam album ini, nafsu The Killers untuk berubah memang sangat besar namun sayang tenaga mereka kurang.


Wednesday, October 11, 2006

Sebuah senja yang takkan terlupakan

Semarang, 16 Agustus 2006. Hari itu Ballads akan bermain di universitas katolik Sugiapranata. Semenjak tiba di Semarang, saya memang berencana untuk mengunjungi rumah eyang saya yang berada di kota Ungaran, sekitar 30 menit perjalanan dari kota Semarang. Saya juga sudah mengutarakan niat tersebut kepada Felix, manager saya. Tadinya saya ingin ke Ungaran di pagi hari, sebelum ceksound siang harinya. Tetapi ternyata sebelum ceksound, Ballads harus melakukan sesi wawancara di radio Prambors. Jadilah saya menunda niat saya tersebut. Ceksound baru selesai sore hari. Setelah ceksound kami semua balik ke hotel. Ballads sendiri dijadwalkan manggung pukul 9 malam.


Karena sore itu adalah satu-satunya kesempatan kami serombongan untuk jalan-jalan di Semarang, sebelum besok pagi berangkat ke Jogja, maka disusunlah rencana jalan-jalan itu. Di situ saya menjadi bimbang. Antara ingin jalan-jalan atau ke rumah eyang saya. Apalagi setelah mendapat cerita dari panitia bahwa pemandangan kota tua di Semarang sangatlah indah. Cocok untuk objek foto. Tetapi hati kecil saya tetap ingin berkunjung ke rumah eyang, walau hanya sebentar.


Maka berangkatlah saya ke Ungaran. Felix hanya berpesan agar saya tidak mepet balik ke hotel, agar sebelum panitia datang menjemput, saya masih bisa mandi dan beres-beres terlebih dahulu. Sebelum berangkat saya menelepon dulu kesana, memberitahu bahwa saya akan datang berkunjung. Waktu itu om saya yang mengangkat telepon. Dengan berbekal alamat dan nanya sana sini, sampailah saya ke rumah eyang.


Terakhir berkunjung ke Ungaran sekitar tahun 1998, saat eyang saya merayakan 50 tahun ulang tahun perkawinan. Karena itulah saya sedikit lupa lokasi persisnya. Saat tiba di pagar depan rumah, saya melihat eyang kakung saya sedang bersantai di teras depan. Di samping tempat duduknya ada sebuah alat bantu untuk berjalan. Sudah 5 tahun belakangan ini eyang kakung saya terkena pengapuran yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan dengan sempurna. Walau keadaan kakinya memprihatinkan, tubuhnya masih terlihat segar untuk orang berusia 82 tahun.


Wajahnya langsung tersenyum sumringah saat melihat saya datang. Saya langsung menyalami dan mencium pipinya. Tidak berapa lama, eyang putri saya datang bergabung. Disusul juga om saya, yang merupakan adik terkecil ayah saya yang memang tinggal di rumah itu. Jadilah saya di saat itu bersama kedua eyang dan juga om saya, menghabiskan senja bersama di teras depan. Sebuah senja yang tidak akan saya lupakan.


Eyang kakung saya masih mengingat dengan jelas kapan terakhir saya datang ke rumah itu. Saya sendiri sampai malu karena jarang sekali berkunjung kesana. Seperti biasa, saat saya bertemu dengan sanak saudara selalu ada pertanyaan mengenai kabar terakhir dari kegiatan akademis saya. Eyang kakung saya juga bertanya hal yang sama. Dia menanyakan kapan saya menyelesaikan kuliah. Seperti biasa juga, saya selalu menjawab dengan senyum dan berkata ”Sebentar lagi kok, doain aja.”


Eyang kakung saya sepertinya sangat senang akan kedatangan cucu pertamanya ini. Dia langsung menyuruh eyang putri saya untuk menyiapkan makan malam. Lalu juga menyuruh om saya menyiapkan makanan-makanan kecil beserta teh hangat untuk saya. Tadinya saya juga disuruh menginap disana. Lalu saya menjelaskan bahwa saya ada jadwal manggung juga esok harinya di Jogja. Jadi pagi-pagi sekali saya harus meninggalkan kota Semarang. Eyang saya bisa memaklumi keadaan tersebut, walau tampak sedikit kekecewaan di wajahnya.


Kami mengobrol banyak hal di senja itu. Sampai akhirnya matahari semakin beranjak turun. Akhirnya pertemuan singkat tersebut ditutup dengan makan malam bersama. Berulangkali eyang kakung menyuruh saya agar cepat bergegas balik ke hotel, karena takut gara-gara saya terlalu lama di sana akhirnya saya jadi telat datang ke tempat pertunjukkan. Akhirnya yang panik jadi eyang saya. Saya sendiri masih tenang-tenang saja. Karena anak-anak yang lain juga belum menghubungi saya agar cepat balik ke hotel. Memang eyang kakung saya itu gampang sekali panik.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Memang sudah waktunya saya balik ke hotel. Saya pamit ke eyang putri, om dan saudara-saudara saya yang tinggal di rumah itu. Begitu juga saya pamit pulang ke eyang kakung saya. Sambil menyalami dan mencium pipinya, saya meminta doanya agar saya cepat lulus dengan lancar. Seraya membalas ciuman saya dia berkata “Iya eyang selalu mendoakan mas Rio.” Mas Rio adalah panggilan saya di lingkungan keluarga.


Lalu sampailah saya di hari ini. Tidak pernah saya bayangkan bahwa senja itu adalah pertemuan terakhir saya dengan eyang kakung. Kemarin pagi dia meninggal dunia dengan damai. Kata ayah saya, eyang meninggal seperti orang tidur. Saya sangat terkejut saat mendapat kabarnya. Sebelumnya saya tidak mendengar kabar eyang kakung saya sakit keras. Sayang sekali saya baru mendapat kabar duka itu setelah siang hari. Saya tidak menyadari hp saya mati dari pagi karena low batt. Karena itu saya tidak sempat datang ke Ungaran untuk menghadiri pemakamannya sore kemarin.


Saat ini saya hanya bisa mendoakan saja dari jauh. Semoga eyang berbahagia di atas sana. Maafkan mas Rio karena eyang belum sempat melihat mas Rio lulus. Selamat jalan eyang...Tuhan memberkati.

Tuesday, October 3, 2006

Futuresex/Lovesounds

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Other
Artist:Justin Timberlake
Saat pertama kali mendengar singel terbaru dari Justin Timberlake, saya langsung berdecak kagum. Rasanya lagu ini tidak akan pernah mungkin dirilis oleh seorang pemuda yang enam tahun lalu - dengan rambut pirang nan kriwilnya - menyanyikan “Bye, Bye, Bye” dengan berlagak menjadi string puppet di videoklip yang membuat ia dan teman-teman satu grupnya terlihat semakin culun. Lagu “SexyBack” yang merupakan singel pertama dari album keduanya yang berjudul FutureSex/LoveSounds mampu membuat orang semakin melupakan ‘dosa masa lalunya’ saat masih bergabung dengan boyband bernama N’Sync. Justin Timberlake tahun 2006 adalah Justin yang semakin dewasa, dalam hal ini ia semakin serius dalam bermusik. Syukurlah dia tumbuh dewasa dengan orang-orang tepat disekelilingnya.

Jika pada album terdahulu ada seorang jenius bernama Pharrel Williams, kali ini ada produser bernama Timbaland yang juga sangat besar pengaruhnya dalam membentuk dunia baru dari Justin Timberlake disaat ini, dimana Kraftwerk menggantikan peran The Beatles dan Prince lebih dihormati dibandingkan Elvis Presley. Album ini dipenuhi oleh berbagai suara synth olahan Timbaland yang berpadu dengan groove drum yang ketat yang membalut setiap lagunya yang sarat akan nuansa RnB, Dance, Rock dan Funk. Suara Justin juga tidak luput dari permainan bunyi dari Timbaland. Seperti pada “SexyBack” yang menyuguhkan vokal Justin dengan sedikit distorsi.

Pada lagu “Sexy Ladies” kita dibawa akan kegemerlapan synth tahun 80an, lengkap dengan suara slap bass yang bermain dengan nafas funk. Dalam “My Love”, suara synth mengalun lambat dan bergerak fade in dan fade out mengiringi falsetto andalan Justin. Sedangkan dalam “What Goes Around” menampilkan intro berbau musik ala timur tengah yang pada kelanjutannya menyatu sempurna dengan beat drum khas musik RnB semi balada. Lagu ini sepertinya masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan lagu “Cry Me a River” yang dimuat dalam album debut Justin yang bertajuk Justified.

Yang menarik ada sebuah lagu balada yang mempunyai nuansa yang sangat berbeda dibandingkan lagu-lagu lain dalam album ini. Tidak ada lagi bebunyian synth dan ritme drum yang akrobatik. Lagu ini berjudul “(Another Song) All Over Again” yang merupakan satu-satunya produksi dari produser gaek Rick Rubin di album ini. Lagu ini juga merupakan sebuah penghormatan untuk mendiang Donny Hathaway, seorang penyanyi soul kulit hitam idola Justin. Tetapi lagu ini mungkin lebih tepat jika dinyanyikan oleh Alicia Keys yang memiliki suara soul yang lebih solid dibandingkan dengan Justin. Entah mengapa, menurut saya suara Justin tidak berhasil dalam meniupkan nafas Soul/RnB di lagu ini. Walau bagaimanapun, lagu ini tetap terdengar indah.

Setelah mendengarkan album ini, saya menjadi bertanya-tanya, apa lagi yang akan dihasilkan seorang Justin Timberlake di album selanjutnya. Mengingat album keduanya ini sama sekali tidak terdengar seperti sebuah album yang hanya ingin mengulang kesuksesan album pertama. Justin selalu membawa angin segar dalam setiap albumnya. Album ini juga memperlihatkan bahwa karirnya masih akan terus bersinar di masa depan, dan mungkin akan membuat julukannya sebagai the next king of pop kian mendekati kenyataan. Sebuah kenyataan yang akan membuat Britney Spears - yang kini kian gemuk dengan kondisi keuangan yang juga semakin menipis karena terus diporoti oleh pasangannya yang jobless - semakin menyesal telah melepaskan Justin.

Monday, October 2, 2006

Paris

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Pop
Artist:Paris Hilton
Kini lengkaplah sudah semua syarat yang menjadikan Paris Hilton sebagai seorang ikon penting dari budaya pop di abad 21 ini. Ia mempunyai acara televisi, menjadi seorang model, menulis buku, bintang iklan, bermain film baik itu “independen” ataupun produksi Hollywood dan kini menjadi seorang penyanyi yang baru saja merilis album debutnya. Seorang Paris Hilton mengeluarkan album rekaman? Pasti banyak orang akan menyangsikan kualitas albumnya tersebut. Mengingat masih berlimpahnya warisan dari kakek buyutnya Conrad Hilton, yang membuat Paris bisa melakukan dan memiliki segala hal di dunia ini, termasuk juga bisa membuat album rekaman dengan begitu mudahnya, terlebih disaat ribuan orang di dunia ini yang jauh lebih berbakat darinya bersusah payah untuk bisa menghasilkan sebuah album.

Tetapi sungguh tidak adil jika kita sudah lebih dulu mencap negatif album ini sebelum mendengarkannya. Menurut saya materi di album ini tidak sebegitu buruknya. Walaupun juga tidak bisa dibilang bagus. Mungkin akan lebih bijak jika menyebut album ini sebagai album yang lumayan. Yang pasti album ini adalah album yang memang sepatutnya dibuat oleh seorang gadis pirang yang populer, selalu terlihat dangkal, hanya suka berpesta dan sering terlibat affair dengan banyak pria. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang mengagumkan terjadi dalam album ini. Jika kita ingin mendengar album pop dengan kualitas vokal di atas rata-rata, saya meyarankan dengarlah album Christina Aguilera. Jika ingin mendengar album dengan lirik cerdas, lebih baik mendengar album Bob Dylan ataupun Morrisey.

Kita tidak bisa menyalahkan disaat Paris menyanyikan lirik “Everytime I turn around the boys fightin over me / Everytime I step out the house they want to fight over me / Maybe cuz im hot to death and im so so so sexy” pada lagu “Fighting Over Me” Kita juga bisa memaklumi disaat Paris berkata “Everybody's looking at me / But it's alright / I like attention / The clubs not hot until I walk through / They stop and stare and watch me move” di lagu “Turn You On” Toh yang bernyanyi dalam album ini adalah Paris Hilton, yang kehidupannya memang sarat akan muatan hedonisme yang tinggi.

Pemilihan singel pertama “Stars Are Blind” adalah pilihan yang tepat. Lagu ini terasa menyegarkan dengan melodinya yang ramah di telinga, walaupun nuansa lagu secara keseluruhan mengingatkan saya akan kejayaan UB40 di pertengahan tahun 90an. Lagu yang juga cukup ramah di telinga adalah “Heartbeat” yang kali ini mengingatkan saya pada sebuah lagu lawas milik Cyndi Lauper yang berjudul “Time After Time”

Lagu-lagu lainnya dalam album ini memang tipikal lagu-lagu Bubblegum Pop yang diusung oleh banyak penyanyi pop wanita dewasa ini, seperti Hillary Duff ataupun Lindsey Lohan. Tetapi yang menjadikan album ini menjadi lebih istimewa karena album ini adalah penggambaran yang jujur dan apa adanya dari kehidupan seorang pesohor kelas dunia bernama Paris Hilton. Dia tidak berusaha menjadi cerdas dan berharap mendapat review album dengan nilai diatas 7.0 di Pitchforkmedia. Citra Paris Hilton dalam album ini tetaplah sebagai Paris Hilton yang selama ini kita lihat di berbagai media lengkap dengan segala kisah kontroversialnya yang sering mengundang caci maki banyak orang. Mungkin Paris sendiri sudah cukup kebal terhadap pendapat miring mengenai dirinya. Begitu juga terhadap banyaknya review negatif mengenai debut albumnya ini. Lagipula seburuk apapun review mengenai albumnya, Paris masih akan selalu berkata “That’s Hottt”, dengan senyuman yang menggoda.







Tuesday, September 26, 2006

Lower City

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Drama
Dua lelaki yang bersahabat lalu datanglah seorang wanita diantara mereka. Lalu seiring waktu, keduanya jatuh cinta terhadap wanita tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya? Sudah bisa ditebak, persahabatan mereka pun menjadi goyah dikarenakan oleh kecemburuan dan persaingan yang timbul diantara mereka. Sebuah kisah klise yang sudah begitu banyak ditampilkan dalam film, baik itu buatan negeri sendiri, Hollywood, ataupun foreign language film, seperti pada film ini yang merupakan produksi Brasil yang juga menampilkan kisah klise yang tadi saya sebutkan diatas.

Pada awal film kita diperkenalkan oleh kedua sahabat yang bernama Deco dan Naldinho. Mereka berdua mempunyai pekerjaan sebagai pengantar barang melalui kapal boat yang dikemudikan oleh keduanya. Di suatu kesempatan, mereka bertemu dengan Karinna, seorang penari telanjang yang membutuhkan tumpangan. Mereka berdua mengijinkan Karinna menumpang di kapal mereka dengan imbalan seks. Lalu cerita bergulir. Adegan seks selalu menghantui setiap relung cerita pada film ini. Ada adegan Deco tertusuk pisau setelah perkelahian di suatu tempat perjudian. Naldinho pun sedih, Karinna lalu datang menghibur. Lalu mereka berdua bercinta di sebelah Deco yang sedang tidur setelah mendapat perawatan dari dokter. Di lain waktu, disaat api cemburu kian memanas, Karinna dengan santainya bercinta dengan Deco dihadapan Naldinho yang tengah geram.

Untungnya setiap adegan seks dalam film ini tidak ditampilkan secara terang-terangan selayaknya film-film porno xxx seperti yang ditampilkan oleh film 9 songs ataupun Baise Moi. Lower City dengan cermat membungkus setiap adegan seks menjadi sebuah erotisme yang dibalut dengan eksotisme kota yang berlokasi di Brasil. Brasil memang terkenal akan kota-kotanya yang eksotis. Mungkin inilah yang menjadi jualan utama di film ini. Sudut-sudut kota tepi pantai yang kumuh, gelap dan kotor menjadi patner in crime yang tepat dengan erotisme yang menyala sepanjang film.

Sayangnya film ini tidak dilengkapi oleh cerita yang kuat. Sayang sekali film ini tidak bisa menjadi seperti film City of God – yang sama-sama bersetting di Brasil dan unggul di semua aspek, baik itu cerita maupun sinematografi. Sebagai film yang baru saja mendapatkan Award of The Youth pada festival Cannes tahun 2006 kemarin, film ini mengecewakan. Tidak ada kejutan-kejutan ataupun cerita-cerita unik yang biasanya terdapat pada foreign language film kelas festival. Di film ini, yang ada hanyalah keringat, desahan dan birahi yang terus berkobar diantara keeksotisan kota.


Tuesday, September 19, 2006

Eksebisi Pertama Lomonesia di Bandung




Lomonesia mengadakan eksebisi pertamanya di Bandung. Walaupun persiapan serta jumlah panitianya terbatas, kami semua akhirnya bisa menyelesaikan lomowall yang paling besar yang pernah dibuat oleh lomonesia. Eksebisi ini sendiri berlangsung hingga akhir minggu ini di room no 1 di jalan citarum no 36. Berikut adalah beberapa gambar yang terekam dari acara pembukaan yang berlangsung hari minggu kemarin. Semua foto oleh saya, teguh dan oki.

Thursday, September 14, 2006

Terlalu pagi untuk menunggu

Karena saya menebeng ayah saya yang berangkat kerja pagi ini, akhirnya saya sampai di daerah tujuan terlalu pagi dan terpaksa harus menunggu untuk bisa menjalankan dua agenda saya di hari ini. Tadi saya berangkat dari rumah jam 6 pagi. Sampai di daerah tujuan jam 7 pagi. Kebetulan kedua agenda yang akan saya jalankan baru bisa dimulai selepas jam 9. Jadi saya harus menunggu kurang lebih 2 jam, sendirian, tidak bawa bacaan, dan tidak bawa pemutar musik. Seharusnya saya bisa menunggu di salah satu toko buku terkemuka di kawasan ini. Tapi apa daya, toko buku tersebut juga belum buka. Jadi kegiatan menunggu saya awali dengan sarapan di sebuah restoran fast food di daerah ini. Setelah sarapan selesai, saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Untungnya samar-samar saya melihat sebuah plang dengan akhiran Net dibelakangnya. Tanpa pikir panjang, saya bergegas menuju tempat yang mempunyai plang dengan akhiran Net tersebut. Dan sampailah saya disini. Menulis sesuatu yang tidak penting demi membunuh waktu yang berjalan.

Wednesday, September 13, 2006

Lookaftering

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:Vashti Bunyan
Mendengar album ini seperti mendengar seorang anggota paduan suara wanita yang bernyanyi di perkarangan belakang sebuah gereja tua setelah ibadat telah berakhir di hari minggu pagi yang cerah. Suara angelicnya yang dipenuhi oleh falsetto yang lembut dan besahaja memberi suatu kenyamanan tersendiri saat mendengarnya. Indah namun misterius. Album keduanya ini membawa kita ke dalam dunia keterasingan Vashti Bunyan yang selama ini ia jalani semenjak album pertamanya yang dirilis pada tahun 1970 tidak mendapat kesuksesan komersial. Sebuah dunia dimana ia tidak pernah melihat Donna Summer dan Gloria Gaynour berdansa di Club 54, atau merasakan gegap gempitanya kaum New Romantics pada pertengahan tahun 80an atau juga pernah mendengar teriakan Kurt Cobain pada awal tahun 90an. Musik yang ia hasilkan berada di luar itu semua. Sejarah pun tidak berani mengintervensi. Hasilnya adalah sebuah musik yang begitu naif, jujur dan tak akan pernah lekang oleh jaman. Beruntunglah ia masih diberi umur panjang saat bintang terang akhirnya menyinari karirnya disaat ini. Sehingga ia tidak perlu menemani Nick Drake dalam menikmati kesuksesan yang datang terlambat di atas sana.

Tuesday, September 5, 2006

Terima kasih Ma,




sudah melahirkanku ke dunia
ini dengan dengan penuh perjuangan antara hidup dan mati, tepat 24 tahun yang lalu di hari ini. Luv you
so much...






Sunday, September 3, 2006

Dari BTC ke BEC



Weekend ini saya tampil dua kali di dua tempat
yang berbeda. Tetapi kedua tempat tersebut mempunyai persamaan, yaitu sama-sama
di mal. Pertama pada hari Sabtu, bertempat di mal yang bernama Bandung Trade
Center atau biasa disebut dengan BTC. Yang menarik, ternyata lokasi acara bukan
terletak di dalam mal, melainkan di atapnya. Sebuah pagelaran menarik dari Oz
radio dan Djarum Super dengan tajuk Sound of Independent yang menampilkan band-band
independent dari Jakarta dan Bandung. Antara lain White Shoes and The Couple
Company, Goodnight Electric, Pop Up, The Milo, Park Drive dan masih banyak
lagi. Ballads of The Cliche sendiri tampil setelah break magrib, sesudah
penampilan band Pop Up. Kali ini Ballads memainkan set pendek, sebanyak 4 lagu.
Karena terbiasa memainkan set panjang, rasanya aneh harus bermain dengan set
minimal dalam waktu yang sangat singkat. Terlebih karena durasi lagu-lagu Ballads
pada umumnya memang cukup singkat. Jadi penampilan kemarin terasa nanggung bagi
Ballads mungkin juga bagi penonton yang menyaksikan. Untungnya penonton yang
datang malam itu sangat menyenangkan.





Penampilan kedua di hari minggu. Bertempat di
mal yang bernama Bandung Electronic Centre atau yang biasa disingkat dengan
BEC. Kali ini saya tampil sendiri. Saya bernyanyi dengan gitar akustik dan juga
harmonika. Tawaran ini datang dari salah satu anak kosan saya, yang sering menjadi
MC untuk acara-acara promo dari Telkomsel. Jadi  konsepnya adalah saya mengisi jeda kekosongan, setelah acara pembagian
souvenir-souvenir menarik dari Telkomsel untuk setiap pengunjung mal yang
berhasil menjawab setiap pertanyaan atau games yang diajukan oleh MC. Tampil
sendiri di dalam mal dengan pengunjung yang sangat padat adalah pengalaman
pertama bagi saya. Yah hitung-hitung belajar dan juga menambah sedikit pemasukan
di awal bulan. Hehe...





Sebenarnya ini adalah kali ketiga untuk saya
tampil sendiri. Yang pertama pada acara yang diselenggarakan oleh Death Rock
Star di TRL. Lalu yang kedua di sebuah acara amal untuk gempa Jogja yang
diselenggarakan di Potluck cafe awal bulan lalu. Yang membedakan penampilan
kali ini, selain lokasinya tetapi juga penontonnya. Jika di kedua acara
sebelumnya penonton yang datang memang bertujuan untuk menonton penampilan dari
para pengisi acara, tetapi kali ini saya bernyanyi untuk penonton yang datang
untuk berbelanja barang-barang elektronik. Walhasil saya bernyanyi sendirian
dengan orang yang lalu lalang kesana kemari tanpa peduli akan kehadiran saya.
Anehnya masih ada beberapa pengunjung yang menghentikan langkah mereka untuk sesaat
dan ‘rela’ menonton penampilan saya. Bahkan ada seorang yang sempat request, dan
meminta lagu dari Saybia. Karena saya tidak tahu liriknya, saya mengajak dia
untuk bernyanyi dan saya mengiringinya. Tetapi sayangnya dia menghindar.





Yang menjadi kelebihan pada penampilan kemarin,
adalah saya tidak diharuskan untuk berbicara setiap jeda lagu. Karena tugas
saya sebenarnya hanya mengisi jeda kekosongan. Jadi tidak ada yang namanya
basa-basi, setiap lagu usai, langsung saya sambung dengan lagu yang lain. Berbicara
di depan umum sudah menjadi kelemahan saya. Dalam dua panggung sebelumnya, hal
itulah yang selalu menjadi masalah bagi saya. Saya selalu tidak tahu harus
berbicara apa. Mau sedikit melucu takut garing, mau bercerita mengenai kisah di
balik lagu takut membosankan. Jadinya saya selalu canggung untuk berbicara
setiap jeda lagu.



Kemarin total saya bermain dalam tiga sesi
dimana masing-masing sesinya berlangsung kurang lebih 15 menit. Untuk itu
sebelumnya saya sudah menyiapkan lagu cukup banyak. Karena saya tipe orang yang
tidak hafal lirik, jadi saya mengeprint terlebih dahulu semua lirik lagu yang
akan dimainkan. Total ada 20 lagu yang saya siapkan. Tetapi ada beberapa lagu
yang tidak sempat saya mainkan. Ini adalah listnya dalam urutan acak :





1. In My Life - The Beatles



2. Across The Universe -The Beatles



3. You've Got To Hide Your Love Away - The
Beatles



4. I Will - The Beatles



5. Place To Be - Nick Drake



6. Northern Sky - Nick Drake



7. I'll Be Your Mirror- The Velvet Underground



8. These Day - Nico



9. North Marine Drive - Ben Watt



10. Say Yes - Elliot Smith



11. Girlfriend in Coma - The Smiths



12. You're Gonna Make Me Lonesome When You Go
- Bob Dylan



13. New Slang - The Shins



14. Devoted To You - The Everly Brothers



15. America - Simon & Garfunkel



16. You Are So Beautiful - Joe Cocker



17. Close To You - The Carpenters



18. Annie Songs - John Denver



19. Jennifer Juniper - Donovan



20. Street of London - Ralph Mactell



 



Thursday, August 31, 2006

Potret Idola Indonesia




Indonesian Idol baru saja menghasilkan satu
lagi idola baru. Idola itu bernama Ihsan. Seorang pemuda berusia 17 tahun,
berasal dari Medan. Lahir dari orangtua yang berprofesi sebagai tukang becak. Ihsan
sendiri sehari-harinya seusai pulang sekolah, menghabiskan waktunya di ladang
untuk sekedar membantu penghasilan keluarganya. Cangkul di tangan dan bulir-bulir
keringat yang membasahi wajahnya karena terik matahari sudah menjadi santapannya
sehari-hari. Tunggu dulu, saya lagi bercerita mengenai acara Indonesian Idol
atau acara Uang Kaget? Maaf kalau menjadi kabur. Kebetulan idola baru Indonesia
kali ini mempunyai latar belakang kehidupan yang bisa mengundang simpati dari
banyak orang di Indonesia. Tidak berbeda jauh dari profil masyarakat yang
diberi limpahan rejeki di tayangan Uang Kaget yang juga ditayangkan oleh RCTI.





Saya bukannya tidak berperasaan dengan orang
yang mempunyai kehidupan ekonomi yang memprihatinkan, tetapi jika kehidupan itu
diangkat ke layar kaca dengan porsi serta melalui acara yang tepat - misalnya
tayangan Uang Kaget - saya pun tidak akan mempersoalkannya. Yang menjadi
masalah karena Indonesian Idol adalah kontes menyanyi. Dan sudah sepatutnya,
kita sebagai masyarakat Indonesia memilih idola kita berdasarkan kemampuan
menyanyinya dan bukan berdasarkan atas kemampuan dia untuk seberapa banyak bisa
menguras air mata masyarakat Indonesia.





Belum lama ini, saya menonton acara ulang
tahun RCTI. Di acara itu tampil para pemenang Indonesian Idol dari musim
pertama hingga yang terakhir. Saat itu sangat terlihat bahwa kualitas vokal Ihsan
berada jauh di bawah para seniornya, yaitu Delon dan Mike. Untuk urusan faktor
X - yang sering diucapkan oleh para juri, rasanya Ihsan tidak juga memilikinya.
Untuk faktor X, saya rasa runner up Dirly lebih memilikinya, suaranya juga
lebih’jualan’ jika dibandingkan oleh suara Ihsan.





Bisa dipastikan alasan apa yang menyebabkan masyarakat
Indonesia memilih Ihsan untuk menjadi idola Indonesia yang baru. Simpati dan
belas kasihan masyarakat itu bisa datang karena penyelenggara Indonesian Idol
terlalu mengekspose kehidupan para finalisnya di luar panggung, dan untuk
Indonesian Idol musim ini, kehidupan seorang Ihsanlah yang paling sering
mendapat sorotan. Sudah cukup masyarakat Indonesia dibutakan oleh cerita sedih.
Beberapa tahun lalu ada seorang bernama Veri dengan kemampuan vokal yang bisa
dibilang buruk tetapi ‘untung’nya mempunyai latar belakang kehidupan yang
memprihatinkan. Karena hal itulah yang membuatnya menjadi juara di Akademi
Fantasi Indosiar yang pertama.





Terlalu mengekspose kehidupan di luar panggung
- seperti yang dilakukan oleh Indonesian Idol khususnya melalui tayangan Idol
Banget yang ditayangkan hampir setiap hari dalam seminggu - sebenarnya sudah
menyalahi aturan yang berlaku di American Idol. Bahwa sebisa mungkin kehidupan
di luar panggung dari para finalis tidak akan diekspose oleh pihak penyelenggara.
Masyarakat hanya memilih berdasarkan penampilan para finalis di panggung saja.
Seperti pemenang American Idol musim ini, Taylor Hicks yang kalau dihitung-hitung
hanya tampil di layar kaca kurang dari 5 menit setiap minggunya. Tetapi hebatnya
dia bisa membuat jutaan orang Amerika untuk terus mendukungnya sehingga tidak
satu kali pun dia berada di bottom three.
Satu lagi aturan yang telah dilanggar oleh Indonesian Idol, yaitu voting sms
yang dibuka dari awal acara. Seharusnya untuk mendapatkan voting yang fair, masyarakat boleh mengirim sms
setelah melihat semua peserta mempertunjukkan kemampuannya. Karena dari situ
akan ketahuan siapa yang saat itu tampil bagus dan yang tidak.





                                                                       ***

Rasanya penyelenggaraan Indonesian Idol dari
tahun ke tahun juga terus menurun. Paling mudah bisa terlihat dari kualitas
finalis yang ada. Kita akan kesulitan dalam menemukan finalis dengan karakter yang
benar-benar stand out dan bisa dipertanggungjawabkan
dari segi kulitas suara. Pada Indonesian Idol musim kedua, kita menjumpai
seseorang bernama Firman, dengan karakter rock yang cukup kental, tapi sayang
tidak dibarengi dengan kemampuan vokal yang baik. Tidak seperti Constantine,
atau juga Bo Bice - dalam American Idol
musim keempat, yang kemampuan vokal serta karakternya yang kuat tidak perlu
diragukan lagi. Saya jadi semakin sering mempertanyakan kriteria penjurian dari
Indra Lesmana dan kawan-kawan, karena sering terjadi seseorang yang notabene
mempunyai suara yang sangat biasa malah sering mendapat pujian dari para juri.
Contohnya adalah finalis Indonesian Idol musim kedua yang bernama Monita. Untungnya
tidak semua juri berpendapat sama. Saat itu Muthia Kasim berpendapat bahwa suara
Monita seperti layaknya suara gadis SMU di panggung-panggung sekelas sekolahan.





Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam Indonesian
Idol juga semakin membosankan. Saya memang tidak mengetahui secara pasti apakah
dalam Indonesian Idol ada aturan atau anjuran untuk menyanyikan lagu dalam
bahasa Indonesia saja atau tidak. Tapi sepertinya para konstentan masih
diperbolehkan dalam memilih lagu berbahasa Inggris, walau hal tersebut bisa
membawa mereka ke urutan terbawah dalam pengumpulan suara. Seperti yang terjadi
pada Sisi - salah satu finalis Indonesian Idol musim ini - yang akhirnya harus tersingkir saat
menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh pilihan
lagu yang dibawakannya.





Mungkin masyarakat Indonesia harus familiar terlebih
dahulu dengan lagunya, baru setelah itu mereka bisa mengirimkan sms dukungan.
Maka dari itu pada penyelenggaraan Indonesian Idol musim ini, tidak terhitung sudah
berapa kali lagu Samsons, Radja, Dewa 19, Peterpan, Ari Lasso,Ungu dan
artis-artis lainnya yang sekarang ini banyak menghiasi tangga lagu di
Indonesia, berkumandang di Balai Sarbini. Jika memang disarankan untuk
menyanyikan lagu Indonesia, kita masih mempunyai banyak lagu-lagu pop yang
bagus karya musisi negeri ini, seperti lagu dari Guruh Sukarno Putra, Candra
Darusman, Tony Koeswoyo, Dian Pramana Putra atau juga Christ Kayhatu. Menurut
saya, melalui ajang populer seperti ini, musik Indonesia jaman dahulu - yang sekarang ini hampir tidak tersentuh
oleh remaja di Indonesia - bisa lagi ditampilkan dalam bentuk yang lebih
menyegarkan dan tentunya yang bisa menarik perhatian masyarakat umum khususnya untuk
remaja seusia Ihsan yang mungkin belum pernah mendengar sebagian besar dari
nama musisi Indonesia yang telah saya sebutkan di atas.





Di Amerika sendiri, melalui tayangan American
Idol, sebuah lagu atau penyanyi yang mungkin sudah lama tidak terdengar oleh publik
Amerika, bisa kembali mendapat popularitasnya setelah lagu tersebut dibawakan
di panggung American Idol. Seperti pada tayangan American Idol musim kelima,
saat itu finalis yang bernama Elliot Yamin, dengan suaranya yang soulful
menyanyikan salah satu lagu dari penyanyi kulit hitam yang telah lama tiada,
yang bernama Donny Hathaway. Tidak berapa lama setelah penampilannya, tercatat
penjualan cd Donny Hathaway Collection di Amazon meningkat berkali-kali lipat. Dan
memang banyak yang mengakui bahwa mereka membeli cd tersebut setelah terpukau
dengan penampilan Elliot Yamin.





                                                                            ***

Mungkin tidak pantas jika saya terus-terusan
membandingkan penyelenggaraan American Idol dengan Indonesian Idol. American
Idol sendiri sudah berjalan 5 musim. Sedangkan Indonesian Idol baru berjalan 3
musim. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pihak penyelenggara
agar menjadikan Indonesian Idol sebagai ajang terdepan untuk acara-acara
pencarian bakat di negeri ini. Setelah itu tugas diberikan kepada kita sebagai
masyarakat Indonesia untuk memilih idola barunya dengan kualitas yang dapat
dipertanggungjawabkan. Tetapi pada kenyataannya memilih berdasarkan kualitas
pun menjadi pekerjaan yang amat sulit. Di luar pengaruh dari latar belakang
kehidupan yang menyertainya, pekerjaan untuk memilih idola baru menjadi sulit
karena pilihan yang disediakan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang
bintang. Untuk itu kita biasa memilih yang terbaik dari yang terburuk.





Hal tersebut bisa terjadi karena banyak dari
penyanyi yang mempunyai kualitas tinggi yang tidak sempat atau mungkin tidak
mau untuk mengikuti ajang-ajang pencarian bakat seperti Indonesian Idol ini.
Mereka tersebar sangat banyak di sudut-sudut cafe, pesta-pesta perkawinan,
lobby hotel-hotel berbintang bahkan di kamar mandi tetangga kita. Mereka bernyanyi
dengan talenta yang istimewa, mungkin sambil berharap suatu saat mereka pun
bisa menjadi bintang, dengan cara mereka sendiri.











Corrine Bailey Rae

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Other
Artist:Corrine Bailey Rae
Jika Eryka Badu mengajak Norah Jones untuk bersantai dengan segelas wine di meja, lalu tidak berapa lama Billie Holiday pun datang dan mengundang keduanya untuk bersantap malam di rumahnya, mungkin album inilah hasilnya. Sebuah album yang soulful dan elegan. Dihiasi oleh nafas Soul/RnB, serta disisipi dengan sentuhan jazzy di beberapa sudut ruangan menjadi perpaduan sempurna yang dihasilkan dari seorang pendatang baru bernama Corrine Bailey Rae. Melalui suara innocentnya yang terkadang terdengar lirih, namun lain waktu terdengar sexy, mampu membuat album ini begitu bernyawa. Suaranya memang tidak seperti kebanyakan penyanyi wanita kulit hitam lainnya, yang biasanya mempunyai suara tebal dan suka berteriak. Suaranya cenderung lebih tipis dengan gaya bernyanyi yang santai dan menenangkan. Lagu-lagu seperti “Like a Star”, “Till It Happens To You” dan juga “Choux Pastry Heart” membuat saya ingin terus bermalas-malasan di sebuah sofa empuk nan nyaman. Sedangkan lagu “Trouble Sleeping” menggoda saya untuk terus menekan tombol repeat. Lagu-lagu dalam album ini memang lebih tepat dinikmati saat senja baru berakhir. Ketika lelah membutuhkan teman, tetapi kita juga tidak ingin segera beranjak pulang. Album ini adalah sebuah awal yang cerah bagi karir Corrine Bailey Rae, selagi ia tidak akan melepaskan pelukan hangatnya yang diberikan kepada kita.

Monday, August 28, 2006

In My Own Words

Rating:★★★
Category:Music
Genre: R&B
Artist:Ne-Yo
Rasanya saya sudah sedikit muak dengan artis-artis kulit hitam yang banyak bermunculan di industri musik saat ini khususnya dalam ranah RnB dan Hip Hop. Biasanya mereka hanya bermodalkan perhiasan berkilau dan gaya hidup mewah ala kaum kulit hitam di West Coast. Tampil tanpa bakat musikal yang istimewa tetapi menyiasatinya dengan menggandeng pencipta lagu handal dan produser terkenal untuk menghasilkan album yang akan terjual jutaan kopi yang pada nantinya membuat mereka bisa memamerkan rumah mewahnya di MTV Cribs. Mereka memang menjadi bintang, tetapi bukan sebagai seorang musisi sesungguhnya yang bisa menciptakan musiknya sendiri. Sampai pada awal tahun 2006 kemarin, dirilislah sebuah album RnB yang bertajuk In My Own Words dari seorang artis pendatang baru bernama Ne-Yo. Sebelum membuat debut albumnya ini, Ne-Yo telah malang melintang sebagai seorang penulis lagu untuk para artis RnB terkenal, dari mulai Mary J Blige, Rubern Studdard, Faith Evans, Mario dan juga Rihanna. Jadi album ini adalah pembuktian dirinya, tidak hanya sebagai seorang penulis lagu yang handal tetapi juga sebagai penyanyi RnB yang layak diperhitungkan.

Singel “So Sick” yang sempat menduduki peringkat pertama di Billboard adalah bukti yang paling signifikan bahwa dirinya bukanlah artis RnB karbitan. Keseluruhan lagu berjalan ringan dan santai serta dilengkapi dengan reffren yang kuat. Gaya penulisan lirik Ne-Yo di lagu ini juga terasa istimewa. Dengan mengambil sudut pandang yang sama dari famous quote yang ditulis oleh Nick Hornby di dalam buku High Fidelity : What came first, the music or the misery? Did I listen to music because I was miserable? Or was I miserable because I listened to music?, Ne-Yo merasa telah jengah dengan segala lagu cinta yang akan membuatnya semakin menderita. ”I’m so sick of love song / so tired of tears / so sick of love song / so sad and slow / so why can’t i turn off the radio?”

Departemen lirik dalam album ini rata-rata masih menawarkan keagresifan khas RnB yang tidak akan pernah dihasilkan dari kesensitifan musik indie pop khususnya produksi Sarah Records. Kita tidak akan pernah menemukan lirik seperti “Could it be the little wrinkle over your nose / When you make your angry face/ That makes me wanna just take off all your clothes / And sex you all over the place” - yang ada pada lagu ”When You’re Mad” - di dalam lagu-lagu milik Trembling Blue Stars. Begitu juga sebaliknya, kita tidak akan pernah menemukan judul lagu seperti “Letter Never Sent” atau “I’m Tired, I’ve Tried” dalam kebanyakan album RnB seperti juga dalam album ini.

Ada satu hal yang bisa kita rasakan saat mendengar sebagian besar lagu dalam album ini, yaitu pengaruh dari seorang Michael Jackson. Album ini secara garis besar berhasil meniupkan kembali nafas musik ala Michael Jackson, dan tentunya dengan his own words. Salah satu lagu yang menurut saya paling banyak mendapatkan pengaruh dari Jacko ada di lagu “Sexy Girl”. Lagu ini seperti diciptakan untuk Jacko. Dari intro, verse, reffren sampai cara bernyanyi Ne-Yo, semuanya ‘sangat Jacko’. Dalam lagu “Sign Me Up”, Ne-Yo menyerukan “I’m just wanna rock with you” , persis dengan seruan Jacko dalam lagu terdahulunya “Rock With You” Untungnya pengaruh Jacko pada Ne-Yo hanya berakhir pada musik. Tidak seperti Usher – yang juga meniru habis penampilan Jacko - lengkap dengan sarung tangan yang dipakai di sebelah tangan.

Terlepas dari bayang-bayang Michael Jackson, album ini cukup menjanjikan untuk sebuah debut. Ini adalah album RnB yang konsisten. Lagu-lagu dalam album ini tidak melenceng menjadi Hip Hop, yang sering dilakukan oleh banyak artis RnB dewasa ini - yang sering mengaburkan garis batas antara Hip Hop dan RnB. Untuk kamu yang kurang menyukai musik rap, tidak perlu risau, karena sepanjang album kita akan terus mendengarkan alunan suara Ne-Yo yang merdu dan bukan celotehannya. Kemampuan Ne-Yo dalam menulis lagu juga membuat dia lebih unggul dibandingkan teman-teman seangkatannya, seperti Chris Brown misalnya. Mungkin tidak berlebihan jika meletakkan album ini tepat di sebelah album dari Pharell Williams, yang juga merupakan salah satu musisi kulit hitam dengan talenta terbaik yang dimiliki industri musik sekarang ini.

Sunday, August 20, 2006

a journey of a thousand miles begin with a single step

ballads of the cliche tur semarang dan jogja, tanggal 16-19 agustus 2005 : senja di stasiun senen.  erik yang merajuk karena lama menunggu.  bermain gitar, menyanyikan lagu pop indonesia tahun 90an dan bir dingin.  jam 4 dini hari di stasiun tawang.  hotel mesum bernama nyata plaza.  siang yang terik di kota semarang.  wawancara di prambors semarang.  ungaran dan rumah eyang tercinta.  wisata semarang dengan angkot carteran.  unika sugiapranata.  putu dan french riviera.  lagu sms.  ketiduran, melewatkan tomat dan congyang yang tersaji di kamar sebelah.  jam 6.30 pagi, bis joglo semar, bersiap untuk jogjakarta.  hotel galuh anindita.  jalan kaki menyusuri sisi kota jogja.  nasi kucing.  murah meriah.  sebuah permohonan, melewati beringin kembar.  club radical.  joko problemo yang menjadi mc malam itu.  the fake.  chance of a lifetime.  mengunjungi prambanan yang telah tutup.  wanda dan tehnik menawar yang paling baru.  kopi blandongan.  malam hari di malioboro.  kaset bekas.  jalan pajeksan.  lapen, labirin dan korban bernama adit vampir.  gudeg tengah malam.  widi yang terkena muntahan korban labirin.  late night talk.  jam 07.30 pagi di stasiun tugu, bersiap untuk kembali pulang...dan kesemuanya dibalut tawa dan bahagia.

ini adalah kali pertama ballads of the cliche dan tim melakukan perjalanan panjang ke luar kota. semoga ada kali kedua. tujuan berikutnya : malang dan surabaya?

Thursday, August 10, 2006

Bermain bersama Holga




Saya baru saja membeli kamera bernama Holga. Sebuah kamera plastik yang sering juga dikategorikan sebagai toy camera. Kamera inilah yang akhir-akhir ini selalu membuat saya penasaran dan 'memaksa' saya untuk terus mencoba dan mencoba walau pada akhirnya membuat uang di dompet semakin menipis.Ini adalah sebagian hasilnya..

Tuesday, August 8, 2006

Breakthru'

Rating:★★★
Category:Music
Genre: Alternative Rock
Artist:Nidji
Akhir-akhir ini di kepala saya selalu terngiang-ngiang melodi lagu “Hapus Aku” dari Nidji, band yang baru saja mengeluarkan debut albumnya yang berjudul Breakthru’. Mungkin hal itu terjadi karena setiap kali saya menonton televisi, mendengar radio, bertandang ke kamar anak kosan atau berjalan di pusat-pusat keramaian, lagu tersebut selalu diputar dan diputar. Lama kelamaan, saya mulai menyukai lagu itu. Karena sejujurnya lagu itu cukup bagus. Lagu itu juga yang menggerakkan saya untuk mendengar lagu-lagu Nidji lainnya dalam debut album mereka. Lagu itu sendiri adalah singel ketiga yang dirilis, sebelumnya Nidji telah merilis singel “Sudah” (yang memenuhi keinginan pasar musik lokal akan musik pop yang mendayu dayu) dan juga “Child” (yang membuat Nidji dicap sebagai band pengekor Coldplay).

Anggapan sebagai band pengekor Coldplay tampak paling jelas setelah melihat penampilan dan juga tehnik falsetto yang dimiliki oleh sang vokalis, Giring. Tapi untuk materinya sendiri di dalam album, tampaknya tidak semua terpengaruh oleh musik buatan Chris Martin dan kawan-kawan di Coldplay. Lagu-lagu lainnya di dalam album Breakthru’, menurut saya lebih banyak terpengaruh melodi-melodi atau hook-hook ala Keane, yang juga masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Coldplay. Seperti pada “Engkau” dengan reffrennya yang membuat saya langsung membayangkan sosok vokalis Keane, Tom Chaplin yang sedang bernyanyi. Singel “Hapus Aku” yang sebelum ini saya bahas juga sedikit banyak terpengaruh oleh Keane. Lalu ada “ Kau dan Aku” - yang berpotensi untuk menjadi singel berikutnya - masih meniupkan aroma musik besutan trio yang berasal dari Battle, Inggris itu.

Tidak habis sampai disitu, Nidji juga ingin sekali menunjukkan sisi maskulin mereka dengan lagu-lagu yang lebih ngerock atau mungkin ingin menunjukkan refrensi musik mereka yang juga tidak ketinggalan jaman. Lagu-lagu seperti “Disco Lazy Time”, “Breakthrough” dan juga “Heaven” membawa kita kepada musik dance rock yang diusung serta dipopulerkan oleh grup-grup seperti The Killers atau juga Franz Ferdinand.

Mendengar Nidji seperti mendengarkan kompilasi dari band-band modern rock atau juga british rock yang sekarang ini sedang populer. Siapa yang menjadi panutan sudah terlihat dengan jelas. Tetapi musik dari band panutan mereka hanya bisa tercium dengan samar, karena kesemuanya diramu menjadi aroma. Aroma dari nafas yang sama bukan mengambil bagian yang sama dari suatu lagu dari band panutan mereka. Itulah yang menjadi kelebihan Nidji. Mereka bisa membedakan apa yang dinamakan terinspirasi atau menyadur secara langsung. Karena itu, dalam album ini kita tidak menemukan apa yang biasa disebut ‘tebak intro’ – yang biasa terjadi pada lagu dari band-band yang meniru habis band panutannya, sehingga hanya dengan mendengar intronya saja, kita bisa mengetahui lagu tersebut mirip dengan lagu band panutannya. Seharusnya Ahmad Dhani belajar banyak dari para juniornya ini, sehingga tidak terus-terusan mencuri bagian lagu dari band-band pujaannya dengan seakan-akan menganggap kita tidak pernah mendengarkan band lain selain Dewa 19.

Monday, August 7, 2006

album rekaman

Semalam, saya bertemu dengan seorang teman. Dia berkeluh kesah mengenai perasaannya setelah hubungan dengan pacarnya telah berakhir baru-baru ini. Dia merasa masih mempunyai ’hutang’ dengan mantan pacarnya tersebut. ’Hutang’nya adalah belum sempat memberikan album-album rekaman yang pernah dia janjikan kepada mantannya itu. Selain ingin melunasi ’hutang’ kepada mantannya, ternyata ada agenda tersembunyi yang telah disiapkan oleh teman saya, yakni ingin kembali menjalin hubungan dengan mantan pacarnya yang begitu dicintainya. Dengan harapan, setelah diberikan album-album rekaman tersebut, hati mantannya bisa luluh dan bisa menerima kembali teman saya itu sebagai seorang pacar. Istilah lainnya album rekaman tersebut menjadi sebuah proposal untuk merujuknya kembali suatu hubungan. Album rekaman tersebut tak ubahnya seperti perhiasan, bunga, coklat dan berbagai benda ’klasik’ lainnya yang biasa diberikan seorang pria kepada seseorang wanita yang dikasihinya.

Saat ini kita tidak bisa melihat album rekaman hanya sebagai dokumentasi dari karya seorang atau segerombolan musisi yang bisa kita dengar dimana saja dan kapan saja kita mau. Arti dari sebuah album rekaman bisa lebih dari itu. Sebuah album rekaman bisa membuat seseorang dengan rela menghabiskan uangnya dalam jumlah besar, walaupun pada hari-hari selanjutnya harus mengencangkan ikat pinggang atau bertahan hidup dengan pinjaman disana sini. Yang terpenting album rekaman yang didambakan bisa dimiliki.


Saya pernah menjumpai seorang penjual sekaligus kolektor album rekaman bekas di Bandung, yang hidupnya hanya ditemani oleh koleksi album rekaman yang dia kumpulkan sejak tahun 60an. Saat saya masuk ke dalam rumahnya, sejauh mata memandang yang terlihat hanya tumpukan kaset dan piringan hitam. Bahkan tempat tidurnya dikelilingi oleh jejeran kaset yang tertumpuk rapi. Orang itu tidak menikah (mungkin pernah menikah, saya tidak tahu pasti), yang jelas saat ini yang menjadi istrinya adalah koleksi album rekamannya. Album-album itulah yang selalu dirawat dan dicintai selayaknya mengasihi seorang manusia. Bisa dibilang orang tersebut mengabadikan hidupnya kepada album rekaman. Dan hal itu juga membuktikan bahwa sebuah album rekaman bisa begitu mempengaruhi kehidupan seseorang. Walau di cerita ini, pengaruh sebuah album rekaman sudah sampai di titik mengkhawatirkan.


Ada lagi cerita yang saya dengar bahwa ada pernikahan di Indonesia yang mempunyai mas kawin berupa CD Belle and Sebastian lengkap dari album pertama hingga terakhir. Pastinya tidak pernah terlintas sedikit pun di benak Stuart Murdoch dan kawan-kawan di Inggris sana, bahwa karya mereka bisa begitu berharga hingga bisa dijadikan mas kawin. (walaupun ritual memberikan mas kawin pada pernikahan tidak dikenal di daratan Eropa). Sampai disini pengaruh album rekaman pada kehidupan manusia berada di titik yang membahagiakan.


Yang pasti apresiasi para penikmat musik akan sebuah album rekaman seringkali jauh melampaui bayangan dari para musisi penciptanya. Para musisi itu hanya berpikir karyanya bisa dinikmati sepanjang jaman oleh para penikmat musik, tetapi mereka mungkin tidak sempat berpikir karya mereka bisa menjadi suatu bagian penting dari kehidupan para pendengarnya. Bagi sebagian orang album rekaman bisa menjadi harta karun yang tidak ternilai harganya, bagi sebagian lagi, album rekaman bisa menjadi suatu kenangan yang diabadikan, tetapi sebagian lagi menganggap album rekaman sebagai sebuah berhala yang menyesatkan. Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang kolektor album rekaman yang saya temui saat baru saja menjual sebagian besar koleksinya yang pasti sangat berharga itu. Saat saya tanya, mengapa akhirnya ia memutuskan untuk menjual koleksinya tersebut, ia hanya menjawab ”Ngapain elo simpen terus tu album, lama-lama album itu kayak berhala aja, yang elo sembah-sembah dan elo puja-puja.”


Setiap orang boleh mempunyai persepsi tersendiri mengenai arti pentingnya sebuah album rekaman. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Yang pasti semua kembali kepada esensi sebenarnya dari sebuah album rekaman, yakni untuk didengarkan. Selebihnya biarlah mengalir di kehidupan kita. Berawal dari telinga kemudian berakhir menjadi cerita.

Monday, July 17, 2006

Without Gravity

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:Tenderfoot
Tenang, damai, dan tentram adalah kata-kata yang tepat untuk mewakili album ini. Nuansa akustik yang cantik, diselingi oleh nada-nada yang manis dengan dibumbuhi oleh nafas country folk yang cukup dominan, lalu diiringi vokal yang bergaya malas namun menghanyutkan membuat album ini menjadi begitu mudah untuk dicintai . Album ini bisa menjadi teman yang akrab untuk menemani perjalanan Jakarta-Bandung via puncak, disaat kita tidak perlu diburu waktu dan merasa tol Cipularang telah semakin membosankan. Putarlah album ini dalam kendaraan, dan nikmati semilir angin pegunungan diantara jejeran pohon cemara yang berbaris rapi. Maka hidup ini terasa semakin indah.

Friday, July 7, 2006

Finding a Hidden Treasure of Nick Drake: a Restropective


 


Tahun 2003 adalah tahun dimana saya pertama kalinya mengenal dan juga mendengar album Bryter Lyter milik seorang musisi bernama Nick Drake. Kurang lebih sudah 30 tahun semenjak album itu dirilis di tahun 1970 dan semenjak kematiannya pada tahun 1974 di usia yang sangat muda, 26 tahun. Lalu mengapa selama ini sama sekali saya belum pernah mendengar namanya? Bukannya semua rock star yang meninggal di usia muda di tahun 70an, pasti namanya akan sangat melegenda? Sebut saja Jimi Hendrix, Janis Joplin dan Jim Morrison. Semuanya meninggal di usia yang sama, 27 tahun. Kematianlah yang membuat kepopuleran mereka menjadi semakin berkibar bahkan menempatkan mereka sebagai seorang legenda. Waktu itu saya berpikir, pasti ada yang salah dengan Nick Drake. Mengapa namanya tidak masuk ke dalam jejeran rock star legendaris? Orangtua saya juga tidak pernah menyinggung akan keberadaan seorang Nick Drake selama ini. Apakah ketidakpopuleran tersebut dikarenakan karena dia meninggal di waktu yang salah? Seharusnya dia menunggu setahun lagi untuk meninggal. Sehingga kutukan rock star di umur 27 tahun juga bisa terkena kepadanya.


 


Kembali lagi ke tahun 2003 disaat saya pertama kalinya mengenal Nick Drake melalui album Bryter Lyter. Pada waktu itu, saya sudah lama menyukai musik-musik indie pop dari jazirah Eropa, seperti Blueboy, Kings of Convenience, ataupun Belle and Sebastian. Kesemuanya merupakan perpanjangan dari kecintaan saya pada musik Brit Pop circa tahun 1997 sampai 1999. Setelah saya sampai di titik puncak akan kecintaan saya akan musik-musik indie pop tersebut, saya mulai mencari lagi musik-musik yang mempengaruhi mereka. Lalu saya sampai pada musik-musik tua. Dari musik folk sampai northern soul - yang ternyata setelah saya telusuri mempunyai pengaruh besar bagi musik dari grup-grup indie pop yang saya cintai. Sebelumnya pengetahuan saya akan musik-musik tua era 60an sampai 70an hanya terbatas oleh The Beatles.


 


Saat saya mulai menemukan dan mengenal musik-musik tua tersebut, saya menemukan nama Nick Drake. Grup-grup indie pop seperti Kings of Convenience ataupun Belle & Sebastian ternyata banyak mendapat pengaruh musikal dari seorang Nick Drake. Selain itu banyak dari para musisi yang saya ketahui - diluar scene indie pop - yang  juga mengidolakannya. Mulai dari Kate Bush, Paul Weller, Peter Buck dari REM sampai Everything But The Girl. Musisi dari era 90an seperti Ryan Adams, Elliot Smith, Neil Helsteid dari Slowdive dan Mojave 3, Graham Coxon dari Blur dan Badly Drawn Boy  juga menjadikan Nick Drake sebagai sumber inspirasi mereka. Bahkan bintang film Brat Pitt juga mengaku merupakan fans dari Nick Drake. Pada tahun 2004, dialah yang membacakan narasi pada acara dokumenter produksi BBC mengenai Nick Drake. Jika sekarang begitu banyak orang yang mengidolakan Nick Drake, mengapa selama karirnya namanya hampir tidak diketahui? Apa yang menyebabkan ketenaran itu begitu telat datangnya kepada seorang Nick Drake yang sangat berbakat?


 


                                                    ***


Setelah mendengar Album Bryter Lyter, saya begitu jatuh cinta terhadap orang ini. Musiknya terasa begitu jujur dan sangat bersahaja. Musik yang indah tersebut ternyata dihasilkan dari seorang pemuda Inggris yang sangat pemalu. Dalam karir profesionalnya yang singkat, Nick Drake tercatat tidak pernah menjadi penampil utama, karena selama itu dia hanya menjadi pembuka dalam beberapa penampilan dari teman-temannya seperti Fairport Convention dan juga John Martyn. Penampilan livenya bisa dihitung dengan jari. Pada dasarnya, Nick Drake bukanlah seorang entertainer yang baik. Seringkali penampilannya diacuhkan oleh penonton karena dia adalah seorang pemuda pemalu yang bermain gitar dan bernyanyi dengan suara lembut yang hampir tidak terdengar. Karena seringnya mendapat respon yang tidak menyenangkan dari penonton, Nick Drake menjadi takut untuk tampil kembali di depan umum.


 


Di suatu kesempatan, bassist dari supergrup The Fairport Convention, Ashley Hutchings menyaksikan penampilannya. Ashley sangat tertarik dengan lagu-lagu ciptaannya. Melalui Ashley, Nick lalu dikenalkan kepada produser Joe Boyd yang sudah dikenal telah menangani berbagai artis seperti The Incredible String Band, Fairport Convention, serta Richard Thompson. Di tangan Joe Boyd, Nick Drake membuat debut albumnya Five Leaves Left di bawah Island Records pada tahun 1969. Saat itu ia baru berusia 21 tahun. Sebuah debut album yang sangat menjanjikan. Menampilkan sound yang ringan dan melodi pop yang kuat dibalut dengan alunan chamber musik yang membuat setiap lagunya terasa hangat. Kerjasama antar Joe Boyd dan Nick Drake semakin intens dan berlanjut dengan pembuatan album keduanya Bryter Lyter di tahun 1970. Menampilkan lagu-lagu yang lebih upbeat, lebih jazzy dengan penambahan instrumen seperti brass section yang membuat lagu-lagu dalam album ini begitu kaya akan nuansa. Album ini memuat lagu terbaik - menurut saya - yang pernah Nick ciptakan, yaitu “Northern Sky”. Lagu ini juga dinobatkan sebagai salah satu lagu cinta terbaik dunia yang pernah direkam dalam 25 tahun terakhir menurut majalah NME.


 


Sayangnya kedua album hebat tersebut gagal di pasaran. Alasan utama mengapa kedua album tersebut gagal karena tidak dijalankannya promosi yang benar. Tidak adanya singel hit yang diputar di radio, tidak adanya interview media, dan tidak adanya konser promosi, membuat kedua album hebat tersebut menjadi tidak terdengar di masyarakat luas. Padahal mulai dari pembuatan album Bryter Lyter, Nick memutuskan untuk berhenti kuliah untuk bisa lebih fokus kepada karir bermusiknya. Tetapi dengan namanya yang tidak juga berkibar di industri musik di kala itu, segala pengorbanan tersebut terasa sia-sia. Selain menjadi seorang yang pemalu, Nick Drake  juga sangat sensitif. Akibat dari kesensitifannya tersebut, dia menjadi gampang sekali frustasi jika keadaan tidak berjalan seperti apa yang dia harapkan. Kegagalan kedua albumnya di pasaran membuatnya menjadi semakin frustasi. Dia merasa dunia musik telah menolaknya, dan hal itu yang membuat dia menjadi depresi.


 


Ditengah kedepresiannya tersebut, dia membuat album ketiganya sekaligus studio album terakhirnya, yaitu Pink Moon. Dibuat dalam 2 hari, ditemani dengan seorang sound engineer. Kali ini tidak ada musisi tamu karena semua lagu direkam hanya dengan iringan sebuah gitar beserta vokal Nick Drake saja. Refleksi dari rasa frustasi yang dialaminya seperti tertumpahkan dengan sempurna dalam album ini. Sebuah album yang menggambarkan kerapuhan seorang Nick Drake yang sesungguhnya. Tetapi seperti pada nasib kedua album sebelumnya, album ini juga mengalami kegagalan komersial yang sama. Semua review positif dari berbagai kritikus musik terhadap album ini dirasa menjadi tidak berharga. Karena belum membuat masyarakat luas untuk mengenal dan membeli albumnya. Segala bakatnya telah dicurahkan sepenuhnya. Nick tahu dia mempunyai bakat besar dalam musik, dan dia ingin lagu-lagunya bisa diapresiasikan dengan baik oleh masyarakat luas. Tetapi penjualan ketiga albumnya yang begitu buruk membuat Nick sangat putus asa dan berpikir untuk menyudahi karir bermusiknya. Satu waktu dia pernah berkata kepada ibunya Molly Drake, bahwa dia merasa telah gagal atas semua hal yang dilakukan di dalam hidupnya. Sebuah pernyataan yang mengisyaratkan keputus asaan yang sangat mendalam.


 


Setelah dirilisnya album Pink Moon yang juga tidak mengantarkannya kepada kesuksesan komersial, Nick menjadi semakin introvert. Hanya orang-orang terdekatnya saja yang masih berkomunikasi dengannya. Karena melihat Nick yang semakin depresi, kedua orang tuanya membawa Nick untuk berobat ke psikiater. Karena itu, Nick mulai mengkonsumsi obat anti depresan yang bernama Tryptizol - yang pada nantinya obat itulah yang menyebabkan kematiannya. Hingga pada November 1974, di suatu pagi, ibunya Molly menemukan Nick terbaring kaku di tempat tidurnya. Nick meninggal di usia yang sangat muda, 26 tahun. Dikarenakan overdosis obat anti depresant, Tryptizol. Hari itu tanggal 25 November 1974, pukul 6 pagi, dunia musik pun tidak mengetahui bahwa telah kehilangan seorang yang sangat berbakat yang belum sempat memperdengarkan musiknya pada dunia.


 


Popularitas Nick Drake setelah kematiannya, mulai berkembang sejak dirilisnya box set Fruit Tree tahun 1979. Berisikan tiga albumnya yang telah diremaster oleh Island Records. Joe Boyd, produser dari 2 albumnya yang masih meyakini bahwa musik Nick Drake adalah karya bagus yang suatu saat nanti bisa diterima oleh orang banyak. Dia juga yang berusaha meyakinkan Island Records untuk merilis ulang album-album Nick Drake. Ternyata feeling Joe Boyd benar, semenjak dirilisnya box set tersebut, orang-orang mulai banyak membicarakan nama Nick Drake. Selanjutnya efek word of mouth yang semakin menaikkan popularitasnya. Berbagai musisi kelas dunia juga mengakui musik Nick Drake sebagai inspirasi untuk musik mereka. Setelah dirilisnya box set Fruit Tree, berbagai rekaman Nick yang belum sempat dipublikasikan akhirnya dirilis, beserta berbagai rekaman the best of dan bootleg yang semakin membawa nama Nick Drake terus melambung tinggi  - tidak seperti karir bermusiknya sewaktu ia masih hidup. Puncak popularitas Nick Drake ditandai dengan digunakannya lagu “Pink Moon” untuk iklan Volkwagen di Amerika Serikat pada tahun 2000,  yang memperkenalkan musik Nick Drake pada ribuan fans barunya di seluruh dunia.


 



                                                      ***


Saya juga termasuk fans baru dari Nick Drake. Semakin saya mengikuti perjalanan musikalnya, semakin saya dibuat kagum oleh musik yang ia buat. Saya mengaguminya sebagai seorang singer/songwriters yang jenius. Selain melodi yang kuat dan lirik puitisnya, permainan gitarnya juga diatas rata-rata. Dengan tunning gitar yang tidak biasa - yang dia ciptakan sendiri -  serta tehnik petikan yang unik, membuat musiknya sulit untuk dimainkan dengan sama persis. Di suatu kesempatan, saya pernah tampil solo dan saya menyanyikan “Northern Sky” hanya dengan iringan gitar akustik. Hasilnya, jauh dari sempurna dan jauh dari keindahan Nick Drake pada lagu tersebut. Malah saya membuat lagu itu menjadi terasa membosankan. Sebenarnya suara dan tehnik bernyanyi dari Nick Drake bisa dibilang di bawah standar untuk penyanyi profesional. Dia tidak mempunyai power yang kuat. Dan cara bernyanyinya juga seperti orang yang bergumam. Tetapi segala kekurangan dan keunikannya tersebut yang membuat seorang Nick Drake menjadi istimewa bagi saya.


 


Menemukan musik Nick Dake, seperti menemukan harta karun yang selama ini tidak tersentuh. Terlalu berharga, jika musiknya dilupakan begitu saja oleh dunia. Pada akhirnya disaat ini, musiknya mendapatkan tempat yang layak di masyarakat luas. Waktu pun membuktikan, musik bagus memang seharusnya akan selalu terdengar bagus sampai kapan pun. Nick Drake pasti akan sangat bahagia melihat kesuksesannya sekarang ini walau semua itu terlambat datangnya. Saya jadi teringat oleh penggalan lirik lagu Fruit Tree dari Nick “Fame is but a fruit tree -/ So very unsound./ It can never flourish/ Till its stock is in the ground / So men of fame/ Can never find a way/ Till time has flown/ Far from their dying day.”


 


                                                              Tulisan ini pernah dimuat Eve Zine edisi Maret 2006