Sunday, April 9, 2006

OST Berbagi Suami

Rating:★★★★★
Category:Music
Genre: Soundtracks
Artist:Various Artist
Akhirnya Indonesia bisa menciptakan scoring film sebagus ini. Sebuah pencapaian bagi dunia perfilman di Indonesia. Sudah sepatutnya, scoring film diperlakukan dengan sangat serius. Tidak hanya menjadi backsound dari visual saja. Dikerjakan seadanya, dengan hanya menggunakan synthesizer. Sehingga hasilnya seringkali terasa nanggung, tidak optimal, dan tanpa ada muatan emosi yang kuat.

Visual dan musik latar harus saling bersinergi dan seirama sehingga penonton bisa merasakan kedramatisan dari visual yang ditampilkan. Untuk itu, penggunaan alat musik juga harus diperhitungkan. Dan agar mendapat muatan emosi yang diinginkan, musik yang dihasilkan haruslah keluar dari instrumen asli yang dimainkan oleh manusia. Dan bukan bebunyian hasil rekayasa komputer. Karena idealnya, musisi yang terlibat dalam pengerjaan scoring film harus mencermati setiap adegan yang ada untuk bisa menjiwai nuansa apa yang ingin ditampilkan oleh film tersebut melalui alat musik yang mereka mainkan.

Proyek soundtrack Berbagi Suami adalah kali kedua Kalyana Shira Films bekerjasama dengan Aksara Records. Sebelumnya adalah proyek soundtrack Janji Joni yang banyak menampilkan band-band independent ibukota yang layak diperhitungkan. Seperti pada album soundtrack Janji Joni yang menampilkan scoring dan juga original music, album soundtrack Berbagi Suami juga masih menggunakan formula yang sama, tapi kali ini porsi untuk scoringnya lebih besar daripada original musicnya.

Music Director dari album ini adalah Aghi Narottama (Lain/Ape on The Roof) serta Bemby Gusti, dan Ramondo Gascaro yang juga merupakan personil dari grup Sore yang albumnya juga telah dirilis oleh Aksara Records. Dalam album ini mereka bekerjasama dengan Riza Arsyad (Simak Dialog/Reborn) dan untuk orchestranya dipercayakan kepada Magenta Orchestra. Beberapa materi album ini adalah karya-karya lama maestro Indonesia seperti Ismail Marzuki dan Gesang yang diaransemen ulang.

Jika didengarkan sepintas, album soundtrack ini mempunyai semangat yang sama dengan soundtrack film film Wong Kar Wai. Secara Nia Dinata juga menggunakan pendekatan ala Wong Kar Wai dalam penyutradaraan film ini. Hal tersebut bisa terlihat dari scoring dan juga penyajian musik musik tua dalam film. Untuk scoring, persamaannya ada dalam penggunaan satu musik tema yang sama, yang berulang pada setiap bagian film. Tetapi dengan nuansa yang berbeda yang dihasilkan dari penambahan alat musik pada setiap bagiannya. Seperti pada bagian Salma yang menampilkan string section pada latarnya yang berpadu dengan Cello yang menjadi melodi utamanya. Atau pada bagian Ming, yang menyajikan suara piano untuk dasar lagunya (yang menurut gw seperti Gymnopedie no 1 dari Eric Satie) dan suara trumpet untuk melodinya. Gaya scoring seperti itulah yang pernah dilakukan Michael Gallaso dalam film In The Mood For Love karya Wong Kar Wai.

Dalam penyajian musik musik tua, Wong Kar Wai juga pernah melakukannya dalam film filmnya. Seperti pada In The Mood For Love yang menampilkan musik dari Nat King Cole atau juga dalam film terbarunya, 2046 yang menampilkan musik musik dari Xavier Cugat, Connie Francis dan Dean Martin. Dalam Berbagi suami, musik musik tua tersebut ditampilkan ke dalam bentuk baru melalui aransemen yang menakjubkan. “Pergi Tanpa Pesan” dibawakan kembali oleh Sore dengan indahnya. Suara Akordeon pada intronya menjadi jembatan yang sempurna untuk mengawal suara Ade Paloh yang menggetarkan, mengiringi kepergian tokoh Siti (Shanty) meninggalkan rumah Pak Lik (Lukman Sadri) secara diam diam dalam film. Scene tersebut sebenarnya sangat biasa, tetapi dengan iringan lagu “Pergi Tanpa Pesan” dari Sore, adegan tersebut menjadi luar biasa. Lalu ada “Sabda Alam” karya Ismail Marzuki, yang dibawakan oleh White Shoes and The Couples Company. Intro dan lagu yang mempunyai irama yang berbeda patut diacungi jempol. Penyambungannya pun sangat rapi.

Lagu “Bengawan Solo” juga ditampilkan dengan aransemen yang indah. Dengan suara string yang bersahut sahutan dengan piano, flute dan trumpet serta iringan perkusi yang menjadi ritemnya. Untuk vokalnya menampilkan perpaduan vokal yang cemerlang antara Tika, Ade Paloh dari Sore dan Sari dari White Shoes. Untung saja Ikke Nurjanah tidak lagi mengisi vokal, seperti dalam filmnya. Selain itu, ada juga lagu tua “Aksi Kucing” yang ditampilkan dari rekaman originalnya. Lagu bernuansa ragtime tersebut mempunyai lirik yang jenaka yang gaya penulisannya sudah dilupakan oleh musik Indonesia saat ini.

Secara keseluruhan, penggalian kembali musik musik tua tersebut merupakan langkah cerdas, terutama untuk generasi muda saat ini, yang mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa Indonesia pernah menghasilkan musik musik sebagus itu. Salut juga kepada David Tarigan dari Aksara Records, yang kalau tidak salah juga merupakan musik supervisor dalam soundtrack ini. Sepertinya koleksi piringan hitam Indonesianya yang sangat banyak, menjadi suatu berkah tersendiri untuk album ini.Hehe..

Untuk itu, kemiripan dengan soundtrack film Wong Kar Wai pun tidak menjadi persoalan, karena semangat boleh sama tetapi yang terpenting eksekusinya terdengar berbeda dan sangat bagus hasilnya. Musik dalam film ini telah sukses menjadi bagian yang penting dari film. Karena musiknya sangat mengisi jiwa dari filmnya. Tidak sekedar menjadi pemanis visual.

Sudah seharusnya filmaker Indonesia lainnya keluar dari keterkukungannya selama ini dengan hanya menggunakan musisi itu itu saja untuk pembuatan soundtrack film. Seperti Melly Goeslaw dan Anto Hoed dengan karyanya yang repetitif dan overated atau Andi Rianto dengan karyanya yang selalu terlewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang mendalam. Atau juga penggunaan band band terkenal (yang sebenernya hanya menumpang promo untuk album barunya) untuk membantu promo film. Jadi simbiosis mutualisme tersebut juga harus segera ditinggalkan. Karena musik dalam film bukanlah dijadikan 'jualan' utama yang bisa mendongkrak popularitas dari suatu film. Karena musik dalam film sesungguhnya adalah jiwa dari film itu sendiri. Dan musik dari Berbagi Suami inilah adalah contoh yang paling tepat bagaimana seharusnya musik bisa selaras dengan visualnya. Sekali lagi Aksara Records terbukti jitu dalam memperkaya khazanah perfilman Indonesia yang semakin membaik sekarang ini.

15 comments:

  1. kalo menurut saya sih, akan lebih baik kalo soundtracknya lebih ke lagu2 yg dibawakan sore dan ws&cc. memang sejatinya soundtrack itu termasuk juga score. tapi saya merasa, kalo tanpa score akan lebih terasa 'album'. konsentrasinya lebih fokus. demikian hemat saya.

    ReplyDelete
  2. kalo saya tidak suka berhemat.
    lebih baik berfoya-foya.
    mengapa?
    supaya banyak macem-macem yang akhirnya membuat kita terkonsentrasi.
    daripada nanti seperti thepopism yang mulai kebingungan membagi waktu.

    -adt-

    ReplyDelete
  3. sounds too good to be true
    it should happen sooner or later no?
    how is this compared to the greatest indonesian film soundtrack of all time
    badai pasti berlalu...?

    ReplyDelete
  4. i setuju...

    this is the best scoring movie... mungkin bisa disamakan dengan soundtrack Badai Pasti Berlalu..

    ReplyDelete
  5. sebenernya lebih baik lagi kalo album scoring ama album original music dibedain..film2 luar banyak yang kyk gitu juga kan? jadi emang lebih fokus..

    tapi kl dirilis album yang isinya scoring doang, ada yang mau beli gak yah disini?hehe..

    ReplyDelete
  6. bagus-bagus..gitu dunk..untungnya lo punya sifat bukan tipikal org kyk Koh Abun yang sebenernya kaya tapi duitnya disempen mulu..hahahaha...

    ReplyDelete
  7. temen gue ada sih yg suka beli2 scoring (meski lebih banyak download), kayak scoring2 star wars gitu kan. dan secara kantor gue ada eo juga, lumayanlah nambah2in scoring buat event... hehehe... :D

    ReplyDelete
  8. Kl OST Badai Pasti Berlalu unggulnya di original musicnya yang masih evergreen ampe skg

    Kl OST Berbagi Suami, scoringnya yang unggul, dan kyk2nya sih jarang film Indo yang scoringnya kyk gini..

    ReplyDelete
  9. album scoring film luar emang jarang banget dijual disini yah?sayang banget..padahal musik- musik dari John Williams dkk sangat bagus untuk jadi referensi utk scoring film lokal kita..huhu..

    ReplyDelete
  10. nah itu. John Williams. ada tuh temen gue suka banget John Williams, gue juga gak ngerti. kan instrumental gitu... gak taunya scoring... hehehe. di luar negeri untuk scoring pun sangat serius. jadi segmennya ada. di kita emang masih sangat sedikit, itu juga yg 'menahan' buat rilis. tapi kalo org udah liat scoring yg bagus kayak Berbagi Suami ini, pelan2 mudah2an segmennya ada. :)

    ReplyDelete
  11. haha...
    bahasa lo tuh kaya ko abun.
    gua ga kaya kok dim.
    malah miskin banget.
    apalagi masalah cinta.

    -adt-

    ReplyDelete
  12. betul tapi music scoring itu emang gak akan se-trendy soundtrack album karena ya pasti kan instrumental & yang lebih bisa presiasi pasti harus nonton filmnya dulu.

    sebetulnya, OST berbagi suami ini selain ter-influence dari scoring film juga ada influence dari scoring video game & anime jepang kayak nobuo uematsu (final fantasy), taku iwasaki, yasunori mitsuda, etc. kalo diperhatiin, scoring musik2 game itu keren2 banget cuma emang masih dipandang sebelah mata sama banyak orang tapi coba deh diperhatiin. mungkin kalo dalam game & anime-nya sendiri mereka menggunakan synthesizer buat scoringnya tapi biasanya composernya merilis album full band & full orchsetra.

    ReplyDelete
  13. gw baru perhatiin scoring final fantasy..emg serius tuh bikinnya..kmrn aja adi ms aja mau maenin lagu2 fs kan? aduh jd pgn belajar music scoring nih..hehe

    ReplyDelete
  14. iya, lo harus dengerin musik2 scoring game, pasti surprise deh gimana para developer jepang itu merhatiin se-detail itu musik game-nya.

    btw, yg main cello waktu final fantasy itu adik gue, dia & gue juga yg manasin mas adie ms buat bikin concert itu...hehehe.

    ReplyDelete
  15. sampai sekarang, saya belum tahu siapa sebenarnya nama penyanyi "aksi kucing" itu..

    ReplyDelete