Wednesday, June 28, 2006

Eye To The Telescope

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Folk
Artist:KT Tunstall
Jika diadakan survey pada pria khususnya di kalangan penikmat musik keluaran label-label minor, mengenai lebih sexy mana, wanita pirang bertubuh molek dengan belahan dada yang rendah atau wanita yang bisa bermain gitar dengan gaya pakaian yang cenderung lebih chic, pasti kalangan tersebut akan lebih memilih pilihan yang kedua. Sekarang ini penyanyi wanita seperti Leslie Feist, Jenny Lewis dan juga Cat Power – yang notabene memiliki bakat musikal di atas rata-rata, diluar penampilannya yang juga menarik namun tidak dalam pengertian sensual - banyak mendapat tempat di hati penikmat musik khususnya para pria. Rasanya jaman-jaman keemasan untuk memasang poster Pamela Anderson di kamar telah lewat. Seiring semakin bertebarannya cd-cd musik maupun mp3 keluaran label-label seperti Rough Trade, Sub Pop dan juga Matador di kamar kita, dewasa ini.

Salah satu penyanyi wanita yang masuk kategori kedua tadi adalah KT Tunstall. Dia menciptakan lagunya sendiri, menyanyikannya, serta bermain gitar. Dan tentunya ia mempunyai penampilan fisik yang menarik - KT Tunstall berdarah campuran China Irlandia. Debut albumnya Eye To The Telescope, banyak mendapat nominasi di berbagai ajang penghargaan bergengsi di Inggris. Lagu-lagu dalam album perdananya ini terdengar mempunyai beragam influence dari mulai Blues, Jazz, Rock, RnB yang kesemuanya dibungkus dengan cermat menjadi suatu bentuk baru dari musik folk

KT Tunstall adalah satu dari sekian banyak penyanyi gelombang baru dari musik folk atau yang lazim disebut folk-revival yang sekarang ini tengah melanda industri musik dunia. Mulai dari pemunculan Sufjan Steven, Davendra Banhart, Joanna Newsom sampai Beth Gibbons dari Portished-dalam album solonya- yang juga bermain dalam wilayah folk-revival.

Suaranya juga mempunyai jangkauan yang begitu luas. Dalam lagu-lagu balada seperti “Through The Dark”, suaranya terdengar sangat soulful dan membius. Dalam lagu balada lainnya yaitu “Under The Weather”, suaranya mengalun lebih ringan dan halus pada awal lagu dan pada puncak lagu, suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang menumpahkan kemarahan yang terpendam. Dalam lagu “Stoppin’ The Love” dia bernyanyi dengan sedikit nafas blues yang digabungkan dengan karakter serak-serak basah ala Sheryl Crow.

Lagu yang paling menonjol dalam album ini adalah “Black Horse and The Cherry Tree” yang direkam secara live pada sebuah pertunjukan. Lagu yang bernafaskan RnB ini, terdengar paling berbeda diantara lagu lain di dalam album. Lagu ini seperti sebuah lagu kover version dari penyanyi lain, tetapi keunggulannya, lagu ini benar-benar mengeksplor kemampuan vokal KT dengan hanya menampilkan suara gitar akustik dengan iringan suara box drum yang groovy. KT bernyanyi selayaknya seorang penyanyi kulit hitam. Suaranya lebih berat dan dalam. Suara serak-serak basahnya juga kembali unjuk gigi di akhir lagu. Tetapi jangan bandingkan dengan versi finalis American Idol Kathrine McPhee, yang juga pernah membawakan lagu ini dengan baik di panggung American Idol musim ini. Suara KT dan Kathrine memiliki warna yang berbeda. Satu lagi yang menarik, setelah mendengar lagu ini, pasti kita akan terngiang-ngiang akan suara "whoo-hoo" yang terus menerus berulang sepanjang lagu.

Secara keseluruhan, album ini menawarkan suatu bentuk baru dari musik folk dengan beragam influence genre musikal. Bahwa musik folk jaman sekarang tidak hanya berisi gitar akustik beserta lirik yang bercerita seperti yang dulu dipopulerkan oleh Bob Dylan ataupun Joan Baez. Folk menurut KT Tunstall adalah musik yang bisa menjangkau lebih banyak pendengar dan bukan lagi hanya sebagai musik pengantar tidur. Sebuah debut yang menjanjikan.

1 comment:

  1. setuju dengan anda. kt tunstall sangat bagus. dan saya rasa juga bisa menjangkau kuping banyak orang. mudah dicerna seperti musik pop yang bisa didengar pada film remaja seperti dawson's creek atau the o.c., tetapi juga berbobot.

    ReplyDelete