Sunday, March 9, 2008

Ayat-Ayat Cinta

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Drama
“Gue nggak pernah lho, mas terobsesi sama film Indonesia sampai kayak gini,” kata salah seorang teman yang kemarin ikut menonton film Ayat-Ayat Cinta (AAC) bersama saya. Ia bisa jadi terobsesi karena sudah beberapa hari kemarin, teman saya itu selalu kehabisan kursi bioskop saat mau menonton film yang diangkat dari novel laris berjudul sama karangan Habiburrahman El Shirasy ini. Obsesi teman saya itu semakin menjadi-jadi karena testimonial setiap orang yang dikenalnya yang sudah menonton AAC selalu positif.

Saya juga sempat kehabisan kursi saat mau menonton AAC di Cihampelas Walk pada hari Jumat malam kemarin. Bayangkan AAC diputar di tiga studio, dan saya masih kehabisan tiket. Saya pun semakin penasaran terhadap film ini. Apakah film ini benar-benar sebagus seperti banyak orang bilang?

Saya memang tidak membaca novelnya. Tapi biarlah. Biar saya bisa menikmati film ini secara utuh, tanpa harus membanding-bandingkan isi novel dengan film yang pasti akan selalu berbeda.

Film AAC sebenarnya adalah kisah cinta pada umumnya, tapi mungkin yang membuatnya spesial karena ada pesan-pesan keagamaan yang begitu kuat di dalamnya. Hal ini yang membuat AAC tidak hanya ditonton oleh kaum remaja saja, tapi juga oleh ibu-ibu pengajian dan keluarga-keluarga muslimah.

Rasanya saya tidak perlu menceritakan lagi resensi film ini karena mungkin sebagian besar dari Anda sudah membaca novelnya atau mungkin sudah menonton filmnya. Yang pasti tokoh Fahri yang diperankan oleh Fedi Nuril terlihat tanpa cela dalam film ini. Tidak ada sedikit pun kekurangan dari dirinya. Semua sifatnya bener-benar menjadikan Fahri sebagai menantu idaman para ibu rumah tangga. Saya tidak tahu apakah penggambaran tokoh ini persis sama seperti yang diceritakan di novelnya atau tidak.

Fahri adalah mahasiswa asal Indonesia yang sedang S2 di universitas Al Azhar, Mesir. Ia berwajah rupawan, cerdas (dengan kemampuan tiga bahasanya : Inggris, Arab, Jerman), baik hati, tidak sombong, rajin sholat, dan digilai oleh para wanita (tercatat ada 4 wanita yang menyukai dirinya) Sayangnya ia tidak jago berkelahi (ada ada adegan yang memperlihatkan ia dipukuli tanpa sedikit pun membalas) dan juga ia tidak mempunyai materi yang berlebih (komputer butut, suasana rumah keluarganya yang sederhana) karena jika semua kesempurnaan dirinya ditambah oleh kemampuannya berkelahi serta dengan materi yang berlebih maka lengkaplah sudah penggambaran Mas Boy versi millenium dalam film ini.

Satu hal yang membuat diri tokoh Fahri lebih unggul dari tokoh Boy dari film Catatan si Boy adalah keberuntungannya dalam memperistri dua wanita cantik sekaligus, yakni Aisha dan Maria. Sementara tokoh Boy harus memilih salah satu antara Nuke dan Vera (masih ingat pemeran kedua tokoh ini? Ayu Azhari dan Meriam Belina) Fahri sebenarnya tidak mempunyai sifat playboy seperti yang dimiliki oleh tokoh Boy, namun karena keluguan serta kesederhanaannya itulah yang membuat para gadis di sekitarnya jatuh hati.

Diantara kedua tokoh wanita utama dari film AAC, yakni Aisha dan Maria, hanya tokoh Maria saja yang saya rasa paling dapat penggambaran emosinya. Saya dan mungkin sebagian besar penonton merasa lebih berempati terhadap penderitaan Maria dibandingkan dengan Aisha.

Maria yang diperankan dengan baik oleh Carissa Putri adalah seorang gadis Mesir beragama Kristen Koptik (saya baru tahu ada jenis agama ini) yang tertarik dengan Al Quran, tinggal satu flat dengan Fahri serta menjadi teman belajar Fahri yang menyenangkan. Sudah bisa tertebak, akhirnya Maria mempunyai perasaan khusus terhadap Fahri, walaupun perasaan Fahri sampai akhir film belum terungkap dengan jelas, apakah ia juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Maria atau tidak.

Sedangkan tokoh Aisha seorang gadis Jerman keturunan Palestina yang tinggal di Mesir yang diperankan oleh Rianty Cartwright terkesan datar-datar saja. Mungkin ini disebabkan oleh mimik wajah Rianty yang selalu sama ketika ia marah, sedih atau senang.

Masalah pemakaian bahasa dalam film ini juga membingungkan saya. Seringkali saya sulit membedakan yang mana tokoh yang memang orang Indonesia dan mana tokoh yang non Indonesia karena hampir semua tokoh dalam film ini berbahasa Indonesia dengan baik.

Tokoh Aisha hanya di awal-awal saja menggunakan bahasa Jerman, saat ia berkenalan dengan Fahri di tengah jalan. Begitu juga dengan Maria yang notabene seorang gadis Mesir namun memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang sangat baik. Belum lagi tokoh-tokoh lain di film ini yang rata-rata semua bisa berbahasa Indonesia. Ya sudahlah, pada akhirnya saya juga tidak mempedulikan lagi masalah pemakaian bahasa dalam film ini. Yang penting saya bisa mengikuti alur ceritanya.

Kesimpulan saya, film ini cukup bagus tipikal kisah cinta yang berujung tragedi, seperti film-film Indonesia tahun 70an. Tapi memang saya tidak bisa menilai film ini dengan sangat bagus. Entah mengapa. Yah mungkin ini selera saya saja.

34 comments:

  1. Jadi penasaran juga mau nonton...

    ReplyDelete


  2. sebel endingnya di rubah. huks. mestinya engga ada adegan kehidupan dua istri. jadi Maria meninggal sehabis jadi saksi. Sakaratul Mautnya bikin merindiiiiing, indaaaaah banged tapi di film engga ada, malah di rubah total. huuks. dasar felix. eh salah dasar punjabi.

    ReplyDelete
  3. oh iya? endingnya dirubah?

    pasti tuntutan si india-india itu ya..uhehe

    ReplyDelete


  4. iyaaa bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeed dimdim..huhu gangggguuuuuuuuuuu..
    dasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar felix!! eh salah lagi, dasaaaaar punjabiiiii

    ReplyDelete
  5. nonton deh, go..tapi awas ya jangan berisik kalo nonton, ntar dimarahin ibu-ibu pengajian lho..hehe

    ReplyDelete
  6. Pelem yang bikin gua nangis bombay dan makin ANTI sama POLIGAMI!!!..

    ReplyDelete
  7. ga terlalu penasaran. karna sebelumnya coba2 baca novelnya tapi di tengah2 berenti karna berasa diceramahin..

    ReplyDelete
  8. quiz: apakah doi punya multiply?

    ReplyDelete
  9. quiz: apakah doi punya multiply?

    ReplyDelete
  10. kalo maria gak mati kan fahri tetep poligami, le..dan mereka sepertinya rukun-rukun saja kan?hheuehee

    ReplyDelete
  11. bisa jadi. hehe...tapi pesan moral di film ini : jangan memakai pc windows karena gampang rusak. pakailah macbook pro :p

    ReplyDelete
  12. waduh.....blom nonton........(tapi lg nonton versi youtubenya.hehe)

    ReplyDelete
  13. saya baca review-nya dari blog, temen dan lain2 malah bikin males nonton,,apalagi karakter maria disini kurang dalam,padahal di buku khan pengorbanannya besar bgt buat fahri..duh,,hanung,,tanggung jawab donk ma piala citramu...

    ReplyDelete
  14. iyah.. yg bikin ga pol krn endingnya beda ama yg di buku.. huks huks sayang sekali..

    ReplyDelete
  15. mungkin klo Hanung gak dihadapkan sm tuntutan Keluarga Punjabi film ini pasti jauh lebih bagus... Disini duit lg yg bicara teman...hehehe

    ReplyDelete
  16. jadi lo mau masuk islam, dim? hahaha...

    ReplyDelete
  17. buka http://hanungbramantyo.multiply.com
    kita cuma ngoceh protes bilang jelek aja padahal bikin filmnya susah huhuhu...

    ReplyDelete
  18. alhamdulilah..saya masih yakin dengan kepercayaan saya :)

    ReplyDelete
  19. iya, ge..gua udah baca tu dulu..kasian ya kayaknya, ribet banget.

    ReplyDelete
  20. untuk bukunya :)
    walopun br baca setelah nonton filmnya..

    wandissss, g boleh ya bukunya buat aku sajaaaaaaa??? :p

    ReplyDelete
  21. oh..ternyata wandis diam-diam baca bukunya juga toh..ck..ck..ck

    ReplyDelete
  22. puji tuhan, baguslah imanmu kuat. jgn seperti george harrison. haha

    ReplyDelete
  23. wah jangan kakadita. punya adik saya yang notabene belum membaca juga. hihihi...gimana kalo minta sama nyonyo sbg mahar pernikahan kalian?? ;p

    ReplyDelete
  24. iya siii, nono mu beli tp buat mamanya katanya..
    aku jg pgn beli :)
    buatku dan mamaku juga deh.. satu berdua hehe ;)

    makasyi ya kaka wanda..

    ReplyDelete
  25. bukunya lebih bagus daripada film nya....
    banyak bgt pesan yg pengen disampein di buku nya malah ga ada di film nya!
    ga tau emang kapasitas sutradara nya cm segitu aja dlm menterjemahkan isi buku ke dalam bentuk film...ato karena tuntutan si india itu yang cm pengen filmya laku!!

    ReplyDelete
  26. emg lebih bagus bukunya tp filmnya g kalah bagus ko, uda lumayan banget u/ ukuran film indonesia..
    gue sm skali g ngrasa ada unsur sinetron2nya sama sekali..

    mungkin emg lebih baik nonton dl baru baca bukunya, jd g bakal ngrasa kurang namun justru akan ngrasa dlengkapi ! :)

    ReplyDelete
  27. nah bener tuh kakadita. jadi elo mau ga gue hadiahin Dhab Mashri pas nikah nanti?? hahaha

    ReplyDelete
  28. a very good movie! sangat berbeda. salah satu syarat nonton film yang diangkat dari novel adalah: Jangan pernah membandingkan novel dengan filmnya. karena sudah pasti berbeda.

    novel ditulis secara deskriptif, sehingga pembaca memiliki imajinasi dan masing2 orang memiliki ekspektasi sendiri2 mengenai tokoh, setting dan semuanya.

    sedangkan film adalah audio visual yang tinggal dinikmati dengan mata, telinga dan sedikit pikiran. jalan ceritanya juga pasti diubah karena menyesuaikan dengan durasi dan alur.

    mas rio, kalo masalah bahasa yang campur2 arab, jerman, indonesia sih, menurut gue bukan berarti si A orang Mesir, si B orang Jerman tapi bisa bahasa Indonesia. Polisi Mesir dan pedagang pasar Mesir bisa bahasa Indonesia. Tapi gue rasa mereka menggunakan bahasa Indonesia pada semua karakter karena ini adalah film Indonesia yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Mungkin pada kenyataannya seharusnya mereka berbicara bahasa Arab dll. Supaya pesannya lebih mudah sampai aja.

    ah tidur aaaahhh

    ReplyDelete
  29. nono kamu lucu banget..

    makasyi ya sayang, kamu g jd tidur pas nonton ini.. hehe.. :)

    ReplyDelete
  30. mas Kl kata gw sih filmnya lutchu meski yg di sebelah gw nangis bombay huehuee

    ReplyDelete